Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
26 Oktober 2022

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

Penyebab utama penyakit ini adalah kebiasaan merokok
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

Moms, penyakit paru obstruktif kronis atau yang biasa disingkat dengan PPOK, adalah penyakit yang perlu diwaspadai karena bisa berakibat fatal.

Dalam bahasa Inggris, penyakit PPOK disebut chronic obstructive pulmonary disease (COPD).

Pada ulasan kali ini, Orami akan membahas seputar penyebab, gejala, dan juga penanganan penyakit paru obstruktif kronis yang bisa dilakukan.

Menurut Kemenkes, penyakit paru obstruktif kronis adalah istilah yang digunakan untuk sejumlah penyakit yang menyerang paru-paru untuk jangka panjang.

Penyakit ini menghalangi aliran udara dari dalam paru-paru sehingga pengidapnya dapat mengalami kesulitan dalam bernapas.

Lebih jelasnya, simak ulasan selengkapnya berikut ini, ya, Moms!

Baca Juga: Cari Tahu Apa Saja Minuman Pembersih Paru-Paru, Cegah Gangguan Pernapasan

Apa Itu Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)?

Ilustrasi Wanita dengan Kondisi PPOK

Foto: Ilustrasi Wanita dengan Kondisi PPOK (Orami Photo Stock)

Ada banyak penyakit yang bisa menyerang paru-paru, salah satunya adalah penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Pada dasarnya, penyakit ini menghalangi aliran udara dari dalam paru-paru sehingga pengidap akan mengalami kesulitan dalam bernapas.

Meskipun banyak faktor yang bisa menjadi penyebab PPOK, kondisi ini paling sering dikaitkan dengan paparan jangka panjang terhadap zat berbahaya, seperti asap rokok.

Hal ini diungkapkan dalam National Health Service (NHS).

Selain itu, dikutip dari laman Mayo Clinic, emfisema dan bronkitis kronis adalah dua kondisi paling umum yang berkontribusi terhadap PPOK.

Kedua kondisi ini biasanya terjadi bersamaan dan dapat bervariasi dalam tingkat keparahan di antara individu dengan PPOK.

Emfisema adalah kondisi rusaknya kantung-kantung udara pada paru-paru yang terjadi secara bertahap.

Dua gejala utama dari emfisema adalah sesak napas dan batuk kronis.

Sementara itu, bronkitis adalah infeksi pada saluran udara menuju paru-paru yang menyebabkan pembengkakan dinding bronkus dan produksi cairan di saluran udara berlebihan.

Meskipun penyakit paru obstruktif kronis adalah penyakit progresif, yang artinya dapat memburuk dari waktu ke waktu, sebenarnya kondisi ini dapat diobati.

Caranya dengan manajemen yang tepat dan pola hidup yang lebih baik.

Kebanyakan orang dengan PPOK dapat mengontrol gejalanya dan punya kualitas hidup yang baik dengan mengurangi risiko kondisi terkait lainnya.

Baca Juga: Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada Anak: Jenis, Gejala dan Cara Mengatasinya

Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Foto: Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronis (hudsonvalleysinuscenter.com)

Gejala awal dari PPOK biasanya tidak terlihat, sampai terjadi kerusakan paru-paru yang signifikan.

Gejala juga biasanya memburuk dari waktu ke waktu, terutama jika paparan merokok terus berlanjut.

Berikut ini beberapa gejala PPOK yang bisa terjadi saat sudah semakin parah, yaitu:

  • Sesak napas, terutama saat melakukan aktivitas fisik
  • Mengi
  • Sesak pada bagian dada
  • Batuk kronis yang dapat menghasilkan lendir (dahak) yang mungkin jernih, putih, kuning atau kehijauan
  • Infeksi saluran pernapasan
  • Tubuh kekurangan energi
  • Detak jantung yang sangat cepat
  • Bibir dan/atau kuku berwarna biru atau abu-abu
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya
  • Pembengkakan pada area pergelangan kaki, kaki atau tungkai

Baca Juga: Yuk, Kenali Bagian dan Fungsi Paru-paru untuk Tubuh!

Penyebab Terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Penyebab Terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Foto: Penyebab Terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronis (Orami Photo Stock)

Beberapa faktor yang disebutkan menjadi penyebab terjadinya penyakit paru obstruktif kronis, yaitu:

1. Kebiasaan Merokok

Penyebab utama terjadinya PPOK adalah kebiasaan merokok dan paparan asap rokok dan tembakau dalam jangka waktu yang panjang.

2. Asap dan Debu di Tempat Kerja

Paparan debu dan bahan kimia tertentu di tempat kerja ternyata dapat merusak paru-paru dan meningkatkan risiko mengalami PPOK.

Beberapa zat yang telah dikaitkan dengan PPOK, meliputi:

  • Debu dan asap kadmium
  • Debu silika
  • Asap las
  • Isosianat
  • Debu batu bara

Risiko PPOK akan semakin tinggi jika menghirup debu atau asap di tempat kerja dan ditambah lagi dengan memiliki kebiasaan merokok.

3. Paparan Polusi Udara

Dilansir dari Kemenkes, paparan polusi udara juga bisa menjadi faktor penyebab PPOK.

Misalnya asap kendaraan bermotor, debu jalanan, gas buangan industri, debu vulkanik gunung meletus, asap kebakaran hutan, asap obat nyamuk bakar, asap kayu bakar, dan lainnya.

4. Faktor Usia

PPOK akan berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun.

Biasanya, gejala penyakit umumnya muncul pada pengidap yang berusia 35 hingga 40 tahun.

