01 Desember 2022

Berapa Lama Masa Infeksi HIV? Cari Tahu Tahapannya hingga Menjadi AIDS Berikut Ini!

Jangka waktu infeksi HIV sampai diagnosis AIDS berkisar antara 9 bulan sampai 20 tahun atau lebih

Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) bukan hal yang bisa dianggap sepele karena bisa berakibat fatal. Informasi mengenai berapa lama masa infeksi HIV pun masih menimbulkan pertanyaan.

Sebab, sampai sejauh ini belum ada obat yang benar-benar efektif untuk mengatasinya.

Ketika seseorang tertular HIV, maka ia akan mengidapnya seumur hidup.

HIV yang dibiarkan tanpa penanganan bisa berkembang menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

Pada dasarnya, HIV adalah virus yang menginfeksi sel kekebalan yang disebut sel CD4, yang merupakan jenis sel T.

Ini adalah sel darah putih yang bergerak di sekitar tubuh. HIV menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia.

Sementara itu, AIDS adalah sekumpulan gejala yang muncul karena turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.

Jadi, memang keduanya tetap saling berhubungan, ya, Moms. Lantas, sebenarnya berapa lama masa infeksi HIV?

Penting juga bagi Moms untuk memahami berapa masa infeksi HIV dan cara penularan infeksi HIV sehingga mampu mencegahnya.

Baca Juga: 10 Jenis Penyakit Menular Seksual, Tak Hanya HIV/AIDS!

Berapa Lama Masa Infeksi HIV?

Tes HIV
Foto: Tes HIV (Freepik.com/saiful52)

Jika Moms bertanya-tanya tentang berapa lama masa infeksi HIV, maka harus menyimak ulasan berikut ini.

Perlu diketahui, infeksi HIV pada awalnya sering tidak menimbulkan gejala.

Jadi, seseorang harus melakukan tes darah untuk mengetahui adanya antibodi melawan HIV.

Dilansir dari laman Johns Hopkins Medicine, antibodi HIV ini umumnya tidak mencapai tingkat yang cukup tinggi untuk dideteksi dengan tes darah standar hingga 1 hingga 3 bulan setelah infeksi.

Dan dapat memakan waktu hingga 6 bulan. Seseorang yang terpapar HIV harus segera di tes untuk infeksi HIV setelah mereka mengira mungkin telah terinfeksi HIV.

Pada beberapa kondisi, seseorang yang terinfeksi HIV mungkin saja akan menunjukkan hasil tes antibodi negatif.

Tes antibodi harus dilakukan ulang di kemudian hari. Sementara itu, berapa lama masa infeksi HIV dapat berkembang menjadi AIDS?

Jangka waktu dari infeksi HIV sampai diagnosis AIDS berkisar antara 9 bulan sampai 20 tahun atau lebih.

Dikutip dari Mayo Clinic, HIV menghancurkan sel darah putih yang berperan besar dalam membantu tubuh melawan serangan penyakit.

Semakin sedikit sel darah putih yang dimiliki, tentunya akan semakin lemah sistem kekebalan tubuh.

Dalam kondisi ini, apabila HIV tidak segera ditangani bisa berkembang menjadi AIDS.

Itulah mengapa, jangka waktu HIV bisa menyebabkan AIDS bahkan dapat memakan waktu bertahun-tahun.

Sekilas tentang sejarah penularan infeksi HIV, virus ini berasal dari jenis simpanse di Afrika Tengah.

Virus ini diduga ditularkan ke manusia ketika manusia memburu simpanse untuk diambil dagingnya, sehingga terjadi kontak dengan darah mereka yang terinfeksi.

Penelitian menunjukkan HIV mungkin telah berpindah dari simpanse ke manusia sejak akhir 1800-an.

Pada tahun 2014, UNAIDS memperkirakan sekitar 4,2 juta orang dewasa berusia 50 tahun ke atas hidup dengan HIV di seluruh dunia.

