30 Januari 2021

Waspada, Ketahui 7 Efek Samping Diet DEBM yang Sedang Tren

Memang enak dan menyenangkan, tapi apa efek sampingnya ya?

Bagi Moms dan Dads yang kesulitan menurunkan berat badan dan secara aktif mencari informasi di jagat maya, mungkin tertarik untuk menjalankan diet DEBM.

Popularitasnya di media sosial juga tidak main-main, ada jutaan pengikut yang setiap harinya berbagi pengalaman dan resep untuk bersama-sama menjalankan diet.

Perlu diketahui pencetus Diet Enak Bahagia Menyenangkan (DEBM) ini bukanlah seorang ahli gizi, dokter, atau bekerja di bidang kesehatan.

Robert Hendrik Liembono mempopulerkan caranya menurunkan berat badan dari 107 kilogram menjadi 75 kilogram dengan mengatur pola makan yang ia pelajari dari internet.

Baca Juga: Sebelum Coba Diet Keto, Pahami Dulu 4 Hal Ini

Diet DEBM mendapatkan daya tariknya dengan memungkinkan seseorang menurunkan berat badan tanpa berolahraga dan tetap makan enak. Syaratnya, makanan tersebut harus rendah karbohidrat, tanpa gula tambahan, namun tinggi protein serta lemak.

Berbagai metode dan menu diet yang ada saat ini biasanya merupakan hasil penelitian yang telah dirancang dan diteliti dampaknya oleh ahli gizi.

Sedangkan metode diet yang dipopulerkan Robert ini adalah metode diet yang belum diuji dampaknya secara jangka panjang maupun jangka pendek, sehingga efek samping diet DEBM perlu dipertanyakan.

Efek Samping Diet DEBM

Inilah beberapa kemungkinan efek samping diet DEBM yang dapat muncul ketika dijalankan.

1. Dapat Menyebabkan Konstipasi

Diet DEBM dapat menimbulkan konstipasi
Foto: Diet DEBM dapat menimbulkan konstipasi

Foto: Pexels.com

Jika dilihat secara keseluruhan, diet DEBM memang mirip sekali dengan diet ketogenik, yaitu menu makan rendah karbohidrat serta tinggi protein dan lemak.

Bedanya, dalam diet keto ada pembagian porsi yang jelas antara protein, lemak, dan karbohidrat dalam menu makanan, sedangkan diet DEBM tidak memiliki patokan khusus, hanya ditekankan pada rendahnya karbohidrat dan tingginya asupan protein hewani.

Salah satu efek samping diet DEBM yang juga serupa dengan diet keto ini adalah dapat menyebabkan konstipasi.

Alasannya, diet rendah karbohidrat ini biasanya membatasi Moms dan Dads untuk mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat seperti kacang-kacangan, beberapa jenis buah dan sayur yang mengandung pati (kentang, ubi, pisang, dan lainnya), makanan bertepung, dan sebagainya.

Padahal, ada tiga tipe karbohidrat yang dapat ditemukan dalam makanan, seperti yang dijabarkan oleh National Health Service, yaitu gula, tepung, dan serat.

Kandungan serat dalam makanan yang mengandung karbohidrat, seperti dalam sayuran dan buah, dibutuhkan oleh organ pencernaan agar dapat menyerap nutrisi lebih optimal dan usus besar dapat mendorong kotoran dengan lebih mudah.

Dengan absennya sebagian besar sayuran dan buah berkarbohidrat, asupan serat juga ikut turun drastis, sehingga efek samping diet DEBM dapat menimbulkan konstipasi.

Baca Juga: Mengenal Diet Defisit Kalori, Turunkan Berat Badan dengan Cepat!

2. Menurunkan Kinerja Otak

Tidak seperti gula tambahan dan buatan yang cenderung berdampak pada lebihnya asupan gula di tubuh, gula alami dalam karbohidrat juga dibutuhkan oleh manusia.

Pada dasarnya, gula atau glukosa adalah bahan bakar untuk otak. Sumber gula alami biasanya dapat dikonsumsi dari nasi dan buah-buahan.

Tubuh juga bisa mengubah glukosa dari otot, namun waktunya lebih lama dan tidak efisien seperti mencerna gula dari karbohidrat.

Salah satu efek samping diet DEBM yang sangat membatasi asupan karbohidrat ini yaitu otak dapat bekerja menjadi lebih lambat dan terganggu.

Misalnya Moms dan Dads akan merasa lebih lamban bekerja, mudah kesal, dan bingung. Moms dan Dads dapat merasa kesulitan mengingat sebuah kata, menyusun kalimat, dan menyampaikan isi pikiran.

Efek samping diet DEBM yang juga mungkin muncul adalah sakit kepala dan pusing.

3. Tubuh Terasa Lemas

Tubuh dapat merasa lemas saat diet DEBM
Foto: Tubuh dapat merasa lemas saat diet DEBM

Foto: Pexels.com

Karbohidrat adalah sumber utama energi tubuh manusia. Ketika asupan karbohidrat dibatasi, tidak heran jika Moms dan dads merasa lemas dan lelah lebih cepat.

Efek samping diet DEBM ini biasanya akan sangat terasa di masa permulaan diet, saat tubuh belum terbiasa memetabolisme protein dan lemak menjadi energi.

Selain merasa lemas, gejala lain yang mungkin timbul adalah mual dan turunnya kualitas tidur.

Makanan berkarbohidrat yang mengandung glukosa akan melalui proses metabolisme tubuh untuk dijadikan energi, sedangkan sisa gula yang tidak terpakai akan disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak sebagai cadangan energi jangka panjang.

Karbohidrat dalam makanan berpati dan tinggi serat melepaskan glukosa lebih lambat daripada makanan dan minuman yang manis.

