03 November 2022

Ketahui Gejala Ataksia, Penyebab, dan Cara Mengatasinya, Yuk Moms!

Pernah mendengar istilah ataksia? Ini cara mengatasinya!

Ada banyak sekali jenis ataksia yang ditemukan, tetapi hanya beberapa jenis saja yang umum dialami.

Berbagai macam jenisnya dikelompokkan berdasarkan penyebab dan bagian tubuh yang terkena.

Langkah penanganannya pun dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasari, seperti pemberian obat, fisioterapi, dan terapi bicara.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini serba-serbi lainnya terkait dengan kondisi ataksia.

Ini yang Dimaksud dengan Ataksia Beserta Jenisnya

Gejala Ataksia
Foto: Gejala Ataksia (Cdc.gov)

Dilansir dari International Parkinson and Movement Disorder Society, ataksia berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tanpa urutan”.

Kondisi tersebut mengacu pada gerakan yang tidak teratur, sulit menjaga keseimbangan, serta terlihat canggung dalam melakukan aktivitas.

Koordinasi gerak memerlukan beberapa bagian sistem saraf untuk bekerjasama. Jika salah satu di antaranya mengalami kerusakan, ataksia dapat terjadi.

Diperlukan sejumlah pemeriksaan untuk mengetahui apakah penyakit dipicu oleh disfungsi otak, saraf tepi, atau sumsum tulang belakang.

Sejumlah gejala yang muncul dipengaruhi oleh area otak kecil. Otak kecil dinilai yang paling bertanggung jawab atas munculnya ataksia pada seseorang.

Baca juga: Mengenal Limfosit dan Fungsinya Bagi Sistem Kekebalan Tubuh

Gejala Ataksia Dibedakan Berdasarkan Jenisnya

Dilansir dari Johns Hopkins Medicine, gejala yang muncul dibedakan berdasarkan jenis yang dialami.

Berikut ini beberapa jenis yang umum dialami:

1. Ataksia Serebelum (Otak Kecil)

Masalah ini terjadi saat mengalami kerusakan pada bagian otak kecil yang berperan dalam keseimbangan atau koordinasi gerak tubuh.

Gejala ditandai dengan perubahan kepribadian atau tingkah laku, kelemahan otot atau tremor, sulit berjalan, bicara cadel, atau mengangkang saat berjalan.

2. Ataksia Sensorik

Masalah ini terjadi saat mengalami kerusakan pada saraf tulang belakang atau sistem saraf perifer.

Gejala ditandai dengan mati rasa di tungkai, sulit menyentuh hidung dengan mata tertutup, tidak bisa merasakan getaran, atau sulit berjalan dalam saat gelap.

3. Ataksia Vestibular

Masalah ini terjadi saat mengalami kerusakan pada sistem vestibular di telinga bagian dalam.

Sistem vestibular sendiri berfungsi untuk mengatur keseimbangan tubuh, gerakan kepala, serta mempertahankan postur tubuh.

Gejala ditandai dengan penglihatan kabur, mual dan muntah, gangguan saat berdiri atau duduk, sulit berjalan lurus, serta vertigo atau pusing.

Penyebab Ataksia

Dilansir dari Mayo Clinic, ataksia dipicu oleh kerusakan, degenerasi, atau hilangnya sel saraf di bagian otak kecil.

Otak ini berfungsi untuk membantu keseimbangan serta gerakan mata, menelan, dan berbicara.

Ataksia juga dapat dialami saat seseorang menderita penyakit pada sumsum tulang belakang dan saraf tepi yang menghubungkan otak kecil ke otot.

Berikut ini beberapa penyebab ataksia lainnya:

  • Trauma kepala akibat benturan di kepala saat kecelakaan mobil.
  • Pukulan yang mengakibatkan penyumbatan atau perdarahan di otak.
  • Gangguan yang disebabkan oleh kerusakan otak anak di awal tumbuh kembangnya.
  • Penyakit autoimun, seperti multiple sclerosis, sarkoidosis, penyakit celiac, dan autoimun lainnya.
  • Infeksi, seperti cacar air, HIV dan penyakit Lyme.
  • Sindrom paraneoplastik dari penderita kanker paru-paru, ovarium, payudara atau limfatik.
  • Kelainan pada otak.
  • Efek samping dari obat-obatan yang dikonsumsi.
  • Mengurangi dosis atau menghentikan pengobatan tanpa sepengetahuan dokter.
  • Keracunan alkohol dan obat-obatan, serta logam berat, seperti dari timbal, merkuri, pengencer atau cat.
  • Kekurangan vitamin E, vitamin B-12 atau tiamin.
  • Menderita hipotiroidisme dan hipertiroidisme.
  • Menderita infeksi COVID-19.

Pada beberapa orang, tidak ada penyebab dan gejala spesifik yang ditemukan.

Kasus biasanya akan terdeteksi setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Baca juga: 11 Rekomendasi Vitamin D3 untuk Pemulihan Pasien COVID-19, Catat!

Prosedur yang Dilakukan untuk Mendiagnosis Ataksia

Dilansir dari Cleveland Clinic, langkah mengatasi penyakit dilakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat kesehatan pasien.

Berikut ini beberapa pemeriksaan penunjang lainnya.

1. Pemeriksaan Genetik

Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah penyakit diturunkan melalui genetik atau tidak. Tes darah menjadi salah satu prosedur yang dilakukan.

2. Scan Otak

Scan Otak
Foto: Scan Otak

Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kerusakan pada otak. Beberapa prosedur yang dilakukan, meliputi:

  • MRI, yaitu pemeriksaan yang dilakukan menggunakan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk melihat struktur tubuh manusia.
  • CT scan, yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk melihat jaringan lunak, tulang, dan pembuluh darah dalam tubuh manusia.

3. Tes Penunjang Lainnya

Jika hasil beberapa pemeriksaan sebelumnya dinilai belum pasti, dokter akan melakukan tes penunjang lainnya.

Tujuannya untuk membantu memastikan diagnosis penyakit. Tes yang dilakukan tergantung pada penyakit yang menyertai, seperti:

  • Lumbar puncture, yaitu prosedur pengambilan cairan tulang belakang dan otak, yang dilakukan dengan menusukkan jarum ke celah tulang belakang.
  • EKG, yaitu prosedur pengambilan gambar menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi.
  • EMG, yaitu prosedur yang dilakukan untuk memeriksa kondisi otot dan sel-sel saraf untuk mendeteksi adanya gangguan pada saraf dan otot.
  • NCV, yaitu prosedur yang dilakukan untuk mengetahui adanya kerusakan dan disfungsi saraf.

Jika hasil pemeriksaan sudah pasti, langkah terakhir yang dilakukan oleh dokter adalah menentukan langkah pengobatan yang tepat.

Pengobatan akan dilakukan berdasarkan penyebabnya. Berikut ini beberapa langkah pengobatan yang dilakukan.

Baca juga: 9 Akibat Kekurangan Vitamin E, Lemah Otot hingga Penyakit Pankreas

Jika Hasil Telah Diketahui, Ini Langkah Pengobatan yang Dilakukan

Pengobatan Ataksia
Foto: Pengobatan Ataksia (Parashospitals.com)

Dilansir dari Mayo Clinic, tidak ada pengobatan khusus untuk mengatasi ataksia. Langkah tersebut dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasari.

Berikut ini beberapa contohnya:

  • Jika dipicu oleh keracunan obat-obatan, dokter akan menyarankan untuk menghentikan konsumsinya.
  • Jika dipicu oleh cacar air atau infeksi virus lainnya, gejala umumnya dapat membaik dengan sendirinya.

Langkah penanganan juga dilakukan berdasarkan gejalanya. Beberapa gejala yang umumnya dialami adalah depresi, kekakuan otot, tremor, kelelahan atau pusing.

Jika mengalami sejumlah gejala tersebut, berikut ini langkah penanganan yang direkomendasikan oleh dokter:

  • Pemberian obat-obatan

Langkah ini dilakukan untuk mengatasi kejang dan kram otot, disfungsi ereksi, menghilangkan kram otot, mengatasi nyeri saraf, dan depresi.

  • Penanganan mandiri

Langkah ini dilakukan untuk mengatasi masalah pada kandung kemih.

Caranya dengan mengatur jadwal berkemih, membatasi asupan cairan, serta menghindari kafein atau alkohol.

  • Memakai kacamata

Langkah ini dilakukan untuk pengidap yang mengalami masalah penglihatan ganda.

Jika penyakit dipicu oleh multiple sclerosis atau cerebral palsy, langkah penanganan belum ditemukan. Dengan kata lain, penyakit belum dapat disembuhkan.

Pada beberapa kasus tertentu, dokter menganjurkan untuk menggunakan alat bantu gerak, seperti tongkat, alat bantu komunikasi, hingga perlengkapan makan yang sudah dimodifikasi.

Di samping mengatasi penyebab dan gejala ataksia, dokter juga merekomendasikan terapi.

Tujuannya agar penderita yang kesulitan untuk melihat, berbicara, bergerak, dan mendengar dapat melakukan aktivitas hariannya.

Berikut ini beberapa terapi yang direkomendasikan:

  • Terapi fisik untuk membantu koordinasi gerak tubuh.
  • Terapi bicara untuk meningkatkan kemampuan bicara.
  • Terapi okupasi untuk membantu penderita melakukan aktivitas harian secara mandiri.

Penderita juga dapat bergabung dalam grup dengan kondisi yang sama.

Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman akan kondisi yang dialami.

  • https://www.movementdisorders.org/MDS-Files1/Education/Patient-Education/Ataxia/pat-Handouts-Ataxia-Indonesian-v1.pdf
  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/ataxia
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17748-ataxia
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ataxia/diagnosis-treatment/drc-20355655

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.