Di atas 5 tahun

23 April 2020

4 Jenis Gangguan Elektrolit pada Anak

Apa saja jenis gangguan elektrolit yang sering dialami anak?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Wina Andria
Disunting oleh Intan Aprilia

Tahukah Moms, kalau mengalami salah satu jenis gangguan elektrolit saja bisa mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang anak?

Gangguan elektrolit adalah kondisi di mana kadar elektrolit dalam cairan tubuh terlalu rendah atau terlalu tinggi dari kadar normal, sehingga bisa mengganggu kelancaran berbagai fungsi vital tubuh.

Elektrolit yang dibutuhkan tubuh di antaranya adalah sodium, potasium, klorida, kalsium, magnesium, fosfat, dan bikarbonat.

Semuanya adalah mineral esensial bermuatan listrik yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung fungsi sistem saraf dan otot di otak, jantung, paru-paru, dan organ vital lain.

Baca Juga: Penyebab Gangguan Elektrolit pada Tubuh Anak

Jenis Gangguan Elektrolit pada Anak

Yuk Moms, baca sampai selesai untuk tahu lebih banyak tentang berbagai jenis gangguan elektrolit yang paling sering dialami anak.

1. Hipokalsemia

4 Jenis Gangguan Cairan dan Elektrolit Pada Anak 1.jpg

Foto: whatparentsask.com

Hipokalsemia atau konsentrasi serum kalsium kurang dari 8.5mg/dL bisa dialami anak akibat kekurangan vitamin D, masalah penyerapan nutrisi, konsumsi obat tertentu, maupun gangguan fungsi hati, ginjal, atau tiroid.

Anak yang mengalami hipokalemia ringan biasanya tidak menunjukkan gejala, tapi terkadang bisa ditandai dengan rambut dan kulit kering, kuku rapuh, kram otot, kejang, atau tulang rapuh.

Jika tidak segera diatasi, dalam jangka panjang, gangguan elektrolit bisa menyebabkan perubahan gigi, perubahan stuktur otak, tulang keropos, juga katarak.

2. Hipernatremia

4 Jenis Gangguan Cairan dan Elektrolit Pada Anak 2.jpg

Foto: healthfully.com

Hipernatremia adalah jenis gangguan elektrolit di mana konsentrasi sodium dalam darah melebihi angka normal (145 mmol/L).

Kondisi ini seringkali ditemui pada anak berusia di bawah 12 bulan yang mengalami dehidrasi akibat diare.

Gejala awal hipernatremia adalah sering haus, lemas, mual, dan berkurang nafsu makan.

Dalam jangka panjang, hipernatremia bisa menyebabkan kedutan otot, kebingungan, hingga pendarahan di dalam dan sekitar otak.

Baca Juga: Selain Minum Air Mineral, Ini Tips Agar Anak Tidak Dehidrasi

3. Hiponatremia

4 Jenis Gangguan Cairan dan Elektrolit Pada Anak 3.jpg

Foto: romper.com

Menurut studi yang dilansir National Institutes of Health, hiponatremia atau kadar sodium dalam darah di bawah angka normal (135 mmol/L) cukup sering ditemui pada anak maupun dewasa.

Penyebab hiponatremia umumnya adalah konsumsi obat diuretik, diare, gagal jantung, penyakit hati, dan sekresi hormon antidiuretik berlebihan.

Jika tidak segera diatasi, kondisi ini bisa memicu komplikasi seperti penumpukan cairan otak, peningkatan tekanan dalam ruang otak, gangguan aliran darah di otak, atau kelainan struktur otak.

4. Hipokalemia

4 Jenis Gangguan Cairan dan Elektrolit Pada Anak 4.jpg

Foto: freepik.com

Anak bisa dikatakan mengalami hipokalemia jika konsentrasi potassium dalam darahnya kurang dari 3.4-4.7 mEq/L.

Jenis gangguan elektrolit ini paling sering disebabkan oleh diare dan muntah berkepanjangan, kurang gizi, keringat berlebih, gagal ginjal kronis, dan kurang asupan potassium.

Mengutip Healthline, hipokalemia biasanya ditandai dengan gejala seperti tubuh lemas, kram atau kedutan otot, gangguan pencernaan, jantung berdebar, parastesia di tangan dan kaki, gangguan pernapasan, juga perubahan mood.

Baca Juga: Supaya Tidak Lemas Saat Puasa, Konsumsi 5 Buah Segar Ini Saat Sahur

Secara umum, berbagai jenis gangguan elektrolit pada anak sebenarnya bisa dicegah dengan menjalankan pola makan seimbang, minum sesuai dengan kebutuhan, membatasi asupan sodium, dan mengonsumsi minuman atau makanan kaya elektrolit setelah aktivitas fisik berat.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait