27 Mei 2020

Ketuban Pecah Dini, Segera Lakukan 3 Hal Ini

Jangan panik apabila terjadi ketuban pecah dini

Ketika bayi berada di dalam kandungan, ia terlindungi dengan sangat baik. Adanya air ketuban berfungsi untuk pelindung yang menahan janin dari trauma akibat benturan.

Air ketuban ini juga berfungsi melindungi dan mencegah tali pusat dari kekeringan, yang bisa sebabkan penghambatan penyaluran oksigen melalui darah ibu ke janin.

Namun, sayangnya dapat terjadi ketuban pecah dini yang tidak bisa disepelekan.

Ketuban pecah dini terjadi saat selaput ketuban yang melindungi bayi pecah sebelum usia kehamilan ke 37 minggu.

Meskipun penyebab pastinya belum diketahui hingga saat ini, namun beberapa hal diduga meningkatkan risiko ketuban pecah lebih cepat.

Selain itu, sebaiknya segera melakukan penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih berbahaya.

Baca Juga: 4 Penyebab Polihidramnion, Gangguan Cairan Ketuban yang Berlebihan

Menangani Ketuban Pecah Dini

ketuban pecah dini (1).jpg
Foto: ketuban pecah dini (1).jpg

Foto: parents.com

Ketuban pecah dini ditandai dengan semburan cairan tiba-tiba dari area vagina atau bocornya cairan pada vagina. Selain itu, Moms merasa pakaian dalam terasa basah.

Mungkin awalnya Moms merasa seperti buang air kecil, namun penting untuk mengetahui cara menanganinya.

1. Jangan Panik

Hal pertama yang dilakukan adalah jangan panik dan segera pergi ke rumah sakit terdekat.

Pastikan saat Moms pergi ke rumah sakit didampingi pasangan atau anggota keluarga untuk mengetahui instruksi yang diberikan selanjutnya.

2. Segera ke Rumah Sakit

Penanganan selanjutnya yang dilakukan sesuai dengan usia kehamilan Moms sendiri saat terjadinya ketuban pecah dini.

“Penanganan paling tepat adalah segera pergi ke dokter dan memahami risiko yang mungkin terjadi pada ibu dan bayinya,” ujar Katherine Singh, dokter kandungan dari Cleveland Clinic.

Risiko terbesar yang dapat terjadi adalah kelahiran bayi secara prematur.

“Semua bergantung pada usia janin yang sedang berkembang. Bayi bisa dilahirkan secara prematur atau sang ibu berisiko terkena infeksi,” ujar Jennifer Wider, ahli kesehatan wanita dari New York.

Baca Juga: Bayi Keracunan Air Ketuban, Mungkinkah?

3. Obat-obatan dari Dokter

Jurnal dari University of Rochester Medical Center mengungkapkan, ketuban pecah dini bisa ditangani dengan pemberian obat-obatan apabila usia kehamilan belum mendekati persalinan. Jenis obat yang dapat diberikan, yaitu:

  • Kortikosteroid, untuk membantu paru-paru bertumbuh dengan baik.
  • Antibiotik, yang diperlukan untuk mencegah atau mengobati infeksi.
  • Obat-obatan tocolytic, yang digunakan untuk cegah persalinan prematur.

Faktor Risiko Ketuban Pecah Dini

ketuban pecah dini (2).jpg
Foto: ketuban pecah dini (2).jpg (Orami Photo Stock)

Foto: thebump.com

American Family Physician mengungkapkan ada beberapa faktor yang tingkatkan risiko Moms mengalami ketuban pecah dini.

Faktor utamanya adalah ibu hamil yang memiliki status sosial ekonomi rendah sehingga berpengaruh pada kurangnya nutrisi yang dikonsumsi. Hal ini bisa sebabkan perkembangan janin terganggu.

Selain itu, faktor lainnya adalah pernah memiliki riwayat infeksi menular seksual, pernah menjalani persalinan prematur sebelumnya, pernah alami ketuban pecah dini pada kehamilan sebelumnya, mengalami perdarahan pada vagina, dan memiliki kebiasaan merokok serta mengonsumsi alkohol.

Waspada terhadap beberapa faktor tersebut karena bisa memicu terjadinya ketuban pecah sebelum waktunya.

Selain persalinan prematur, nyatanya ada beberapa komplikasi lainnya yang dapat terjadi karena ketuban pecah dini. Di antaranya, infeksi pada cairan ketuban dan selaput, pemisahan plasenta dari uterus, dan masalah dengan tali pusat.

Baca Juga: Trik Menjaga Air Ketuban Trimester Ketiga Tetap Aman Hingga Akhir Kehamilan

Untuk itu, pentingnya melakukan penanganan segera setelah air ketuban pecah duluan.

Selalu jaga kesehatan selama masa kehamilan dengan memerhatikan nutrisi yang dikonsumsi dan aktif bergerak agar pertumbuhan janin berjalan dengan baik, ya, Moms!

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.