04 November 2022

7 Bahaya Pemanis Buatan yang Terkandung dalam Makanan dan Minuman Kemasan

Ketahui juga jenis-jenis pemanis buatan, seperti askarin, aspartam, dan lainnya

Banyak rumor beredar terkait dengan bahaya pemanis buatan. Nah, apakah rumor tersebut benar adanya?

Pemanis buatan biasanya menjadi alternatif bagi seseorang yang ingin menghindari konsumsi gula putih.

Karena dianggap dapat memberikan rasa manis yang hampir sama, tetapi dengan kandungan kalori lebih rendah.

Pemanis buatan, atau pengganti gula, adalah bahan kimia yang ditambahkan ke dalam produk makanan dan minuman untuk memberi rasa manis.

Baca juga: 9+ Perbedaan Gula Aren dan Gula Merah, Serupa Tapi Tak Sama!

Bahaya Pemanis Buatan Jika Dikonsumsi Berlebihan

Meski terbilang aman, jumlah konsumsinya perlu dibatasi. Jika tidak, Moms harus bersiap untuk menerima bahayanya.

Berikut ini beberapa bahaya pemanis buatan bagi kesehatan tubuh:

1. Meningkatkan Berat Badan

Ibu Hamil (Orami Photo Stocks)
Foto: Ibu Hamil (Orami Photo Stocks)

Bahaya pemanis buatan yang pertama adalah dapat meningkatkan berat badan

Dilansir dari National Institutes of Health, pemanis buatan berisiko meningkatkan berat badan seseorang.

Padahal, tujuan mengonsumsi pemanis agar kalori yang masuk lebih kecil daripada mengonsumsi gula pasir biasa. Faktanya justru sebaliknya.

Belum lagi konsumsinya dibarengi makanan atau minuman dengan kalori tinggi lainnya, peningkatan berat badan tidak dapat dihindari.

2. Memicu Gangguan Kesehatan

Bukan hanya kenaikan berat badan saja, bahaya pemanis buatan juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti sakit kepala, migrain, kejang, dan sebagainya.

Sejumlah gangguan kesehatan tersebut biasanya muncul pada seseorang yang sensitif terhadap senyawa yang terkandung dalam pemanis.

3. Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

Bahaya pemanis buatan berikutnya adalah dapat menyebabkan peningkatan risiko diabetes tipe 2.

Dilansir dari Mayo Clinic, pemanis buatan cenderung dijadikan alternatif bagi penderita diabetes.

Namun, jika terlalu banyak mengonsumsinya, justru dapat meningkatkan risiko mengalami diabetes tipe 2.

4. Meningkatkan Nafsu Makan

Meningkatkan nafsu makan juga jadi bahaya pemanis buatan, nih Moms! Bukan itu saja, jika sudah terbiasa mengonsumsi pemanis, seseorang berisiko ketagihan.

Namun, bahaya yang satu ini masih perlu penelitian lebih lanjut. Pasalnya, beberapa penelitian menunjukkan justru mengurangi rasa lapar.

5. Memicu Sindrom Metabolik

Dilansir dari Healthline, sindrom metabolik menjadi salah satu banyak konsumsi pemanis berlebihan.

Sindrom metabolik sendiri adalah sekumpulan kondisi medis seperti, tingginya kadar kolesterol, tekanan darah, dan gula darah dalam tubuh.

Selain itu, sindrom metabolik juga bisa ditandai dengan penumpukan lemak berlebih di area perut.

Baca Juga: 10 Perilaku Orang Tua yang Mengganggu Psikologi Anak, Bisa Bikin Anak Depresi, Lho!

6. Meningkatkan Risiko Kanker

Bahaya pemanis buatan selanjutnya adalah dapat meningkatkan risiko mengalami kanker.

Faktanya, pernah terjadi perdebatan yang mengklaim bahwa pemanis buatan dapat memicu berkembangnya sel kanker.

Meski demikian, bahaya yang satu ini tidak akan terjadi jika pemanis dikonsumsi dalam batasan wajar.

Pada penelitian yang dilakukan, salah satu jenis pemanis yaitu siklamat ditemukan dapat memicu perkembangan sel kanker kandung kemih pada tikus.

Hal tersebut membuat pemanis jenis ini dilarang penggunaannya.

7. Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis

Penyakit Jantung
Foto: Penyakit Jantung (Orami Photo Stock)

Meningkatkan risiko penyakit kronis juga jadi salah satu bahaya pemanis buatan. Tentunya jika dikonsumsi secara berlebihan.

Dari penelitian yang dilakukan di Inggris selama 11 tahun, ditemukan bahwa orang yang mengonsumsi 2 kaleng makanan atau minuman dengan pemanis dapat meningkatkan risiko penyakit kronis.

Beberapa penyakit kronis tersebut, seperti penyakit jantung koroner dan penyakit ginjal kronis.

Baca juga: Yuk, Cari Tahu Kalori Gula Pasir dan Gula Merah!

Penggunaan Pemanis Buatan dalam Makanan dan Minuman

Dilansir dari Mayo Clinic, pemanis buatan merupakan pengganti gula sintetis yang berasal dari zat alami tanaman.

Pemanis buatan dapat menjadi alternatif yang menarik untuk menggantikan gula karena bahan ini hampir tidak menambahkan kalori saat dikonsumsi.

Selain itu, saat ditambahkan dalam makanan atau minuman, terkadang tidak diperlukan dalam jumlah banyak untuk membuat makanan atau minuman menjadi manis.

Berkebalikan dengan gula pada umumnya. Selama dalam batas wajar dan sesuai anjuran, penggunaan pemanis buatan masih tergolong aman.

Pemanis buatan banyak digunakan pada makanan dan minuman olahan, seperti:

  • Soft drink, minuman bubuk, dan minuman lainnya
  • Makanan yang dipanggang
  • Permen
  • Puding
  • Makanan kaleng
  • Selai dan jeli
  • Produk susu

Baca Juga: Mengenal Dodol Betawi, Makanan Khas Jakarta yang Legit dan Manis, Yuk Ketahui Cara Membuatnya

Jenis-Jenis Pemanis Buatan yang Umum Dipakai

Gula (Orami Photo Stocks)
Foto: Gula (Orami Photo Stocks)

Untuk menghindari serangkaian bahaya pemanis buatan yang telah dijabarkan di atas, Moms perlu tahu jenis atau bahan pemanis buatan yang terkandung dalam makanan dan minuman.

Jika ingin membeli makanan di supermarket, Moms bisa memperhatikan komposisi pada label kemasan.

Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah makanan tersebut ditambah dengan pemanis lagi atau tidak.

Biasanya, sakarin, siklamat, atau aspartam menjadi contoh pemanis buatan yang biasanya ada dalam makanan kemasan.

Dilansir dari University of Michigan Health, berikut ini beberapa jenis pemanis buatan yang umum dipakai:

1. Sakarin

Sakarin adalah pemanis yang berbentuk bubuk kristal putih dan terbuat dari o-toluene sulfonamide atau phthalic anhydride.

Tingkat kemanisannya 300–400 kali lipat dari gula pasir. Jadi, Moms hanya perlu memakai sedikit saja untuk mendapatkan rasa manis.

Pemanis ini tidak mengandung kalori dan karbohidrat, tidak merusak gigi, serta aman dikonsumsi penderita diabetes.

Kekurangannya adalah, pemanis ini memiliki rasa akhir yang pahit. Penggunaannya sendiri perlu dicampur dengan pemanis lain.

2. Aspartam

Aspartam adalah pemanis yang umum digunakan pada makanan dan minuman siap saji.

Pemanis ini umum dipakai sejak awal 1980-an, dan memiliki tingkat kemanisan 60–220 kali lipat dari gula pasir.

Pemanis ini tidak meninggalkan rasa pahit, tetapi mudah rusak jika terpapar suhu yang tinggi.

Ketika diproses dalam tubuh, aspartam meninggalkan zat yang disebut fenilalanin yang bersifat racun bagi penderita fenilketonuria.

3. Siklamat

Siklamat adalah pemanis yang biasa digunakan pada permen, makanan penutup, minuman ringan, dan salad dressing.

Pemanis ini ditemukan pada tahun 1931, dengan tingkat kemanisan 30–50 kali lipat dari gula pasir.

Dibanding dengan aspartam, pemanis ini lebih tahan panas, mudah larut dalam air, dan tidak meninggalkan rasa pahit.

4. Sukralosa

Sukralosa adalah pemanis yang terbuat dari gula pasir, dan tidak mengandung kalori.

