Scroll untuk melanjutkan membaca

RUPA-RUPA
23 November 2022

Kisah Sunan Muria yang Berdakwah Melalui Kesenian dan Mengajar Keterampilan Gratis pada Masyarakat

Cara dakwah Sunan Muria dinilai unik, lho, Moms!
Kisah Sunan Muria yang Berdakwah Melalui Kesenian dan Mengajar Keterampilan Gratis pada Masyarakat

Sunan Muria adalah salah satu Wali Songo yang dikenal dengan cara berdakwahnya yang unik, salah satunya dengan menggunakan metode kursus gratis.

Sunan Muria adalah anak dari Sunan Kalijaga dengan pernikahannya dengan Dewi Saroh yang merupakan puteri Syekh Maulana Ishaq.

Nama Sunan Kalijaga mungkin sudah tidak asing lagi untuk sekian banyak orang.

Beliau merupakan seorang Walisongo, yang berpengaruh dalam penyebaran Islam di pulau Jawa.

Beliau adalah Wali Allah yang merupakan putra dari Adipati Tuban.

Tidak jauh dari ayahnya, Sunan Muria juga memiliki pengaruh dalam penyebaran Islam di pulau Jawa.

Tidak diketahui secara pasti tahun kelahiran dari Sunan Muria, tapi dalam sejarah tercatat beliau wafat pada tahun 1551.

Meski piawai berdakwah, Sunan Muria justru memilih untuk berdakwah di daerah-daerah pelosok ketimbang daerah perkotaan.

Baca Juga: Mengenal 9 Wali Songo, Para Tokoh Penyebaran Ajaran Islam di Pulau Jawa

Mengenal Sunan Muria

Sunan Muria

Foto: Sunan Muria (Eastjava.com)

Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said. Akan tetapi, ada juga yang menyebutnya dengan nama Raden Prawoto.

Sunan Muria sejak kecil sudah tertarik untuk belajar agama.

Saat beliau sudah beranjak remaja, Sunan Muria berguru pada Ki Ageng Ngerang bersama dengan Sunan Kudus dan Adipati Pathak.

Nama Sunan Muria disematkan karena beliau berdakwah di daerah Gunung Muria.

Oleh karena itu, nama Sunan Muria pun diberikan sebagai julukan dari masyarakat sekitar.

Baca Juga: 9 Syarat Menjadi Imam Salat yang Wajib Diketahui

Fakta Tentang Sunan Muria

Masyarakat Berkunjung ke Makam Sunan Muria

Foto: Masyarakat Berkunjung ke Makam Sunan Muria (Eviindrawanto.com)

Berikut ini beberapa fakta mengenai Sunan Muria semasa hidupnya, yaitu:

1. Sunan Muria Lebih Suka Tinggal di Pedalaman

Ada satu hal unik yang dimiliki oleh Sunan Muria

Meski namanya sangat terkenal dan menjadi sosok yang sangat berpengaruh di Kesultanan Demak, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah terpencil dan jauh dari kehidupan pusat perkotaan.

Beliau pun memutuskan untuk tinggal dan menetap di Gunung Muria.

Gunung Muria adalah salah satu gunung yang terletak di pantai utara Jawa Tengah.

Tempatnya ini berada di sebelah timur laut Kota Semarang.

Gunung Muria masuk dalam tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Pati.

Konon salah satu alasan mengapa beliau lebih memilih untuk berdakwah di pedalaman karena beliau merasa masyarakat di pelosok tidak mendapatkan pengetahuan tentang ajaran Islam.

Ditambah lagi, kondisi ekonomi masyarakat di sana terbilang kurang mampu sehingga Sunan Muria ingin berdakwah sekaligus memajukan kehidupan ekonomi yang ada di sana.

Meski pusat berdakwahnya adalah di Gunung Muria, pengaruh Sunan Muria sangat luas.

Dakwahnya bahkan bisa mencapai daerah Jepara, Tayu, Juwana, dan di daerah sekitar Kudus.

Baca Juga: 7+ Tradisi Islam di Nusantara, Beda Daerah Beda juga Tradisinya, Unik!

2. Memodifikasi Tradisi Budaya Jawa Lama

Masyarakat Jawa yang pada masa itu memiliki tradisi budaya yang sangat kental membuat ajaran Islam sulit diterima.

Oleh karena itu, Sunan Muria yang memiliki toleransi tinggi pun memodifikasi tradisi lama Jawa Kuno dengan ajaran Islam.

Jadi, bisa dikatakan kalau Sunan Muria tidak berdakwah secara hitam putih.

Beliau melakukan akulturasi budaya Jawa dengan ajaran Islam. Salah satu strateginya adalah dengan memodifikasi tradisi sesajen.

Masyarakat Jawa yang pada masa itu kebanyakan adalah penganut agama Hindu, Budha, dan animisme diajarkan untuk tidak lagi mempersembahkan makanan kepada roh leluhur, melainkan membagikan makanan kepada tetangga sekitar.

Jadi, kalau ada orang yang punya hajat, maka ia bisa mengumpulkan tetangga dan mendoakan leluhur bersama-sama dengan cara Islam.

Masyarakat setempat pada masa itu menamainya dengan tradisi kenduri.

Tradisi ini sekarang lebih dikenal dengan nama kirim doa yang dilakukan sebelum bulan Ramadhan, sebelum acara pernikahan, hingga sebelum melakukan acara besar lainnya.

Tujuannya masih sama, yakni mendoakan para leluhur atau sanak keluarga yang sudah meninggal.

Namun, tidak dengan menyajikan sesajen, melainkan mengirimkan doa dengan membacakan ayat-ayat Alquran dan shalawat.

Baca Juga: 8 Cara Mengenalkan Agama Islam Sejak dalam Kandungan

3. Berdakwah dengan Memberikan Kursus Keterampilan Gratis

Sunan Muria dikenal dengan cara berdakwahnya yang bisa dikatakan berbeda dari metode berdakwah lainnya.

Sunan Muria memilih metode berdakwah dengan memberikan kursus gratis kepada masyarakat setempat.

Diketahui kalau masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman memiliki pengetahuan dan keterampilan yang kurang.

Beliau kemudian menggelar kursus keterampilan yang khusus diselenggarakan bagi para petani, pedagang, pelaut, dan nelayan.

Di kursus tersebut, nantinya masyarakat akan diberikan pengetahuan bagaimana cara berdagang, bercocok tanam, menangkap ikan, membuat perahu, dan lain sebagainya.

Setelah mengajarkan kursus gratis keterampilan tersebut, beliau akan mengajarkan ajaran Islam kepada mereka.

Dengan membangun kepercayaan dari masyarakat, Sunan Muria bisa lebih mudah untuk menyebarkan agama Islam di sana.

Tidak hanya masyarakat yang tinggal di Gunung Muria dan sekitarnya, masyarakat dari luar kota hingga luar Pulau Jawa pun datang menemui Sunan Muria untuk mendapatkan kursus gratis tersebut.

Inilah yang membuat nama Sunan Muria dikenal oleh masyarakat di luar Jawa Tengah.

Baca Juga: 10 Tradisi Jawa Tengah yang Hingga Kini Masih Dilestarikan

4. Sunan Muria yang Berdakwah dengan Kesenian

Wayang Sebagai Media Dakwah

Foto: Wayang Sebagai Media Dakwah (Elinotes.com)

Bentuk perjuangan Sunan Muria dalam menyebarkan ajaran Islam adalah dengan berdakwah dan mengombinasikannya dengan kesenian.

Tak berbeda jauh dengan ayah sekaligus gurunya, yakni Sunan Kalijaga.

Sunan Muria memiliki kemampuan mendalang seperti ayahnya. Salah satu kisah perwayangan yang sering dilakonkan oleh Sunan Muria adalah Topo Ngeli.

Dalam kisah Topo Ngeli memiliki tokoh utama bernama Dewa Ruci yang merupakan empu dari Kerajaan Majapahit.

Dewa Ruci ini diceritakan berbaur dengan masyarakat setempat, terutama rakyat jelata.

Dengan berbaur bersama masyarakat jelata, Dewa Ruci lalu menjalin hubungan kekerabatan dan meniadakan adanya status sosial.

Sebenarnya, tokoh Dewa Ruci ini mencerminkan kepribadian Sunan Muria karena beliau juga sama-sama memiliki sifat yang sama yakni suka membantu masyarakat.

Selain itu, beliau juga sering menggelar pertunjukan wayang hasil gubahan ayahnya seperti Dewi Ruci, Dewa Srani, Semar Ambarang, Jamus Kalimasada, Begawan Ciptaning, dan masih banyak lagi.

Saat mendalang, unsur-unsur Islami dimasukkan ke dalam pertunjukan wayang tersebut.

Dengan begitu, masyarakat yang menonton pertunjukan bisa mendapatkan pelajaran tentang agara Islam.

Baca Juga: 5+ Contoh Puisi Hari Guru yang Cocok Dibacakan Si Kecil untuk Guru di Sekolah

5. Meninggalnya Sunan Muria

Makam Sunan Muria

Foto: Makam Sunan Muria (Kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Belum ditemukan informasi yang valid mengenai kapan meninggalnya Sunan Muria.

Namun, beberapa menyebut bahwa Sunan Muria wafat pada tahun 1560 M.

Beliau dimakamkan di Desa Celo, Kecamatan Dawe, Kudus.

Saat ini, tempat pemakamannya tersebut terletak di puncak gunung Muria.

Untuk dapat ke pemakaman tersebut, pengunjung harus menaiki ratusan undakan tangga untuk dapat sampai ke kompleks makam.

Baca Juga: Sinopsis The Menu, Film Thriller tentang Pengalaman Makan Daging Manusia di Restoran Mewah!

Moms sekarang sudah tahu kan cerita sejarah Sunan Muria yang punya metode berdakwah unik.

Semoga informasi tersebut bisa berguna untuk Moms.

  • https://jateng.inews.id/berita/sunan-muria
  • eastjava.com/books/walisongo/html/walisongo/muria.html