Rupa-rupa

8 Juni 2021

Mengenal Lebih Dekat 10 Tarian Tradisional Aceh sebagai Edukasi Anak

Memiliki ciri khas dan sejarah tersendiri
placeholder

Foto: shutterstock.com

placeholder
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Karla Farhana

Daftar isi artikel

Seperti halnya kota dan provinsi lain di Indonesia, Aceh juga memiliki produk budaya berupa kesenian. Salah satunya adalah tarian tradisional Aceh.

Aceh tidak hanya terkenal sebagai kota wisata dan kulinernya. Tetapi juga tarian tradisional Aceh.

Tarian tradisional Aceh berkembang secara turun-temurun dan menjadikannya semacam ciri khas atau identitas budaya bagi masyarakat Aceh.

Banyak orang yang hanya mengetahui tari Saman saja, padahal tarian tradisional Aceh banyak macamnya dan memiliki sejarah tersendiri.

Yuk, Moms intip tarian tradisional Aceh sebagai edukasi anak!

Baca Juga: 4 Resep Mie Aceh yang Kaya Rempah, Begini Cara Membuatnya!

Tarian Tradisional Aceh

Indonesia memiliki budaya yang sangat banyak sekali, hampir seluruh wilayah memiliki ciri khas masing-masing.

Seperti halnya di Aceh yang memiliki berbagai macam budaya berupa kesenian. Salah satu kesenian yang cukup terkenal dari Aceh adalah tari Saman.

Selain tari Saman, masih banyak tarian tradisional Aceh lainnya, lho. Disimak, ya Moms!

1.Tari Saman

Tarian Tradisional Indonesia - Saman.jpeg

Foto: Orami Photo Stock

Tari Saman yang merupakan tarian tradisional Aceh ini memang sudah dikenal seluruh dunia.

Pada 24 November 2011, tarian tersebut resmi ditetapkan dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh UNESCO di Bali.

Tari saman merupakan salah satu tarian tradisional Aceh berasal dari suku Gayo yang dibawakan oleh Syekh Saman, seorang penyebar agama Islam di Aceh.

Penari tari saman akan mengenakan pakaian khusus berwarna-warni. Selama tari saman dipentaskan, penari akan membentuk format pola lantai yang khas.

Dalam melakukan tarian, penari harus berbaris membentuk garis lurus ke samping. Makna dari tarian ini adalah manusia merupakan makhluk sosial sehingga membutuhkan manusia lain.

Pola duduk dengan kaki yang bertumpu seperti duduk di antara dua sujud juga melambangkan umat Islam yang sedang membentuk syaff ketika sedang melakukan sholat.

2. Tari Seudati

Tari Seudati.jpg

Foto: portal-sejarah.com

Tarian tradisional Aceh ini memiliki suatu keunikan, yaitu dibawakan tanpa iringan alat musik apapun. Sebagai pengiring, ada lantunan syair dari aneuk syahi.

Tari Seudati berasal dari bahasa Arab 'Syahadat', yang artinya bersaksi atau pengakuan terhadap Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah dalam Islam.

Ada juga yang mengatakan bahwa Seudati berasal dari kata 'Seurasi' yang berarti harmonis atau kompak.

Berdasarkan sejarahnya, tarian ini mengisahkan berbagai macam masalah yang terjadi agar masyarakat Aceh tahu cara menyelesaikannya bersama-sama.

Awalnya, tarian Seudati dikenal sebagai tarian pesisir yang disebut Ratoh atau Ratoih. Artinya menceritakan untuk mengawali permainan atau diperagakan untuk bersuka ria saat musim panen atau malam bulan purnama.

Saat pentas, penari Seudati memakai baju berwarna putih dipadu dengan celana panjang. Sedangkan aksesorisnya terdiri dari kain songket yang dililitkan di pinggang hingga paha.

Penari juga dilengkapi Rencong di bagian pinggang dan Tangkulok (ikat kepala) berwarna merah yang menjadi ciri khas tari Seudati.

3. Tari Tarek Pukat

Tari tarek puket.jpg

Foto: humas.acehprov.go.id

Tari Tarek Pukat terinspirasi dari tradisi menarek pukat atau menarik jala yang dilakukan masyarakat Aceh, khususnya di daerah pesisir.

Tarian tradisional Aceh ini menggambarkan tentang aktivitas para nelayan Aceh saat menangkap ikan di laut. Umumnya, tari Tarek Pukat ditampilkan dalam berbagai acara, seperti upacara penyambutan, acara adat, dan acara budaya.

Dalam pertunjukannya, penari menggunakan busana tradisional serta dihias dengan hiasan dan tata rias yang membuatnya terlihat cantik.

Dengan diiringi kelompok pengiring, penari menari dengan gerakannya yang khas dan menggunakan tali sebagai atributnya.

Kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan tari ini biasanya merupakan busana tradisional.

Para penari biasanya menggunakan pakaian seperti baju lengan panjang, celana panjang, dan kerudung pada bagian kepala.

Selain itu penari juga menggunakan kain songket dan sabuk pada bagian pinggang serta hiasan kerudung sebagai pemanisnya.

Baca Juga: 5 Konflik yang Biasa Terjadi pada Pernikahan Beda Budaya

4. Tari Likok Pulo

tari likok pulo.jpeg

Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tari Likok Pulo diciptakan sekitar tahun 1849 oleh seorang pedagang sekaligus ulama asal Arab bernama Syeh Ahmad Badron.

Secara bahasa tarian tradisional Aceh ini berasal dari dua kata yakni ‘Likok’ yang bermakna ‘gerak tari’ dan ‘Pulo’ yang berarti ‘pulau’.

Pulau yang dimaksudkan adalah sebuah pulau kecil yang terdapat di ujung pelosok utara pulau Sumatra yang kerap disebut sebagai Pulau Beras (Breuh).

Secara historis, tari tersebut biasanya digelar sesudah menanam padi atau masa menjelang panen tiba.

Tarian ini juga disertai dengan pemukulan rapa'i atau alat musik untuk mengatur gerakan tari.

Para penari juga dilengkapi dengan properti bambu (Boh Likok).

5. Tari Laweut

tarian laweut.jpeg

Foto: dictio.id

Tari Laweut berasal dari kata Selawat, yaitu berupa sanjungan yang ditujukan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.

Syair-syair yang mengiringi tarian ini memang ludang kecepeh banyak bershalawat atas nabi.

Fungsi utama tarian ini, yaitu sebagai media dakwah yang memberikan pengetahuan tentang agama Islam.

Tari Laweut ini diiringi dengan suara yang berasal dari badan penari itu sendiri, menyerupai tepukan dada, norma dan sopan santun jari, tepukan tangan, hentakan kaki dan vokal syahi yang menyanyikan syair dari tarian ini.

Syair-syair tersebut mengandung pesan-pesan tersendiri mengenai keimanan, pembangunan, kemasyarakatan, dan lain-lain.

6. Tari Ratoh Duek

Tari Ratoeh Duek.jpeg

Foto: dictio.id

Tari Ratoh Duek merupakan tari tradisional dari Provinsi Aceh. Kata ratoh berasal dari Bahasa Arab rateeb, yang artinya kegiatan berdoa atau berdzikir yang di iramakan.

Tarian tradisional Aceh ini menggambarkan semangat dan kebersamaan masyarakat Aceh. Harmoni antara syair dan tepukan berirama para penari mengungkapkan kekompakkan masyarakat Aceh dalam kegiatan sehari-hari.

Tari Ratoh Duek tidak mengenakan properti tari apapun.

Kostum yang digunakan adalah baju khas Aceh yang telah dimodifikasi, yaitu pakaian polos yang dipadukan dengan kain songket Aceh, serta hiasan kepala dan ikat pinggang.

Baca Juga: Intip Keunikan 7 Tradisi Cukur Rambut Pertama Anak Dari Berbagai Budaya

7. Tari Guel

Tari Guel.jpg

Foto: travelinkmagz.com

Tarian tradisional Aceh ini merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari budaya masyarakat Gayo di Aceh.

Tari Guel memiliki gerakan yang sangat khas dan penuh makna, bahkan terkesan bernuansa mistis.

Tarian ini awalnya lebih difungsikan sebagai tarian upacara adat tertentu di kalangan masyarakat Gayo, baik secara ritual adat maupun perayaan adat.

Bagi masyarakat Gayo, tarian ini bukan sekedar tarian biasa. Tetapi, memiliki nilai dan filosofi kebudayaan mereka.

Setiap gerakan tarian mengandungan pesan dan nilai-nilai di dalamnya.

Gerakan Tari Guel ini sangat unik dan gerakan disesuaikan dengan suara musik pengiring.

Menariknya, gerakan penari pria dan wanita cenderung berbeda. Gerakan penari pria lebih mendominasi.

8. Rapai Geleng

Rapai Geleng.jpg

Foto: infopublik.id

Tarian Rapai Geleng berasal dari daerah Manggeng di Aceh Barat Daya.

Tarian tradisional Aceh ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral untuk masyarakat. Syair yang digunakan merupakan lagu-lagu keagamaan.

Nama geleng sendiri diambil dari gerakan penarinya yang menggeleng-gelengkan kepala ke kanan dan kiri dengan berirama dan sangat kompak.

Sedangkan kata rapai diambil dari nama alat musik yang menyerupai gendang yang dimainkan oleh penari. Saat ini alat musik rapai lebih dikenal dengan nama rebana.

9. Tari Didong

Tari Didong.jpg

Foto: popularitas.com

Tari Didong merupakan sebuah kesenian rakyat Gayo perpaduan unsur tari, vokal, dan sastra.

Pada sejarahnya, tarian ini dipakai sebagai sarana hiburan bagi tentara Jepang yang menduduki tanah Gayo.

Hal ini merupakan ide bagi masyarakat Gayo untuk menyebarkan didong yang syairnya tidak hanya terpaku kepada hal-hal religius dan adat-istiadat, tetapi juga permasalahan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang.

Dulunya seragam penari Didong dibedakan melalui warna dan mempunyai arti yang berbeda - beda , warna Kuning berarti “Raja” , warna hitam “Rakyat” , warna merah “ Petuah ” , dan warna putih “Imam”.

Baca Juga: 4 Budaya Jakarta yang Wajib Diperkenalkan ke Anak

10. Tari Bines

Tari_Bines.jpg

Foto: id.wikipedia.org

Tari Bines bermula dari kesenian tradisi yang disebut “piasan” yang dikemudian hari dijadikan salah satu sarana dakwah Islam.

Sebagai kesenian yang lahir dalam kehidupan masyarakat tradisional, awalnya tari ini bersifat sakral dan hanya ditampilkan dalam upacara adat saja.

Dahulu perempuan di Gayo Lues tidak diizinkan menarikan tari Saman karena sifatnya terlampau keras, kencang disertai dengan gerakan memukul-mukul dada.

Oleh karena itu para leluhur menciptakan jenis tarian lain yang dianggap layak untuk ditarikan oleh para perempuan.

Hal yang menarik lainnya adalah najuk atau pemberian uang kertas yang dijepit menggunakan lidi dan diselipkan di sempol atau sanggul para penari.

Tradisi tradisional Aceh ini adalah bentuk penghargaan atau apresiasi penonton kepada penari Bines.

Nah itu dia Moms tarian tradisional Aceh. Semoga membantu ya Moms!

  • https://today.line.me/id/v2/article/vrPGK8
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait