15 Juli 2022

Granuloma Inguinale, Penyakit Seksual Menular yang Mirip Jerawat

Munculnya jerawat di sekitar organ intim bisa jadi gejala granuloma inguinale

Selain sifilis, ada juga infeksi menular seks yang disebut granuloma inguinale.

Penyakit ini bisa menyerang wanita maupun pria, yang sudah aktif melakukan hubungan seksual.

Penyakit ini dapat terjadi pada beberapa tahapan.

Kenali gejala dan pengobatannya berikut ini!

Apa Itu Granuloma Inguinale?

Granuloma inguinale adalah infeksi menular seksual yang menyebabkan munculnya luka (lesi) di daerah anus dan organ intim.

Lesi ini masih bisa tetap kambuh, bahkan setelah perawatan.

Granuloma inguinale kadang-kadang disebut "donovanosis."

Jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan jaringan parut dan kerusakan jaringan lainnya.

Oleh karena itu, pengobatan perlu dilakukan diikuti dengan tindakan pencegahan untuk meminimalkan risiko kekambuhan.

Baca Juga: Infeksi Puerperalis, Infeksi Bakteri di Rahim setelah Melahirkan

Apa Saja Tanda dan Gejala Granuloma Inguinale?

apakah kutil kelamin bisa disembuhkan 2.jpg
Foto: apakah kutil kelamin bisa disembuhkan 2.jpg (https://halodoc.com/)

Foto Gejala Granuloma Inguinale (Orami Photo Stock)

Kemunculan gejala butuh setidaknya satu minggu hingga 12 minggu untuk gejala mencapai puncaknya.

Umumnya, orang yang terinfeksi pertama kali akan memiliki jerawat di kemaluan atau benjolan di kulit.

Benjolan berukuran kecil dan biasanya tidak menyakitkan.

Hal ini membuat pengidap penyakit ini tidak menyadarinya.

Infeksi akan mulai terjadi di area organ intim.

Luka pada anus atau mulut hanya terjadi pada sebagian kecil kasus, dan hanya terjadi jika kontak seksual melibatkan area ini.

Perkembangan luka pada kulit akibat granuloma inguinale dibagi menjadi tiga tahap sebagai berikut ini:

Tahap Satu

Pada tahap pertama, jerawat kecil mulai menyebar dan menggerogoti jaringan di sekitarnya.

Saat jaringan mulai aus, warnanya berubah menjadi merah muda atau merah samar.

Benjolan tersebut kemudian berubah menjadi bintil merah yang menonjol dengan tekstur seperti beludru.

Ini terjadi di sekitar anus dan alat kelamin.

Meski tidak menimbulkan rasa sakit, benjolan tersebut bisa berdarah jika terluka.

Baca Juga: Awas Infeksi! Ini 6 Penyebab Sakit Telinga Kiri

Tahap Dua

Pada tahap kedua penyakit, bakteri mulai mengikis kulit.

Setelah ini terjadi, pengidapnya akan mengembangkan borok dangkal yang menyebar dari alat kelamin dan anus ke paha dan perut bagian bawah.

Jika diamati, akan terlihat bahwa pinggiran borok dilapisi dengan jaringan granulasi.

Selain itu, bau busuk mungkin saja muncul.

Tahap Tiga

Ketika granuloma inguinale berkembang ke tahap ketiga, borok menjadi dalam dan berubah menjadi jaringan parut.

Jika Moms dan Dads mengalami gejala yang disebutkan di atas, segera periksa ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Baca Juga: 5 Makanan Penyembuh Infeksi Saluran Kemih, Catat Moms!

Apa Penyebab Granuloma Inguinale?

Kelas bakteri yang dikenal sebagai Klebsiella granulomatis adalah penyebab granuloma inguinale.

Penyakit ini dapat menular lewat hubungan seks vaginal atau anal dengan pasangan yang terinfeksi.

Pada kasus yang jarang terjadi, kondisi ini juga dapat tertular melalui seks oral.

Bagaimana Granuloma Inguinale Didiganosis?

hasil-biopsi.jpg
Foto: hasil-biopsi.jpg (Pexels/Edward Jenner)

Foto Tes Biopsi (Orami Photo Stock)

Granuloma inguinale bisa sulit dideteksi pada tahap awal, karena mungkin tidak melihat lesi awal.

Dokter biasanya tidak akan mencurigai granuloma inguinale kecuali bisul sudah mulai terbentuk dan tidak hilang.

Jika borok tidak sembuh setelah jangka waktu yang lama, dokter mungkin meminta pasien untuk menjalani biopsi kulit.

Prosedurnya mengangkat area kecil dari lesi dengan pisau melingkar.

Setelah diangkat, sampel akan diuji keberadaan bakteri Klebsiella granulomatis.

Dimungkinkan juga untuk mendeteksi bakteri dengan menggores beberapa lesi dan melakukan tes lebih lanjut pada sampel.

Selain biopsi, tes darah atau tes kesehatan lainnya mungkin peerlu dilakukan.

Baca Juga: Infeksi Saluran Kemih: Gejala, Penyebab, Komplikasi, dan Pengobatan

Apa Saja Pilihan Pengobatan Granuloma Inguinale?'

Resistensi Antibiotik, Risiko Jika Tidak Menghabiskan Obat Antibiotik 01.jpg
Foto: Resistensi Antibiotik, Risiko Jika Tidak Menghabiskan Obat Antibiotik 01.jpg (Nhs.org.uk)

Foto Obat-obatan Antibiotik (Orami Photo Stock)

Granuloma inguinale dapat diobati dengan menggunakan antibiotik.

Sebagian besar perawatan diresepkan selama tiga minggu, meskipun akan berlanjut sampai infeksi sembuh.

Perawatan dini disarankan untuk mencegah jaringan parut permanen dan pembengkakan di daerah organ intim, anus, paha, dan perut.

Setelah dirawat, pasien perlu melakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan infeksi tidak kembali.

Pada beberapa kasus, penyakit bisa kambuh walaupun sebelumnya sudah dinyatakan sembuh.

Berdasarkan CDC, pengobatan utama penyakit ini adalah minum zitromisin 1 gram sekali seminggu atau 500 mg setiap hari selama lebih dari 3 minggu, atau ketika semua lesi benar-benar sembuh.

Baca Juga: Benarkah Riwayat Infeksi Menular Seksual Bikin Susah Hamil?

Untuk mengobatan alternatif, antibiotik yang diresepkan dokter, meliputi:

  • Doksisiklin 100 mg per oral 2 kali/hari selama minimal 3 minggu dan sampai semua lesi benar-benar sembuh.
  • Eritromisin 500 mg per oral 4 kali/hari selama lebih dari 3 minggu dan sampai semua lesi benar-benar sembuh.
  • Trimetoprim-sulfametoksazol satu tablet kekuatan ganda (160 mg/800 mg) 2 kali/hari selama lebih dari 3 minggu dan sampai semua lesi benar-benar sembuh.

Semoga informasi di atas dapat membantu Moms dan Dads dalam melakukan pencegahan, ya!

  • https://www.healthline.com/health/granuloma-inguinale
  • https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/donovanosis.htm
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513306/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.