Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
13 Desember 2021

Asfiksia Bisa Berbahaya, Waspadai 6 Penyebab dan Faktor Risikonya

Beberapa kelompok orang memiliki risiko tinggi untuk mengalaminya
Asfiksia Bisa Berbahaya, Waspadai 6 Penyebab dan Faktor Risikonya

Pernahkah Moms mendengar tentang kondisi yang bernama asfiksia?

Ini terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan oksigen dalam jumlah yang cukup. Akibatnya, pernapasan menjadi terganggu.

Bahkan, lebih dari itu, asfiksia juga bisa menyebabkan hilangnya kesadaran hingga kematian, jika tidak segera ditangani.

Yuk, simak pembahasan lengkapnya berikut ini!

Apa Itu Asfiksia?

Penyebab Sesak Napas pada Ibu Hamil-2.jpg

Foto: Penyebab Sesak Napas pada Ibu Hamil-2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Saat bernapas, normalnya tubuh mengambil oksigen dari paru-paru, dan membawanya ke aliran darah.

Kemudian, darah akan mengantarkan oksigen ke berbagai jaringan dan organ tubuh.

Baca juga: Simak Penyebab dan Cara Mengatasi Tremor, Berbahaya Jika Terjadi dalam Waktu Lama!

Nah, asfiksia adalah kondisi ketika pasokan oksigen dalam tubuh tidak memadai. Jika ini terjadi pada otak, seseorang dapat kehilangan kesadaran dalam hitungan detik.

Bayangkan jika kondisi ini terus berlanjut hingga beberapa menit. Kerusakan otak bisa jadi permanen, bahkan mungkin juga berujung pada hilangnya nyawa.

Oleh karena itu, asfiksia tidak boleh disepelekan.

Gejala Asfikia

ini gejala sesak napas saat hamil akibat asma 3

Foto: ini gejala sesak napas saat hamil akibat asma 3

Foto: Orami Photo Stock

Sebuah studi pada 2010 di Journal of Emergency Medical Services mengungkapkan bahwa gejala yang umum dialami selama asfiksia adalah:

  • Sesak napas atau kesulitan bernapas
  • Detak jantung yang lambat
  • Suara serak
  • Sakit tenggorokan
  • Kebingungan
  • Hilang kesadaran
  • Mimisan
  • Perubahan visual
  • Gangguan pendengaran

Seseorang yang mengalami sesak napas mungkin juga memiliki bibir atau kulit yang menjadi agak kebiruan.

Hal ini terjadi karena kadar oksigen yang rendah dalam darah.

Berbagai Penyebab Asfiksia

Sakit Asma (www.brisbanebulkbillingdoctor.com.au).jpg

Foto: Sakit Asma (www.brisbanebulkbillingdoctor.com.au).jpg (Brisbanebulkbillingdoctor.com.au)

Foto: Orami Photo Stock

Ada banyak hal yang bisa jadi penyebab asfiksia. Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Asma

Asma adalah penyakit pada paru-paru yang terkadang membuat sulit bernapas.

Pada beberapa kasus, serangan asma yang parah dapat membuat pasokan oksigen di tubuh menurun dan terjadilah asfiksia.

2. Tercekik

Tercekik atau strangulasi dapat menyebabkan udara berhenti masuk ke paru-paru. Ini juga dapat memblokir aliran darah ke otak.

Hal ini dapat terjadi ketika tangan, pengikat, atau benda lain meremas tenggorokan dengan kencang.

3. Masuknya Benda Asing ke Tenggorokan

Salah satu penyebab lain dari asfiksia adalah masuknya benda asing ke tenggorokan. Jika ada benda asing masuk, seseorang bisa mengalami tersedak.

Pada kasus yang parah, tersedak juga bisa membuat seseorang tidak dapat menghirup oksigen.

4. Anafilaksis

Anafilaksis adalah reaksi alergi yang parah. Selama anafilaksis, sistem kekebalan melepaskan bahan kimia yang menyebabkan tubuh mengalami syok.

Proses ini dapat menyebabkan saluran udara menyempit dan dapat menyebabkan tenggorokan membengkak. Tanpa perawatan darurat, seseorang dapat mengalami asfiksia.

5. Tenggelam

Hati-hati saat berada di dekat air atau berenang di tempat yang dalam. Sebab, tenggelam dapat menjadi salah satu penyebab asfiksia.

Saat tenggelam, cairan masuk melalui mulut dan hidung. Akibatnya, pasokan oksigen tubuh jadi terputus, dan terjadilah asfiksia.

