Parenting Islami

27 Juli 2021

Tawadhu, Apa Itu? Simak Pengertian dan Cirinya

Apakah Moms termasuk sosok yang juga rendah hati?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Lolita
Disunting oleh Amelia Puteri

Apakah Moms familiar dengan istilah tawadhu?

Dalam agama Islam terdapat karakter atau kondisi lahir dan batin manusia yang dikenal dengan istilah akhlak. Selanjutnya, akhlak dibagi menjadi dua yakni akhlak baik dan buruk.

Akhlak baik atau (akhlaq mahmudah) meliputi segala perbuatan baik seperti sabar, syukur, ikhlas, qana’ah, rendah hati (tawadhu’), jujur (sidq), dermawan (jud), amanah, pemaaf, dan lapang dada.

Sedangkan akhlak buruk (akhlaq madzmumah) di dalamnya meliputi emosi atau gampang marah (kidb), pelit (syukh), khianat, dendam, dan dengki.

Baca Juga: Mengenal Brahma Vihara, 4 Sikap Tumbuhkan Cinta yang Tulus

Meskipun dalam diri manusia selalu memiliki dua sisi mata uang yakni buruk dan baik. Tapi, tentunya diharapkan untuk bisa selalu berbuat dan menebar kebaikan dengan sesama umat untuk menciptakan perdamaian dan persatuan seluruh manusia di dunia.

Salah satu sifat berakhlak baik ialah tawadhu atau rendah hati. Mengajarkan anak dan diri sendiri untuk ber-tawadhu sama saja menanamkan diri sendiri dan anak agar selalu berakhlak mulia.

Ada banyak manfaat jika Moms dan Si Kecil mempraktikkan sikap tawadhu dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Baca Juga: 11+ Tips Membangun Keluarga Harmonis menurut Islam, Yuk Amalkan!

Pengertian Sikap Tawadhu

tawadhu

Foto: Orami Photo Stocks

Menurut buku berjudul Akidah Akhlak Kelas VIII (Kemenag, 2020) pengertian tawadhu ialah sikap dan perbuatan manusia yang mencerminkan kerendahan hati, tidak sombong, maupun tinggi hati juga tidak mudah tersinggung.

Ajaran umat muslim untuk bersikap tawadhu tertera dalam Al-Qur'an surah Al Furqan ayat 63, yang berbunyi:

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al Furqan:63)

Selain itu, orang yang tawadhu tidak merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Mereka yang ber-tawadhu selalu sadar bahwa kenikmatan, rezeki, kebahagiaan, dan segala hal yang ada di dunia ini terjadi karena atas izin Allah.

Baca Juga: 9 Cara Mendidik Anak Perempuan dalam Islam, Yuk Amalkan!

Tawadhu berarti Moms berperilaku tenang, sederhana, dan sebisa mungkin menjauhkan diri dari orang lain dan rasa takabur.

Sementara itu, menurut jurnal Madaniyah berjudul Indikator Tawadhu dalam Keseharian, dijelaskan bahwa pengertian tawadhu secara etimologi ialah kata tawadhu berasal dari kata wadh’a yang berarti merendahkan, serta juga berasal dari kata “ittadha’a” dengan arti merendahkan diri.

Di samping itu, kata tawadhu juga diartikan dengan rendah terhadap sesuatu.

Sedangkan secara istilah, tawadhu adalah menampakan kerendahan hati kepada sesuatu yang diagungkan. Bahkan, ada juga yang mengartikan tawadhu sebagai tindakan berupa mengagungkan orang karena keutamaannya, menerima kebenaran dan seterusnya.

Baca Juga: 7 Cara Efektif Menanamkan Sikap Rendah Hati pada Si Kecil

Pengertian Tawadhu Menurut Para Ahli

tawadhu

Foto: Orami Photo Stocks

Para ahli di bidang agama dan tafsir memiliki makna tersendiri mengenai pengertian tawadhu. Berikut ini pengertian tawadhu menurut para ahli.

1. Tawadhu Menurut Al-Ghozali

Tawadhu menurut Al-Ghozali tawadhu adalah mengeluarkan kedudukanmu atau kita dan menganggap orang lain lebih utama dari pada kita.

2. Tawadhu Menurut Ahmad Athoilah

Tawadhu menurut Ahmad Athoilah hakikat tawadhu adalah sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah.

Baca Juga: 12 Kewajiban Suami Terhadap Istri dalam Islam, Wajib Tahu!

3. Tawadhu Menurut WJS Poerwadarminta

Tawadhu adalah perilaku manusia yang mempunyai watak rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, atau merendahkan diri agar tidak kelihatan sombong, angkuh, congkak, besar kepala, atau kata-kata lain yang sepadan dengan tawadhu’.

