30 Juni 2019

Mengenal Kernikterus, Bayi Kuning yang Berujung Pada Kerusakan Otak

Penanganan kurang tepat pada bayi kuning dapat menyebabkan kerusakan otak bayi.

Jangan anggap sepele ketika bayi kuning. Karena kondisi ini rupanya bisa berdampak pada kerusakan otak bayi atau yang biasa disebut dengan kernikterus.

Dengan perawatan yang tepat dan sedini mungkin pada bayi kuning, maka kernikterus atau kerusakan otak bisa dicegah.

Cari tahu informasi mengenai bayi kuning dan cara mencegah kernikterus berikut ini.

Berawal Dari Bayi Kuning

1 Berawal Dari Bayi Kuning.jpg
Foto: 1 Berawal Dari Bayi Kuning.jpg

Foto: mamanatural.com

Bayi kuning merupakan kondisi yang banyak dialami oleh bayi baru lahir. Diperkirakan bayi kuning mempengaruhi sekitar 60 persen bayi cukup bulan dan 80 persen bayi prematur, serta lebih sering terlihat pada bayi yang mendapatkan ASI eksklusif.

“Bayi kuning pada bayi baru lahir terjadi ketika ada bilirubin berlebih – komponen kuning dalam sel darah merah – di darah bayi. Kondisi ini menyebabkan kulit dan bagian putih mata bayi, menjadi kuning,” ungkap ahli menyusui dan penulis buku The Mama Natural Week by Week Guide to Pregnancy and Childbirth, Genevieve Howland, seperti dikutip dari mamanatural.com.

Tingkat bilirubin biasanya berada pada puncak tertinggi di tiga sampai lima hari pertama kehidupan bayi.

Beberapa penyebab bayi kuning, antara lain: golongan darah yang berbeda antara bayi dan Moms, bayi lahir prematur, organ hati bayi yang belum aktif sempurna, hingga dehidrasi.

Baca Juga : Bayi Kuning Saat Baru Lahir? Ini Penyebab dan Cara Merawatnya

Kerusakan Otak Pada Bayi

2 Kerusakan Otak Pada Bayi.jpg
Foto: 2 Kerusakan Otak Pada Bayi.jpg

Foto: child-encyclopedia.com

Pada kasus ringan, bayi kuning bisa sembuh dengan sendirinya. Namun jika dibiarkan berlarut-larut tanpa perawatan yang tepat guna menurunkan tingkat bilirubin bayi, maka bisa memicu masalah kerusakan otak pada bayi.

“Ketika bayi kuning sangat parah, selalu ada risiko bilirubin menjadi racun bagi otak bayi. Suatu kondisi yang disebut sebagai kernikterus. Dapat menyebabkan kejang, tuli, dan keterlambatan perkembangan motorik,” ungkap Dokter anak dan petugas medis di Canadian Pediatric Society (CPS), Danielle Grenier, seperti dikutip dari todaysparent.com.

Selain kulit dan mata bayi kuning, gejala lain kernikterus atau kerusakan otak bayi, antara lain: bayi lesu, rewel tidak terkendali, demam, susah makan, tubuh kaku, gerakan mata yang tidak biasa, hingga kejang otot.

Saat Si Kecil memperlihatkan tanda-tanda ini, ada baiknya Moms segera mengkonsultasikan pada Dokter mengenai perawatan tepat bagi masalah bayi kuning, yang dapat berujung pada kerusakan otak Si Kecil.

Baca Juga : ASI Bisa Sebabkan Bayi Kuning, Mengapa?

Mencegah Kernikterus

3 Mencegah Kernikterus.jpg
Foto: 3 Mencegah Kernikterus.jpg

Foto: thespec.com

Cara terbaik dalam mencegah kernikterus atau kerusakan otak bayi adalah menyembuhkan masalah bayi kuning, sebelum terjadi kerusakan otak pada Si Kecil.

Salah satu perawatan yang akan disarankan dokter kepada bayi kuning dengan tingkat bilirubin tinggi adalah melakukan terapi sinar (phototherapy).

Bayi akan disinari dengan cahaya biru selama beberapa waktu (bisa beberapa hari), guna memecah bilirubin.

Pastikan juga Moms tetap memberikan ASI eksklusif pada Si Kecil, karena dapat membantu menurunkan tingkat bilirubin.

“Menyusui membantu mengobati bayi kuning, karena bilirubin akan diserap dan dikeluarkan melalui urin serta feses,” ungkap ahli laktasi asal Toronto, Edith Kernerman, seperti dikutip dari todaysparent.com.

Jika diperlukan, beberapa bayi kuning juga akan direkomendasikan untuk diberikan susu formula, saat asupan ASI Moms dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan Si Kecil.

Pada kasus bayi kuning parah dan beberapa perawatan di atas tidak dapat menunjang penurunan bilirubin Si Kecil, maka dokter juga dapat merekomendasikan transfusi darah untuk membantu mempercepat penurunan bilirubin.

Ini dilakukan saat gejala kerusakan otak atau kernikterus sudah mulai terlihat pada bayi kuning.

(GS/CAR)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.