6. Menghirup Bahan Kimia Berbahaya (Asfiksia Kimia)

Asfiksia yang terjadi karena menghirup bahan kimia berbahaya disebut juga asfiksia kimia.

Ketika bahan kimia masuk ke tubuh, pasokan dan penggunaan oksigen bisa jadi terganggu.

Salah satu contoh kasus asfiksia kimia adalah keracunan karbon monoksida.

Jika seseorang menghirup karbon monoksida, ini akan bercampur dengan sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Jika seseorang menghirup terlalu banyak karbon monoksida, darah menjadi tidak mampu membawa oksigen. Hal ini dapat menyebabkan sel-sel di organ vital menjadi terganggu.

Asfiksia sebenarnya adalah kondisi yang bisa terjadi pada siapa saja. Namun, ada beberapa kelompok orang yang mungkin berisiko lebih tinggi mengalami kondisi ini, yaitu:

  • Penderita asma
  • Orang yang memiliki alergi
  • Bayi
  • Orang dengan masalah pernapasan
  • Orang yang mengalami kesulitan menelan

Baca juga: Efek Buruk Kolesterol Tinggi pada Tubuh, Yuk Jaga Kesehatan!

Jenis Asfiksia Lain yang Perlu Diwaspadai

Ada 2 jenis asfiksia yang mungkin asing, tetapi dapat terjadi, sehingga perlu diwaspadai, yaitu:

1. Asfiksia saat Melahirkan

Ketahui Cara Mendorong Bayi yang Benar Saat Persalinan.jpg

Foto: Ketahui Cara Mendorong Bayi yang Benar Saat Persalinan.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Asfiksia saat melahirkan sering disebut dengan istilah asfiksia perinatal.

Kondisi ini terjadi ketika bayi tidak menerima oksigen yang cukup sebelum, selama, atau setelah proses melahirkan.

Hal ini dapat menyebabkan mereka mengalami kerusakan otak, masalah pernapasan, atau kegagalan organ.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), asfiksia saat melahirkan merupakan salah satu penyebab kematian yang lebih umum pada bayi baru lahir.

Sementara itu, sebuah tinjauan sistematis pada 2014 di Italian Journal of Pediatrics juga membahas mengenai hal ini.

Disebutkan bahwa ada faktor risiko potensial yang dapat menempatkan bayi pada risiko yang lebih tinggi untuk mengalami asfiksia saat melahirkan, yaitu:

  • Ibu melahirkan di usia 20-25 tahun
  • Bayi lahir prematur
  • Ibu yang melahirkan mengalami demam selama persalinan

Risiko tersebut mungkin juga tergantung pada jumlah kehamilan yang dialami seorang ibu sebelum kehamilan saat ini.

Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikannya.

Beberapa alasan lain yang dapat menyebabkan terjadinya asfiksia saat melahirkan adalah:

  • Ibu yang melahirkan mengalami kekurangan oksigen karena masalah pernapasan atau anestesi
  • Ibu yang melahirkan memiliki tekanan darah rendah
  • Rahim ibu tidak dapat berelaksasi, yang berarti oksigen tidak dapat mengedarkan plasenta
  • Plasenta terpisah dari rahim lebih awal

Sebenarnya, asfiksia perinatal sangatlah kompleks dan sulit diprediksi, apalagi dicegah.

Perawatan yang bisa diberikan dokter akan tergantung pada kesehatan bayi secara keseluruhan, tingkat keparahan kondisi, dan toleransi mereka terhadap pengobatan.

Selama persalinan, jika dokter dan petugas medis mencurigai ada risiko asfiksia perinatal, mereka dapat memberikan oksigen tambahan.

Prosedur ini bbisa diberikan kepada ibu yang melahirkan atau melakukan persalinan Caesar.

Jika bayi tidak bernapas setelah lahir, mereka mungkin memerlukan bantuan ventilasi dan pengobatan. Ini untuk membantu mereka bernapas dan mengontrol tekanan darahnya.

Baca juga: Mengenal Penyakit CIPA yang Membuat Penderitanya Tidak Merasakan Sakit

2. Asfiksia Autoerotik

Mendesah Saat Berhubungan Seks (pexels.com Ketut Subiyanto).jpeg

Foto: Mendesah Saat Berhubungan Seks (pexels.com Ketut Subiyanto).jpeg (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Foto: Orami Photo Stock

Asfiksia autoerotik mengacu pada tindakan seksual di mana seseorang memotong suplai oksigen mereka untuk meningkatkan kepuasan seksual.

