Kesehatan Umum

28 Oktober 2021

Moms Harus Tahu, Ini 7 Jenis dan Bahaya Pemanis Buatan

Tidak semua pemanis buatan aman bagi kesehatan tubuh, lho
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Nevy
Disunting oleh Widya Citra Andini

Pemanis buatan biasanya menjadi alternatif bagi seseorang yang ingin menghindari konsumsi gula putih.

Pemanis buatan dinilai memberikan rasa manis yang hampir sama dengan gula putih, tetapi dengan kandungan rendah kalori.

Namun, banyak juga rumor beredar terkait dengan bahaya pemanis buatan. Nah, apakah rumor tersebut benar adanya?

Baca juga: 9+ Perbedaan Gula Aren dan Gula Merah, Serupa Tapi Tak Sama!

Jenis-Jenis Pemanis Buatan yang Umum Dipakai

Moms Harus Tahu, Ini 7 Jenis dan Bahaya Pemanis Buatan

Foto: Orami Photo Stock

Jika ingin membeli makanan di supermarket, Moms bisa memperhatikan komposisi pada label kemasan.

Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah makanan tersebut ditambah dengan pemanis buatan atau tidak.

Biasanya, sakarin, siklamat, atau aspartam menjadi contoh pemanis buatan yang biasanya ada dalam makanan kemasan.

Meski penggunaannya sangat umum, Moms juga tidak bisa mengonsumsi secara berlebihan karena akan menimbulkan gangguan kesehatan.

Dilansir dari University of Michigan Health, berikut ini beberapa jenis pemanis buatan yang umum dipakai:

1. Sakarin

Sakarin adalah pemanis yang berbentuk bubuk kristal putih dan terbuat dari o-toluene sulfonamide atau phthalic anhydride.

Tingkat kemanisannya 300–400 kali lipat dari gula pasir. Jadi, Moms hanya perlu memakai sedikit saja untuk mendapatkan rasa manis.

Pemanis ini tidak mengandung kalori dan karbohidrat, tidak merusak gigi, serta aman dikonsumsi penderita diabetes.

Kekurangannya adalah, pemanis ini memiliki rasa akhir yang pahit. Penggunaannya sendiri perlu dicampur dengan pemanis lain.

2. Aspartam

Aspartam adalah pemanis yang umum digunakan pada makanan dan minuman siap saji.

Pemanis ini umum dipakai sejak awal 1980-an, dan memiliki tingkat kemanisan 60–220 kali lipat dari gula pasir.

Pemanis ini tidak meninggalkan rasa pahit, tetapi mudah rusak jika terpapar suhu yang tinggi.

Ketika diproses dalam tubuh, aspartam meninggalkan zat yang disebut fenilalanin yang bersifat racun bagi penderita fenilketonuria.

3. Siklamat

Siklamat adalah pemanis yang biasa digunakan pada permen, makanan penutup, minuman ringan, dan salad dressing.

Pemanis ini ditemukan pada tahun 1931, dengan tingkat kemanisan 30–50 kali lipat dari gula pasir.

Dibanding dengan aspartam, pemanis ini lebih tahan panas, mudah larut dalam air, dan tidak meninggalkan rasa pahit.

4. Sukralosa

Sukralosa adalah pemanis yang terbuat dari gula pasir, dan tidak mengandung kalori.

Pemanis ini memiliki tingkat kemanisan 600 kali lipat dari gula pasir. Kelebihannya adalah, tahan saat terpapar cuaca panas atau dingin.

Sukralosa tahan terhadap paparan suhu panas dan dingin, tidak merusak gigi, tidak memengaruhi kondisi genetik, serta aman bagi penderita diabetes.

5. Acesulfame Potassium atau Acesulfame K

Acesulfame potassium alias Ace-K adalah pemanis rendah kalori yang biasanya terdapat di dalam produk bebas gula.

Pemanis ini biasa ditemui dalam minuman ringan, protein shake, permen, dan makanan penutup.

Ace-K memiliki tingkat kemanisan 200 kali lipat dari gula pasir. Meski terbilang aman, penggunaannya perlu dibatasi.

Pasalnya, pemanis ini dapat memicu dampak negatif bagi metabolisme, seperti peningkatan berat badan dan gula darah.

6. Sorbitol

Berbeda dengan pemanis lainnya, sorbitol termasuk ke dalam salah satu jenis karbohidrat.

Pemanis ini memiliki nama lain, yaitu D-sorbitol. Bukan hanya dapat menambah rasa manis, pemanis ini juga dapat kelembapan makanan.

Produsen makanan sering menggunakan sorbitol karena dinilai mampu menghasilkan tekstur makanan seperti yang diinginkan.

Sorbitol termasuk jenis gula alkohol yang aman dikonsumsi. Namun jika berlebihan, kembung, diare, dan sakit perut bisa saja muncul.

7. Neotam

Neotam termasuk ke dalam pemanis yang terbuat dari aspartam.

Pemanis ini biasa digunakan untuk mengolah makanan yang dipanggang, minuman ringan, puding atau selai.

Pemanis ini memiliki tingkat kemanisan 7.000–13.000 kali lipat dari gula pasir. Pemanis ini dinilai aman karena tidak melewati proses metabolisme tubuh.

Baca juga: Yuk, Cari Tahu Kalori Gula Pasir dan Gula Merah!

Bahaya Pemanis Buatan Jika Dikonsumsi Berlebihan

Meski terbilang aman, jumlah konsumsinya perlu dibatasi. Jika tidak, Moms harus bersiap untuk menerima bahayanya.

Berikut ini beberapa bahaya pemanis buatan bagi kesehatan tubuh:

1. Meningkatkan Berat Badan

Moms Harus Tahu, Ini 7 Jenis dan Bahaya Pemanis Buatan

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir dari National Institutes of Health, pemanis buatan berisiko meningkatkan berat badan seseorang.

Padahal, tujuan mengonsumsi pemanis agar kalori yang masuk lebih kecil dari pada mengonsumsi gula pasir biasa. Faktanya justru sebaliknya.

Jika Moms rutin mengonsumsi Minuman dengan salah satu jenis pemanis yang sudah disebutkan, peningkatan berat badan tidak dapat dihindari.

Apalagi, jika konsumsi pemanis dibarengi dengan konsumsi makanan atau minuman dengan tinggi kalori.

2. Memicu Gangguan Kesehatan

Bukan hanya kenaikan berat badan saja, pemanis buatan juga berisiko memicu gangguan kesehatan, seperti sakit kepala, migrain, kejang, dan sebagainya.

Sejumlah gangguan kesehatan tersebut biasanya muncul pada seseorang yang sensitif terhadap senyawa yang terkandung dalam pemanis.

3. Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

Dilansir dari Mayo Clinic, pemanis buatan cenderung dijadikan alternatif bagi penderita diabetes.

Namun, jika terlalu banyak mengonsumsinya, justru dapat meningkatkan risiko mengalami diabetes tipe 2.

4. Meningkatkan Nafsu Makan

Bahaya selanjutnya adalah meningkatkan nafsu makan. Bukan itu saja, jika sudah terbiasa mengonsumsi pemanis, seseorang berisiko ketagihan.

Namun, bahaya yang satu ini masih perlu menelitian lebih lanjut. Pasalnya, beberapa penelitian menunjukkan justru mengurangi rasa lapar.

5. Memicu Sindrom Metabolik

Dilansir dari Healthline, sindrom metabolik menjadi salah satu banyak konsumsi pemanis berlebihan.

Sindrom metabolik sendiri adalah sekumpulan kondisi medis seperti, tingginya kadar kolesterol, tekanan darah, dan gula darah dalam tubuh.

Selain itu, sindrom metabolik juga bisa ditandai dengan penumpukan lemak berlebih di area perut.

6. Meningkatkan Risiko Kanker

Faktanya, pernah terjadi perdebatan yang mengklaim bahwa pemanis buatan dapat memicu berkembangnya sel kanker.

Meski demikian, bahaya yang satu ini tidak akan terjadi jika pemanis dikonsumsi dalam batasan wajar.

Pada penelitian yang dilakukan, salah satu jenis pemanis yang cyclamate ditemukan dapat memicu perkembangan sel kanker kandung kemih pada tikus.

Hal tersebut membuat pemanis cyclamate dilarang penggunaannya.

7. Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis

Moms Harus Tahu, Ini 7 Jenis dan Bahaya Pemanis Buatan

Foto: Orami Photo Stock

Pemanis buatan dinilai dapat meningkatkan risiko penyakit kronis pada seseorang, jika dikonsumsi secara berlebihan.

Dari penelitian yang dilakukan di Inggris selama 11 tahun, ditemukan bahwa orang yang mengonsumsi 2 kaleng makanan atau minuman dengan pemanis dapat meningkatkan risiko penyakit kronis.

Beberapa penyakit kronis tersebut, seperti penyakit jantung koroner dan penyakit ginjal kronis.

Baca juga: Gula Rafinasi, Apa Bedanya dengan Gula Alami?

Seiring maraknya produksi makanan olahan dan kemasan, pemanis tidak bisa dihindari dari kehidupan sehari-hari.

Bahkan, bisa jadi makanan kemasan yang Moms beli sehari-hari mengandung pemanis buatan dari jenis tertentu.

Kita memang tidak dapat menghindari pemanis buatan sepenuhnya. Namun, Moms dapat mengatasi dan membatasi jumlah asupan hariannya.

Alih-alih mengonsumsi makanan dengan kandungan pemanis, sebaiknya dapatkan sensasi rasa manis dari buah-buahan yang Moms sukai.

  • https://www.uofmhealth.org/health-library/abj7112
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3198517/
  • https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/artificial-sweeteners/art-20046936
  • https://www.healthline.com/nutrition/artificial-sweeteners-good-or-bad#diabetes
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait