Scroll untuk melanjutkan membaca

JALAN-JALAN
17 Agustus 2022

Tugu Proklamasi: Sejarah Proses Pembangunan dan Monumen yang Ada di Dalamnya

Yuk, jalan-jalan mengunjungi Tugu Proklamasi!
Tugu Proklamasi: Sejarah Proses Pembangunan dan Monumen yang Ada di Dalamnya

Salah satu destinasi wisata bersejarah yang menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah Tugu Proklamasi.

Di tempat inilah Ir. Soekarno, didampingi oleh Mohammad Hatta, membacakan Naskah Proklamasi, sekaligus menjadi penanda kemerdekaan Indonesia.

Di masa kemerdekaan, lokasi Tugu Proklamasi ini merupakan rumah dari Sang Proklamator itu sendiri.

Soekarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di teras depan rumahnya, di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta.

Kini jalan tersebut beralih nama menjadi Jalan Proklamasi. Pada Tugu Proklamasi berdiri tiga monumen bersejarah, yakni Tugu Petir, Patung Soekarno-Hatta, dan Tugu Wanita.

Baca Juga: Sejarah Kemerdekaan Indonesia dan Manfaat Memahaminya untuk Meningkatkan Nasionalisme

Sejarah Tugu Proklamasi

Sejarah Tugu Proklamasi

Foto: Sejarah Tugu Proklamasi

Foto: monumen pahlawan proklamator Soekarno-Hatta (instagram.com/spis_mix)

Naskah Proklamasi kemerdekaan RI dibacakan pertama kalinya oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 di halaman kediaman Soekarno Perlintasan Pegangsaan Timur No. 56.

Rumah tersebut kemudian dikenal sebagai Gedung Proklamasi.

Untuk menandai ulang tahun pertama kemerdekaan Indonesia, sebuah tugu peringatan dibangun pada tahun 1946 oleh kelompok Ikatan Wanita Djakarta.

Tugu peringatan ini, dikenal sebagai Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia, dibangun di halaman depan Gedung Proklamasi.

Kemudian tugu tersebut dinamai ulang sebagai Tugu Proklamasi.

Sejak saat itu, para pemuda dan pelajar Indonesia mengadakan upacara tahunan untuk merayakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus.

Menyusul pemindahan penuh kedaulatan Indonesia pada tahun 1950, Taman Proklamasi setiap tahun dikunjungi oleh Presiden dan Wakil Presiden Indonesia setiap tahun. untuk meletakkan bunga dan menghormati prajurit yang gugur.

Upacara tersebut juga dihadiri oleh tamu dari negara lain.

Sejak 1956, popularitas Taman Proklamasi sebagai tempat berkumpulnya upacara mulai menurun.

Terlepas dari anjuran para sesepuh kota agar rumah tersebut direnovasi, pada malam hari tanggal 15 Agustus 1960, Soekarno memerintahkan pembongkaran rumah dan peringatan Tugu Proklamasi.

Menurut Soekarno, Tugu Proklamasi sebenarnya adalah Tugu Linggarjati.

Pernyataannya tersebut tidak jelas, tetapi tampaknya Soekarno berpikir bahwa baik rumah dan monumen tersebut tidak cukup besar untuk menjadi monumen nasional meskipun signifikansi historisnya cukup penting.

Tiga potongan marmer dari Tugu Proklamasi kemudian disimpan di rumah Yos Masdani sebagai kenang-kenangan.

Selanjutnya tugu peringatan rencananya akan dibangun kembali pada tahun 1972 di bawah usulan gubernur Ali Sadikin.

Pada 1 Januari 1961, Presiden Soekarno meresmikan pembangunan Tugu Petir.

Tugu ini berbentuk bulatan tinggi dan memiliki simbol petir yang kemudian juga dikenal sebagai Monumen Proklamasi.

Pada tahun 1972, pembangunan Gedung Proklamasi yang modern pun dimulai.

Lalu di tahun yang sama, Tugu Proklamasi yang dihancurkan sebelumnya dibangun kembali dengan desain serupa.

Pada 17 Agustus 1980, monumen terakhir Taman Proklamasi, Monumen Pahlawan Proklamator Soekarno-Hatta yang berukuran besar, diresmikan oleh Presiden Suharto.

Baca Juga: Mengenal Lagu Indonesia Raya, Sejarah, Lirik, hingga Not Angka

Monumen di Tugu Proklamasi

Monumen di Tugu Proklamasi

Foto: Monumen di Tugu Proklamasi

Foto: Tugu Proklamasi (instagram.com/spis_mix)

Terdapat tiga tugu peringatan yang berlokasi di Taman Proklamasi, yakni Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia, Tugu Petir, dan Monumen Pahlawan Proklamator Sukarno-Hatta.

1. Tugu Petir

Tugu Petir atau Tugu Kilat adalah sebuah tiang setinggi 17 meter yang di atasnya terdapat simbol petir.

Monumen peringatan ini menandai tempat di mana Sukarno berdiri sambil membaca teks proklamasi.

Di dasar monumen tersebut terdapat tulisan logam "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta".

Adapun pemilihan simbol petir melambangkan gemuruh proklamasi kemerdekaan Indonesia.

2. Monumen Pahlawan Proklamator Soekarno-Hatta

Monumen Pahlawan Proklamator Soekarno-Hatta menggambarkan dua patung perunggu Soekarno dan Hatta yang berdiri berdampingan.

Setiap patung memiliki berat 1.200 kilogram dan tinggi 46 meter.

Postur patung tersebut diambil dari dokumentasi foto ketika proklamasi pertama kali dibaca.

Keduanya mengapit lempengan batu perunggu berukuran 196 cm x 290 cm, dengan berat 600 kilogram, lempengan tersebut menggambarkan manuskrip proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pada latar belakang patung-patung tersebut terdapat patung-patung monolitik bernomor 17, dengan yang tertinggi adalah 8 meter, dan terdapat 45 tonjolan di air terjunnya, melambangkan tanggal 17 Agustus 1945.

3. Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia

Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia, atau Tugu Proklamasi adalah monumen pertama yang dibangun di Taman Proklamasi.

Tugu ini diresmikan pada 17 Agustus 1946 oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir selama masa pendudukan sekutu.

Tugu peringatan tersebut berbentuk obelisk kecil, dengan tulisan "Atas Oesaha Wanita Djakarta", penggambaran naskah kemerdekaan Indonesia, dan peta Indonesia.

Pada 14 Agustus 1960, surat kabar Keng Po melaporkan bahwa Angkatan 45 ingin Tugu Proklamasi, yang disebut sebagai "Tugu Linggarjati", dihancurkan.

Menyusul laporan-laporan tersebut, Soekarno memerintahkan pembongkaran Tugu Proklamasi dan Gedung Proklamasi pada malam hari tanggal 15 Agustus 1960.

Bersama Maria Ulfah dan Lasmidjah Hardi, Yos Masdani lalu menemui Gubernur Jakarta Soemarno Sosroatmodjo.

Dari Soemarno dia menerima marmer bekas Tugu Proklamasi yang bertuliskan “Atas Oesaha Wanita Djakarta” dan tulisan Proklamasi dilengkapi peta Indonesia.

Marmer itu sudah pecah menjadi tiga bagian. Pecahan marmer itu lalu kemudian dia simpan selama 12 tahun.

Pada tahun 1968, gubernur Jakarta, Ali Sadikin mengajukan proposal untuk membangun kembali tugu asli yang dihancurkan oleh Soekarno pada tahun 1960.

Proposal ini disetujui dan pada 17 Agustus 1972, Monumen Proklamasi diresmikan kembali pada lokasi aslinya.

Peresmian dihadiri oleh banyak tokoh publik dan politik, di antaranya adalah mantan Wakil Presiden, Mohammad Hatta.

Baca Juga: Mengenal 9 Istri Soekarno dan Kisah Cinta Romantis Presiden Pertama Indonesia

Alamat, Jam Operasional, dan Harga Tiket Tugu Proklamasi

Alamat, Jam Operasional, dan Harga Tiket Tugu Proklamasi

Foto: Alamat, Jam Operasional, dan Harga Tiket Tugu Proklamasi

Foto: monumen Soekarno-Hatta (instagram.com/dunialoka.id)

Tugu Proklamasi berlokasi di Jl. Proklamasi No.10, RT.10/RW.2, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320.

Tempat ini dapat diakses kapan saja, dan tidak membutuhkan tiket masuk, alias gratis untuk umum.

Demikian informasi mengenai Tugu Proklamasi dengan sejarah panjangnya.

Adanya monumen tersebut diharapkan dapat menjadikan bangsa Indonesia tidak lupa dengan perjuangan pahlawan untuk memerdekakan Indonesia di masa lalu.

Nah, menyambut hari kemerdekaan tahun 2022 ini, Orami memberikan promo kemerdekaan dengan diskon menarik. Yuk cek potongan harganya Moms.

  • https://kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/destinasi-wisata-saksi-perjuangan-kemerdekaan-indonesia
  • https://dinaskebudayaan.jakarta.go.id/disbuddki/news/2021/08/Saksi-Bisu-Kemerdekaan-Indonesia-di-Halaman-Gedung-Proklamasi