Scroll untuk melanjutkan membaca

PASCAMELAHIRKAN
18 September 2022

Beda Baby Blues dengan Postpartum Depression, Apa Saja?

Banyak yang mengira sama, tapi ternyata berbeda lho, Moms
Beda Baby Blues dengan Postpartum Depression, Apa Saja?

Banyak yang mengira bahwa tidak ada beda baby blues dengan postpartum depression.

Padahal, kedua kodisi tersebut tidak bisa dianggap serupa, lho.

Memang, perubahan menjadi ibu baru tidak akan mudah, terutama yang baru pertama kali melahirkan dan menyusui.

Tidak hanya karena lelah habis melahirkan, jam tidur yang tidak teratur pun bisa membuat ibu stres dan mengalami depresi.

Hal yang perlu diketahui, situasi seperti ini tergolong wajar terjadi.

Setelah melahirkan, kadar hormon akan menurun sehingga mempengaruhi suasana hati.

Ditambah, kurangnya jam tidur dan bayi yang rewel, tentu saja bisa Moms merasa lelah dan kewalahan.

Tidak hanya Moms seorang diri saja, kondisi tersebute terjadi pada sebagian besar ibu baru melahirkan.

Pada dasarnya, ada dua hal yang mendasari beda baby blues dengan postpartum depression.

Hal tersebut, yakni berapa lama Moms merasakan depresi dan seberapa kuatnya perasaan tersebut.

Yuk, cari tahu perbedaan baby blues dengan postpartum depression selengkapnya!

Baca Juga: 5+ Mimpi yang Akan Mendatangkan Rezeki, Salah Satunya Menggenggam Kotoran!

Beda Baby Blues dengan Postpartum Depression

Pada umumnya, sindrom baby blues ini normal dan umumnya dapat hilang atau membaik dengan sendirinya.

Tetapi, sindrom baby blues yang tidak ditangani dengan baik dapat mengarah kepada kondisi postpartum depression (PPD) atau depresi pascamelahirkan.

Lantas, bagaimana apa beda baby blues dengan postpartum depression?

Simak ulasannya di bawah ini!

1. Baby Blues

Baby Blues Syndrome

Foto: Baby Blues Syndrome (Orami Photo Stocks)

Melansir Indian Journal of Community Medicine, baby blues syndrome atau sindrom baby blues adalah perubahan suasana hati setelah melahirkan.

Kondisi ini bisa membuat ibu merasa terharu, cemas, hingga mudah tersinggung.

Baby blues dialami oleh sekitar 80 persen ibu di dunia.

“Sebagian besar ibu baru mengalami baby blues, beberapa hari hingga dua minggu dengan mood yang naik turun, tangisan, dan stres,” ujar dr. Shoshana Bennet, pendiri Postpartum Assistance for Mothers.

Bayi baru lahir memang membutuhkan banyak perhatian sehingga wajar apabila Moms merasa lelah, khawatir, atau terkadang menangis.

Perasaan seperti ini biasanya hanya samar-samar dirasakan dan akan hilang dengan sendirinya setelah 1-2 minggu pascamelahirkan.

Saat mengalami baby blues, Moms akan mengalami gejala, seperti:

  • Perubahan suasana hati yang cepat.
  • Cemas dan kewalahan mengurus bayi.
  • Murung dan rewel.
  • Merasa sedih dan banyak menangis.
  • Susah tidur (insomnia).
  • Mengalami penurunan nafsu makan.
  • Tidak sabar, gelisah, dan mudah marah.
  • Sulit berkonsentrasi.

Baca Juga: Penyebab dan Cara Mengatasi Keringat Berlebih atau Hiperhidrosis

Menurut American Pregnancy Association, penyebab pasti dari baby blues ini tidak diketahui.

Kondisi ini nampaknya berkaitan dengan perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan dan terjadi lagi setelah bayi lahir.

Setelah melahirkan, tubuh Moms mengalami fluktuasi hormonal yang ekstrem.

Hal tersebut untuk membantu memulihkan tubuh, termasuk menyusutkan rahim ke ukuran normal dan meningkatkan proses laktasi.

Melansir StatPearls, perubahan hormonal juga dapat memengaruhi kondisi pikiran ibu pascamelahirkan.

Perubahan hormon ini dapat menghasilkan perubahan kimiawi di otak yang menyebabkan depresi.

Meskipun umumnya terjadi setelah melahirkan, tidak semua wanita merasakannya pada waktu yang sama.

Beberapa Moms mungkin merasakan gejala baby blues lebih awal yaitu sebelum melahirkan.

Kondisi ini lebih dikenal dengan pre-baby blues atau depresi antepartum (antepartum depression).

Apabila Moms merasa sedang mengalami baby blues, berikut ini cara yang bisa dilakukan agar baby blues hilang:

  • Tidur sebanyak yang Moms bisa, apabila bayi tidur usahakan agar Moms tidur juga.
  • Makan makanan sehat agar tubuh Moms terasa lebih fit.
  • Jalan-jalan.
  • Berolahraga di pagi hari untuk mendapatkan udara segar dan sinar matahari.
  • Akui bahwa Moms membutuhkan bantuan dan terima bantuan ketika orang menawarkannya.
  • Rileks, Moms. Fokus pada mengurus bayi saja, tidak perlu mengurus hal lain.

Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik Mengganti Sufor untuk Bayi? Ini Penjelasannya

2. Postpartum Depression

Post Partum Depression

Foto: Post Partum Depression (Orami Photo Stocks)

Postpartum depression merupakan kondisi yang lebih parah dibandingkan dengan baby blues.

Postpartum depression membuat penderita merasa putus harapan, merasa tidak menjadi ibu yang baik, sampai tidak mau mengurus anak.

Menurut dr. Shoshana, postpartum depression (PPD) adalah jenis depresi paling umum dari 6 gangguan mood dan kecemasan setelah melahirkan alias perinatal mood and anxiety disorders (PMADs).

Melansir American Pregnancy Association, gangguan mental ini mempengaruhi 1 dari 7 ibu baru.

Beda baby blues dengan postpartum depression, baby blues hilang dalam waktu 2 minggu pascapersalinan.

Akan tetapi, apabila perasaan depresi tak kunjung hilang dalam waktu tersebut atau memburuk, kemungkinan besar Moms mengalami PPD.

Postpartum depression bukan hanya dialami oleh ibu, tetapi juga bisa dialami oleh ayah.

Postpartum depression pada ayah paling sering terjadi 3-6 bulan setelah bayi lahir.

Seorang ayah lebih rentan terkena postpartum depression ketika istrinya juga menderita kondisi tersebut.

Baca Juga: Vaksin Influenza, Seberapa Perlu untuk Diberikan? Ini Kata Ahli!

Berikut ini beberapa gejala postpartum depression yang patut Moms waspadai:

  • Merasa sedih, putus asa, empty, kewalahan.
  • Menangis lebih sering daripada biasanya atau tanpa alasan yang jelas.
  • Perasaan khawatir berlebihan, cemas, murung, mudah tersinggung, atau selalu gelisah.
  • Kesulitan berkonsentrasi, mengingat hal-hal, atau mengambil keputusan.
  • Mengalami perasaan marah sepanjang waktu.
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai.
  • Sering mengalami sakit kepala, sakit perut, dan nyeri otot.
  • Nafsu makan bisa meningkat atau menurun drastis.
  • Menghindari keluarga atau teman.
  • Kesulitan menciptakan bonding dengan bayi.
  • Punya pikiran untuk melukai diri sendiri atau bunuh diri.

Penyebab utama PPD adalah perubahan besar hormon reproduksi setelah melahirkan.

Kurang tidur, nutrisi yang tidak mencukupi, perasaan terisolasi juga bisa meningkatkan risiko tersebut.

Selain itu, tidak adanya dukungan suami, masalah kesehatan ibu atau bayi, bayi berkebutuhan khusus, atau penyebab stres lain juga bisa menyebabkan PPD atau memperburuk gejalanya.

Beda baby blues dengan postpartum depression dalam pengobatan, yaitu PPD perlu mendapatkan pengobatan.

Namun, durasi pengobatan PPD pada tiap penderita bisa berbeda-beda.

Secara umum, pengobatan dapat dilakukan dengan psikoterapi dan obat-obatan, serta dukungan dari keluarga.

Baca Juga: 11+ Rekomendasi Drama Korea Polisi, Seru dan Banyak Adegan Action!

Jika Moms mengalami beberapa gejala di atas, jangan ragu untuk segera berobat ke dokter atau psikolog.

Menurut dr. Shoshana, PPD sangat bisa disembuhkan. Untuk itu, jangan ragu segera mencari bantuan karena Si Kecil membutuhkan Moms.

Ajak Dads untuk ikut membantu dan memberi dukungan kepada Moms.

Berikan pengertian bahwa Moms sedang tidak berada dalam kondisi yang “sehat” untuk merawat bayi baru lahir.

Beritahukan juga kepada Dads bahwa hal ini banyak terjadi pada ibu baru melahirkan dan sangat bisa disembuhkan.

Inginya, jangan ragu meminta bantuan, demi kesehatan mental dan batin.

Semoga Moms bisa cepat kembali pulih, agar bisa merawat Si Kecil sepenuh hati!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3214451/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554546/
  • https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/first-year-of-life/baby-blues-or-postpartum-depression/
  • https://www.webmd.com/depression/postpartum-depression/postpartum-depression-baby-blues
  • https://www.helpguide.org/articles/depression/postpartum-depression-and-the-baby-blues.htm