19 Januari 2023

Ketahui Penyebab BAB Berdarah, Bisa Karena Luka Lambung atau Radang Usus, Moms!

Ketahui juga cara mengatasi dan pengobatan yang bisa dilakukan

BAB berdarah atau bahasa medisnya hematochezia, adalah kondisi keluarnya darah merah dari anus yang bercampur dengan feses.

Apa yang menjadi penyebab masalah kesehatan ini?

Menurut dr. Wirawan Hambali, Sp.PD Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Pondok Indah, Puri Indah, Jakarta Barat, adanya darah di dalam BAB dapat disebabkan oleh perdarahan yang terjadi pada saluran cerna bagian atas, maupun saluran cerna bagian bawah.

"Perdarahan dari saluran cerna bagian atas (lambung dan sebagian usus dua belas jari), biasanya ditandai dengan warna darah kehitaman, sebagai akibat dari perubahan warna merah darah yang bercampur dengan asam lambung.

Sedangkan perdarahan yang terjadi pada bagian saluran cerna lainnya, akan memberikan warna darah yang merah," jelasnya.

Yuk, ketahui lebih lanjut mengenai BAB berdarah di bawah ini, Moms.

Baca Juga: 24 Makanan Antioksidan Tinggi untuk Menangkal Radikal Bebas, Banyak Jenis Buah dan Sayur!

Gejala BAB Berdarah

Ilustrasi Sakit Perut
Foto: Ilustrasi Sakit Perut (The Sun)

BAB berdarah biasanya darah berwarna merah cerah. Ini biasanya disebabkan oleh pendarahan di usus besar yang cukup dekat dengan anus.

Darah hanya mengalir dalam jangka pendek, jadi masih segar saat keluar dari anus.

Mungkin darah akan bercampur bersamaan dengan kotoran ataupun terpisah.

Selain itu, BAB berdarah mungkin menyertai gejala seperti:

Jika mengalami hal ini ketika mengalami BAB berdarah, segera konsultasikan ke dokter untuk pemberian obat. Karena, jika tak diatasi dapat menyebabkan komplikasi.

Penyebab BAB Berdarah

Ilustrasi Sakit Perut
Foto: Ilustrasi Sakit Perut

Seperti yang dijelaskan bahwa penyebab BAB berdarah adalah adanya perdarahan saluran cerna bagian atas dan bawah.

Berikut ini beragam hal yang menyebabkan kondisi tersebut.

Penyebab dari perdarahan saluran cerna bagian atas, menurut dr. Wirawan antara lain:

  • Perlukaan atau sariawan pada lambung (akibat penggunaan obat-obatan tertentu, infeksi kuman helicobacter pylori, atau penyebab lainnya)
  • Radang kerongkongan (esofagitis)
  • Robekan mallory weiss (akibat proses muntah atau batuk yang hebat dan berkepanjangan)
  • Pecah varises esofagus (pecah pembuluh varises di kerongkongan yang umumnya disebabkan oleh pengerasan/sirosis hati)
  • Kanker, dan penyebab-penyebab lainnya.

Sedangkan penyebab dari perdarahan saluran cerna bagian bawah antara lain:

  • Perdarahan wasir
  • Peradangan usus (akibat radiasi, infeksi, penyakit autoimun, dan lain sebagainya)
  • Divertikulitis atau radang pada divertikel usus (kantung abnormal usus)
  • Gangguan bentuk anatomi atau struktur pembuluh darah (angioectasia)
  • Kanker, dan penyebab-penyebab lainnya.

Baca Juga: Agar Nyaman dan Tetap Stylish, Ini 4 Rekomendasi Celana Hamil untuk Moms

Faktor Risiko BAB Berdarah

Sembelit
Foto: Sembelit (Orami Photo Stocks)

Secara umum keberadaan darah di dalam feses harus diwaspadai.

Menurut dr. Wirawan, risiko adanya kanker atau penyebab berbahaya lainnya sebagai akibat perdarahan saluran cerna akan meningkat pada mereka yang:

  • Mengalami perdarahan saluran cerna yang berat dan berulang
  • Berusia lebih dari 50 tahun
  • Terdapat riwayat kanker di keluarga
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
  • Nyeri perut hebat
  • Perubahan konsistensi kotoran (menjadi keras atau menjadi diare)
  • Perubahan frekuensi buang air besar (menjadi jarang atau menjadi sering)

Pasien dapat melakukan pemeriksaan endoskopi saluran cerna atas atau saluran cerna bawah untuk menentukan penyebab dari perdarahan tersebut.

Perdarahan saluran cerna akan ditangani sesuai dengan penyebabnya.

Misalnya pada perdarahan saluran cerna akibat wasir, pasien dapat melakukan diet tinggi serat, mencukupkan kebutuhan cairan harian, menggunakan obat-obatan vasoaktif yang memiliki pengaruh baik terhadap wasir, hingga melakukan tindakan operatif.

Baca Juga: 7+ Rekomendasi Dokter Gigi Medan untuk Atasi Masalah pada Mulut

BAB Berdarah Saat Hamil

Hamil Sembelit
Foto: Hamil Sembelit

Susah buang air besar atau sembelit adalah salah satu penyakit yang sering dikeluhkan oleh wanita hamil.

Tidak hanya sembelit, terkadang susahnya buang air besar menyebabkan feses yang keluar bercampur darah.

Terkadang, darah yang keluar saat buang air besar menimbulkan kepanikan bagi ibu hamil.

Penyebab paling umum BAB berdarah saat hamil adalah wasir, fisura ani, dan sembelit.

Meskipun tidak berbahaya, kondisi ini perlu penanganan agar ibu hamil bisa buang air besar dengan lancar dan terhindar dari BAB berdarah.

Perlu diingat, BAB berdarah yang tidak berbahaya jika darah yang keluar hanya sedikit dan tidak terjadi terus menerus.

Biasanya BAB berdarah yang ringan saat hamil akan hilang dengan sendirinya.

Namun dalam beberapa kasus, biasanya kondisi ini cukup mengganggu dan menyebabkan kepanikan.

Ibu hamil perlu memeriksakan kondisi pada dokter jika BAB berdarah terjadi terus menerus dan darah yang keluar bersama feses semakin banyak.

Baca Juga: Cari Tahu tentang Omegtamine dari Fungsi, Dosis, hingga Efek Sampingnya

Diagnosis BAB Berdarah

Periksa ke Dokter
Foto: Periksa ke Dokter

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dokter ahli untuk mengevaluasi BAB berdarah guna mencari tahu penyebabnya.

Dilansir dari Cleveland Clinic ada awal pemeriksaan, dokter akan mulai dengan menanyakan pasien beberapa pertanyaan terkait kondisi yang dialami.

  • Setelah itu, dokter akan menyarankan pemeriksaan lanjutan, seperti:
    Pemeriksaan fisik di area rektum dan anus.
  • Kolonoskopi (pemeriksaan usus besar).
  • Sigmoidoskopi (pemeriksaan kolon sigmoid).
  • Tes darah samar feses.

Biasanya dokter akan menyarankan salah satu dari tes tersebut, atau lebih untuk menemukan penyebab dari BAB berdarah.

Arti Warna Darah Ketika BAB Berdarah

Ilustrasi Sakit Perut
Foto: Ilustrasi Sakit Perut (https://www.franciscanhealth.org/news-and-events/news/bladder-leakage-isnt-normal-part-aging-women)

Melansir dari Cleveland Clinic, warna darah pada kotoran saat mengalami kondisi ini tentu berbeda-beda.

Ternyata ada arti dari setiap warna darah yang bercampur ketika BAB berdarah.

Warna darah yang Moms lihat, bisa menunjukkan penyebab pendarahan itu berasal, antara lain:

  • Darah merah cerah biasanya berarti pendarahan yang terjadi di usus besar atau rektum.
  • Darah merah tua atau merah marun bisa berarti mengalami pendarahan di usus besar atau di usus kecil.
  • Melena (tinja berwarna gelap dan seperti tar) sering menunjukkan adanya pendarahan di perut, seperti pendarahan akibat tukak.

Terkadang, pendarahan rektal tidak terlihat dengan mata telanjang dan hanya dapat dilihat melalui mikroskop.

Jenis perdarahan ini biasanya ditemukan selama tes laboratorium dari sampel tinja.

Baca Juga: 10+ Manfaat Ginseng untuk Kesehatan, Bisa Meningkatkan Produksi ASI!

Cara Mengatasi BAB Berdarah

Ketika BAB berdarah, tentu Moms merasa khawatir ada yang salah dengan tubuh kita.

Sebab, hanya tindakan medis yang dapat mengetahui penyebab dari BAB berdarah yang berasal dari dalam tubuh.

Dilansir dari studi di jurnal Gastroenterology menjelaskan, untuk melihat penyebab BAB berdarah adalah dengan melakukan tindakan kolonskopi.

Kolonskopi adalah proses dimasukkan sebuah kamera ke dalam tubuh melalui mulut atau anus untuk melihat penyebab infeksi pada dalam tubuh.

Untuk itu tenang saja Moms. Ada beberapa cara untuk mengatasi BAB berdarah yang bisa Moms ikuti, simak ya.

1. Menghentikan Pendarahan

Ilustrasi Buang Air Besar
Foto: Ilustrasi Buang Air Besar (healthline.com)

Ketika sedang mengalami BAB berdarah, tentu jumlah darah yang keluar dari tubuh bisa banyak.

Maka, penting untuk terlebih dahulu mengatasi perdarahan pada anus/dubur sebelum dilakukan langkah pengobatan selanjutnya.

"Pasien perlu segera diobati dengan cairan intravena atau transfusi darah untuk menggantikan darah yang hilang.

Sehingga tes diagnostik seperti kolonoskopi dan angiogram bisa dilakukan dengan aman untuk menentukan penyebab dan lokasi perdarahan," jelas dr. Jay W. Marks, MD, ahli penyakit dalam dan ahli gastroenterologi, Amerika Serikat.

2. Kolonoskopi

Kolonoskopi adalah prosedur yang paling banyak digunakan untuk diagnosis dan pengobatan BAB berdarah.

Kebanyakan kolonoskopi dilakukan setelah pemberian obat pencahar oral untuk membersihkan usus dari tinja, darah, dan gumpalan darah.

"Namun, dalam situasi darurat seperti ketika pendarahan hebat dan terus menerus, dokter dapat memilih untuk melakukan kolonoskopi darurat tanpa terlebih dahulu membersihkan usus besar," tambah dr. Jay.

Baca Juga: Cari Tahu tentang Omegtamine dari Fungsi, Dosis, hingga Efek Sampingnya

3. Mengonsumsi Obat BAB Berdarah

Minum Obat
Foto: Minum Obat

Selain menghentikan pendarahan segera ketika BAB berdarah, dokter biasanya akan memberikan perawatan yang melibatkan obat-obatan.

Misalnya, dengan pemberian antibiotik untuk mengobati BAB berdarah yang dapat menekan asam di lambung, atau obat antiinflamasi untuk mengobati kolitis.

Tentu, pemberian obat BAB berdarah ini sesuai dari keluhan dan diagnosis dokter, dan tidak boleh mengobati sendiri.

4. Pembedahan

Penyebab BAB berdarah tentu bervariasi, mulai dari ringan hingga berat, misalnya polip atau kanker.

Untuk kasus yang besat, mengatasi BAB berdarah dapat dengan tindakan pembedahan.

Pembedahan mungkin diperlukan untuk mengangkat polip atau bagian-bagian usus yang rusak oleh kanker, divertikulitis, atau penyakit radang usus.

"Pendarahan dubur ringan akibat wasir biasanya dapat diobati dengan tindakan lokal seperti penggunaan krim wasir, dan pelunak tinja.

Jika langkah-langkah ini gagal, bisa dilakukan perawatan non-bedah dan bedah," terang dr. Jay.

5. Makan Tinggi Serat

Makan Tinggi Serat
Foto: Makan Tinggi Serat (pixabay.com)

Namun, tergantung pada penyebabnya, perawatan mungkin melibatkan hal-hal sederhana yang dapat dilakukan sendiri.

Misalnya, seperti makan makanan tinggi serat untuk meringankan sembelit yang dapat menyebabkan dan memperparah wasir.

Serat membantu mencegah pendarahan dubur yang disebabkan oleh penyakit divertikulosis, fisura dan wasir.

Serat dapat mencegah pendarahan saat BAB dengan cara menyerap air, yang membuat tinja lebih besar dan lebih mudah keluar dari tubuh.

Selain itu, penyerapan air yang dilakukan oleh serat dalam tubuh bisa mencegah diare.

Jadi, sebaiknya Moms menambahkan serat ke dalam menu makanan harian dengan mengonsumsi banyak buah, sayuran, kacang-kacangan, dan produk yang terbuat dari biji-bijian utuh.

Colorado State University Extension merekomendasikan agar orang dewasa makan setidaknya 14 gram serat per hari untuk setiap 1.000 kalori dalam makanan mereka.

Apabila Moms tidak mendapatkan kebutuhan serat yang cukup, mengonsumsi suplemen tambahan mungkin diperlukan sehingga jumlah serat pada tubuh terpenuhi.

Tak hanya mempermudah buang air besar menjadi lebih mudah dan teratur, serat dapat membantu pencernaan untuk menurunkan kadar kolesterol dan glukosa dalam tubuh.

Moms juga bisa mencoba perawatan sederhana lain, seperti duduk berendam di pemandian air panas.

Dengan mencoba ini, mungkin Moms akan sedikit meredakan sakit akibat dari BAB berdarah.

Baca Juga: 13 Cara Memuaskan Wanita di Ranjang, Salah Satunya Jangan Lewatkan Foreplay, Dads!

Nah, itulah penyebab dan cara mengobati BAB berdarah, Moms.

Jika ada gejalanya yang Moms alami, segera periksakan ke dokter untuk diketahui penyebab pastinya hingga dapat ditentukan segera penanganan yang tepat.

  • https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/14612-rectal-bleeding
  • https://www.gastrojournal.org/article/S0016-5085(88)80079-9/pdf
  • https://www.livestrong.com/article/493483-can-a-high-fiber-diet-cause-rectal-bleeding/
  • https://extension.colostate.edu/topic-areas/nutrition-food-safety-health/dietary-fiber-9-333/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb