Newborn

NEWBORN
6 November 2020

Campak pada Bayi: Mengenal Ciri, Perawatan dan Pencegahannya

Campak pada bayi bisa menjadi sangat menakutkan terlebih bila dia belum mendapatkan vaksinasi.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Dina Vionetta

Jika mendengar tentang campak, tentu Moms tidak akan merasa asing. Campak adalah infeksi virus yang menyebabkan demam dan ruam khas pada tubuh. Campak sangat menular dan menyebar dengan mudah melalui tetesan dari batuk dan bersin.

Campak juga bisa terjadi pada bayi dan dulu campak adalah penyakit yang sangat umum. Namun, sekarang campak hampir selalu dapat dicegah dengan vaksin sehingga Moms yang memvaksin anaknya tidak perlu terlalu merasa khawatir.

Angka kematian karena campak telah turun di seluruh dunia karena lebih banyak anak menerima vaksin campak. Vaksinasi mencegah banyak kasus campak di seluruh dunia.

Namum, campak pada bayi atau biasa disebut Rubeola ini juga bisa serius dan bahkan fatal. Penyakit ini masih membunuh lebih dari 100.000 orang per tahun dan sebagian besar di bawah usia 5 tahun atau bayi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 2,6 juta orang yang belum mendapatkan vaksin, meninggal akibat campak setiap tahunnya.

Baca Juga: Bahaya Campak pada Ibu Hamil, Gejala, dan Pengobatannya

Terjadinya Campak Pada Bayi

Cari-Tahu-Perbedaan-Campak-dan-Rubella-Pada-Anak-Hero.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Campak disebabkan oleh virus rubeola. Ketika seseorang yang terserang virus ini bersin atau batuk, tetesan-tetesan kecil yang mengandung virus itu menyemprot ke udara. Tetesan tetap aktif selama dua jam di udara atau di permukaan.

Dikutip dari Kids Health dijelaskan jika bayi menyentuh tetesan-tetesan ini, maka penularan campak pada bayi berlangsung. Bayi Moms juga dapat terkena campak karena bersentuhan dengan kulit seseorang yang memiliki virus.

Berada di ruangan yang sama dengan seseorang yang menderita campak minimal selama 15 menit atau melakukan kontak langsung dengan mereka, sudah cukup untuk membuat penularan campak pada bayi ini terjadi.

Jika bayi Moms belum diimunisasi / vaksin dan belum pernah menderita campak sebelumnya, ia kemungkinan akan terkena jika ia terpapar di daerah terinfeksi. 9 dari 10 anak dalam keadaan ini akan menderita campak.

Setelah campak sudah menyerang bayi Moms, perlu sekitar 10 hari baginya untuk menunjukkan gejala apa pun. Jika Moms tahu bahwa bayi Moms telah terpapar virus campak, ia harus dapat perawatan untuk mencegah virus itu berkembang.

Moms juga perlu membawanya ke dokter dalam waktu tiga hari setelah dia terpapar jika memang menunjukan gejala komplikasi.

Baca Juga: 7 Fakta Seputar Campak dan Rubella pada Bayi

Tanda dan Gejala Campak pada Bayi

Tanda Campak pada Bayi

Foto: Orami Photo Stocks

Setelah terkena virus, diperlukan waktu 10 hingga 12 hari untuk gejala dapat muncul. Bayi Moms bisa mendapatkan virus dari seseorang yang bahkan belum tahu bahwa mereka menderita campak.

Berikut ini merupakan gejala pertama campak pada bayi, yaitu dapat meliputi:

  • Flu
  • Demam sekitar 38 derajat C
  • Batuk
  • Nyeri atau mudah lelah
  • Mata bengkak
  • Bintik-bintik putih kecil di mulut

Tiga atau empat hari setelah gejala-gejala ini muncul, Moms akan melihat bintik-bintik merah di belakang telinga bayi Moms, di wajah dan lehernya atau area kepala.