4. Tawadhu Menurut Yunahar Ilyas

Tawadhu artinya rendah hati, tidak sombong, lawan dari kata sombong atau takabur.

Dengan kata lain, ini adalah perilaku yang selalu menghargai keberadaan orang lain, perilaku yang suka memuliakan orang lain, perilaku yang selalu suka mendahulukan kepentingan orang lain, perilaku yang selalu suka menghargai pendapat orang lain.

5. Tawadhu Menurut Al-Huft

Tawadhu adalah menumbuhkan rasa persamaan, tanpa saling merendahkan melainkan menghormati dan toleransi, merasa senasib, suka akan keadilan, saling menyayangi, dan semua ini dapat timbul dengan rasa rendah diri.

Dari kelima penjelasan di atas dapat diartikan bahwa tawadhu adalah sikap rendah hati, lawan dari sombong atau takabur. Orang yang rendah hati tidak memandang dirinya lebih dari orang lain, sementara orang yang sombong menghargai dirinya secara berlebihan.

Rendah hati tidak sama dengan rendah diri, karena rendah diri berarti kehilangan kepercayaan diri. Sekalipun dalam prakteknya orang yang rendah hati cenderung merendahkan dirinya di hadapan orang lain, tapi sikap tersebut bukan lahir dari rasa tidak percaya diri.

Baca Juga: 5 Pengaruh Sentuhan Penuh Kasih Sayang Bagi Perkembangan Balita

Ciri-ciri Orang yang Bersikap Tawadhu

tawadhu

Foto: Orami Photo Stocks

Melansir dari NU Online, ada sejumlah ciri yang menunjukkan seseorang bersikap tawadhu, yakni:

1. Tidak Berambisi Menjadi Populer

Tidak suka atau tidak berambisi menjadi orang terkenal. Hal ini dilakukan untuk menghindari sikap sombong atau menonjolkan diri hanya demi mencari popularitas.

Atau dalam arti lain, orang yang tawadhu adalah orang yang ikhlas bekerja tanpa pamrih mendapatkan kemasyhuran di tengah-tengah masyarakat, apalagi mencari pujian.

2. Menjunjung Tinggi Kebenaran

Mereka yang ber-tawadhu akan menjunjung tinggi kebenaran tanpa memandang hal-hal duniawi. Misalnya, status sosial dari orang yang menyatakan kebenaran atau kebohongan. Hal ini sejalan dengan nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berbunyi:

“La tandhur ilâ man qâla, wandhur ilâ ma qâla.

Artinya: Jangan melihat siapa yang mengatakan, lihatlah apa yang dikatakannya. Sehingga dapat diartikan bahwa orang yang tawadhu adalah orang yang sportif dan jujur.

Baca Juga: 12 Ide Nama Bayi dengan Arti ‘Penolong’ untuk Si Kecil yang Baik Hati

3. Tidak Segan Bergaul dengan Fakir Miskin

Seseorang yang melaksanakan sifat tawadhu, ia tidak akan segan bergaul dengan fakir miskin dan bahkan tulus mencintai dan melindunginya.

Hal ini merupakan sikap yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, halaman 123, sebagai berikut:

Wakâna shallallâhu alaihi wassalam syadidal haya’i wattwadhu’i.... yuhibbul fuqarâ’a wal masâkina wayajlisu ma’ahum.”

Artinya; Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat pemalu dan amat tawadhu. Beliau mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan bergaul dengan duduk bersama mereka.

4. Suka Membantu Orang Lain

Ciri orang yang ber-tawadhu lainnya ialah suka membantu orang lain yang sedang kesulitan. Selain itu, mereka juga tidak merasa tinggi hati atau rendah diri ketika dimintai bantuan oleh orang fakir miskin maupun orang yang memiliki pangkat dan jabatan.

Dapat diartikan bahwa tawadhu tidak berarti tidak bersikap diskriminatif dan suka membantu orang lain.

Baca Juga: Ini Hukum Make Up dalam Islam, Wajib Tahu!

5. Mengucapkan Terima Kasih dan Maaf

Orang yang ber-tawadhu tidak segan mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah membantunya dan tanpa memandang status sosial orang tersebut.

Ia juga tak sungkan mengucapkan maaf apabila melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja sehingga melukai perasaan orang lain.

Itulah pengertian tawadhu dalam ajaran agama Islam. Jangan lupa untuk selalu menanamkan sikap tawadhu pada diri sendiri dan keluarga ya, Moms!

  • https://media.neliti.com/media/publications/195087-ID-indikator-tawadhu-dalam-keseharian.pdf
  • ]https://islam.nu.or.id/post/read/82959/lima-tanda-orang-tawadhu-menurut-sayyid-abdullah-al-haddad
  • http://etheses.iainkediri.ac.id/1867/3/932123216_bab%202.pdf
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait