17 Maret 2024

30 Peribahasa Jawa dan Artinya yang Bisa Jadi Teladan Hidup

Peribahasa Jawa ini juga ada yang bisa jadi teladan sebagai orangtua, lho!

Menurut S. Prawiroatmojo, peribahasa Jawa didefinisikan sebagai perumpamaan, ungkapan, atau semacam pepatah, tapi tidak menggunakan arti sesungguhnya.

Perumpamaan, ungkapan, dan pepatah dalam istilah bahasa Jawa dinamakan paribasan, bebasan, maupun Ian saloka.

Paribasan, bebasan, dan saloka sebagai jenis kata yang termasuk dalam kelompok tembung entar.

Tembung entar sendiri merupakan kata perumpamaan atau kiasan yang sering digunakan untuk mengungkap sesuatu secara tidak langsung.

Ada banyak teladan hidup dalam peribahasa Jawa yang bisa dicontoh Moms dan Dads.

Baca Juga: 45 Kata-kata Tetap Semangat Bahasa Inggris, Bikin Maju!

Kumpulan Peribahasa Jawa

Kumpulan Peribahasa Jawa
Foto: Kumpulan Peribahasa Jawa (Pinterest.com)

Di samping, penggunaannya juga merupakan bagian dari pelestarian sastra Jawa.

Ada begitu banyak peribahasa Jawa, berikut beberapa di antaranya:

1.Ana dina, ana upa.” (Ada hari, ada nasi)

Selama orang mau bekerja dengan tekun pasti akan mendapat rezeki, yang dalam hal ini diibaratkan melalui nasi.

2.Kebo gupak ajak-ajak.” (Kerbau penuh lumpur mengajak kotor yang bersentuhan dengannya)

Peribahasa Jawa ini merupakan peringatan bahwa orang yang yang mempunyai sifat dan perbuatan buruk cenderung suka memengaruhi orang lain mengikuti perbuatannya.

Karena itu, kita dinasihati untuk jauhilah orang seperti itu.

3.Ngundhuh wohing pakerti.” (Memetik buah perbuatan sendiri)

Ini merupakan kiasan untuk orang yang melakukan perbuatan buruk pasti akan memperoleh keburukan pula di kemudian hari.

4.Witing tresna jalaran saka kana.” (Awal cinta karena biasa berdekatan)

Ini merupakan nasihat bagi laki-laki maupun perempuan agar berhati-hati dalam berteman, karena kedekatan dapat menumbuhkan cinta.

5.Anak polah, bapa kepradhah.” (Anak meminta, bapak meluluskannya)

Peribahasa Jawa ini merupakan peringatan bagi orangtua agar bertanggung jawab terhadap kehidupan anak-anaknya.

Orang tua harus mempertimbangkan dengan cermat permintaan Si Kecil, mengenai baik, buruk, dan manfaatnya.

Baca Juga: 83 Kata-Kata Bucin Bikin Baper, Bijak, Lucu, hingga Rindu

6.Nabok nyilih tangan.” (Memukul pinjam tangan orang lain)

Kiasan terhadap orang licik yang tidak berani menghadapi musuhnya secara terang-terangan, namun meminta bantuan orang lain dengan sembunyi-sembunyi.

7. "Mikul dhuwur mendhem jero.”
Seorang anak yang menjunjung tinggi derajat orangtuanya.

8. "Becik ketitik, ala ketara.”
Perbuatan baik akan selalu dikenali, dan perbuatan buruk nantinya juga akan terbongkar.

9. "Dhemit ora ndulit, setan ora doyan.”
Berupa doa dan harapan agar selalu diberi keselamatan, tiada suatu halangan, dan rintangan.

10. "Kakehan gludug kurang udan.”
Terlalu banyak bicara, tapi tidak pernah memberi bukti.

11. “Kekudhung walulang macan.” (Berkerudung kulit harimau)

Peribahasa Jawa ini menggambarkan orang yang berusaha mencapai keinginannya menggunakan pengaruh dari penguasa atau orang yang ditakuti masyarakat.

12.Emban cindhe, emban siladan.” (Menggendong dengan selendang, menggendong dengan rautan bambu)

Nasihat peribahasa Jawa yang kebanyakan ditujukan pada orangtua maupun penguasa agar tidak membeda-bedakan perhatiannya terhadap anak atau rakyat.

Yang disukai jangan lantas diberi kemudahan, sementara yang tidak disukai terus-menerus dipersulit hidupnya.

Baca Juga: 9 Makanan yang Harus Dihindari saat Berbuka Puasa dan Sahur

13.Kegedhen empyak kurang cagak.” (Kebesaran atap kurang tiang)

Gambaran orang yang berbuat sesuatu melebihi kemampuannya.

Dengan memaksakan diri, sebagaimana dikiaskan rumah yang atapnya terlampau besar dengan sedikit tiang, besar kemungkinan rumah (cita-citanya) tidak dapat didirikan (terwujud).

14.Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan.” (Bukan saudara bukan kerabat, kalau mati ikut kehilangan)

Ungkapan terhadap jasa seseorang yang cukup besar bagi masyarakat, sehingga ketika yang bersangkutan meninggal dunia, semua orang akan merasa kehilangan.

15. “Kesandhung ing rata, kebentus ing tawang.” (Tersandung di tempat yang rata, terbentur ke...

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb