20 Juni 2022

Mengenal Tramadol, Pereda Nyeri yang Masuk dalam Golongan Narkotika

Tramadol merupakan pereda nyeri jenis narkotik tertentu yang masuk dalam kelompok obat analgesik opioid

Luka sayatan pasca operasi biasa diobati dengan pereda nyeri dan salah satunya adalah Tramadol. Obat ini biasa digunakan untuk meredakan nyeri sedang hingga berat, bahkan nyeri kronis yang berkelanjutan.

Pereda nyeri ini jenis narkotik tertentu yang masuk dalam kelompok obat analgesik opioid. Obat ini bekerja di sistem saraf pusat (SSP) untuk menghilangkan rasa sakit.

Tramadol yang bekerja di otak dan tulang belakang ini, mampu mengubah cara tubuh merasakan dan merespons rasa sakit.

Oleh karena itu, dikutip dari Mayo Clinic, obat ini tidak boleh digunakan untuk waktu yang lama.

Dalam tulisan ini, Orami berhasil merangkum manfaat, penggunaan, efek samping, dan juga penjelasan mengapa obat ini dilarang atau tidak boleh digunakan sembarangan.

Baca Juga: Ini Perbedaan Narkotika dan Psikotropika, Jangan Keliru Lagi ya, Moms!

Manfaat atau Penggunaan Tramadol

Penggunaan atau manfaat Tramadol
Foto: Penggunaan atau manfaat Tramadol (https://www.medscape.com/viewarticle/972311)

Foto Obat dalam Kemasan (Medscape.com)

Tramadol tidak boleh digunakan dalam jangka waktu panjang karena dapat menyebabkan ketergantungan. Parahnya, ketergantungan ini memengaruhi mental dan juga fisik. 

Orang yang memiliki rasa sakit terus-menerus, tidak boleh membiarkan rasa takut akan ketergantungan menghalangi mereka untuk menggunakan obat-obatan narkotika seperti Tramadol untuk menghilangkan rasa sakitnya.

Ketergantungan mental (kecanduan) tidak mungkin terjadi bila narkotika digunakan untuk tujuan ini.

Begitu juga ketika ketergantungan fisik, obat ini dapat menyebabkan withdrawal side effect jika pengobatan dihentikan tiba-tiba.

Withdrawal side effect adalah gejala fisik dan psikologis yang muncul ketika pecandu obat-obatan berhenti menggunakan obat tersebut.

Namun, efek samping yang parah karena penghentian tiba-tiba ini biasanya dapat dicegah dengan mengurangi dosis secara bertahap.

Moms hanya membutuhkan periode waktu tertentu sebelum pengobatan dihentikan sepenuhnya.

Baca Juga: Mengenal Dexketoprofen, Salah Satu Obat Pereda Nyeri

Dosis dan Cara Penggunaan Tramadol 

Dosis Tramadol
Foto: Dosis Tramadol (hellosehat.com)

Foto ObatTablet dalam Botol (Orami Photo Stock)

Dosis dari penggunaan Tramadol didasarkan pada kondisi dan respons terhadap pengobatan.

Untuk mengurangi risiko efek samping, dokter mungkin mengarahkan untuk memulai pengobatan ini dengan dosis rendah dan secara bertahap meningkatkan dosis.

Aturan pakai penggunaan Tramadol seperti dikutip dari WebMD dan DRUGS, yaitu:

Tramadol Tablet dan Kapsul

Penggunaan : Meredakan nyeri sedang hingga berat

  • Dewasa: 50–100 mg, setiap 4–6 jam; dosis maksimal 400 mg per hari
  • Lansia: Dosis disesuaikan dengan kondisi dan respons terhadap pengobatan

Tramadol Injeksi 

Penggunaan: Nyeri pasca operasi

  • Dewasa: Dosis awal 100 mg yang diikuti dengan 50 mg setiap 10–20 menit. Total dosis pada satu jam pertama setelah operasi adalah 250 mg termasuk dosis pertama. Setelahnya, dosis diberikan sebanyak 50–100 mg pada setiap 4–6 jam sekali. Dosis maksimal 600 mg per hari
  • Lansia: Dosis disesuaikan dengan kondisi dan respons pasien terhadap pengobatan

Penggunaan: Meredakan nyeri sedang hingga berat

  • Dewasa: 50–100 mg, setiap 4–6 jam. Obat disuntikkan ke pembuluh darah vena (intravena/IV) atau ke otot (intramuskular/IM) selama 2–3 menit
  • Lansia: Dosis disesuaikan dengan kondisi dan respons pasien terhadap pengobatan

Obat nyeri bekerja paling baik jika digunakan sebagai tanda pertama nyeri terjadi. Jika Moms menunggu sampai rasa sakitnya memburuk, obatnya mungkin tidak bekerja dengan baik.

Minum obat ini melalui mulut seperti yang diarahkan oleh dokter, biasanya setiap 4 hingga 6 jam sesuai kebutuhan untuk menghilangkan rasa sakit.

Moms dapat menggunakan obat ini dengan atau tanpa makanan.

Baca Juga: Sering Mengonsumsi Obat Anti Nyeri? Ini Bahayanya

Efek Samping Tramadol

Efek samping tramadol
Foto: Efek samping tramadol (https://www.talktofrank.com/drug/tramadol)

Foto Pil (talktofrank.com)

Mual, muntah, sembelit, pusing, kantuk, atau sakit kepala dapat terjadi. Beberapa efek samping ini dapat berkurang setelah Moms menggunakan obat ini untuk sementara waktu.

Jika salah satu dari efek ini bertahan atau memburuk, beri tahu dokter atau apoteker segera. Untuk mencegah sembelit, makan makanan berserat, minum cukup air, dan olahraga.

Moms juga mungkin perlu minum obat pencahar. Tanyakan pada dokter jenis pencahar yang tepat untuk Moms.

Untuk mengurangi risiko pusing dan sakit kepala ringan, bangunlah secara perlahan saat bangkit dari posisi duduk atau berbaring.

Ingatlah bahwa obat ini telah diresepkan karena dokter telah menilai bahwa manfaatnya lebih besar daripada risiko efek samping.

Banyak orang yang menggunakan obat ini tidak memiliki efek samping yang serius. Beri tahu dokter jika Moms memiliki efek samping yang serius, seperti:

  • Sleep apnea
  • Agitasi dan halusinasi
  • Sakit perut yang parah
  • Kesulitan buang air kecil
  • Detak jantung tidak teratur
  • Pusing parah
  • Pingsan
  • Kejang

Obat ini dapat meningkatkan serotonin dan jarang menyebabkan kondisi yang sangat serius yang disebut sindrom/keracunan serotonin.

Risiko meningkat jika Moms juga menggunakan obat lain yang meningkatkan serotonin, jadi beri tahu dokter atau apoteker tentang semua obat yang Moms gunakan.

Baca Juga: Mengenal Erphaflam, Obat Nyeri Ampuh untuk Berbagai Keperluan

Mengapa Tramadol Dilarang

Penggunaan Tramadol Mengandung Pro Kontra
Foto: Penggunaan Tramadol Mengandung Pro Kontra

Foto Obat-obatan Terlarang (Orami Photo Stock)

Obat Tramadol yang digunakan tanpa resep dokter dan dijual tanpa izin, dinilai oleh BPOM sebagai obat ilegal. Ini adalah jenis obat yang sering disalahgunakan untuk menimbulkan efek halusinasi.

Apabila digunakan secara berlebihan, obat ini menyebabkan ketergantungan dan dapat menimbulkan perilaku yang cenderung negatif.

Dikutip dari Health Harvard, obat ini pertama kali disetujui pada tahun 1995.

Akan tetapi, Tramadol tidak dianggap sebagai narkotika layaknya morfin atau oksikodon, meskipun bertindak dengan cara yang sama.

Namun, karena ada kasus penyalahgunaan dan kecanduan dengan penggunaannya, peringatan obat ini berubah. Pada tahun 2014, FDA menetapkan obat tersebut sebagai zat yang dapat mengendalikan seseorang.

Ini berarti meskipun obat ini dapat digunakan untuk perawatan medis, Tramadol memiliki potensi untuk penyalahgunaan atau kecanduan. Setelah ini, penggunaan obat tersebut diatur menjadi lebih ketat.

Baca Juga: NSAID: Pengertian, Jenis, dan Efek Samping

Jika Moms menggunakan Tramadol, bicarakan dengan dokter tentang potensi ketergantungan ini. Faktanya, tingkat kematian yang lebih tinggi di antara pengguna tramadol cukup mengkhawatirkan.

Namun, memang tidak jelas apakah pereda nyeri ini adalah penyebab sebenarnya atau tidak. Moms membutuhkan lebih banyak penelitian untuk mengonfirmasi atau menyangkal  risiko kematian tersebut. 

  • https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/tramadol-oral-route/description/drg-20068050
  • https://www.drugs.com/tramadol.html#dosage
  • https://www.drugs.com/tramadol.html#dosage
  • https://www.health.harvard.edu/blog/is-tramadol-a-risky-pain-medication-2019061416844
  • https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/21688/BALAI-BESAR-POM-DI-PALANGKA-RAYA-SITA-TRAMADOL-DI-KABUPATEN-BARITO-SELATAN.html

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.