Orang yang mencoba ini cenderung menggunakan benda untuk menyebabkan sesak napas.

Misalnya, mereka mungkin mengikatkan tali di leher mereka saat masturbasi.

Ini menghentikan aliran darah ke otak dan dapat menciptakan sensasi yang menyenangkan, yang dapat mengintensifkan orgasme.

Asfiksia jenis ini sebenarnya mudah dicegah dengan menyadari pentingnya oksigen bagi tubuh.

Juga menghindari aktivitas seksual yang berpotensi berbahaya bagi keselamatan jiwa.

Bagaimana Mengatasi Asfiksia?

terapi oksigen

Foto: terapi oksigen (manometcurrent)

Foto: Orami Photo Stock

Tergantung pada penyebab spesifik dari asfiksia, pengobatan yang dilakukan dapat bervariasi.

Beberapa perawatan untuk kondisi ini termasuk resusitasi jantung paru (RJP) dan terapi oksigen.

Jika seseorang menjadi tidak sadarkan diri karena sesak napas, jantungnya mungkin berhenti berdetak.

Ketika seseorang memberikan RJP, mereka pada dasarnya mengambil peran jantung dan paru-paru, membantu darah dan oksigen bergerak ke seluruh tubuh.

Selama terapi oksigen, seseorang memakai masker di hidung dan mulut mereka atau hanya selang di hidung mereka.

Masker atau tabung dipasang pada silinder yang menyediakan udara yang mengandung lebih banyak oksigen dari biasanya.

Baca juga: 10 Tips Menjalani Pola Hidup Sehat di Rumah Yuk, Terapkan!

Tips Mencegah Terjadinya Asfiksia

Tak Hanya untuk Fisik, Ini Manfaat Berenang untuk Psikologi Anak 4.jpg

Foto: Tak Hanya untuk Fisik, Ini Manfaat Berenang untuk Psikologi Anak 4.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Pencegahan asfiksia juga dapat bervariasi tergantung pada penyebabnya. Berikut ini beberapa tips pencegahan terhadap penyebab asfiksia tertentu:

1. Menghindari Tercekik

Tercekik adalah salah satu hal yang bisa jadi penyebab asfiksia. Jadi, cobalah untuk menghindari hal ini.

Misalnya dengan mempelajari beberapa teknik pertahanan diri untuk melepaskan diri dari cekikan.

2. Menghindari Tersedak

Hindari memasukkan benda atau makanan yang terlalu besar ke dalam mulut.

Pada anak-anak, Moms bisa melakukan tindakan pencegahan dengan menjauhkan benda-benda kecil dari jangkauan anak-anak.

3. Belajar Berenang

Menguasai teknik berenang sangat penting untuk menyelamatkan diri di situasi genting seperti tenggelam.

Jika Moms belum bisa berenang, pertimbangkanlah untuk mengambil kursus renang.

4. Sedia Obat-obatan Alergi

Jika merasa memiliki alergi terhadap sesuatu, pastikan untuk selalu membawa obat-obatan yang diperlukan ke mana pun Moms pergi.

Hal ini untuk mencegah terjadinya syok anafilaktik yang bisa menyebabkan asfiksia.

5. Waspada Bahan Kimia

Bahan kimia bisa membahayakan dan menyebabkan asfiksia jika dihirup terlalu banyak.

Oleh karena itu, sangat penting untuk berhati-hati dengan semua bahan kimia yang digunakan sehari-hari, termasuk:

  • Mendapatkan peralatan pembakaran gas, minyak, atau batu bara diservis secara teratur
  • Memasang detektor karbon monoksida
  • Tidak menjalankan mobil atau truk di dalam garasi yang terhubung dengan rumah

Baca juga: Indeks Glikemik, Ternyata Sangat Berpengaruh pada Gula Darah, lho!

Itulah pembahasan lengkap mengenai asfiksia. Dapat diketahui bahwa kondisi ini bisa berbahaya dan mengancam nyawa.

Jadi, penting untuk selalu berhati-hati dalam situasi apa pun. Sebab, kondisi dan situasi tertentu dapat menempatkan seseorang pada risiko asfiksia yang lebih tinggi.

  • https://www.jems.com/patient-care/know-signs-and-symptoms-trauma/
  • https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/newborns-reducing-mortality
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4300075/
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/asphyxiation
  • https://www.healthline.com/health/asphyxiation