5. Faktor Genetik

Seseorang lebih mungkin mengalami PPOK jika merokok dan memiliki anggota atau riwayat keluarga dengan kondisi yang serupa.

Hal ini menunjukkan bahwa gen beberapa orang mungkin membuat mereka lebih rentan terhadap kondisi tersebut.

Diagnosis Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Diagnosis Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Foto: Diagnosis Penyakit Paru Obstruktif Kronis (iStock.com)

Beberapa langkah diagnosis yang biasanya dilakukan untuk mendeteksi PPOK, yaitu:

1. Spirometri

Cara untuk mendapatkan diagnosis yang akurat, yaitu seseorang harus menjalani tes sederhana yang disebut spirometri.

Caranya dengan meniup keras ke dalam mesin yang mengukur jumlah total udara yang dapat dihirup, yang disebut kapasitas paru-paru.

Tes ini juga mengukur seberapa cepat dapat mengosongkan paru-paru.

Orang sehat dapat mengosongkan setidaknya 70% udara dari paru-paru mereka pada detik pertama dari embusan yang keras.

2. Rontgen Dada dan Tes Darah

Untuk sebagian besar orang, diagnosis PPOK hanya dapat dikonfirmasi dengan spirometri.

Selain itu, diagnosis juga dapat dilakukan dengan rontgen dada dan tes darah untuk memerhatikan kondisi secara keseluruhan.

Baca Juga: Flek Paru pada Anak, Waspadai 6 Pantangannya

Bagaimana Pengobatan PPOK?

Wanita Jalan Kaki di Pagi Hari

Foto: Wanita Jalan Kaki di Pagi Hari (Orami Photo Stock)

Seperti yang diungkapkan di awal, bahwa ada beberapa cara pengobatan penyakit paru obstruktif kronis yang bisa dilakukan untuk mendukung kualitas hidup pengidapnya.

Dilansir dari laman Centers for Disease Control and Prevention, dokter mungkin akan mempertimbangkan beberapa opsi perawatan untuk atasi PPOK, di antaranya:

1. Konsumsi Obat-obatan

Beberapa gejala PPOK, seperti batuk atau mengi, dapat diobati dengan obat-obatan.

Sebaiknya, rutin untuk minum obat sesuai dengan anjuran dokter agar gejala tidak semakin parah.

2. Rehabilitasi Paru

Perawatan ini juga dapat diperlukan untuk mengelola gejala PPOK agar meningkatkan kualitas hidup.

Perawatan yang dimaksud bisa termasuk belajar bernapas lebih baik, memerhatikan jenis makanan yang sebaiknya dikonsumsi, serta olahraga apa yang tepat untuk pengidap penyakit paru obstruktif kronis.

3. Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Paru-paru

Infeksi paru-paru bisa menyebabkan masalah serius pada penderita PPOK.

Vaksin tertentu, seperti vaksin flu dan pneumonia, sangat penting dilakukan bagi mereka yang memiliki PPOK.

Pada beberapa kasus, infeksi saluran pernapasan juga dapar diobati dengan antibiotik, jika diperlukan.

4. Oksigen Tambahan

Oksigen mungkin diperlukan jika memiliki kadar oksigen darah rendah.

Untuk itu, sebaiknya sediakan oksigen portabel atau tabung oksigen di rumah.

Selain menerapkan pengobatan dan perawatan di atas, penting sekali untuk melakukan perubahan gaya hidup bagi para pengidap PPOK.

Ini juga menjadi langkah penting agar kualitas hidup semakin baik ke depannya.

Jika Moms atau anggota keluarga lainnya mengidap PPOK, langkah yang dapat diambil untuk mengurangi gejala, yaitu:

  • Menghentikan kebiasaan merokok.
  • Hindari asap rokok dan juga polutan udara lainnya, baik di rumah maupun di tempat kerja.

Baca Juga: Wheezing Bikin Napas Jadi Berbunyi, Ini 14 Kemungkinan Penyebabnya

Cara Mencegah Terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Cara Mencegah Terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Foto: Cara Mencegah Terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Dilansir dari National Heart, Lung, and Blood Institute, cara terbaik untuk mencegah terjadinya PPOK adalah tidak merokok.

Namun, apabila sudah telanjur memiliki kebiasaan merokok, sebaiknya berhenti mulai dari sekarang.

Jika membutuhkan bantuan dokter atau psikolog untuk berhenti merokok, segera diskusikan cara-cara tepat yang bisa dilakukan.

Selain itu, pencegahan lainnya, yaitu dengan menjauhi asap rokok dan asap dari hasil pembakaran tembakau lainnya.

Perlu dipahami bahwa bahaya rokok tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif, tapi juga perokok pasif yang menghirup asap rokok.

Jika memiliki anak, pastikan Si Kecil tidak menghirup asap rokok karena juga akan berbahaya untuk kesehatan paru-parunya.

Nah, itulah penjelasan lengkapnya tentang penyakit paru obstruktif kronis. Semoga menjadi informasi kesehatan yang tepat agar paru-paru terjaga dengan baik, ya, Moms!

  • https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/copd
  • https://www.blf.org.uk/support-for-you/copd/diagnosis
  • https://www.cdc.gov/copd/features/copd-symptoms-diagnosis-treatment.html
  • https://www.nhs.uk/conditions/chronic-obstructive-pulmonary-disease-copd/causes/
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/copd/symptoms-causes/syc-20353679
  • http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/penyakit-paru-kronik/page/37/apa-itu-penyakit-paru-obstruktif-kronik-ppok
  • http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/penyakit-paru-kronik/page/23/faktor-risikopenyakitparuobstruktif-kronis-ppok