12 April 2018

Yuk, Deteksi Dini Gangguan Fungsi Hati Pada Bayi!

Kulit kuning juga merupakan gejala gangguan fungsi hati atresia bilier

Gangguan fungsi hati sering ditemukan pada bayi baru lahir. Akan tetapi, orang tua cenderung tidak menyadari dan mengabaikan hal tersebut sehingga kondisi ini terlambat ditangani.

Gangguan fungsi hati yang umum dialami bayi terjadi akibat masalah pada masa kehamilan. Namun, gejala gangguan fungsi hati, baik ringan maupun berat, seringkali menunjukkan ciri-ciri yang sama.

Atresia Bilier

Pada beberapa hari pertama setelah lahir, bayi kemungkinan besar memiliki penyakit kuning, yakni kulit dan bagian putih mata terlihat kekuningan. Hal ini wajar, namun menjadi tidak normal jika terjadi lebih dari dua minggu dan disertai kotoran yang berwarna pucat. Kemungkinan, ini gejala atresia bilier.

Baca juga: Penanganan Bayi Kuning karena Hiperbilirubin

Atresia bilier merupakan kondisi saluran empedu pada bayi baru lahir tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal. Penyebabnya belum diketahui, namun kondisi tersebut ditemukan pada 1 dari 15.000 kelahiran. Sudah banyak penelitian mengenai patogenesis serta penanganan yang sesuai untuk fibrosis hati progresif, salah satu aspek yang sangat penting pada penderita atresia bilier.

Fungsi sistem empedu secara normal adalah membuang limbah metabolik dari hati, termasuk mengangkut garam empedu yang dibutuhkan untuk mencerna lemak di dalam usus halus. Pada kasus atresia bilier, terjadi penyumbatan empedu dari hati menuju kantung empedu yang bisa menyebabkan kerusakan dan sirosis hati. Jika tidak segera ditangani, bisa berujung pada kematian.

Gejala dan Pengobatan

Biasanya gejala atresia bilier muncul dalam waktu 2 minggu setelah kelahiran bayi atau sekitar 1 hingga 6 minggu setelah bayi lahir. Gejala atresia bilier meliputi:

  • Air kemih bayi berwarna gelap
  • Tinja/kotoran berwarna pucat
  • Kulit berwarna kuning
  • Berat badan tidak bertambah atau bertambah sangat lambat
  • Hati membesar

Ketika bayi memasuki usia 2 hingga 3 bulan, akan timbul beberapa gejala berikut:

  • Gangguan pertumbuhan
  • Tekanan darah tinggi pada vena porta atau pembuluh darah yang bertugas mengangkut darah dari lambung, limpa, dan usus ke hati
  • Gatal-gatal
  • Rewel

Pemeriksaan atresia bilier dilakukan dengan pemeriksaan darah untuk mengetahui ada atau tidaknya peningkatan kadar bilirubin, kolangiografi (memasukkan cairan khusus ke jaringan empedu guna mengetahui kondisi empedu), USG perut atau rontgen perut untuk mengetahui ukuran hati, biopsi hati, dan laparotomi (umumnya dilakukan sebelum bayi berusia 2 bulan).

Terapi atresia bilier pada prinsipnya mengganti saluran empedu yang bertugas mengalirkan empedu menuju usus halus. Ketika saluran empedu dalam hati (intrahepatik) tidak terganggu, operasi rekonstruksi jalur bilier di luar jalur hati (ekstrahepatik) dapat dilakukan. Operasi rekonstruksi tersebut dinamakan prosedur Kasai (hepatoportoenterostomy) yang ditemukan oleh seorang ahli bedah asal Jepang, dr. Motio Kasai.

Pembedahan biasanya berhasil dilakukan ketika bayi berusia kurang dari 8 minggu. Namun, menurut beberapa penelitian, usia pasien tidak bisa dijadikan faktor absolut keberhasilan penanganan atresia bilier.

Prosedur Kasai hanya bersifat sebagai penanganan sementara untuk memperpanjang usia pasien. Namun, fungsi hati sebagian besar pasien terlihat semakin memburuk setelah prosedur Kasai. Ketika kondisi sudah memburuk, maka dibutuhkan cangkok hati. Akan tetapi, pada atresia komplit dimana saluran empedu seluruhnya tidak terbentuk, satu-satunya pengobatan adalah melalui transplantasi hati.

Ternyata gangguan fungsi hati bisa berakibat serius pada bayi. Karena itu, jika Moms menemukan gejala seperti di atas pada si kecil, segera periksakan ia ke dokter.

(RGW)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.