Saat ruam muncul, demamnya juga mungkin akan meningkat. Namun, sebagian besar akan merasakan sakit kurang dari seminggu dan biasanya mulai merasa lebih baik saat dua hari setelah ruam muncul.

Sementara itu, bintik-bintik akan menyebar ke seluruh tubuh dan mengembangkan tekstur bergelombang. Ruam mungkin gatal dan akan berlangsung sekitar lima hari. Saat memudar, itu akan berubah warna kecoklatan dan membuat kulit bayi Moms kering dan bersisik.

Bayi Moms juga mungkin merasa sakit dan lelah serta sakit dan nyeri di otot-ototnya. Batuknya juga bisa menyusahkan atau bisa mengganggu tidurnya serta bertahan hingga dua minggu.

Komplikasi karena Campak pada Bayi

Komplikasi Campak pada Bayi

Foto: Orami Photo Stocks

Sebagian besar bayi dan anak-anak pulih dari campak tanpa komplikasi. Namun, Moms juga harus hati-hati karena campak pada bayi dan anak-anak bisa saja menyebabkan infeksi sekunder atau komplikasi seperti:

  • Muntah
  • Infeksi telinga
  • Infeksi mata
  • Kejang demam
  • Tenggorokan bengkak (radang tenggorokan)

Segera bawa bayi Moms ke dokter jika mulai khawatir dia mengalami gejala-gejala lain, selain campak. Dalam kasus yang jarang terjadi, dapat terjadi komplikasi yang lebih serius, yaitu:

1. Bronkitis atau Radang Tenggorokan

Campak dapat menyebabkan radang pada laring dinding bagian dalam tenggorokan yang melapisi saluran udara utama di paru-paru (saluran bronkial).

Baca Juga: Jarang Diketahui, Ini Gejala dan Penyebab Bronkopneumonia Pada Bayi

2. Radang Paru-paru atau Pneumonia

Orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu dapat mengembangkan jenis pneumonia yang sangat berbahaya dan kadang-kadang berakibat fatal.

3. Radang Otak atau Ensefalitis

Sekitar 1 dari 1.000 orang dengan campak mengembangkan komplikasi yang disebut ensefalitis. Ensefalitis dapat terjadi segera setelah campak, atau mungkin tidak terjadi sampai beberapa bulan kemudian.

Cara Mengatasi Campak pada Bayi

Kenali gejala penyakit campak pada si Kecil (2).jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Setelah mengatahui bayi Moms mengalami gejala campak, tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mengobatinya. Campak adalah virus, jadi penyakit ini tidak bisa diobati dengan antibiotik.

Campak pada bayi hanya perlu berjalan di alurnya. Bayi Moms akan membaik dalam waktu seminggu atau lebih dan inilah yang dapat Moms lakukan untuk membuat bayi Moms merasa lebih nyaman dan mempercepat kesembuhannya:

  • Pastikan bayi Moms banyak istirahat dan jauhkan dari penitipan anak dan anak-anak lain hingga setidaknya empat hari setelah ia mengalami ruam. Juga jangan biarkan dia keluar rumah terlebih dahulu dan bertemu dengan orang atau anggota keluarga lain.
  • Tawarkan bayi Moms banyak cairan untuk menurunkan demamnya dan mencegah dehidrasi. Tawarkan dia ASI secara rutin atau susu formula dan air matang tambahan.
  • Berikan bayi Moms parasetamol atau ibuprofen untuk meredakan demam, rasa sakit dan nyeri yang dideritanya, jika ia memang sudah cukup umur.

Moms dapat memberikannya parasetamol bayi jika ia berusia dua bulan atau lebih. Dan Moms bisa memberinya ibuprofen jika dia berusia tiga bulan atau lebih, dan beratnya setidaknya 5 kg. Tanyakan apoteker atau dokter anak jika Moms tidak yakin tentang dosisnya.

