Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
23 Februari 2022

Manfaat, Dosis, dan Efek Samping Bronkodilator untuk Masalah Pernapasan

Sesak napas pada pengidap asma bisa diobati dengan bronkodilator
Manfaat, Dosis, dan Efek Samping Bronkodilator untuk Masalah Pernapasan

Bronkodilator sering menjadi obat pilihan untuk masalah pernapasan.

Bila Moms dan Dads diresepkan obat ini oleh dokter, sebaiknya cari tahu lebih dalam mengenai obat ini terlebih dahulu.

Jangan khawatir, simak dengan teliti ulasan mengenai obatnya berikut ini.

Manfaat Bronkodilator

Penyebab Sesak Napas pada Ibu Hamil-2.jpg

Foto: Penyebab Sesak Napas pada Ibu Hamil-2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Bronkodilator adalah jenis obat yang membuat pernapasan lebih mudah dengan mengendurkan otot-otot di paru-paru dan memperlebar saluran udara (bronkus).

Obat ini sering digunakan untuk mengobati kondisi jangka panjang pada saluran pernapasan yang bisa menyempit dan meradanga, seperti:

Obat ini dapat berupa sebagai short-acting untuk mengobati serangan sesak napas yang tiba-tiba.

Ada pula yang berupa long-acting yang mengontrol sesak napas dan meningkatkan efektivitas kortikosteroid pada pengidap asma.

Baca Juga: Sering Batuk Sampai Muntah? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Jenis dan Cara Kerja Bronkodilator

Yuk, Kenali Penyebab-Penyebab Asma pada Anak di Sini.jpg

Foto: Yuk, Kenali Penyebab-Penyebab Asma pada Anak di Sini.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Berikut ini adalah jenis-jenis yang umum dari bronkodilator sekaligus cara kerjanya.

Antagonis Beta 2

Cara kerjanya merangsang merangsang beta-adrenoseptor di jalan napas, sehingga menyebabkan otot polos di sekitar saluran udara menjadi lebih rileks.

Dengan begitu dapat meningkatkan aliran udara dan mengurangi gejala, seperti sesak napas.

Contoh obatnya adalah salbutamol, salmeterol, formoterol, dan vilanterol.

Obat antikolinergik

Jenis antikolinergik memblokir aksi asetilkolin.

Asetilkolin adalah bahan kimia yang dilepaskan oleh saraf yang dapat menyebabkan pengetatan saluran bronkial.

Dengan memblokir bahan kimia tersebut, bronkodilator antikolinergik menyebabkan saluran udara rileks dan terbuka.

Contoh obat ini, yaitu ipratropium, tiotropium, aclidinium, dan glycopyrronium.

Turunan Xantin

Tipe obat ini juga mengendurkan otot-otot saluran napas, meskipun dokter tidak tahu persis bagaimana cara kerjanya.

Turunan xantin utama adalah teofilin.

Dokter jarang meresepkan teofilin lagi karena banyak orang mengalami efek samping.

Baca Juga: 12 Penyebab Batuk Kering dan Cara Mengatasinya

Dosis dan Aturan Pakai Bronkodilator

Mengenal Asma Alergi Penyebab dan Pengobatannya 03.jpg

Foto: Mengenal Asma Alergi Penyebab dan Pengobatannya 03.jpg (thesun.co.uk)

Foto: Orami Photo Stock

Setiap orang mungkin saja diresepkan dosis obat yang berbeda-beda.

Bergantung dengan jenis obat, usia, dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Meski begitu, biasanya dokter akan menggunakan aturan berikut.

Dosis berikut ini hanya menampilkan beberapa jenis obat saja.

Ipratropium

Sediaan: inhaler

Tujuan pengobatan: mengobati asma dan PPOK.

