25 Mei 2021

Mengetahui Penyebab, Gejala dan Pengobatan Inversio Uteri

Mengetahui apa itu inversio uteri dan risikonya.
Mengetahui Penyebab, Gejala dan Pengobatan Inversio Uteri

Foto: shutterstock.com

Mengalami inversio uteri adalah salah satu hal yang paling ditakutkan perempuan usai melakukan proses persalinan alias melahirkan. Inversio uteri adalah salah satu komplikasi yang berbahaya bagi perempuan walau jarang sekali terjadi.

Risiko terburuk perempuan yang mengalami inversio uteri adalah kematian. Hal tersebut dikarenakan kondisi ini bisa membuat perempuan yang usai menjalani proses melahirkan menjadi shock dan mengalami perdarahan yang hebat.

Meski demikian, jika cepat diatasi, kematian akibat inversio uteri bisa dihindari. Jadi, ibu dan bayi bisa selamat dan sehat.

Dilansir dari jurnal yang berjudul Total Uterine Inversion Post Partum: Case Report and Management Strategies, 1 dari 2.000 atau bahkan 1 dari 50.000 kelahiran mengalami inversio uteri. Jadi, kasus ini memang cukup jarang terjadi.

Lalu sebenarnya, apa sih inversio uteri itu? Apa yang menyebabkan kondisi ini sangat mematikan? Yuk simak di sini!

Mengenal Inversio Uteri

Inversio Uteri
Foto: Inversio Uteri

Foto: Orami Photo Stock

Inversio uteri dikenal sebagai rahim terbalik yang terjadi karena komplikasi persalinan. Jelasnya, kondisi ini hadir ketika bagian rahim atau uteris yang bernama fundus terbalik menghadap bawah ke arah vagina.

Seharusnya, fundus sendiri berada di bagian atas dan dekat pada dada. Dalam beberapa kasus, bagian rahim tersebut ada yang ikut keluar dari leher rahim atau bahkan ikut ke vagina ketika masa persalinan.

Senada dengan itu, dr. Andry, Sp.OG, dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan yang melakukan praktik di RS Pondok Indah Puri Indah dan RS Pondok Indah Bintaro Jaya mengatakan bahwa inversio uteri adalah suatu kondisi di mana lapisan terdalam dari rahim (endometrium) turun, bahkan keluar melalui lubang luar rahim.

Baca Juga: Apa Penyebab Ukuran Rahim Kecil?

Gejala inversio uteri adalah nyeri pada post-partum, perdarahan yang banyak, bahkan dapat terjadi syok yang mengancam nyawa.

Cara mengatasi inversio uteri adalah pemberian cairan infus, obat-obatan, ataupun transfusi darah apabila diperlukan, untuk mengatasi syok yang terjadi. Selain itu, juga dapat dilakukan pemberian obat-obatan untuk melemaskan rahim yang “terbalik” dan dilakukan reposisi manual yaitu mendorong endometrium ke atas. Apabila rahim mengalami infeksi atau kematian jaringan, maka perlu dilakukan operasi pengangkatan rahim (histerektomi).

Dampak yang dapat ditimbulkan dari inversio uteri adalah infeksi, perdarahan, syok, bahkan sampai kematian.

Nah, usai mengetahui mengenai apa itu inversio uteri, yuk kenali apa yang menjadi penyebab kondisi ini bisa terjadi!

Gejala Inversio Uteri

inversio-uteri.jpg
Foto: inversio-uteri.jpg (Orami Photo Stock)

Foto: Orami Photo Stock

Sebelum seseorang mengalami inversio uteri, biasanya perempuan tersebut akan merasakan gejala yang timbul dan perlu diwaspadai.

Gejala yang bisa menandakan hadirnya kondisi adalah;

  • Benjolan yang keluar dari vagina
  • Pusing
  • Perdarahan hebat
  • Lemas
  • Muncul keringat dingin
  • Napas yang pendek
  • Jantung terasa lebih kencang dari keadaan normal

Tak hanya itu, dokter pun bisa mendiagnosis seseorang mengalami kondisi ini ketika ia merasa rahimnya tak berada di posisi yang seharusnya dan diikuti dengan menurunnya tekanan darah secara drastis.

Baca Juga: Stres Pasca Melahirkan, Tanda Mama Menderita Baby Blues Syndrome

Penyebab Inversio Uteri

Membicarakan penyebab inversio uteri, ternyata kondisi ini penyababnya belum bisa diketahui secara pasti. Kendati demikian, ada beberapa hal yang dipercaya atau diyakini bisa meningkatkan risiko ibu yang sedang hamil mengalami inversio uteri pasca melahirkan.

Kondisi yang bisa meningkatkan risiko tersebut adalah;

  • Persalinan lama dan berlangsung lebih dari 24 jam
  • Sudah pernah melahirkan sebelumnya
  • Rahim lemah
  • Tali pusar janin yang pendek
  • Ibu hamil yang menggunakan obat pelemas otot saat persalinan
  • Mengalami atau memiliki kelainan rahim sejak awal masa kehamilan
  • Adanya plasenta akreta yang bisa membuat plasenta tertanam terlalu dalam di dinding rahim
  • Memiliki riwayat inversio uteri sebelumnya
  • Tenaga medis yang menarik tali pusat terlalu keras ketika proses persalinan
  • Plasenta yang mendempel di bagian atas rahim
  • Bayi yang tumbuh terlalu besar ketika masih di dalam kandungan

Dilansir dari sebuah sebuah studi yang berjudul Risks and Consequences of Puerperal Uterine Inversion in The United States, 2004 through 2013, presentasi klinis pasien yang menderita kondisi ini pada umumnya mengalami benjolan pada vagina yang disertai perdarahan dan tanda shock.

Tak hanya itu, penyebab yang paling sering terjadi ketika seseorang mengalami kondisi ini dikarenakan traksi tali pusat eksesif dan tekanan fundus uteri saat persalinan kala tiga sebelum separasi plasenta. Biasanya hal ini terjadi karena tenaga kesehatan yang belum terlatih.

Lalu, apa sih yang harus dilakukan ketika mengalami inversio uteri, mengingat kondisi ini perlu cepat ditangani? Ini dia!

Baca Juga: Rahim Miring. Dapatkah Mengganggu Kesuburan?

Tindakan yang Perlu Dilakukan untuk Sembuhkan Inversio Uteri

Inversio Uteri
Foto: Inversio Uteri

Foto: Orami Photo Stock

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, perempuan yang mengalami kondisi ini biasanya akan mengalami shock serta perdarahan yang hebat. Jadi, sebagai penanganan utama, infus harus segera diberikan serta transfusi darah pun harus segera dilakukan.

Perlu diketahui 2 langkah tersebut harus segera dilakukan agar carian dan darah yang hilang secara berlebihan bisa segera tergantikan. Tindakan tersebut pun bisa mencegah sang ibu agar tak mengalami shock hipovolemik dan sekaligus bisa mengatasi hipotensi atau terkanan darah rendah yang bisa terjadi.

Usai melakukan 2 tindakan di atas, dokter pun biasanya akan berusaha untuk membenarkan posisi rahim agar posisinya kembali seperti semula. Namun, sebelum melakukan tindakan tersebut, Moms biasanya akan diberikan anestesi atau bius total.

Ada 3 cara untuk bisa mengembalikan posisi rahim seperti semula. Hal yang bisa dilakukan adalah;

1. Reposisi Manual

Pada umumnya, reposisi manual akan dilakukan dengan cara yang manual, Moms. Dokter biasanya akan mendorong balik rahim yang keluar dari leher rahim agar bisa kembali ke posisi awalnya.

Biasanya, usai reposisi selesai dilakukan, dokter akan memberikan obat untuk membantu rahim yang kontraksi dan mencegahnya kembali terbalik. Obat yang biasa diberikan adalah onxytocin dan mehtylergonovine.

Usai itu, dokter atau perawat pun biasanya akan memijat rahim hingga rahim terasa kontraksi dan perdarahan pun berhenti.

Nah, selain diberikan infus dan transufsi darah, perempuan yang mengalami kondisi ini pun biasanya akan mendapatkan antibiotik demi mencegah infeksi terjadi.

2. Reposisi Menggunakan Alat

Nah, jika tadi kita membahas mengenai reposisi yang dilakukan manual, dokter juga bisa melakukan reposisi dengan alat.

Alat yang digunakan terlihat seperti balon dan ditambah dengan alat yang bisa mengeluarkan tekanan dengan menggunakan tenaga air.

Balon itu akan ditempatkan di dalam area rahim. Setelah itu dialiri oleh cairan salin agar rahim bisa kembali ke posisi semula atau posisi normal.

3. Tindakan Operasi

Tindakan operasi perlu dilakukan ketika dua cara yang sudah dijelaskan tidak bisa mengembalikan posisi rahim seperti semula.

Inversio uteri sendiri diketahui memang tak termasuk dalam komplikasi parah yang perlu penanganan secepat mungkin. Hal tersebut dikarenakan tingkat kesembuhan usai dilakukannya perawatan dalam kondisi ini bisa dibilang cukup tinggi.

Nah, tahukah Moms kalau inversio uteri juga bisa dibedakan dan memiliki tingkatan, dinilai dari seberapa parahnya kondisi ini? Yuk simak lebih lanjut!

Tingkat Keparahan Inversio Uteri

Inversio Uteri
Foto: Inversio Uteri (Orami Photo Stocks)

Foto: Orami Photo Stock

Sama dengan kondisi lainnya, inversio uteri sendiri memiliki tingkatan untuk mengetahui keparahannya.

Tingkat keparahan dari inversio uteri ini pun mungkin bisa memengaruhi keputusan dokter untuk mengambil tindakan dalam mengembalikan rahim pada posisinya yang semula.

Tingkat keparahan inversio uteri sendiri adalah;

  • Inversi Tidak Komplet

Pada versi atau tingkatan ini, bagian atas rahim dinilai sudah rusak, Moms. Kendati demikian, tak ada bagian dari rahim yang terlihat keluar melewati serviks atau leher rahim.

  • Inversi Komplet

Dalam tingkat ini, posisi rahim benar-benar terbalik. Jadi, rahim pun bisa keluar sepenuhnya ke leher rahim.

  • Inversi Prolaps

Ini adalah tingkatan lebih tinggi dari sebelumnya, pada inversi ini, bagian atas rahim sudah keluar lebih jauh hingga ke area vagina.

  • Inversi Total

Ini adalah tingkatan tertinggi dari inversio uteri. Pada inversi ini, seluruh bagian rahim sudah berada di luar vagina.

Bukan hanya dibagi atas tingkat keparahannya, Moms. Ternyata Kondisi ini juga bisa dikategorikan atau dibedakan menjadi 3.

Yang membedakan kategori tersebut adalah waktu kejadiannya. Ini 3 perbedaan inversio uteri berdasarkan waktu kejadiannya!

  • Inversi Akut

Inversi akut biasanya terjadi dalam 24 jam setelah waktu persalinan terjadi

  • Inversi Sub Akut

Lebih jauh dari yang pertama, inversi ini bisa terjadi setelah 24 jam hingga 1 bulan setelah persalinan terjadi

  • Inversi Kronis

Ini bisa menjadi yang paling menakutkan, Moms. Karena inversi ini bisa terjadi 1 bulan usai terjadinya persalinan.

Agar hal ini tak terjadi dan Moms bisa mengantisipasinya, yuk ketahui lebih dalam mengenai gejala dari inversio uteri ini!

Baca Juga: Mengenal Adenomiosis, Masalah di Rahim yang Bisa Bikin Sulit Hamil

Itulah gejala, penyebab, dan juga tindakan untuk menyembuhkan inversio uteri. Meskipun berbahaya dan dapat mengakibatkan kematian, namun kondisi inversio uteri ini masih bisa ditangani.

Jadi, jika Moms mengalami gejala yang sudah disebutkan di atas, sebaiknya langsung konsultasikan diri ke dokter ya! Terlebih jika Moms sedang hamil dan merasakan tanda-tanda hadirnya kondisi inversio uteri.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.