  • Untuk membantu meringankan batuk bayi Moms, letakkan semangkuk air hangat di kamarnya agar lebih lembab. Tidak ada bukti bahwa memberikan obat batuk pada bayi akan membantu meringankan batuknya..
  • Jika dia satu tahun atau lebih, Moms bisa memberinya minuman madu dan lemon. Campurkan satu sendok teh jus lemon dengan dua sendok teh madu dalam segelas air hangat dan berikan sedikit demi sedikit.

Baca Juga: Benarkan Vaksinasi Campak Jadi Pemicu Autisme Pada Anak?

Mencegah Penyakit Campak pada Bayi

Stop MPASI Dini Ini Bahayanya Bagi Bayi 1.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Upaya pencegahan campak pada bayi bisa dilakukan dengan vaksinasi dan isolasi, dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Vaksinasi

Vaksin untuk mencegah campak pada bayi tidak dapat diberikan kepada anak-anak sampai mereka berusia setidaknya 12 bulan. Sebelum menerima dosis pertama vaksin mereka ada di masa paling rentan untuk terinfeksi virus campak.

Oleh karena itu, ketika bayi Moms berusia sekitar 12 bulan, ia akan diminta untuk vaksin MMR sebagai bagian dari imunisasi rutinnya. Dikutip dari BabyCenter, vaksin MMR 90%-95% efektif dalam melindungi bayi Moms dari campak, serta gondong dan rubella.

Dosis kedua (penguat) akan diberikan ketika bayi Moms berusia antara tiga tahun dan lima tahun. Ini akan meningkatkan perlindungannya menjadi 99%. Namun, dampak dan kekebalan ini tergantung pada usianya masing-masing.

Jika bayi Moms kurang dari enam bulan dan Moms pernah menderita campak sebelumnya, bayi Moms mungkin tidak memerlukan perawatan apa pun. Ini karena antibodi Moms sudah berpindah kepadanya ketika di rahim atau selama kehamilan. Bayi menerima perlindungan dari campak melalui kekebalan pasif yang diberikan dari ibu ke anak melalui plasenta dan selama menyusui.

Ini memberinya kekebalan terhadap virus selama enam bulan pertama dan mungkin sedikit lebih lama. Namun, beberapa pihak menilai bahwa kekebalan ini dapat hilang hanya dalam waktu 2,5 bulan setelah kelahiran atau saat menyusui dihentikan.

Jika bayi Moms kurang dari enam bulan dan Moms belum pernah menderita campak sebelumnya, ia mungkin diberikan suntikan human normal immunoglobin (HNIG). HNIG adalah konsentrasi antibodi yang dapat memberikan perlindungan segera dan jangka pendek terhadap campak.

Jika bayi Moms lebih tua dari enam bulan dan telah terpapar virus campak, ia mungkin diberikan dosis vaksin MMR lebih awal dari usia seharusnya yaitu 12 bulan agar dapat mencegah virus berkembang.

Upaya vaksin ini juga penting ketika Moms dan keluarga atau termasuk bayi Moms, akan bepergian ke luar negeri dimana beberapa daerah mungkin bisa menjadi wilayah outbreak campak.

Baca Juga: Vaksin Bayi, Perlu atau Tidak?

2. Isolasi

Jika seseorang di rumah Moms menderita campak, lakukan tindakan isolasi atau menjauh dari orang yang terinfeksi sebagai upaya pencegahan melindungi bayi dan anggota keluarga lainnya yang sehat.

Karena campak sangat menular dari sekitar empat hari sebelum sampai empat hari setelah ruam pecah, orang dengan campak tidak boleh kembali berkegiatan atau berkumpul untuk saling berinteraksi dengan orang lain selama periode ini.

Itulah penjelasan lengkap mengenai campak pada bayi. Semoga sekarang Moms bisa lebih memahaminya, ya.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait