Kesehatan Umum

25 November 2021

Moms, Waspada Emboli Air Ketuban yang Bisa Mengancam Jiwa!

Merupakan masalah kehamilan yang jarang terjadi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Adeline Wahyu

Sebagian besar kehamilan umumnya berjalan baik dan lancar hingga proses persalinan. Namun, dalam beberapa kasus dapat terjadi gangguan, seperti emboli air ketuban.

Saat usia kehamilan sudah mulai mendekati masa-masa persalinan, emboli air ketuban bisa terjadi dan menjadi sebuah ancaman bagi keselamatan ibu dan bayi.

Sebagai pencegahan, penting sekali bagi Moms mengetahui tentang emboli air ketuban.

Baca Juga: 15 Manfaat Brokoli untuk Kesehatan dan Ibu Hamil, Salah Satunya Mencegah Risiko Cacat Janin!

Pengertian Emboli Air Ketuban

emboli air ketuban

Foto: Orami Photo Stock

Melansir Journal of Anaesthesiology Clinical Pharmacology, emboli air ketuban adalah kondisi di mana air ketuban, sel-sel janin, rambut, atau yang lainnya memasuki aliran darah ibu melalui dasar plasenta rahim.

Saat cairan tersebut mencapai pembuluh darah akan terjadi syok anafilatik, dengan reaksi bergantung pada lokasi hambatan.

Bila terjadi di saluran menuju jantung, maka terjadi syok kardiologi atau gagal jantung. Jika hambatan terdapat di saluran darah menuju paru-paru maka akan terjadi gagal pernapasan. Hambatan juga bisa menyebabkan terjadinya pendarahan.

Reaksi emboli air ketuban terjadi paling lama 48 jam dan paling cepat 30 menit usai kelahiran. Lamanya reaksi timbul bergantung pada luka (inflamasi) yang timbul akibat hambatan sirkulasi.

Semakin besar inflamasi yang timbul, maka reaksi makin cepat. Inflamasi diakibatkan antigen bayi yang masuk ke dalam sirkulasi maternal. 

Jika dokter mencurigai Moms mengidapnya, maka Moms memerlukan perawatan segera untuk mencegah komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa.

Baca Juga: Ingin Sajikan Hidangan Italia? Coba 5 Resep Spaghetti Carbonara yang Lezat untuk Keluarga!

Gejala Emboli Air Ketuban

Waspada Emboli Air Ketuban yang Bisa Mengancam Jiwa.jpg

Foto: howitworksdaily.com

Kondisi kehamilan dengan masalah emboli air ketuban bisa berkembang tiba-tiba dan cepat.

Gejala awal dari komplikasi ini biasanya meliputi serangan jantung dan gagal pernapasan yang cepat.

Serangan jantung terjadi ketika jantung berhenti bekerja dan ibu kehilangan kesadaran serta berhenti bernapas.

Gagal pernapasan cepat terjadi ketika paru-paru tidak dapat memasok cukup oksigen untuk darah atau membuang cukup karbon dioksida dari darah.

Tanda dan gejalanya meliputi:

  • Tiba-tiba napas pendek
  • Kelebihan cairan di paru-paru (edema paru)
  • Tekanan darah rendah tiba-tiba
  • Tiba-tiba gagal jantung memompa darah secara efektif (kolaps kardiovaskular)
  • Masalah yang mengancam jiwa dengan pembekuan darah (koagulopati intravaskular diseminata)
  • Pendarahan dari uterus, sayatan sesar atau situs intravena (IV)
  • Status mental yang berubah, seperti kecemasan atau rasa menderita
  • Panas dingin
  • Denyut jantung yang cepat atau gangguan dalam ritme detak jantung
  • Gawat janin, seperti detak jantung lambat, atau kelainan detak jantung janin
  • Kejang
  • Hilang kesadaran

Sedangkan pada janin, emboli air ketuban dapat menyebabkan gawat janin. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa membahayakan nyawa janin.

Baca Juga: Cara Mencegah Ruam Popok pada Bayi, Penting untuk Diperhatikan!

Penyebab Emboli Air Ketuban

Waspada Emboli Air Ketuban yang Bisa Mengancam Jiwa 3.jpg

Foto: healthline.com

Menurut National Organization for Rare Disorders (NORD), emboli air ketuban adalah suatu kondisi yang terjadi karena ada reaksi sistemik yang mirip dengan yang ditemukan dalam respons alergi terhadap cairan ketuban atau sel janin atau puing-puing jaringan janin oleh ibu hamil.

Cairan ketuban kemudian memasuki aliran darah ibu, kemungkinan besar karena air mata kecil di bagian bawah rahim, bagian leher rahim yang membentuk saluran yang menghubungkan vagina ke rahim (endoserviks), atau karena kerusakan atau kelainan yang mempengaruhi plasenta.

Serviks adalah saluran sempit yang membentuk ujung bawah rahim.

Plasenta adalah organ yang bergabung atau menghubungkan janin yang sedang berkembang dengan ibu. Plasenta memungkinkan transfer oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin.

Perlu Moms ketahui, para peneliti sekarang percaya bahwa ini adalah kelainan yang diperantarai kekebalan tubuh, dan gejalanya disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh ibu yang bereaksi terhadap cairan ketuban atau sel janin sebagai zat asing.

Respon imun ini menyebabkan respon inflamasi yang luar biasa pada tubuh ibu yang merusak jaringan dan struktur yang sehat, yang pada akhirnya diyakini menyebabkan tanda dan gejala masalah emboli air ketuban.