Baca Juga: Tak Hanya Lemas dan Lesu, Ini Tanda Tubuh Kekurangan Vitamin C

4. Frekuensi Buang Air Kecil Meningkat

Salah satu efek samping diet DEBM yang dapat dirasakan adalah lebih sering buang air kecil. Penyebabnya adalah turunnya jumlah glikogen dalam tubuh.

Glikogen adalah bentuk penyimpanan karbohidrat dalam tubuh yang bersifat mengikat air.

Ketika jumlah hidrogen berkurang, tubuh akan membuang cairan yang berlebih ini lewat urin.

Sangat disarankan bagi Moms dan Dads yang sedang menjalani diet rendah karbohidrat untuk meningkatkan asupan air mineral agar tidak dehidrasi dan menimbulkan efek samping lainnya.

5. Kekurangan Beberapa Nutrisi

Tubuh dapat kekurangan vitamin dan mineral saat diet DEBM
Foto: Tubuh dapat kekurangan vitamin dan mineral saat diet DEBM

Foto: Pexels.com

Pembatasan beberapa sayuran dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral alami untuk tubuh juga mendatangkan salah satu efek samping diet DEBM, sehingga tidak cocok dijalankan untuk jangka panjang.

Contoh nutrisi yang hilang akibat makanan tertentu dibatasi adalah potasium, vitamin B kompleks, serta vitamin C yang biasanya banyak terkandung dalam sayuran dan buah.

Ditambah lagi, frekuensi buang air kecil yang meningkat juga dapat membuang sodium dan potasium di dalam tubuh dengan lebih cepat, sehingga dapat menyebabkan tubuh kekurangan kedua mineral penting ini.

Baca Juga: 5 Foto Transformasi Tya Ariestya setelah Menurunkan Berat Badan 20 kg dalam 4 Bulan

6. Naiknya Kolesterol Jahat

Karena diet DEBM tidak secara spesifik membatasi pengikutnya untuk mengonsumsi jenis olahan makanan tertentu dan cenderung menyarankan konsumsi protein hewani, jangan heran kalau menu daging berlemak dan gorengan juga diizinkan masuk ke dalam menu sehari-hari.

Daging berlemak dan gorengan memang nikmat dan enak disantap, namun efek samping diet DEBM ini dapat muncul jika tidak mengatur pola makan yang lebih seimbang, bahkan jarang berolahraga. Misalnya saja kenaikan level LDL atau kolesterol dalam darah.

Daging merah dan makanan yang digoreng diketahui dapat meningkatkan level LDL (kolesterol jahat) dalam darah karena mengandung lemak jenuh.

Dalam British Journal of Pharmacology, LDL telah lama dikaitkan dengan naiknya risiko penyakit jantung karena sifatnya yang membentuk plak dan menyumbat pembuluh darah.

Efek samping diet DEBM ini cukup berbahaya bagi Moms dan Dads yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, sehingga sebaiknya sebelum memutuskan melakukan diet ini berkonsultasi dengan dokter sangat disarankan.

Selain itu, untuk mencegah menumpuknya LDL dalam tubuh, Moms dan Dads yang menjalankan diet DEBM perlu lebih banyak menambahkan asupan kolesterol atau lemak baik agar level HDL meningkat. HDL (kolesterol baik) dibutuhkan oleh tubuh dan mampu menekan jumlah LDL dalam darah.

Beberapa makanan yang mengandung lemak baik adalah telur, alpukat, udang, beberapa jenis keju, dan yoghurt.

7. Tidak Untuk Semua Orang

Ada beberapa kelompok yang sebaiknya menghindari diet DEBM
Foto: Ada beberapa kelompok yang sebaiknya menghindari diet DEBM

Foto: Pexels.com

Karena serupa walau tak sama dengan diet keto dan minimnya penelitian kesehatan tentang efek samping diet DEBM untuk kelompok tertentu, ada baiknya Moms dan Dads tetap berhati-hati ketika memutuskan untuk melakukan diet DEBM.

Dalam Ketogenic Diet, ada beberapa kelompok orang yang memiliki masalah kesehatan seperti diabetes, gangguan pankreas, gangguan liver, gangguan metabolisme lemak, serta beberapa gangguan metabolisme lainnya, tidak disarankan untuk menjalankan diet DEBM tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Sedangkan dalam Parade juga menambahkan bahwa wanita hamil dan menyusui, orang yang berisiko tinggi osteoporosis, serta orang dengan riwayat berat badan yang naik turun (efek diet yoyo), memerlukan konsultasi dengan ahli gizi untuk menemukan pola makan yang tepat dan nutrisi yang seimbang.

Walaupun beberapa penelitian menemukan adanya keterkaitan antara rendahnya konsumsi karbohidrat dengan membaiknya berbagai kondisi kesehatan, penelitian ini masih membutuhkan kajian lebih lanjut.

Selain itu, kelompok orang yang memiliki gangguan atau kondisi kesehatan perlu dipantau secara terus menerus karena perubahan pola makan yang berubah secara tiba-tiba dan cukup ekstrem.

Menurut berbagai ahli gizi, diet rendah karbohidrat seperti diet ketogenik dan DEBM ini memang dapat menurunkan berat badan dengan cepat, terutama untuk masalah obesitas.

Namun, diet dengan asupan tidak seimbang ini tidak disarankan untuk jangka panjang (lebih dari 6-12 bulan) karena dapat menimbulkan ketidakseimbangan gizi di dalam tubuh.

Baca Juga: Diet Keto Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2, Benarkah?

Dengan berbagai efek samping diet DEBM di atas, Moms harus berhati-hati sebelum menerapkannya. Sebaiknya Moms konsultasikan dulu ke dokter agar tidak terjadi masalah kesehatan di kemudian hari akibat salah menjalankan pola diet.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.