Scroll untuk melanjutkan membaca

NEWBORN
17 Februari 2022

6 Alasan Tidak Mau Divaksin, Beserta Fakta Sebenarnya

Jangan telan informasi seputar vaksin mentah-mentah, Moms
6 Alasan Tidak Mau Divaksin, Beserta Fakta Sebenarnya

Adanya beragam informasi salah mengenai vaksin bayi yang memunculkan ketakutan tersendiri bagi orang tua. Apa saja ya, alasan tidak mau divaksin padahal kecemasan tersebut belum tentu kebenarannya?

Persepsi itu membuat para orang tua yang merasa cemas dan takut memilih untuk tidak mengizinkan dokter memberikan vaksin kepada anak-anak mereka.

Padahal menurut jurnal Human Vaccines & Immunotherapeutics, vaksin merupakan cara yang murah dan efektif dalam mencegah penyakit sehingga Si Kecil dapat tumbuh sehat.

Bayangkan saja jika anak Moms tidak mau divaksin, mereka mungkin akan lebih rentan untuk terkena penyakit tertentu sehingga membutuhkan biaya pengobatan yang besar.

Baca Juga: Kenali Vaksin DPT yang Mampu Mencegah Tetanus pada Anak

Alasan Tidak Mau Divaksin

Mengutip situs Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu, imunisasi rutin lengkap terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan.

Hal ini karena dilakukannya imunisasi dasar saja tidak cukup, sehingga diperlukan imunisasi lanjutan untuk mempertahankan tingkat kekebalan yang optimal.

Namun, ada beberapa alasan mengapa orang tua tidak memberikan vaksin ke bayi sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, di antaranya:

1. Jumlah Vaksin yang Masuk Tubuh Bayi Terlalu Banyak

kenapa anak perlu vaksin

Foto: kenapa anak perlu vaksin

Foto: Orami Photo Stock

Salah satu alasan tidak mau divaksin, yakni orang tua takut tubuh bayi mereka mendapatkan jumlah vaksin terlalu banyak dan bisa memengaruhi sistem kekebalannya.

Para orang tua yang lahir pada tahun 1970-an dan 80-an divaksinasi dengan 8 vaksin yang mampu melawan 14 penyakit sekaligus.

Sementara itu, anak-anak sekarang bisa mendapatkan vaksin lebih banyak karena setiap vaksin mampu melindungi hampir 2 kali lipat atau lebih penyakit.

Yang terpenting bukanlah jumlah vaksinnya, tetapi apa yang terkandung di dalam setiap vaksin.

Antigen merupakan komponen virus atau bakteri dari vaksin yang menginduksi sistem kekebalan tubuh untuk membangun antibodi sekaligus melawan infeksi di masa depan.

Mark H. Sawyer, M.D., profesor pediatri klinis di University of California San Diego School of Medicine and Rady Children’s Hospital menyatakan bahwa selama menjadi seorang spesialis penyakit menular, ia belum pernah melihat infeksi pada anak-anak setelah mereka memperoleh infeksi lengkap pada usia 2, 4, dan 6 bulan.

2. Sistem Kekebalan Tubuh Bayi Belum Matang

Alasan tidak mau divaksin ialah orang tua berpikir bahwa sistem kekebalan tubuh anak mereka belum matang. Jadi, lebih aman menunda pemberian vaksin beberapa waktu

Namun faktanya dalam kasus MMR, menunda vaksin 3 bulan saja bisa meningkatkan risiko demam kejang. Bahkan hingga saat ini tidak ada bukti bahwa menunda pemberian vaksin lebih aman.

Jadwal vaksin yang direkomendasikan dirancang untuk memberikan perlindungan sebesar mungkin pada anak.

Rekomendasi jadwal vaksin dibuat oleh puluhan ahli penyakit infeksi dan epidemiologi dari CDC, dokter dari universitas, hingga rumah sakit.

Oleh sebab itu, sebaiknya Moms mengikuti anjuran vaksin anak dari para ahli medis agar Si Kecil tetap sehat.

Baca Juga: Terlambat Vaksinasi, Bolehlah Anak Vaksin BCG?

3. Vaksin Bayi Berisi Racun yang Berbahaya

pentingnya vaksin untuk anak

Foto: pentingnya vaksin untuk anak (https://cdn-prod.medicalnewstoday.com/content/images/articles/320/320941/doctor-preparing-vaccine-shot.jpg)

Foto: Orami Photo Stock

Tak sedikit juga para orang tua yang beranggapan bahwa vaksin mengandung racun. Misalnya alumunium, merkuri, formaldehyde, dan antibeku sehingga memilih untuk tidak memberikan vaksin pada anak-anaknya.

Padahal, vaksin sebagian besarnya berisi air dengan antigen, namun tetap membutuhkan bahan tambahan untuk menstabilkan atau meningkatkan efektivitas vaksin.

Orang tua khawatir mengenai merkuri karena beberapa vaksin yang digunakan mengandung thimerosal pengawet, yang terurai menjadi etilmerkuri.

Saat ini para peneliti tahu bahwa etilmerkuri tidak menumpuk di methylmercury tubuh seperti neurotoxin yang ditemukan pada beberapa ikan.

Namun, timerosal sudah dihapus dari semua vaksin bayi sejak tahun 2001 sebagai tindakan pencegahan.