Ya, meskipun tidak dapat disembuhkan dan belum ada vaksinisasi untuk HIV, banyak kemajuan untuk penanganan virus ini.

Melalui peningkatan akses ke pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan perawatan HIV yang efektif, infeksi HIV telah menjadi kondisi kesehatan kronis yang dapat dikelola.

Untuk itu, penting sekali mengetahui berapa lama masa infeksi HIV.

Hal ini yang memunginkan orang yang hidup dengan HIV dapat hidup lebih alam dan sehat, seperti mereka yang tidak mengidap HIV.

Baca Juga: Sariawan HIV, Apa Bedanya dengan Sariawan pada Umumnya?

Gejala Terinfeksi HIV

Pada awalnya, HIV memang mungkin saja tidak menimbulkan gejala.

Nah, berapa lama masa infeksi HIV sudah diketahui. Namun, beberapa orang mengalami gejala mirip flu dalam jangka waktu 2-4 minggu setelah terinfeksi HIV akut.

Gejala ini bisa berlangsung selama beberapa hari atau beberapa minggu.

Adapun gejala-gejala yang dapat muncul, seperti:

Itulah penjelasan tentang berapa lama masa infeksi HIV.

Mengingat penularan awal HIV mungkin tidak menunjukkan gejala, Moms perlu mengetahui tahapan perkembangan infeksi HIV.

Baca Juga: Waspadai Berbagai Cara Penularan HIV AIDS dan Pencegahannya

Tahapan Perkembangan Masa Infeksi HIV

Pita Hari Aids Sedunia
Foto: Pita Hari Aids Sedunia (Freepik.com/freepik)

Setelah mengetahui berapa lama masa infeksi HIV, ketahui tahapan perkembangan terjadinya infeksi ini.

Seseorang yang terinfeksi HIV, pada umumnya akan mengawali tahapan perkembangan penyakit, yang disebut dengan nama periode window atau masa jendela HIV.

Ini merupakan masa di mana virus masuk ke dalam tubuh, yang membuat tubuh membentuk antibodi terhadap HIV.

Umumnya, kondisi ini dapat terjadi sekitar 2 minggu, hingga 6 bulan lamanya.

Ketika seseorang yang terinfeksi HIV tidak mendapatkan pengobatan, mereka biasanya berkembang melalui tiga tahap.

Pengobatan HIV dapat memperlambat berapa masa infeksi HIV atau mencegah perkembangan penyakit.

Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, berikut ini tahapan perkembangan berapa lama masa infeksi HIV hingga bisa menjadi AIDS:

1. Tahap 1: Infeksi HIV Akut

Orang-orang memiliki sejumlah besar HIV dalam darahnya dan sifatnya sangat mudah untuk menular.

Gejala yang muncul dapat berupa flu dan kondisi ini menjadi respons alami tubuh terhadap infeksi.

Namun, beberapa orang mungkin tidak langsung merasa sakit atau tidak sama sekali.

Tes antigen/antibodi atau tes asam nukleat (NAT) dapat mendiagnosis adanya infeksi HIV akut.

Jika Moms memiliki gejala mirip flu dan mengira mungkin telah terpapar HIV, maka harus segera melakukan tes untuk diagnosis yang tepat.

2. Tahap 2: Infeksi HIV Kronis

Tahapan ini juga disebut infeksi HIV tanpa gejala. HIV masih aktif tetapi berkembang biak pada tingkat yang sangat rendah.

Orang mungkin tidak memiliki gejala atau sakit selama fase ini. Namun, mereka tetap bisa menularkan HIV pada orang lain.

Pada akhir fase ini, jumlah HIV dalam darah (viral load) meningkat.

Orang tersebut mungkin memiliki gejala saat tingkat virus meningkat dalam tubuh, dan orang tersebut dapat bergerak ke tahapan berikutnya.

Namun, mereka yang rutin minum obat HIV sesuai resep mungkin tidak akan pernah berlanjut ke tahapan berikutnya.