  • Dewasa: 20–40 mcg, 3–4 kali sehari. Jika diperlukan, dapat ditingkatkan menjadi 80 mcg dalam sekali penggunaan. Dosis untuk digunakan dalam alat nebuliser adalah 250–500 mcg, 3–4 kali sehari
  • Anak-anak usia <6 tahun: 20 mcg, 3 kali sehari.
  • Anak-anak usia 6–12 tahun: 20–40 mcg, 3 kali sehari.

Baca Juga: Mengatasi Asma Akibat Stres, Ini Penjelasannya!

Formoterol

Sediaan: inhaler

Tujuan pengobatan: mengobati asma dan PPOK.

  • Dewasa: 12 mcg, 2 kali sehari, dosis maksimal 48 mcg per hari atau 24 mcg per kali hirup.

Teofilin

Tujuan pengobatan: mengobati bronkospasme akut

Untuk bentuk sediaan obat minum dengan penyerapan segera (immediate-release).

  • Dewasa: 5 mg/kgBB per hari.

Untuk bentuk sedian obat minum dengan penyerapan dimodifikasi (modified-release)

  • Dewasa: 250–500 mg 2 kali sehari atau 400–600 1 kali sehari. Dosis pemeliharaan 200 mg 2 kali sehari
  • Anak usia 6–12 tahun, berat badan 20–35 kg: 125–250 mg 2 kali sehari
  • Anak usia di atas 12 tahun: 250–500 mg 2 kali sehari.

Baca Juga: Cari Tahu Apa Saja Minuman Pembersih Paru-Paru, Cegah Gangguan Pernapasan

Kebanyakan menggunakan bronkodilator inhalasi, karena menghirup obat memungkinkan mencapai paru-paru lebih cepat.

Di samping itu, hal ini juga memungkinkan dosis yang diambil juga lebih rendah, sehingga kemungkinan efel samping jadi lebih minim ketimbang obat minum.

Namun, pilihan bentuk bronkodilator perlu disesuaikan dengan usia, tingkat kesadaran, dan preferensi.

Lebih jelasnya, penggunaanbronkodilator akan dijelaskan sebagai berikut.

  • Inhaler dosis terukur. Pada tipe II, tabung kecil bertekanan digunakan sebagai media untuk mempermudah obat dihirup dan sampai ke paru-paru.
  • Nebuilizer. Tipe ini menggunakan obat dalam bentuk cair dan mengubahnya menjadi aerosol yang kemudian dihirup melalui corong.
  • Bentuk lainnya. Tersedia dalam bentuk inhaler bubuk kering, inhaler kabut lembut, dan bronkodilator sediaan tablet dan sirup.

Menentukan cara terbaik dalam pemberian obat ini penting karena menjadi penentu seberapa besar dosis obat akan diberikan.

Contohnya, jika seseorang tidak cocok dengan bronkodilator inhalasi, obat tidak mencapai paru malah berakhir di bagian belakang tenggorokan.

Baca Juga: Ini Perbedaan Batuk Alergi dan Batuk Flu pada Balita

Efek Samping Bronkodilator

Sakit kepala.jpg

Foto: Sakit kepala.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Efek samping bronkodilator dapat bervariasi, tergantung pada obat spesifik yang digunakan.

Efek sampingnya pada setiap orang dapat berbeda-beda, tergantung dengan bagaimana tubuh meresepons obat.

Berikut ini berbagai efek samping yang mungkin terjadi, yaitu:

Agar efek samping bisa diminimalisasi, gunakan obat sesuai dengan resep dokter.

Beri tahu dokter jika Moms dan Dads memiliki alergi obat, penyakit tertentu, atau sedang minum obat lain.

  • https://www.nhs.uk/conditions/bronchodilators/
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/325613
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK519028/
  • https://www.nhsinform.scot/tests-and-treatments/medicines-and-medical-aids/types-of-medicine/bronchodilators
  • https://www.mims.com/indonesia/drug/info/ipratropium%20bromide?mtype=generic
  • https://www.mims.com/indonesia/drug/info/formoterol?mtype=generic
  • https://www.mims.com/indonesia/drug/info/theophylline?mtype=generic