15 Maret 2023

Infeksi Darah: Penyebab, Gejala, dan Cara Pengobatannya

Berikut penjelasan tentang infeksi darah

Infeksi darah dalam bahasa medis disebut dengan sepsis.

Kondisi medis ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh merespons infeksi dengan melepaskan zat kimia yang memicu peradangan di seluruh tubuh.

Hal ini dapat menyebabkan kerusakan organ dan bahkan dapat menyebabkan kematian jika tidak diobati dengan tepat dan segera, Moms.

Berikut penjelasan lengkap tentang infeksi darah mulai dari penyebab hingga cara pengobatannya.

Baca Juga: 14 Manfaat Donor Darah untuk Kesehatan, Bantu Lancarkan Aliran Darah dan Kurangi Stres

Penjelasan Tentang Infeksi Darah

Infeksi Darah
Foto: Infeksi Darah (Orami Photo Stocks)

Infeksi darah adalah kondisi medis serius dimana bakteri, virus, atau jamur masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Infeksi darah dapat terjadi akibat luka terbuka, infeksi saluran kemih, atau akibat penggunaan jarum suntik yang tidak steril.

Menurut jurnal “Epidemiology and Outcome of Bloodstream Infections in Children with Cancer”, infeksi darah pada anak-anak yang menderita kanker memiliki angka kesakitan dan kematian yang tinggi, serta berkaitan dengan faktor risiko seperti penggunaan kateter sentral dan paparan antibiotik.

Kemudian, menurut jurnal “Bloodstream Infections Caused by Multidrug-Resistant Gram-Negative Bacteria”, infeksi darah yang disebabkan oleh bakteri gram-negatif multiresisten memiliki angka kesakitan dan kematian yang tinggi, serta memiliki karakteristik yang berbeda dengan infeksi darah yang disebabkan oleh bakteri gram-positif.

Dapat disimpulkan bahwa infeksi darah merupakan masalah kesehatan yang serius dan perlu penanganan yang tepat.

Pencegahan infeksi darah dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, mencuci tangan secara teratur, serta menghindari kontak dengan orang sakit atau penggunaan jarum suntik yang tidak steril.

Baca Juga: Infeksi Puerperalis, Infeksi Bakteri di Rahim setelah Melahirkan

Faktor Risiko Infeksi Darah

Badan Lemas
Foto: Badan Lemas (Freepik.com)

Ada beberapa faktor risiko yang dapat memicu infeksi darah, Moms.

Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Gangguan Kekebalan Tubuh

Menurut jurnal “Risk Factors for Developing Sepsis in Critical Care Patients with Prolonged Hospitalization”, Sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi darah.

Contohnya adalah pada pasien yang sedang menjalani kemoterapi atau transplantasi organ, yang dapat menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan risiko infeksi.

2. Penggunaan Kateter

Penggunaan kateter untuk berbagai keperluan medis, seperti infus atau hemodialisis, dapat menyebabkan masuknya bakteri ke dalam tubuh dan meningkatkan risiko infeksi darah.

Studi oleh Bozkurt et al. (2013) menunjukkan bahwa pasien yang menggunakan kateter sentral memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi darah dibandingkan dengan pasien yang tidak menggunakan kateter.

3. Penggunaan Antibiotik

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau berlebihan dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik dan buruk di dalam tubuh dan menyebabkan infeksi yang lebih berat.

Studi oleh Van Kinh et al. (2013) menemukan bahwa penggunaan antibiotik secara tidak tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi resisten antibiotik pada pasien.

4. Paparan Bakteri Gram-Negatif Multiresisten

Bakteri seperti Acinetobacter baumannii, Klebsiella pneumoniae, dan Pseudomonas aeruginosa yang resisten terhadap banyak jenis antibiotik dapat menyebabkan infeksi yang sulit diobati.

Studi oleh Li et al. (2017) menemukan bahwa prevalensi infeksi darah akibat bakteri MDR-GN cukup tinggi di rumah sakit di Cina.

Baca Juga: Serba-serbi Kanker Ovarium, Berbeda dengan Kanker Serviks!

Penyebab Infeksi Darah

Ilustrasi Virus
Foto: Ilustrasi Virus (Freepik.com/kjpargeter)

Selain faktor risiko di atas, ada beberapa penyebab infeksi darah yang perlu Moms waspadai.

1. Bakteri

Bakteri adalah penyebab utama infeksi darah.

Bakteri yang sering menyebabkan infeksi darah antara lain Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Streptococcus pneumoniae.

Studi oleh Bhattacharya et al. (2019) menunjukkan bahwa bakteri merupakan penyebab utama sepsis dan infeksi darah di rumah sakit di India.

2. Virus

Beberapa jenis virus dapat menyebabkan infeksi darah, Moms. Seperti virus hepatitis B dan C, virus HIV, dan virus dengue.

Studi oleh Dejnirattisai et al. (2016) menemukan bahwa infeksi dengue dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya infeksi darah pada pasien.

3. Jamur

Jamur dapat menyebabkan infeksi darah pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pasien dengan HIV/AIDS atau pasien kanker.

Studi oleh Pappas et al. (2018) menunjukkan bahwa jamur Cryptococcus neoformans adalah penyebab umum infeksi darah pada pasien dengan HIV/AIDS.

4. Parasit

Beberapa jenis parasit, seperti Plasmodium falciparum yang menyebabkan malaria, juga dapat menyebabkan infeksi darah.

Studi menemukan bahwa infeksi malaria dapat menyebabkan terjadinya sepsis dan infeksi darah.

Baca Juga: Sariawan HIV, Apa Bedanya dengan Sariawan pada Umumnya?

Gejala Infeksi Darah

Sesak Napas
Foto: Sesak Napas (Medicalnewstoday.com)

Gejala infeksi darah dapat bervariasi tergantung pada jenis mikroorganisme penyebab dan tingkat keparahan infeksinya.

Namun, beberapa gejala umum yang dapat muncul pada pasien dengan infeksi darah antara lain:

  • Demam
  • Menggigil
  • Sesak napas
  • Tekanan darah rendah
  • Detak jantung cepat
  • Nyeri kepala
  • Mual dan muntah
  • Kulit kemerahan atau bercak-bercak

Dalam jurnal “Diagnosis and Management of Sepsis and Septic Shock”, disebutkan bahwa gejala klinis infeksi darah dapat bervariasi tergantung pada usia pasien, jenis mikroorganisme penyebab, dan faktor risiko pasien.

Oleh karena itu, diagnosis infeksi darah harus dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan seluruh gejala dan kondisi pasien, Moms.

Baca Juga: 6 Manfaat Ikan Sarden, Dapat Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

Cara Diagnosis Infeksi Darah

Konsultasi Dokter
Foto: Konsultasi Dokter (Coach.nine.com.au)

Diagnosis infeksi darah dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain:

  1. Pemeriksaan fisik dan anamnesis: Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan wawancara dengan pasien untuk mencari tahu gejala-gejala yang muncul dan riwayat kesehatan pasien.
  2. Tes darah lengkap (TDL): Tes ini dilakukan untuk melihat apakah terdapat peningkatan jumlah sel darah putih yang menunjukkan adanya infeksi dalam tubuh. Selain itu, TDL juga dapat memberikan informasi mengenai fungsi organ tubuh dan kesehatan darah pasien.
  3. Kultur darah: Tes ini dilakukan untuk mengetahui jenis mikroorganisme yang menyebabkan infeksi darah. Pada tes ini, sampel darah pasien akan ditempatkan pada media kultur dan dibiarkan selama beberapa hari untuk mengamati pertumbuhan bakteri atau jamur. Hasil dari tes ini dapat membantu dokter dalam memilih jenis antibiotik yang tepat untuk pengobatan.
  4. Pemeriksaan radiologi: Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk mencari tahu apakah infeksi darah telah menyebar ke organ lain dalam tubuh, seperti paru-paru atau jantung.
  5. Pemeriksaan urine: Pemeriksaan urine dapat dilakukan untuk mengetahui apakah infeksi telah menyebar ke saluran kemih.
  6. Tes serologi: Tes ini dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi dalam darah yang diproduksi oleh tubuh sebagai respons terhadap infeksi. Tes ini dapat membantu dokter dalam menentukan jenis mikroorganisme yang menyebabkan infeksi darah.

Baca Juga: Pahami Jenis dan Fungsi Melakukan Tes Darah untuk Kesehatan

Pengobatan Infeksi Darah

Antibiotik
Foto: Antibiotik (Nhs.org.uk)

Pengobatan infeksi darah tergantung pada jenis mikroorganisme yang menyebabkan infeksi, tingkat keparahan infeksi, serta kesehatan umum pasien.

Berikut beberapa cara pengobatan infeksi darah yang dapat diterapkan:

  1. Pemberian antibiotik: Antibiotik digunakan untuk membunuh bakteri atau mikroorganisme penyebab infeksi. Dokter akan memilih jenis antibiotik yang tepat berdasarkan jenis mikroorganisme penyebab infeksi, sensitivitas antibiotik terhadap bakteri, serta riwayat kesehatan pasien. Pasien biasanya diberikan antibiotik intravena selama beberapa hari dan diawasi oleh dokter untuk mengetahui efektivitas pengobatan.
  2. Terapi cairan intravena: Terapi cairan intravena digunakan untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat infeksi dan mengembalikan keseimbangan cairan dalam tubuh. Terapi ini biasanya dilakukan di rumah sakit dan diawasi oleh dokter.
  3. Pengobatan suportif: Selain antibiotik dan terapi cairan intravena, dokter juga dapat memberikan obat untuk mengontrol demam, nyeri, dan gejala lain yang dirasakan pasien.
  4. Operasi: Pada beberapa kasus infeksi darah yang parah, operasi dapat diperlukan untuk mengangkat jaringan yang terinfeksi atau membersihkan abses.
  5. Pencegahan infeksi: Pasien juga perlu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar untuk mencegah penyebaran infeksi.

Penting untuk menjalani pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter dan mengikuti jadwal pemeriksaan yang telah ditentukan.

Demikian penjelasan penting tentang infeksi darah yang perlu Moms ketahui. Semoga informasi ini dapat membantu, ya!

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.