Pemanis ini memiliki tingkat kemanisan 600 kali lipat dari gula pasir. Kelebihannya adalah, tahan saat terpapar cuaca panas atau dingin.

Sukralosa tahan terhadap paparan suhu panas dan dingin, tidak merusak gigi, tidak memengaruhi kondisi genetik, serta aman bagi penderita diabetes.

5. Acesulfame Potassium atau Acesulfame K

Acesulfame potassium alias Ace-K adalah pemanis rendah kalori yang biasanya terdapat di dalam produk bebas gula.

Pemanis ini biasa ditemui dalam minuman ringan, protein shake, permen, dan makanan penutup.

Ace-K memiliki tingkat kemanisan 200 kali lipat dari gula pasir. Meski terbilang aman, penggunaannya perlu dibatasi.

Pasalnya, pemanis ini dapat memicu dampak negatif bagi metabolisme, seperti peningkatan berat badan dan gula darah.

6. Sorbitol

Berbeda dengan pemanis lainnya, sorbitol termasuk ke dalam salah satu jenis karbohidrat.

Pemanis ini memiliki nama lain, yaitu D-sorbitol. Bukan hanya dapat menambah rasa manis, pemanis ini juga dapat kelembapan makanan.

Produsen makanan sering menggunakan sorbitol karena dinilai mampu menghasilkan tekstur makanan seperti yang diinginkan.

Sorbitol termasuk jenis gula alkohol yang aman dikonsumsi. Namun jika berlebihan, kembung, diare, dan sakit perut bisa saja muncul.

7. Neotam

Neotam termasuk ke dalam pemanis yang terbuat dari aspartam.

Pemanis ini biasa digunakan untuk mengolah makanan yang dipanggang, minuman ringan, puding atau selai.

Pemanis ini memiliki tingkat kemanisan 7.000–13.000 kali lipat dari gula pasir. Pemanis ini dinilai aman karena tidak melewati proses metabolisme tubuh.

Baca Juga: Yuk, Cari Tahu Kalori Gula Pasir dan Gula Merah!

Siapa Saja yang Tidak Boleh Mengonsumsi Pemanis Buatan?

Meskipun jika dikonsumsi dalam batas wajar masih tergolong aman, namun pada beberapa kondisi seseorang tidak dapat mengonsumsi jenis makanan apa pun yang mengandung pemanis buatan.

Dilansir dari Very Well Health, pemanis buatan telah dianggap aman oleh Food and Drug Administration atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat.

Namun, jenis pemanis aspartam harus dihindari oleh penderita fenilketonuria.

Fenilketonuria merupakan kondisi cacat bawaan yang menyebabkan asam amino bernama fenilalanin menumpuk di dalam tubuh, yang memicu gangguan fungsi otak.

Dengan mengonsumsi pemanis aspartam, maka akan mencegah fenilalanin tersebut hancur, sehingga penumpukan semakin bertambah.

Selain itu, pemanis jenis sakarin sebaiknya dihindari oleh wanita yang sedang dalam masa kehamilan.

Sebab, mengonsumsi pemanis sakarin dapat menyebabkan pembersihan janin yang lambat.

Baca juga: Gula Rafinasi, Apa Bedanya dengan Gula Alami?

Seiring maraknya produksi makanan olahan dan kemasan, pemanis tidak bisa dihindari dari kehidupan sehari-hari.

Bahkan, bisa jadi makanan kemasan yang Moms beli sehari-hari mengandung pemanis buatan dari jenis tertentu.

Kita memang tidak dapat menghindari pemanis buatan sepenuhnya. Namun, Moms dapat membatasi jumlah asupan hariannya.

Alih-alih mengonsumsi asupan dengan pemanis buatan, sebaiknya dapatkan sensasi rasa manis dari buah-buahan segar yang Moms sukai.

  • https://www.uofmhealth.org/health-library/abj7112
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3198517/
  • https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/artificial-sweeteners/art-20046936
  • https://www.healthline.com/nutrition/artificial-sweeteners-good-or-bad#what-they-are
  • https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/artificial-sweeteners/art-20046936
  • https://www.verywellhealth.com/artificial-sweeteners-5184450#citation-12
  • https://medlineplus.gov/ency/article/007492.htm

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.