ADVERTISEMENT

HOME & LIVING
11 Mei 2022

Urban Farming, Kegiatan Sekaligus Peluang Usaha Baru Generasi Milenial

Sempitnya lahan kadang menjadi halangan untuk bercocok tanam. Urban farming adalah solusinya!
Artikel ditulis oleh Puji
Disunting oleh Karinta

Moms dan Dads pernah mendengar urban farming? Secara singkat istilah ini dapat diartikan sebagai pertanian di kota.

Namun, banyak aspek yang terlibat sekaligus pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat.

Penasaran dengan hal ini? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Apa Itu Urban Farming?

Foto: 01-organic-hydroponic-vegetable-cultivation-farm-rural (https://human-initiative.org/wp-content/uploads/2021/09/01-organic-hydroponic-vegetable-cultivation-farm-rural.jpg)

Foto: human-initiative.org

Menurut Food and Agriculture Organization urban farming diartikan sebagai industri yang memproduksi, memproses, dan memasarkan produk dan bahan bakar nabati.

ADVERTISEMENT

Terutama dalam menanggapi permintaan harian konsumen di dalam perkotaan, yang menerapkan metode produksi intensif, memanfaatkan dan mendaur ulang sumber daya dan limbah perkotaan untuk menghasilkan beragam tanaman dan hewan ternak.

Dalam arti luas, pertanian urban dapat melibatkan peternakan, perkebunan, dan pertanian.

Namun, praktiknya lebih sering mengarah pada kegiatan pertanian.

ADVERTISEMENT

Moms tentu paham jika selama ini baik pertanian lebih umum dilakukan di wilayah pedesaan.

Nah, pertanian urban ini digambarkan sebagai gebrakan baru untuk membuka praktik pertanian di kota-kota besar.

Sebenarnya, praktik urban farming sudah ada sejak lama, yakni sejak zaman Mesir Kuno.

Konsep kebun individu (allotment garden) dibangun di Jerman pada awal abad ke-19.

Pada saat itu, kemiskinan pangan melanda, sehingga membuat masyarakat Jerman melakukan pertanian individu di rumahnya.

Salah satu contoh dari urban farming adalah hidroponik, yakni menaman dengan memanfaatkan air sebagai pengganti tanah.

Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah.

Hidroponik menggunakan air yang lebih efisien, jadi cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air yang terbatas.

Beberapa tanaman hidroponik adalah selada pokcoy, tomat, sawi hijau, dan paprika.

Baca juga: Kriteria Jenis Usaha UMKM dari Berbagai Aspek: Modal, Tenaga Kerja, Omzet, Hingga Pajaknya

Perbedaan Urban Farming dengan Pertanian Umum

ADVERTISEMENT

Scroll untuk melanjutkan

Foto: urban farming (https://0201.nccdn.net/1_2/000/000/107/3fc/imag33-1600x900.jpg)

Foto: skycrapperfarm.com

Ada perbedaan yang mencolok antara pertanian urban dengan pertanian pada umumnya.

Ini dilatarbelakangi oleh kondisi sosial, ekonomi, budaya, iklim, luas lahan, dan geografi.

Pertanian urban biasanya bertujuan meningkatkan pendapatan atau aktivitas produksi bahan pangan dikonsumsi keluarga.

Di beberapa tempat bisa bertujuan untuk membangun tempat rekreasi dan relaksasi.

Biasanya, pertanian urban dilakukan di lahan terbatas, misalnya di halaman atau atap rumah.

ADVERTISEMENT

Kebanyakan pengelolanya perlu menciptakan ladang buatan karena terbatasnya lahan untuk menanam.

Beda dengan pertanian umum yang produksinya dilakukan dalam jumlah besar sehingga proses ditribusinya pun luas karena memasok di berbagai wilayah.

Lahan untuk menaman juga lebih luas, tanpa harus membuat ladang tambahan.

Baca juga: Kenali Ragam Jenis Sukulen, Tanaman Cantik yang Mudah Dirawat

Kenapa Urban Farming Menjadi Tren?

Foto: Tanaman Hidroponik Rumahan -2.jpg (Inwrdam.org.jo)

Foto: Orami Photo Stock

ADVERTISEMENT

Urban farming menjadi tren dan kegiatan baru yang digemari banyak orang terutama di daerah perkotaan.

Salah satunya faktor pendorongnya adalah pandemi Covid-19 serta kebijakan work from home (WFH).

Hal tersebut membuat orang-orang lebih banyak berada di rumah dan mencari aktivitas baru agar tidak merasa bosan.

Hasilnya pertaniannya bisa dimanfaatkan sendiri, maupun dijual kepada orang lain.

Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto pada situspertanian.go.id melihat urban farming setahun belakangan ini sebagai fenomena yang luar biasa.

Dirinya menyatakan bahwa sejak urban farming menjadi tren, penjualan benih tanaman hortikultura meningkat hingga lima kali lipat.

Selain sayuran, penjualan benih tanaman hias juga mengalami peningkatan.

ADVERTISEMENT

Peminatnya, bukan cuma petani-petani tanaman hias, tapi juga anak-anak muda yang memang ingin merintis usaha jual dan beli tanaman hias.

Melihat antuasiasme ini, Kementan mengadakan kegiatan urban farming.

Caranya, menyebarkan penanaman cabai dan bawang merah di wilayah DKI Jakarta.

Bantuan yang diberikan berupa benih cabai, benih bawang merah pupuk kompos organik dan pengendali organisme pengganggu tanaman (OPT) ramah lingkungan likat kuning.

Baca juga: 10 Tanaman Rumah Penghasil Oksigen, Cantik dan Bermanfaat!

Manfaat Urban Farming

Foto: media-tanaman-hidroponik.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Berikut ini ada beberapa manfaat dari pertanian urban yang mungkin Moms dan Dads belum ketahui.

1. Meningkatkan Kesehatan

Sudah disinggung sebelumnya, jika banyak orang yang tertarik melakukan pertanian urban untuk mengisi waktu selama WFH.

Ya, melakukan kegiatan menamam bisa menjadi aktivitas yang mengurangi stres.

Pasalnya, fokus akan teralihkan dari segala masalah karena perlu memusatkan otak pada kegiatan tersebut.

Di samping itu, hasil pertanian yang berupa sayur dan buah ini bisa dikonsumsi.

Konsumsi sayur dan buah segar dapat memenuhi kebutuhan zat gizi dan menjaga kesehatan secara menyeluruh.

2. Meningkatkan Sumber Penghasilan

Hasil urban farming selain bisa dikonsumsi sendiri, bisa juga dijual. Tentunya, hasil penjualan bisa meningkatkan pendapatan.

Bahkan, bisa dijadikan sumber penghasilan utama, terutama bagi generasi milenial yang tinggal di kota-kota besar.

3. Membantu Penghijauan Lingkungan

Penggunaan kendaraan bermotor, asap rokok, dan asap pabrik membuat polusi di kota-kota besar semakin meningkat.

Untuk mengurangi tingkat polusi tersebut, penghijauan dengan metode urban farming bisa dilakukan.

Selain membuat lingkungan lebih asri, tanaman hijau bisa membantu udara jadi lebih segar sekaligus mengurangi polusi.

  • https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=4691
  • https://www.nal.usda.gov/legacy/afsic/urban-agriculture
  • https://www.pgscd.org/urban-agricultural-conservation/urban-farms/
  • Bailkey, M., and J. Nasr. 2000. From Brownfields to Greenfields: Producing Food in North American Cities. Community Food Security News. Fall 1999/Winter 2000:6

Sebelumnya

Mengenal Jenis Surat Tanah yang Berlaku di Indonesia
Merna • 11 Mei 2022

Selanjutnya

3 Cara Membuat Minyak Kemiri dengan Mudah di Rumah
Debora • 12 Mei 2022

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

Artikel Terkait
Artikel Pilihan Editor

ADVERTISEMENT