29 Desember 2022

5 Rekomendasi Obat TBC di Apotek yang Mudah Didapatkan

Sebaiknya konsultasikan dokter terlebih dahulu ya!

Ada beberapa obat TBC di apotik yang biasanya diresepkan pasien tuberkulosis.

Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis.

Utamanya, bakteri ini menyerang paru-paru. Itu sebabnya, gejala TBC yang muncul biasanya berhubungan dengan masalah pernapasan, seperti batuk.

Apabila Moms positif terinfeksi TBC aktif, harus mengonsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter selama 6-12 bulan.

Hal ini juga bergantung dengan tingkat keparahan penyakit. 

Jika tidak dikonsumsi sesuai anjuran, kuman penyebab TBC akan menjadi kebal sehingga penyakit makin sulit disembuhkan.

Lantas, apa saja obat TBC di apotik? Yuk, simak deretannya di bawah ini!

Baca Juga: 5 Weton yang Paling Bagus, Diprediksi Hidup Sejahtera dan Makmur!

Rekomendasi Obat TBC di Apotik

Pada dasarnya, obat TBC di apotik harus sesuai anjuran dokter.

Obat TBC pun memiliki banyak jenisnya dan bekerja sesuai cara masing-masing.

Tetapi bertujuan untuk menghambat dan mematikan bakteri.

Berikut rekomendasi obat TBC di apotik:

1. Rifampicin (Rp20.000 - Rp46.100)

Rifampicin
Foto: Rifampicin

Rifampicin atau rifampin adalah obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati dan mencegah beberapa penyakit akibat infeksi bakteri, seperti tuberkulosis.

Untuk pengobatan, rifampicin biasanya harus dikombinasikan dengan obat antibiotik lain.

Rifampicin bekerja dengan cara membunuh bakteri penyebab infeksi.

Selain tuberkulosis, obat TBC di apotik ini juga digunakan untuk mengobati kusta, brucellosis, penyakit Legionnaire, dan infeksi Staphyloccus aureus yang berat.

Berikut dosis obat Rifampicin untuk TBC:

  • Dewasa

8–12 mg/kgBB, 1 kali sehari. Dosis maksimal untuk pasien dengan berat badan <50 kg adalah 450 mg per hari, sedangkan untuk pasien dengan berat badan ≥50 kg adalah 600 mg per hari.

  • Anak-anak

10–20 mg/kgBB per hari. Dosis maksimal 600 mg per hari.

Pengobatan tuberkulosis dengan rifampicin harus dikombinasikan dengan obat antituberkulosis lainnya.

Rifampicin sebaiknya dikonsumsi saat perut kosong, yaitu 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan.

Jika muncul rasa tidak nyaman pada perut atau sakit maag setelah mengonsumsi obat, rifampicin boleh dikonsumsi bersama makanan atau antasida.

Namun, jangan mengonsumsi antasida yang mengandung aluminium dalam kurun waktu 1 jam setelah mengonsumsi rifampicin.

2. Erabutol Plus (Rp22.200 - Rp23.500)

Erabutol Plus
Foto: Erabutol Plus

Erabutol adalah obat yang digunakan untuk mengobati tuberculosis (TBC), baik TB paru maupun TB ekstra paru.

Erabutol Plus tablet mengandung kombinasi ethambutol dan isoniazide, obat anti tuberculosis plus vitamin B6 untuk mengatasi efek samping berupa defisiensi pyridoxine akibat penggunaan isoniazide.

Obat TBC di apotik ini adalah anti tuberculosis yang bekerja dengan cara menghambat satu atau lebih metabolit bakteri rentan yang mengakibatkan gangguan metabolisme sel, menghambat multiplikasi, hingga kematian sel.

Obat ini aktif terhadap bakteri yang rentan hanya saat bakteri itu sedang mengalami pembelahan sel.

Erabutol Plus termasuk dalam golongan obat keras sehingga hanya bisa didapatkan dan digunakan berdasarkan resep dokter.

  • Dewasa: 2-4 kaplet sehari.
  • Anak-anak: dosis 15-20 mg Etambutol/kg berat badan/hari atau 10 mg INH/kg berat badan/hari.

Baca Juga: Kapan Harus ke Psikiater? Ini 9 Tanda Harus Konsultasi Secepatnya

3. Isoniazide (Rp1.500 - Rp4.300)

Isoniazide
Foto: Isoniazide

Isoniazid adalah obat antibiotik untuk mengobati tuberkulosis (TBC).

Dalam pengobatan TBC, isoniazid akan dikombinasikan dengan obat TBC lainnya, seperti rifampicin, ethambutol, atau pyrazinamide.

Isoniazid bekerja dengan cara membunuh dan menghentikan pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab TBC.

Obat TBC di apotik ini merupakan bagian dari terapi TBC aktif tahap awal dan lanjutan.

Selain mengobati TBC aktif, isoniazid juga digunakan dalam pengobatan TBC laten, yaitu infeksi tuberkulosis tanpa gejala.

Pengobatan dengan isoniazid diutamakan pada penderita TB laten dengan usia di bawah 5 tahun atau infeksi HIV.

Berikut ini adalah pembagian dosis isoniazid berdasarkan kondisi dan usia pasien:

Kondisi: TBC aktif dan TB ekstra paru (tuberkulosis yang menyebar ke organ lain)

  • Dewasa:

5 mg/kgBB hingga maksimal 300 mg per hari, sebagai dosis tunggal atau dosis terbagi.

Bisa juga diberikan 10 mg/kgBB hingga maksimal 900 mg per hari, dikonsumsi 3 kali seminggu.

  • Anak-anak:

10–15 mg/kgBB hingga maksimal 300 mg per hari, sebagai dosis tunggal atau dosis terbagi.

Kondisi: TB laten

  • Dewasa:

300 mg per hari sebagai dosis tunggal, dikonsumsi selama 6 bulan.

Dosis alternatif 5 mg/kgBB hingga 300 mg per hari, atau 15 mg/kgBB hingga 900 mg sebanyak 2 kali seminggu.

Lama pengobatan 6–9 bulan.

  • Anak-anak:

10 mg/kgBB hingga 300 mg per hari sebagai dosis tunggal, atau 20–40 mg/kgBB hingga 900 mg sebanyak 2 kali seminggu.

Lama pengobatan 6–9 bulan.

4. Santibi Plus (Rp8.500 - Rp10.400)

Santibi Plus
Foto: Santibi Plus

Santibi Plus adalah obat minum berupa tablet yang mengandung etambutol HCl, isoniazid, dan pirydoxine (vitamin B6).

Kandungan bahan aktif utamanya, etambutol dan isoniazid termasuk ke dalam golongan obat antibiotik yang sama-sama bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan bakteri di dalam tubuh.

Sementara, pirydoxine digunakan untuk mengatasi kekurangan vitamin B6 dalam tubuh yang biasanya terjadi akibat mengonsumsi obat-obatan seperti isoniazid.

Obat TBC di apotik ini termasuk ke dalam golongan obat resep yang hanya bisa digunakan sesuai anjuran dokter dan menggunakan resep dari dokter.

Obat ini adalah obat antituberkulosis yang digunakan untuk mengatasi infeksi tuberkulosis serta mencegah infeksi tuberkulosis pada orang yang telah terinfeksi dengan bakteri TB.

Berikut dosis Santibi Plus untuk dewasa:

  • Perawatan awal: 3 tablet sekali sehari.
  • Perawatan ulang: 4 tablet sekali sehari. Setelah itu 15 mg / kg berat badan / hari.

5. TB Vit B6 Sirup (Rp55.000)

TB Vit B6 Sirup
Foto: TB Vit B6 Sirup

TB VIT 6 sirup mengandung Isoniazid dan Pyridoxine HCl merupakan kombinasi yang baik untuk pengobatan tuberkulosis.

Isoniazid dapat membunuh kuman tuberkulosis dengan jalan menghambat biosintesis asam mikolat yang merupakan unsur penting dari dinding sel mikobakterium.

Sedangkan Pyridoxine HCl mencegah timbulnya neuritis perifer yang sering timbul pada pengobatan dengan Isoniazid.

Berikut dosis TB Vit B6 sirup:

  • Dewasa: 4-5 mg/kgBB/hari dosis tunggal atau dosis terbagi, maksimal 300 mg per hari
  • Anak: 10-20 mg/kg BB/hari dosis tunggal atau dosis terbagi, tergantung keparahan penyakit

Baca Juga: Memiliki Acne Prone Skin? Ini Perawatan yang Tepat untuk Mengatasinya

Itu dia Moms rekomendasi obat TBC di apotik. Jika ingin membelinya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau tanyakan pada apoteker ya.

  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/11301-tuberculosis
  • https://www.webmd.com/lung/understanding-tuberculosis-basics
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tuberculosis/symptoms-causes/syc-20351250

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb