Scroll untuk melanjutkan membaca

PASCAMELAHIRKAN
23 Agustus 2022

Psikosis Postpartum, Gangguan Kejiwaan Usai Melahirkan yang Jangan Dianggap Sepele!

Tidak hanya beresiko untuk ibu, tetapi juga untuk bayinya
Psikosis Postpartum, Gangguan Kejiwaan Usai Melahirkan yang Jangan Dianggap Sepele!

Psikosis postpartum adalah gangguan mental serius yang dapat terjadi pada ibu segera pascamelahirkan.

Sebagian besar ibu melahirkan mengalami perubahan mood yang disebut dengan "baby blues."

Kondisi tersebut merupakan hal normal yang terjadi dan biasanya berlangsung selama beberapa hari.

Namun, berbeda halnya dengan psikosis postpartum.

Psikosis adalah kondisi yang perlu diatasi sebagai keadaan darurat medis.

Dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp. KJ, Spesialis Kedokteran Jiwa, RS Pondok Indah - Pondok Indah menjelaskan, pada psikosis adalah hal yang dialami ibu melahirkan dan muncul gejala, yaitu hilangnya kontak dengan realita.

"Hal ini dapat menyebabkan ibu mulai mendengar, melihat, dan atau meyakini sesuatu yang tidak benar. Keadaan ini dapat menjadi sangat berbahaya bagi ibu dan bayi," jelas Dr. Zulvia Oktanida.

Baca Juga: Mengenal Deposito: Pengertian, Jenis, hingga Kekurangan dan Kelebihannya

Pengertian Psikosis Postpartum

psikosis adalah

Foto: psikosis adalah (Orami Photo Stock)

Foto: ibu dengan gangguan kejiwaan (Orami Photo Stock)

Psikosis adalah istilah medis yang merujuk pada keadaan mental yang terganggu oleh delusi atau halusinasi bukan penyakit.

Psikosis adalah gangguan yang meliputi keadaan ketika seseorang susah membedakan mana kenyataan dan mana imajinasi.

Kondisi ini tergolong dalam masalah mental yang serius.

Penelitian International Journal of Mental Health menjelaskan, ketika penderita psikosis mengalami delusi, ia memiliki keyakinan atau kepercayaan akan suatu hal yang kuat.

Padahal keyakinan tersebut tidak sesuai dengan fakta atau kenyataan.

Pengalaman ini dapat menakutkan dan juga tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang yang mengalami psikosis dapat melukai diri sendiri atau orang lain.

Oleh sebab itu, seseorang yang mengalami kondisi tersebut sangat disarankan untuk mendapatkan penanganan dengan segera.

Walaupun sering dianggap sama, nyatanya, psikosis adalah hal berbeda dengan postpartum depression (depresi pasca melahirkan).

Pada postpartum depression, gejala utama yang dialami adalah perubahan mood, seperti:

  • Terus menerus merasakan perasaan sedih
  • Merasa bersalah
  • Merasa tak berharga, tak cukup mampu
  • Cemas
  • Sulit tidur dan merasa kelelahan
  • Sulit konsentrasi
  • Perubahan nafsu makan
  • Dapat juga muncul ide bunuh diri

Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan kondisi ini, tetapi berbagai pilihan perawatan untuk mengurangi risiko terjadinya episode psikosis telah tersedia.

Baca Juga: Polycystic Kidney Disease, Penyakit Genetik Yang Menyebabkan Kista di Ginjal

Gejala Psikosis Postpartum

psikosis adalah

Foto: psikosis adalah

Foto: gejala psikosis postpartum (Orami Photo Stock)

Gejala psikosis adalah tidak muncul secara tiba-tiba. Biasanya mengikuti pola berikut:

  • Tanda sebelum psikosis

Perubahan bertahap dalam cara berpikir dan memahami dunia sekitar.

Keluarga atau teman bisa menyadari tanda ini dengan selalu curiga dengan orang sekitar, kurang merawat diri atau kebersihan, lebih sering menyendiri, dan emosi datar.

  • Tanda awal psikosis

Melihat, mendengar atau merasakan sesuatu yang tidak dialami orang lain.

Seseorang juga akan percaya pada hal yang tidak lazim meskipun orang lain berusaha menggoyahkan kepercayaan tersebut.

Tak jarang mereka juga menjauh dari teman dan keluarga, tidak merawat diri, dan tidak dapat berpikir fokus.

Umumnya, gejala utama psikosis adalah kemunculan delusi dan halusinasi, yang berkembang seiring berjalannya waktu.

1. Delusi

Melansir StatPearls Journal, delusi adalah jenis gangguan mental yang membuat pengidapnya percaya dan yakin akan suatu hal yang tidak nyata.

Pengidap delusi tidak bisa membedakan mana sesuatu yang fakta dan mana yang bukan.

Gejala delusi bisa berbeda-beda pada setiap orang, tetapi umumnya berupa:

  • Perubahan mood dan emosi, misalnya mudah marah
  • Bicara aneh dan tidak nyambung
  • Merasa cemas dan dirinya sedang terancam
  • Meyakini hal-hal yang tidak masuk akal
  • Perubahan perilaku.

2. Halusinasi

Halusinasi adalah kondisi dimana seseorang mengalami hal yang tidak nyata.

Saat seseorang mengalami halusinasi akan menunjukan perubahan emosi atau perilaku sesuai dengan sensasi yang ia alami.

Hal ini bergantung pada indera yang terpengaruh.

  • Merasakan sensasi di tubuh (seperti perasaan merayap di kulit atau gerakan)
  • Mendengar suara (seperti musik, langkah kaki, atau benturan pintu)
  • Mendengar suara (dapat mencakup suara positif atau negatif, seperti suara yang memerintahkan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain)
  • Melihat benda, makhluk, atau pola atau cahaya
  • Mencium bau (bisa menyenangkan atau busuk dan di salah satu atau kedua lubang hidung)
  • Mencicipi sesuatu (seringkali rasa logam)

Baca Juga: Mengenal Perawatan Metode Kanguru serta Manfaatnya untuk Bayi yang Lahir Prematur

Kombinasi halusinasi dan delusi dapat menyebabkan distres yang berat serta perubahan perilaku.

Beberapa tanda dan gejala lain yang dapat menyertai kondisi psikosis adalah:

  • Kesulitan konsentrasi
  • Suasana hati depresi
  • Rasa curiga
  • Tidur yang berlebih atau kurang
  • Ansietas/ rasa cemas yang tinggi
  • Menarik diri dari keluarga dan teman-teman
  • Rasa ingin bunuh diri
  • Bicara yang tidak runut, misalnya mengganti topik secara tiba-tiba

Penyebab Psikosis Postpartum

postpartum psychosis-2.jpg

Foto: postpartum psychosis-2.jpg (gentlenursery.com)

Foto: penyebab psikosis postpartum (Orami Photo Stock)

Belum diketahui secara jelas apa saja yang menjadi penyebab pasti psikosis postpartum.

Namun beberapa hal berikut diyakini sebagai penyebab psikosis adalah:

  • Faktor genetik (keturunan). Adanya riwayat keluarga dengan gangguan kejiwaan dapat meningkatkan risiko terjadinya psikosis pada keturunannya, meskipun tidak selalu diturunkan.
  • Penyalahgunaan obat NAPZA dan kecanduan alkohol.
  • Adanya kejadian traumatis seperti kecelakaan, bencana alam, pelecehan seksual, serta kehilangan orang yang dicintai atau perang.
  • Mengalami penyakit lain seperti cedera otak, tumor otak, stroke, penyakit alzheimer, epilepsi, dan HIV/AIDS.

"Selain itu, kondisi kurang tidur juga dapat memiliki peran terhadap terjadinya psikosis postpartum," imbuh Dr. Zulvia.

Baca Juga: Ingin Hidup Lebih Praktis? Pastikan Memiliki 6 Alat Elektronik Ini!

Faktor Risiko Psikosis Postpartum

6-postpartumdepression.png

Foto: 6-postpartumdepression.png

Foto: ibu mengalami psikosis postpartum (Orami Photo Stock)

Faktanya, psikosis adalah dapat terjadi pada ibu yang bahkan sebelumnya tidak memiliki faktor risiko.

Namun, diketahui ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini.

Faktor risiko tersebut antara lain:

  • Riwayat gangguan mental sebelumnya seperti bipolar, skizofrenia, atau skizoafektif.
  • Riwayat postpartum psikosis pada persalinan sebelumnya.
  • Riwayat keluarga dengan postpartum psikosis.
  • Riwayat gangguan mental pada keluarga, misalnya gangguan bipolar.
  • Kehamilan pertama.
  • Penghentian obat psikiatrik selama kehamilan.

Baca Juga: Mengatasi Flu dan Batuk dengan Mixagrip, Simak Dosis dan Efek Sampingnya

Perbedaan Psikosis dan Skizofrenia

Skizofrenia

Foto: Skizofrenia

Foto: wanita dengan skizofrenia (Orami Photo Stock)

Meski memiliki gejala serupa, skizofrenia dan psikosis adalah dua kondisi yang jelas berbeda. 

Pengidap skizofrenia sudah pasti mengalami psikosis. Namun, pengidap psikosis belum tentu mengalami skizofrenia.

Perbedaan antara skizofrenia dan psikosis adalah bahwa psikosis mengacu pada gejala dan dapat menjadi bagian dari banyak hal.

Skizofrenia adalah penyakit mental serius yang mencakup gejala psikosis.

Tidak semua orang yang mengalami gejala psikosis memiliki skizofrenia.

Untuk diagnosis yang akurat, dokter harus membedah semua gejala.

Ini bisa jadi cukup membingungkan karena berbagai gejala bisa jadi tumpang tindih.

Baca Juga: Penggunaan Miconazole untuk Bayi, Apakah Aman?

Cara Mengatasi Psikosis Postpartum

postpartum psychosis-3.jpg

Foto: postpartum psychosis-3.jpg (Verywellmind.com)

Foto: mengatasi kondisi psikosis postpartum (Orami Photo Stock)

Psikosis postpartum adalah kondisi kedaruratan medis yang harus segera mendapat pertolongan dokter.

"Segera bawa ibu ke Unit Gawat Darurat di rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan," jelas Dr. Zulvia memberikan saran.

Jika dapat dideteksi sejak dini saat ibu masih dirawat di rumah sakit pascabersalin, biasanya akan dirawat lebih lama untuk mengatasi kondisi psikosisnya.

Perawatan ini akan berlangsung hingga mood dan emosi ibu stabil, serta tidak membahayakan untuk dirinya dan bayinya.

Berikut adalah perawatan bagi ibu yang mengalami psikosis postpatrum dikutip dari UK National Health Service, meliputi:

1. Terapi Obat-obatan

Saat menangani ibu dengan psikosis postpartum, dokter spesialis jiwa atau psikiater akan memberikan obat untuk mengatasi gejala psikosis, depresi, dan menstabilkan mood.

Adapun resep obat yang diberikan adalah golongan antipsikotik, antidepresan, dan mood stabilizer.

2. Electroconvulsive Therapy (ECT)

ECT terkadang disarankan jika pengobatan lain gagal atau ketika situasi dianggap mengancam nyawa.

ECT adalah prosedur yang dilakukan dengan anestesi umum, yang menggunakan arus listrik kecil untuk melewati otak, yang dengan sengaja memicu kejang singkat.

ECT tampaknya menyebabkan perubahan kimiawi otak yang dapat dengan cepat membalikkan gejala kondisi kesehatan mental tertentu.

Walau banyak menimbulkan persepsi yang negatif, terapi ini sangatlah aman dan berada di bawah pengawasan ahli secara langsung.

Namun, kebanyakan ibu dengan psikosis postpartum sembuh total saat menerima perawatan yang tepat sehingga jarang yang mendapatkan terapi ECT.

Baca Juga: Chlorpromazine, Obat untuk Atasi Gangguan Mental

3. Bentuk Dukungan dari Lingkungan Sekitar

Dukungan dari keluarga dan kerabat dekat akan sangat membantu ibu dengan psikosis postpartum untuk segera pulih.

Ini dikarenakan ibu biasanya akan mengalami kesulitan mengutarakan isi hati dan pikirannya, sehingga akan baik jika ada yang mengajaknya bicara.

Berbicara dengan orang yang memiliki pengalaman langsung tentang penyakit tersebut juga dapat membantu.

Di beberapa komunitas, sudah ada yang menyediakan dukungan sebaya untuk membantu pasien agar pulih.

Itu tadi seputar psikosis adalah gangguan hal yang dapat dialami para ibu pascamelahirkan.

Semoga dapat membantu jika ada keluarga atau teman Moms yang mengalami hal serupa. Jangan lupa untuk segera cari pertolongan profesional, ya, Moms!

  • https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/00207411.2016.1264037
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539855/
  • https://www.healthline.com/health/psychosis
  • https://www.nhs.uk/conditions/psychosis/
  • https://www.webmd.com/schizophrenia/qa/what-is-somatic-delusional-disorder
  • https://www.stpatricks.ie/mental-health/schizophrenia-psychosis