Sementara itu, vaksin yang mengandung alumunium ini digunakan meningkatkan respon kekebalan tubuh, merangsang produksi antobodi lebih besar, dan menjadikan vaksin lebih efektif.

Meskipun alumunium bisa menyebabkan kemerahan atau bengkak pada tempat suntikan, jumlah alumunium dalam vaksin sangat kecil.

Bahkan, kurang dari apa yang biasa anak-anak dapatkan dari ASI, susu formula, atau sumber lainnya.

Selain itu, kandungan alumunium dalam jumlah kecil tersebut tidak memiliki efek jangka panjang dan telah digunakan pada beberapa vaksin sejak tahun 1930-an.

Sedangkan kandungan formaldehida pada vaksin berguna untuk menonaktifkan potensi kontaminasi.

Namun lagi-lagi, jumlahnya ratusan kali lebih kecil dibandingkan jumlah formaldehida yang manusia dapatkan dari sumber lain, seperti dari isolasi dan bahan buah.

Tubuh manusia bahkan menghasilkan lebih banyak formaldehida secara alami dari apa yang ada di dalam vaksin.

Sedangkan kandungan antibeku bukan hanya terdapat pada vaksin.

Orang tua juga mungkin bingung dengan nama kimia dari ethylene glycol dan propilen glikol, bahan yang digunakan dalam proses pembuatan vaksin.

Sejauh ini, zat kimia polietilena glikol tertoctylpheniyl eter tersebut tidak berbahaya, Moms.

4. Vaksin Tidak Bekerja dengan Maksimal Pada Tubuh

Alasan tidak mau divaksin lainnya, yaitu orang tua yang beranggapan bahwa vaksin sebenarnya tak bekerja maksimal dalam tubuh. Misalnya, vaksin flu.

Padahal sebenarnya, sekitar 85-95 persen vaksin sangat efektif terhadap suatu penyakit.

Sementara itu, vaksin flu memang sangat rumit sehingga benar-benar belum bisa melindungi tubuh dari serangan flu.

Meski demikian, para spesialis penyakit infeksi dari seluruh dunia melakukan diskusi setiap tahunnya untuk memprediksi strain yang cenderung beredar selama musim flu berikutnya.

Perlu Moms ketahui bahwa efektivitas vaksin tergantung pada strain. Penelitian menunjukkan bahwa vaksin mampu mengurangi risiko penyakit oleh sekitar 50-60 persen saat strain yang tepat dipilih.

Baca Juga: Vaksin Polio untuk Anak, Ketahui Usia Wajib dan Efek Sampingnya!

5. Vaksin Hanya Teknik Marketing Bagi Usaha Medis

alasan tidak mau divaksin

Foto: alasan tidak mau divaksin (https://dct.azureedge.net/assets/uploads/file/689208b0-b8d7-44bb-b9f6-c3df712edf8d.jpg)

Foto: Orami Photo Stock

Meskipun wajar bagi perusahaan farmasi memperoleh keuntungan dari produk mereka, seperti produsen pada umumnya.

Namun, faktanya sudah ada ketetapan yang jelas dari pemerintah mengenai harga vaksin, termasuk keuntungan yang diambil produsen.

Bahkan tidak jarang beberapa perusahaan farmasi menggunakan dana sendiri untuk melakukan penelitian seputar vaksin.

6. Efek Samping Vaksin Lebih Buruk dari Penyakit Sebenarnya

Cukup banyak dari para orang tua yang menganggap bahwa efek samping vaksin lebih buruk dari penyakit yang sebenarnya.

Padahal, anggapan tersebut tak sepenuhnya benar karena sebelum vaksin baru disetujui, dibutuhkan waktu 10-15 tahun dan melewati 4 fase pengujian keselamatan, serta efektivitas.

Kemudian FDA akan mendalami data untuk memastikan vaksin aman. Dari sana, AAP, CDC, dan American Academy of Family Physicians memutuskan apakah akan merekomendasikannya.

Tidak ada perusahaan yang akan menginvestasikan uangnya dengan tujuan membuat vaksin yang bisa menyebabkan masalah kesehatan memburuk.

Memang benar vaksin memberikan efek samping seperti demam, demam tinggi, dan kejang, meskipun jarang terdengar.

Bahkan efek samping yang lebih serius lebih jarang terdengar sehingga alasan tidak mau divaksin seperti anggapan di atas adalah kesalahan besar.

Baca Juga: Bolehkah Bayi Mandi Setelah Imunisasi?

Dari alasan tidak mau divaksin yang sudah disebutkan di atas, penting untuk menyadari bahwa dilakukan vaksin atau imunisasi anak dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh Si Kecil terhadap penyakit.

Tak kalah penting juga, yaitu membentuk kekebalan masyarakat yang tinggi, pada anak-anak dengan kondisi tidak dapat divaksin.

Nah, setelah mengetahui beberapa alasan dan fakta seputar vaksin, apakah terpikir oleh Moms untuk membiarkan Si Kecil tidak vaksin di usianya saat ini?

  • https://www.parents.com/health/vaccines/debunking-vaccine-myths/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7482790/
  • https://dinkes.pringsewukab.go.id/detailpost/berikan-anak-imunisasi-rutin-lengkap-ini-rinciannya