21 Juni 2018

Mengenal 4 Masalah Gangguan Pernapasan Pada Bayi Baru Lahir

Patut tahu agar Moms bisa mengantisipasinya

Ada berbagai masalah gangguan pernapasan pada bayi baru lahir yang perlu Moms waspadai. Presentasi klinis gangguan pernapasan pada bayi baru lahir meliputi apnea, sianosis, mendengus, sindrom inspirasi, pembersihan hidung, makanan yang buruk, dan takipnea (bernapas lebih dari 60 kali per menit).

Gangguan pernapasan terjadi pada sekitar 7% bayi, dan persiapan sangat penting dilakukan oleh dokter yang memberikan perawatan neonatal. Sebagian besar kasus ini disebabkan oleh takipnea transien pada bayi baru lahir, sindrom gangguan pernapasan, atau sindrom aspirasi mekonium, namun berbagai penyebab lainnya juga mungkin terjadi.

1. Respiratory Distress Syndrome (RSD) Pada Bayi Baru Lahir

RSD biasanya terjadi ketika paru-paru bayi belum menghasilkan cukup surfaktan. Zat ini, yang terdiri dari protein dan lemak, membantu menjaga paru-paru tetap membesar dan mencegahnya dari kerusakan.

Bayi biasanya mulai memproduksi surfaktan sekitar minggu ke-24 sampai ke-28 kehamilan. Sebagian besar bayi menghasilkan cukup banyak surfaktan untuk bernapas secara normal pada minggu ke-34.

Jika si kecil lahir prematur, ia mungkin tidak memiliki cukup surfaktan di dalam paru-parunya.

Terkadang RDS juga terjadi pada bayi yang tidak lahir prematur, misalnya saat:

  • Ibunya menderita diabetes
  • Memiliki berat lahir rendah
  • Paru-parunya belum berkembang dengan baik

Sekitar setengah dari bayi yang lahir antara minggu ke-28 sampai ke-32 minggu kehamilan cenderung mengembangkan RDS.

2. Takipnea Transien Pada Bayi Baru Lahir

Tachypnea sementara pada bayi baru lahir merupakan penyebab paling umum dari gangguan pernapasan pada bayi baru lahir.

Dalam kasus yang ringan, terjadi ketika sisa cairan paru-paru tetap berada di jaringan paru janin setelah proses persalinan.

Prostaglandin dilepaskan setelah persalinan, pembuluh limfatik yang melebar untuk menghilangkan cairan paru saat sirkulasi paru meningkat bersamaan dengan napas pertama. Bila cairan tetap ada meskipun mekanisme ini, takipnea transien pada bayi baru lahir bisa terjadi.

Faktor risiko kondisi ini meliputi asma yang diderita sang ibu, jenis kelamin laki-laki, macrosomia, diabates yang diderita sang ibu, dan kelahiran sesar.

Presentasi klinis mencakup takipnea segera setelah lahir atau dalam waktu dua jam, dengan tanda-tanda gangguan pernapasan lainnya yang bisa diprediksi. Gejala bisa berlangsung selama beberapa jam sampai dua hari.

Baca Juga : Kebersihan Udara Ternyata Berpengaruh Pada Kesehatan Bayi Baru Lahir Lho

3. Meconium Aspiration Syndrome (MAS)

Meconium aspiration syndrome terjadi kira-kira 15% persalinan. Kondisi ini menyebabkan sindrom aspirasi mekonium pada bayi dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Meconium terdiri dari sel desquamated, sekresi, air, lanugo, pigmen empedu, enzim pankreas, dan cairan ketuban. Meskipun steril, meconum bersifat iritatif, obstruktif, dan media untuk berkembang biak bakteri.

Bagian meconium bisa mewakili hipoksia atau gawat janin dalam rahim. Gejala serupa juga bisa terjadi karena aspirasi darah atau cairan amnion yang tidak kotor.

4. Infeksi

Infeksi bakteri merupakan penyebab lain dari gangguan pernapasan pada bayi baru lahir. Patogen umum yang menyebabkan infeksi bakteri termasuk streptokokus kelompok B (GBS), Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, dan batang enterik gram negatif.

Pneumonia dan sepsis memiliki berbagai manifestasi, termasuk gejala khas gangguan pernapasan serta ketidakstabilan suhu tubuh.

Tidak seperti takipnea transien, sindrom gangguan pernapasan, dan sindrom aspirasi mekonium, infeksi bakteri membutuhkan waktu untuk berkembang, dengan gangguan pernapasan yang terjadi berjam-jam sampai berhari-hari setelah persalinan.

Wah ternyata gangguan pernapasan pada bayi baru lahir bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor ya, Moms. Apakah dokter sudah memberikan penjelasan mengenai penyebab gangguan pernapasan yang dialami si kecil?

(RGW)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.