Sebenarnya, prosesnya lebih mirip syok anafilaksis daripada proses emboli.

Baca Juga: Review Pompa ASI Gabag Infinite oleh Moms Orami, Praktis Dibawa-bawa!

Faktor Risiko Emboli Air Ketuban

plasenta

Foto: Orami Photo Stock

Meski penyebabnya belum diketahui secara pasti, ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya emboli air ketuban, di antaranya:

  • Usia tua saat hamil. Jika Moms berusia 35 tahun ke atas pada saat kelahiran, risiko untuk terkena emboli cairan amnion akan meningkat.
  • Masalah plasenta. Adanya kelainan plasenta meliputi sebagian atau seluruh plasenta yang menutupi leher rahim (plasenta previa). Kondisi plasenta yang mengelupas dari dinding dalam rahim sebelum persalinan (abruptio plasenta) juga meningkatkan risikonya. Kedua kondisi ini dapat menimbulkan masalah pada plasenta atau pelindung bayi selama berada di dalam kandungan.
  • Preeklampsia. Kondisi ini terjadi ketikan tekanan darah tinggi dan kelebihan protein di dalam urine setelah 20 minggu kehamilan. Pasalnya, berbagai kondisi tersebut dapat membuat Moms memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami emboli air ketuban.
  • Persalinan caesar. Melahirkan dengan forceps maupun ekstraksi vakum dapat meningkatkan risiko emboli air ketuban. Ini karena penggunaan alat tersebut dapat menghancurkan penghalang fisik antara ibu dan bayi alias kantung ketuban.
  • Polihidramnion. Kondisi ketika jumlah air ketuban bayi di dalam kandungan terlalu banyak. Ini merupakan salah satu jenis kelainan cairan ketuban (hidramnion).
  • Kelahiran yang dipicu secara medis. Metode induksi persalinan yang diberikan sebelum melahirkan diperkirakan dapat meningkatkan risiko mengalami emboli air ketuban. Namun, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan kejelasan hal ini.

Baca Juga: Jangan Panik! Ini Tips Menyelamatkan Diri dari Gempa dan Tsunami Saat Berlibur

Dampak Emboli Air Ketuban

Waspada Emboli Air Ketuban yang Bisa Mengancam Jiwa 2.jpg

Foto: healthline.com

Emboli air ketuban dapat menyebabkan komplikasi serius bagi Moms dan bayi. Adapun dampak dari masalah kehamilan tersebut, di antaranya:

  • Kerusakan otak. Oksigen darah rendah dapat menyebabkan kerusakan neurologis yang parah dan permanen atau kematian otak.
  • Kematian ibu atau bayi. Jumlah wanita yang meninggal karena emboli air ketuban (angka kematian) sangat tinggi. Jumlahnya bervariasi, tetapi sebanyak 20 persen kematian ibu di negara maju mungkin karena emboli air ketuban. Bayi Moms juga berisiko mengalami cedera otak atau kematian.

Baca Juga: Antibiotik untuk Radang Tenggorokan dan Batuk, Cari Tahu Di Sini!

Cara Mengatasi Emboli Air Ketuban

Obat-obatan

Foto: Orami Photo Stock

Emboli air ketuban adalah kondisi yang berbahaya dan perlu segera ditangani oleh dokter.

Untuk menangani kondisi emboli air ketuban, dokter dapat melakukan beberapa langkah penanganan berupa:

1. Obat-obatan

Pemberian obat-obatan bertujuan untuk mengatasi gangguan yang terjadi akibat emboli air ketuban. Misalnya, jika emboli air ketuban menimbulkan gangguan jantung pada ibu, dokter dapat memberikan obat-obatan untuk memperkuat fungsi jantung.

Sedangkan untuk mengatasi pendarahan parah, dokter biasanya memberikan obat-obatan untuk menghentikan pendarahan. Pada kasus tertentu, dokter juga mungkin akan memberikan obat-obatan kortikosteroid untuk mengobati emboli air ketuban.

2. Terapi Oksigen

Melansir The Cureus Journal of Medical Science, emboli air ketuban bisa menyebabkan aliran darah pada ibu dan janin terhambat. Hal ini mengakibatkan ibu dan janin kekurangan oksigen. Karenanya, dokter umumnya akan memberikan tambahan oksigen.

Selain membantu ibu bernapas dengan normal, terapi oksigen juga penting dilakukan untuk menjaga pasokan oksigen pada organ-organ vital, seperti paru-paru, jantung, dan otak, agar dapat berfungsi dengan baik.

Bila terjadi henti napas maupun henti jantung akibat emboli air ketuban, dokter akan melakukan tindakan resusitasi jantung paru.

3. Transfusi darah

Emboli air ketuban juga bisa menyebabkan perdarahan yang berat dan sulit dihentikan selama persalinan atau setelahnya. Untuk mengganti darah yang hilang tersebut, dokter dapat memberikan transfusi darah untuk sang ibu.

Baca Juga: 13 Rekomendasi Drama Korea tentang Cinta Segitiga, Second Lead-nya Bikin Oleng!

Nah itu dia Moms penjelasan mengenai emboli air ketuban. Agar kondisi ini dapat terdeteksi sejak dini, Moms perlu melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan atau ke bidan ya!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4874066/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8005271/
  • https://rarediseases.org/rare-diseases/amniotic-fluid-embolism/
  • https://www.healthline.com/health/pregnancy/amniotic-fluid-embolism
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/amniotic-fluid-embolism/symptoms-causes/syc-20369324
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/amniotic-fluid-embolism#what-is-it
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait