Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
24 November 2022

8 Fakta Menarik Antiperspirant, Ketahui Juga Perbedaannya dengan Deodorant

Bisa digunakan untuk mengatasi bau kaki, lho!
8 Fakta Menarik Antiperspirant, Ketahui Juga Perbedaannya dengan Deodorant

Sepertinya, istilah antiperspirant sudah tak begitu asing lagi kita dengar.

Ini sering kita temukan pada produk kecantikan, khususnya untuk menghilangkan bau tak sedap pada ketiak.

Salah satu produk yang menjadi kebutuhan untuk perawatan tubuh, ini sering tertukar dengan deodorant, lho.

Ternyata, antiperspirant dan deodorant adalah 2 hal berbeda, Moms.

Mari ketahui perbedaan dan fakta menarik dari pewangi badan tersebut.

Baca Juga: 10 Cara Meningkatkan Hormon Estrogen pada Wanita, Coba Konsumsi Gingseng atau Kedelai

Fakta Menarik tentang Antiperspirant

Wanita Menggunakan Antiperspirant

Foto: Wanita Menggunakan Antiperspirant (Istockphoto.com)

Memiliki bau badan tak sedap memang tidak nyaman. Apalagi jika sedang beraktivitas di luar dan dekat banyak orang.

Nah, memakai pewangi ketiak menjadi solusi tepat untuk mencegah hal tersebut terjadi.

Berikut fakta tentang antiperspirant yang perlu diketahui.

1. Antiperspirant Berfungsi Mengatasi Keringat Berlebih

Antiperspirant diformulasikan dengan klorida dan senyawa aluminium lainnya.

Tentu, fungsi produk ini untuk menghalangi pembukaan kelenjar keringat yang dikenal sebagai saluran keringat.

Berkeringat adalah bagaimana tubuh mengatur suhunya. Saat kelembapan menguap dari kulit, tanda bahwa tubuh perlu didinginkan.

"Antiperspirant ideal bagi mereka yang ingin mengurangi basah atau merasa berkeringat lebih dari biasanya," kata Kiran Mian, DO, dokter kulit di New York.

Ini juga bisa mencegah terjadinya hiperhidrosis, yakni keringat berlebih pada seseorang.

2. Tak Hanya untuk Ketiak

Tahukah Moms? Ternyata, antiperspirant juga bisa dipakai untuk anggota tubuh lain selain ketiak.

International Hyperhidrosis Know Sweat Society menemukan bahwa produk ini bisa digunakan untuk di berbagai anggota tubuh dengan keringat berlebih.

Selain ketiak, perawatan kulit ini bisa digunakan untuk area:

Bahkan, bisa untuk mencegah keringat berlebih di area selangkangan, lho.

Baca Juga: 11 Ragam Motif Batik Solo dan Maknanya, Ada Batik Parang, Kawung, Sidomukti, dan Lainnya

3. Berbeda dengan Deodorant

Fungsi dari deodorant tentu agak berbeda dengan antiperspirant.

Deodorant adalah sebuah produk berbasis alkohol yang berguna untuk mengontrol pertumbuhan bakteri pada kulit.

Salah satu penyebab bau ketiak adalah adanya bakteri yang mengumpul pada kelenjar keringat.

Keringat sebenarnya tidak berbau.

"Bau badan berasal dari produk sampingan keringat saat bakteri memecahnya," tambah Mian.

Ini bekerja dengan menciptakan lingkungan yang lebih asam pada kulit. Sehingga, mengurangi bakteri yang menyebabkan bau.

Menurut Mian, bagi yang tidak memiliki masalah dengan keringat berlebih tetapi ingin menghilangkan bau badan, sebaiknya menggunakan deodoran.

4. Efektif Atasi Bau Badan

Bau Badan

Foto: Bau Badan (Freepik.com/wayhomestudio)

Faktanya, menurut Journal of American Academy of Dermatology, deodoran dan antiperspirant cukup efektif mengendalikan bau badan.

Diketahui, studi ini melibatkan 53 peserta pria yang tidak menggunakan deodoran atau antiperspirant.

Kemudian, mereka menggunakan perawatan kulit ini di satu ketiak dan deodoran di sisi lain.

Hasil dari temuan tersebut adalah antiperspirant dapat mengurangi bau sebesar 29% pada 12 jam. Sedangkan, deodoran mengurangi bau sebesar 27% pada 12 jam.

Artinya, baik deodoran atau antiperspirant cukup baik dalam mengatasi bau badan, Moms.

Baca Juga: Review Lansinoh Lanolin Cream oleh Moms Orami, Ampuh Atasi Puting Lecet saat Menyusui!

5. Risiko dan Efek Samping

Antiperspirant juga sering mengandung bahan lain, seperti paraben sebagai pengawet, lanolin sebagai pelembap, aluminium untuk membantu proses penyerapan keringat, dan parfum.

Berikut ini adalah beberapa isu kesehatan yang dikaitkan dengan penggunaan antiperspiran beserta faktanya:

  • Reaksi Alergi

Reaksi alergi bisa saja terjadi pada sebagian orang setelah pemakaian antiperspirant.

Hal ini ditandai dengan rasa gatal, ruam merah, atau bentol di ketiak.

Alergi biasanya lebih sering muncul pada produk yang mengandung wewangian.

  • Kanker

Penggunaan perawatan kulit ini dengan kandungan aluminium dan paraben dipercaya dapat memicu kanker payudara.

Alasannya, karena kedua zat tersebut bereaksi di dalam jaringan payudara, sama seperti hormon estrogen yang diduga dapat merangsang pertumbuhan sel kanker payudara.

  • Penyakit Alzheimer

Garam aluminium, seperti aluminium klorida dan aluminium zirkonium, merupakan bahan aktif yang terkandung dalam perawatan kulit ini.

Kandungan ini diduga bisa meningkatkan risiko penyakit Alzheimer.

  • Penyakit Ginjal

Penderita gangguan ginjal kronis stadium 4 atau 5 perlu berkonsultasi lebih dulu dengan dokter sebelum menggunakan produk antiperspirant.

Hal ini karena pada stadium tersebut, ginjal tidak bisa lagi menyaring aluminium secara optimal.

Oleh karena itu, sebisa mungkin hindari penggunaan produk yang mengandung aluminium.

6. Hadir Varian Kombinasi

Jika Moms memiliki bau badan dan keringat, ada produk di pasaran yang memiliki fungsi deodoran dan antiperspirant, lho.

Sebagian besar produk kombinasi ini hadir sebagai deodoran atau antiperspirant.

Sebuah antiperspirant biasanya mengandung aluminium yang terdaftar sebagai bahan aktif.

Sedangkan, deodoran biasanya tidak mengandung aluminium, tetapi memiliki antibakteri, seperti alkohol atau baking soda.

Jadi, perhatikan label kandungan pada produk sebelum membelinya ya, Moms.

Baca Juga: 16 Cara Membesarkan Payudara, Bikin Tampilannya Naik dan Kencang Juga, Lho, Yuk Dicoba!

7. Bantu Atasi Bau Kaki

Seperti diketahui sebelumnya, antiperspirant bisa dipakai untuk area tubuh lain, termasuk kaki.

Produk yang mengandung aluminium klorida ini cukup sering dipakai untuk mengatasi bau tak sedap pada kaki.

Beberapa penyebab dari bau pada kaki di antaranya:

  • Tidak menjaga kebersihan kaki.
  • Jarang memakai kaus kaki.
  • Membiarkan sepatu atau alas kaki kotor.
  • Keringat berlebih pada kaki.

Untuk menggunakan produk ini, pastikan untuk membersihkan area kaki.

Kulit dalam keadaan kering dan tidak lembap.

8. Aman untuk Kesehatan Perempuan

Sering terdengar isu bahwa deodoran atau antiperspirant sering dikaitkan dengan bahaya bagi perempuan.

Dikatakan, ini karena senyawa aktif aluminium di dalamnya untuk mengontrol bau badan dan produksi keringat.

Nyatanya, hingga saat ini belum ditemukan bahaya penggunaan produk tersebut, Moms.

Menurut American Cancer Society, tidak ada hubungan yang jelas antara kanker dan aluminium dalam antiperspirant karena:

  • Jaringan kanker payudara tidak memiliki kandungan aluminium daripada jaringan normal.
  • Hanya sedikit aluminium yang diserap (0,0012%) berdasarkan penelitian tentang antiperspirant yang mengandung aluminium klorohidrat.

Artinya, jangan ragu untuk menggunakan antiperspirant sebagi upaya untuk mengontrol keringat berlebih ya, Moms.

Baca Juga: Mengenal Infeksi Sinus Preauricular: Gejala, Penyebab, Diagnosis, hingga Pengobatannya

Deodoran vs Antiperspirant, Mana yang Lebih Baik?

Deodorant

Foto: Deodorant (Istockphoto.com)

Tidak ada jawaban pasti atas pertanyaan di atas, karena jawabannya berdasarkan kebutuhan masing-masing individu.

Melihat dari penjelasan dan manfaatnya, kalau Moms butuh produk untuk mengatasi bau tidak sedap pada ketiak, maka sebaiknya pilih deodoran.

Sementara, buat Moms yang mencari produk untuk mengatasi sensasi basah dan tidak nyaman akibat keringat berlebih pada ketiak, maka antiperspirant bisa jadi pilihan. 

Meski begitu, saat ini sudah ada produk yang bisa mengatasi semua hal tersebut, lho.

Moms bisa mencari produk deodoran+antiperspirant yang dijual di pasaran.

Produk jenis ini disebut efektif buat Moms yang anti ribet dan ingin bebas keringat dan bau badan sekaligus.

Baca Juga: 7 Daftar Kontroversi YouTube Baim Wong, Terbaru Prank KDRT!

Cara Menggunakan Antiperspirant yang Benar

Memakai Antiperspirant

Foto: Memakai Antiperspirant (Istockphoto.com)

Agar antiperspirant yang Moms pakai dapat bekerja lebih efektif dalam mengurangi keringat berlebih, simak tips dalam memakai antiperspirant yang benar ini, ya!

1.  Kocok Antiperspirant Sebelum Digunakan

Antiperspirant terdiri dalam kemasan roll-on dan spray.

Namun, kebanyakan perawatan kulit ini hadir dalam bentuk spray.

Apapun jenis perawatan kulit ini yang Moms pakai, kocok dulu botolnya sebelum digunakan.

Tujuannya adalah agar kandungan perawatan kulit ini yang mengendap di dasar botol dapat tercampur dengan rata sehingga mampu memberikan perlindungan lebih baik dari keringat berlebih dan bau badan.

2.  Gunakan Setelah Mandi dan Sebelum Tidur

Perempuan Selesai Mandi

Foto: Perempuan Selesai Mandi (Freepik.com/user18526052)

Ada dua waktu yang tepat untuk mengaplikasikan perawatan kulit ini, yakni saat pagi hari setelah mandi dan sesaat sebelum tidur.

Di pagi hari, Moms membutuhkan perawatan kulit ini untuk menjaga produksi keringat berlebih dan mencegah bau badan.

Sementara untuk malam hari, perawatan kulit ini akan bekerja lebih baik dalam mengendalikan kelenjar keringat pada saat tubuh Moms beristirahat.

Namun satu hal yang pasti, Moms wajib membersihkan diri terlebih dahulu sebelum memakai perawatan kulit ini.

Pasalnya, produk deodorant maupun antiperspirant hanya dapat bekerja optimal pada kulit yang bersih.

Baca Juga: 8+ Jenis Penyimpangan Seksual dan Terapi untuk Mengatasinya

3.  Hindari Penggunaan pada Kulit yang Iritasi

Kulit ketiak dapat mengalami iritasi karena beberapa hal, misalnya pasca bercukur atau terkena gesekan dengan pakaian yang terlalu ketat.

Ketika kulit ketiak Moms mengalami iritasi, hindari penggunaan antiperspirant terlebih dahulu.

Hal ini dilakukan untuk mencegah iritasi semakin parah.

Tunggu iritasi pada kulit ketiakmu benar-benar hilang baru Moms bisa kembali mengaplikasikan perawatan kulit ini.

4.  Pakai Saat Kulit Sudah Kering

Sejumlah orang memakai antiperspirant pada saat kulitnya masih setengah basah sesudah mandi.

Kebiasaan ini salah dan membuat produk antiperspirant yang kamu pakai menjadi tidak efektif.

Perawatan kulit ini hanya dapat bekerja dengan baik pada kulit yang kering.

Memakai antiperspirant pada kulit yang masih lembap atau basah hanya akan mengurangi efektivitasnya.

Selain itu, jika kulit ketiak Moms masih basah dan kamu langsung mengaplikasikan deodorant, maka besar risiko baju yang kamu pakai ternoda oleh perawatan kulit ini.

5.  Kenakan Pakaian Saat Sudah Kering

Sejumlah produk perawatan kulit ini menawarkan keunggulan bahwa cairannya cepat kering.

Namun secepat-cepatnya antiperspirant tersebut mengering di kulit, Moms tetap harus menunggu beberapa saat untuk memastikan bahwa perawatan kulit ini tersebut benar-benar kering.

Hindari memakai pakaian saat ketiakmu masih basah karena antiperspirant.

Pasalnya, perawatan kulit ini tersebut dapat meninggalkan noda di pakaian Moms.

Nah, selain sulit dibersihkan, noda antiperspirant ini tentu akan membekas pada pakaian dan bisa mengurangi rasa percaya diri.

6.  Semprotkan di Ketiak dengan Jarak Minimal 10 cm

Apabila memilih menggunakan antiperspirant spray, pastikan Moms memberi jarak sekitar 10 cm antara ketiak dengan produk antiperspirant yang dipakai.

Cara ini dilakukan agar kulit ketiak dapat menyerap antiperspirant dan kondisi ketiak menjadi tidak terlalu basah.

Baca Juga: 6 Perlengkapan Persiapan Melahirkan untuk Ibu dan Bayi yang Penting Dibawa ke Rumah Sakit

Nah, itu dia Moms penjelasan mengenai antiperspirant dan deodorant.

Jadi berdasarkan penjelasan antiperspirant vs deodorant, Moms pilih yang mana? Apapun itu, gunakan sesuai kebutuhan ya!

  • https://www.insider.com/deodorant-vs-antiperspirant
  • https://www.sweathelp.org/hyperhidrosis-treatments/antiperspirants/not-just-for-underarms.html
  • https://www.jaad.org/article/S0190-9622(04)03146-9/fulltext
  • https://www.medicinenet.com/aluminum_hydrochloride/article.htm#what_is_aluminum_hydrochloride_and_how_does_it_work_mechanism_of_action
  • http://www.cancer.org/cancer/cancer-causes/antiperspirants-and-breast-cancer-risk.html