3. Tahap 3: AIDS

Inilah fase paling parah dari berapa lama masa infeksi HIV.

Seseorang dengan AIDS memiliki sistem kekebalan yang sudah rusak sehingga mereka bisa semakin sering menderita penyakit parah. Kondisi ini disebut infeksi oportunistik.

Mereka yang mengalami AIDS dapat memiliki viral load yang tinggi dan sangat menular.

Tanpa pengobatan, orang dengan AIDS biasanya bertahan sekitar 3 tahun.

Itulah tahapan perkembangan berapa lama masa infeksi HIV yang perlu dipahami.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penderita HIV memerlukan pengobatan dengan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV di dalam tubuh agar tidak masuk ke dalam stadium AIDS.

Sementara itu, penderita AIDS membutuhkan pengobatan ARV untuk mencegah terjadinya infeksi oportunistik dengan berbagai komplikasinya.

Melihat perkembangan masa infeksi HIV tersebut, maka hal penting harus diantisipasi adalah pengetahuan tentang penularan HIV.

Cara ini mampu menekan penularan HIV yang bisa berakibat fatal.

Sejauh ini, ada banyak mitos yang beredar tentang penularan HIV dan AIDS serta pengetahuan yang kurang tentang berapa lama masa infeksi HIV.

Sebaiknya, Moms dapat membekali dengan fakta-fakta yang jelas berikut ini.

Baca Juga: Mengenal Bronkitis, Penyakit Menular yang Menyerang Saluran Pernapasan, Waspada!

Penularan HIV dan AIDS yang Perlu Diwaspadai

HIV Awareness
Foto: HIV Awareness (Freepik.com/jcomp)

Banyak informasi yang keliru tentang penularan HIV/AIDS karena tidak memahami dengan benar tentang berapa lama masa infeksi HIV.

Kondisi ini membuat Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) kerap kali dikucilkan.

Sebab mereka dianggap punya penyakit mematikan dan akan menular kepada siapapun yang berkontak langsung. Nyatanya, tidak demikian, ya, Moms.

HIV ditemukan dalam cairan tubuh seperti darah, air mani dan cairan pra-mani, cairan rektal/lendir anal, cairan vagina, dan ASI.

Infeksi HIV memang mudah menular. Namun, cara penularan infeksi HIV dapat melalui beberapa cara, seperti:

1. Kontak Seksual

Inilah penularan HIV yang paling utama dan sering terjadi.

HIV dapat dengan mudah menular melalui hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi.

Virus masuk ke dalam tubuh melalui selaput vagina, vulva, penis, rektum, atau mulut selama aktivitas seksual.

2. Kontak Darah

HIV juga bisa menular melalui kontak dengan darah yang terinfeksi.

HIV juga bisa menular melalui transfusi darah, produk darah, atau transplantasi organ atau jaringan dari mereka yang sudah terinfeksi HIV.

Namun, risiko ini sangat kecil karena kebanyakan negara sudah menguji produk darah terlebih dahulu.

3. Jarum

HIV juga sering ditularkan melalui berbagi jarum suntik, atau peralatan penggunaan narkoba dengan seseorang yang terinfeksi virus.

Pada kasus yang jarang terjadi, penularan dari pasien ke petugas kesehatan, atau sebaliknya melalui tongkat yang tidak disengaja dengan jarum yang terkontaminasi atau peralatan medis lain.

4. Dari Ibu yang Terinfeksi kepada Bayinya

Ibu dan Anak
Foto: Ibu dan Anak (Freepik.com/ego-tanfreepix)

HIV juga dapat menyebar ke bayi yang lahir atau disusui oleh ibu yang terinfeksi virus melalui ASI.

ASI menjadi salah satu medium penularan HIV dari ibu ke anak (transmisi vertikal).

Ibu dengan HIV/AIDS tidak boleh menyusui bayinya, karena menyusui meningkatkan risiko penularan hingga 3 kali lipat.

Untuk itu, ibu hamil sebaiknya melakukan tes HIV agar bisa diketahui sejak dini.

Persalinan caesar dianggap paling aman untuk ibu hamil yang terinfeksi HIV.

Itulah penularan HIV yang bisa terjadi dan penjelasan berapa lama masa infeksi HIV.

Mitos Penularan HIV

Beberapa penularan HIV yang tidak perlu dipercaya, di antaranya:

  • Air liur
  • Keringat
  • Air mata
  • Berjabat tangan
  • Kontak biasa, seperti berbagi peralatan makan, handuk, dan selimut
  • Kolam renang
  • Telepon
  • Dudukan toilet
  • Serangga penggigit (seperti nyamuk)

Baca Juga: Moms, Kenali 9 Jenis Alat Kontrasepsi dan Fakta-faktanya

Pencegahan Penularan Infeksi HIV

HIV Tes
Foto: HIV Tes (Freepik.com/user19579769)

Moms sudah mengetahui penularan dan berapa lama masa infeksi HIV yang perlu diwaspadai.

Nah, berikut ini cara mencegah penularan infeksi HIV yang dapat dipahami, yaitu:

1. Selalu Menggunakan Kondom

Selalu gunakan kondom setiap kali melakukan seks vaginal, anal, atau oral.

Apabila menggunakan pelumas, pastikan berbahan dasar air. Pelumas berbahan dasar minyak melemahkan kondom dan menyebabkannya pecah.

Selama melakukan seks oral, gunakan kondom yang tidak dilumasi.

2. Tidak Berbagi Jarum Suntik yang Sama

Hindari berbagi jarum suntik, alat suntik, dan peralatan suntik lainnya dengan orang lain.

3. Berhati-hati Saat Transfusi Darah

Selalu bertanya kepada ahli kesehatan apakah produk darah yang Moms terima (transfusi darah, transplantasi organ atau jaringan) telah diuji HIV.

4. Meningkatkan Informasi Mengenai HIV

Minum Obat-obatan
Foto: Minum Obat-obatan (Freepik.com/stefamerpik)

Ibu hamil harus memahami tentang informasi terkait risiko penularan HIV ke bayi selama masa kehamilan, persalinan, dan menyusui.

Selain itu, lakukan tes HIV untuk memastikan keadaannya.

Apabila Moms adalah seorang petugas kesehatan, selalu cuci tangan setelah melakukan kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, serta selalu gunakan pelindung seperti sarung tangan dan kacamata.

Jika Moms, atau kerabat terdekat dianggap telah tertular HIV, bisa mengakses PEP, obat ARV selama 4 minggu yang diminum setelah kemungkinan pajanan HIV untuk mencegah masa infeksi HIV.

Moms harus memulai PEP dalam waktu 72 jam dari kemungkinan paparan agar obatnya bekerja efektif.

Baca Juga: 16 Obat Jerawat untuk Ibu Hamil yang Aman dan Efektif, Cek!

Itulah hal yang harus dipahami tentang berapa lama masa infeksi HIV dan pencegahan penularan infeksi HIV.

Dengan dibekali pengetahuan yang tepat, maka penularan HIV bisa ditekan.

Moms juga dapat memberitahu kepada orang-orang terdekat mengenai fakta HIV dan AIDS.

Tujuannya agar mewaspadai adanya virus ini, namun tidak mengucilkan ODHA.

Sebab, melansir dari Journal of Cureus, mengungkap bahwa kurangnya kesadaran, dan stigma sosial mengenai infeksi HIV dapat memperumit situasi yang pada dasarnya sudah rumit.

Maka dari itu, sangat disarankan untuk memberi pasien penderita HIV konseling yang tepat untuk kepatuhan dalam menjalani pengobatan dan dukungan psikologis.

  • https://www.kemkes.go.id/article/view/20120100004/infodatin-hiv-dan-aids-2020.html
  • https://www.cdc.gov/hiv/basics/whatishiv.html
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hiv-aids/symptoms-causes/syc-20373524
  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/hiv-and-aids
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4818110/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.