Rupa-rupa

4 Oktober 2021

Cerita Sejarah Sunan Muria yang Suka Berdakwah di Daerah Pedalaman

Cara dakwah Sunan Muria dinilai unik, lho, Moms!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Merna
Disunting oleh Debora

Sunan Muria adalah salah satu Wali Songo yang dikenal dengan cara berdakwahnya yang unik, salah satunya dengan menggunakan metode kursus gratis.

Sunan Muria adalah anak dari Sunan Kalijaga dengan pernikahannya dengan Dewi Saroh yang merupakan puteri Syekh Maulana Ishaq.

Tidak diketahui secara pasti tahun kelahiran dari Sunan Muria, tapi dalam sejarah tercatat beliau wafat pada tahun 1551.

Meski piawai berdakwah, Sunan Muria justru memilih untuk berdakwah di daerah-daerah pelosok ketimbang daerah perkotaan.

Baca Juga: Mengenal 9 Wali Songo, Para Tokoh Penyebaran Ajaran Islam di Pulau Jawa

Nama Asli Sunan Muria

Sunan Muria

Foto: tokopedia.net

Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said.

Akan tetapi, ada juga yang menyebutnya dengan nama Raden Prawoto.

Sunan Muria sejak kecil sudah tertarik untuk belajar agama.

Saat beliau sudah beranjak remaja, Sunan Muria berguru pada Ki Ageng Ngerang bersama dengan Sunan Kudus dan Adipati Pathak.

Nama Sunan Muria disematkan karena beliau berdakwah di daerah Gunung Muria.

Oleh karena itu, nama Sunan Muria pun diberikan sebagai julukan dari masyarakat sekitar.

Baca Juga: 9 Syarat Menjadi Imam Salat yang Wajib Diketahui

Sunan Muria Lebih Suka Tinggal di Pedalaman

Bukit Muria

Foto: kompasiana.com

Ada satu hal unik yang dimiliki oleh Sunan Muria

Meski namanya sangat terkenal dan menjadi sosok yang sangat berpengaruh di Kesultanan Demak, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah terpencil dan jauh dari kehidupan pusat perkotaan.

Beliau pun memutuskan untuk tinggal dan menetap di Gunung Muria.

Gunung Muria adalah salah satu gunung yang terletak di pantai utara Jawa Tengah.

Tempatnya ini berada di sebelah timur laut Kota Semarang.

Gunung Muria masuk dalam tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Pati.

Konon salah satu alasan mengapa beliau lebih memilih untuk berdakwah di pedalaman karena beliau merasa masyarakat di pelosok tidak mendapatkan pengetahuan tentang ajaran Islam.

Ditambah lagi, kondisi ekonomi masyarakat di sana terbilang kurang mampu sehingga Sunan Muria ingin berdakwah sekaligus memajukan kehidupan ekonomi yang ada di sana.

Meski pusat berdakwahnya adalah di Gunung Muria, pengaruh Sunan Muria sangat luas.

Dakwahnya bahkan bisa mencapai daerah Jepara, Tayu, Juwana, dan di daerah sekitar Kudus.

Baca Juga: 7+ Tradisi Islam di Nusantara, Beda Daerah Beda juga Tradisinya, Unik!

Memiliki Toleransi Tinggi Terhadap Tradisi Jawa Kuno

Tradisi Kenduri Jawa

Foto: kompas.com

Masyarakat Jawa yang pada masa itu memiliki tradisi budaya yang sangat kental membuat ajaran Islam sulit diterima.

Oleh karena itu, Sunan Muria yang memiliki toleransi tinggi pun memodifikasi tradisi lama Jawa Kuno dengan ajaran Islam.

Jadi, bisa dikatakan kalau Sunan Muria tidak berdakwah secara hitam putih.

Beliau melakukan akulturasi budaya Jawa dengan ajaran Islam.

Salah satu strateginya adalah dengan memodifikasi tradisi sesajen.

Masyarakat Jawa yang pada masa itu kebanyakan adalah penganut agama Hindu, Budha, dan animisme diajarkan untuk tidak lagi mempersembahkan makanan kepada roh leluhur, melainkan membagikan makanan kepada tetangga sekitar.

Jadi, kalau ada orang yang punya hajat, maka ia bisa mengumpulkan tetangga dan mendoakan leluhur bersama-sama dengan cara Islam.

Masyarakat setempat pada masa itu menamainya dengan tradisi kenduri.

Tradisi ini sekarang lebih dikenal dengan nama kirim doa yang dilakukan sebelum bulan Ramadhan, sebelum acara pernikahan, hingga sebelum melakukan acara besar lainnya.

Tujuannya masih sama, yakni mendoakan para leluhur atau sanak keluarga yang sudah meninggal.

Namun, tidak dengan menyajikan sesajen, melainkan mengirimkan doa dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran dan shalawat.

Baca Juga: 8 Cara Mengenalkan Agama Islam Sejak dalam Kandungan

Berdakwah dengan Memberikan Kursus Gratis

Bercocok Tanam

Foto: kompasiana.com

Sunan Muria dikenal dengan cara berdakwahnya yang bisa dikatakan berbeda dari metode berdakwah lainnya.

Sunan Muria memilih metode berdakwah dengan memberikan kursus gratis kepada masyarakat setempat.

Diketahui kalau masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman memiliki pengetahuan dan keterampilan yang kurang.

Beliau kemudian menggelar kursus keterampilan yang khusus diselenggarakan bagi para petani, pedagang, pelaut, dan nelayan.

Di kursus tersebut, nantinya masyarakat akan diberikan pengetahuan bagaimana cara berdagang, bercocok tanam, menangkap ikan, membuat perahu, dan lain sebagainya.

Setelah mengajarkan kursus gratis keterampilan tersebut, beliau akan mengajarkan ajaran Islam kepada mereka.

Dengan membangun kepercayaan dari masyarakat, Sunan Muria bisa lebih mudah untuk menyebarkan agama Islam di sana.

Tidak hanya masyarakat yang tinggal di Gunung Muria dan sekitarnya, masyarakat dari luar kota hingga luar Pulau Jawa pun datang menemui Sunan Muria untuk mendapatkan kursus gratis tersebut.

Inilah yang membuat nama Sunan Muria dikenal oleh masyarakat di luar Jawa Tengah.

Baca Juga: 10 Tradisi Jawa Tengah yang Hingga Kini Masih Dilestarikan

Sunan Muria yang Berdakwah dengan Kesenian

Wayang Sebagai Media Dakwah

Foto: www.elinotes.com

Tak berbeda jauh dengan ayah sekaligus gurunya, yakni Sunan Kalijaga, Sunan Muria ini juga berdakwah dengan kesenian.

Sunan Muria memiliki kemampuan mendalang seperti ayahnya. Salah satu kisah perwayangan yang sering dilakonkan oleh Sunan Muria adalah Topo Ngeli.

Dalam kisah Topo Ngeli memiliki tokoh utama bernama Dewa Ruci yang merupakan empu dari Kerajaan Majapahit.

Dewa Ruci ini diceritakan berbaur dengan masyarakat setempat, terutama rakyat jelata.

Dengan berbaur bersama masyarakat jelata, Dewa Ruci lalu menjalin hubungan kekerabatan dan meniadakan adanya status sosial.

Sebenarnya, tokoh Dewa Ruci ini mencerminkan kepribadian Sunan Muria karena beliau juga sama-sama memiliki sifat yang sama yakni suka membantu masyarakat.

Selain itu, beliau juga sering menggelar pertunjukan wayang hasil gubahan ayahnya seperti Dewi Ruci, Dewa Srani, Semar Ambarang, Jamus Kalimasada, Begawan Ciptaning, dan masih banyak lagi.

Saat mendalang, unsur-unsur Islami dimasukkan ke dalam pertunjukan wayang tersebut.

Dengan begitu, masyarakat yang menonton pertunjukan bisa mendapatkan pelajaran tentang agara Islam.

Moms sekarang sudah tahu kan cerita sejarah Sunan Muria yang punya metode berdakwah unik.

Semoga informasi tersebut bisa berguna untuk Moms.

  • https://tirto.id/sejarah-hidup-sunan-muria-wali-songo-termuda-putra-sunan-kalijaga-gceM
  • https://www.kompas.com/skola/read/2021/01/21/145637369/sunan-muria-berdakwah-dengan-topo-ngeli?page=all
  • https://kumparan.com/berita-hari-ini/4-metode-dakwah-sunan-muria-dalam-menyebarkan-agama-islam-1upvbY6j6gX
  • https://jateng.inews.id/berita/sunan-muria
  • https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5555040/kisah-wali-songo-sunan-muria-dakwah-pakai-pendekatan-budaya-hingga-topo-ngeli/1
  • https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5555040/kisah-wali-songo-sunan-muria-dakwah-pakai-pendekatan-budaya-hingga-topo-ngeli/2
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Muria
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait