09 Oktober 2022

15+ Dampak Setelah Sembuh dari COVID-19, Waspada Gangguan Mental!

Apa sajakah dampaknya?

Kondisi pandemi tampak mulai membaik. Namun, dampak setelah sembuh dari COVID-19 masih banyak mengintai.

Studi terbaru menunjukkan bahwa pasien yang sembuh dari infeksi COVID-19 rentan mengalami gangguan kejiwaan.

Melansir The Guardian, hal ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh Rumah Sakit San Raffaele di Milan, Italia.

Tak hanya itu, efek jangka panjang COVID-19 juga mempengaruhi kesehatan fisik, lho, Moms.

Apa saja efek setelah sembuh dari COVID-19 yang patut diwaspadai? Yuk, kenali bersama di bawah ini!

Baca Juga: Mengenal Manfaat Buah Quince untuk Kesehatan

Sederet Dampak Setelah Sembuh dari COVID-19

Efek Pandemi COVID-19
Foto: Efek Pandemi COVID-19 (Orami Photo Stocks)

Efek jangka panjang COVID-19 mengintai siapa pun, baik anak-anak sampai orang dewasa dan lansia.

Gejala pasca COVID-19 ini tentu berbeda-beda, mulai dari gangguan fisik hingga penyakit terkait kondisi mental.

Berikut sejumlah dampak setelah sembuh dari COVID-19 yang cukup sering ditemukan:

1. Mengalami Gangguan Kejiwaan

Survei yang dipublikasikan oleh jurnal Brain, Behavior and Immunity menganalisis 402 pasien setelah pulih dari COVID-19.

Partisipan studi terdiri dari 265 pasien pria dan 137 pasien wanita.

Pasien tersebut diketahui telah sembuh dari COVID-19 selama 1 bulan.

Hasil survei menunjukkan, hampir sebagian pasien mengalami gangguan kejiwaan derajat sedang hingga berat.

Efek jangka panjang COVID-19 yang termasuk, misalnya stres pasca-trauma (PTSD), kecemasan, insomnia, dan depresi.

Baca Juga: Mengenal Sikap Fanatisme yang Bisa Jadi Ciri Gangguan Kejiwaan

2. Memicu Gangguan Tidur

Masalah Kesehatan Jiwa Setelah COVID-19
Foto: Masalah Kesehatan Jiwa Setelah COVID-19 (Orami Photo Stocks)

Masih di studi yang sama, dampak setelah sembuh dari COVID-19 juga mempengaruhi kualitas tidur.

Hasil wawancara klinis dan kuesioner penilaian diri yang diikuti oleh 402 pasien ditemukan bahwa:

  • Sebanyak 28% pasien mengalami PTSD
  • Sebanyak 31% mengalami depresi
  • Sebanyak 40% mengalami insomnia
  • Sebanyak 40% merasa cemas
  • Sebanyak 20% pasien mengalami gejala obsesif-kompulsif

"Jelas bahwa COVID-19 tak hanya menyebabkan peradangan pada organ tubuh, namun juga berpengaruh pada kondisi mental," ujar Profesor Francesco Benedetti, ketua kelompok Unit Penelitian Psikiatri dan Psikologi Klinis di San Raffaele.

Baca Juga: Terapi Sentuhan untuk Mengatasi Depresi

3. Gangguan Lebih Banyak Dialami Wanita

Efek setelah sembuh dari COVID-19 lebih banyak dirasakan oleh jenis kelamin tertentu.

Hasil dari penelitian di atas menunjukkan bahwa kecemasan dan depresi paling banyak dialami oleh wanita.

Meskipun demikian, tingkat infeksi yang dialami wanita lebih rendah dibandingkan dengan pasien pria.

"Kami berhipotesis bahwa kondisi ini mungkin terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang berbeda pada pria dan wanita," kata Profesor Benedetti.

Gejala pasca COVID-19 yang dimaksud, seperti timbulnya rasa cemas berlebih dan gangguan mental lainnya.

4. Pasien Rawat Jalan Lebih Terpengaruh

COVID-19 Rawat Jalan
Foto: COVID-19 Rawat Jalan (Orami Photo Stocks)

Telah lama diinformasikan bahwa pasien gejala ringan dapat melakukan rawat jalan atau isoman di rumah.

Hal itu karena membeludaknya kasus COVID-19, sehingga pemerintah memprioritaskan pasien dengan gejala berat untuk dirawat di rumah sakit.

Namun, faktanya, dampak setelah sembuh dari COVID-19 cukup dirasakan bagi penderita pasien rawat jalan.

Pasien rawat jalan juga memiliki dampak psikologis yang lebih berat dibandingkan dengan pasien rawat inap.

Potensi untuk mengalami gangguan mental menjadi lebih tinggi sebagai salah satu gejala pasca COVID-19.

5. Penyalahgunaan Alkohol dan Zat Terlarang

Studi dalam Psych Central menambahkan, efek setelah sembuh dari COVID-19 juga meningkatkan risiko kondisi lain.

Ditemukan bahwa lebih dari 15 kasus depresi per 1.000 orang dalam kelompok pemulihan COVID-19.

Mereka lebih berpotensi mengalami masalah tidur dan tingkat penyalahgunaan alkohol atau narkoba yang lebih tinggi.

Penyalahgunaan alkohol dan narkoba ini tentu akan berdampak bagi kesehatan fisik maupun psikis.

Salah satu dampak dari mengonsumsi minuman beralkohol adalah menurunnya fungsi organ penting dan daya ingat.

Baca Juga: Chlorpromazine, Obat untuk Atasi Gangguan Mental

6. Keinginan Bunuh Diri yang Tinggi

Stres Buruk
Foto: Stres Buruk (Orami Photo Stock)

Umumnya, setelah sembuh dari COVID-19 badan lemas adalah hal yang cukup sering terjdi.

Namun, efek jangka panjang COVID-19 yang perlu lebih disoroti, yakni terkait kesehatan mental.

Mereka yang pulih juga menunjukkan peningkatan dalam pikiran untuk keinginan bunuh diri.

Temuan ini dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mengalami COVID-19 sebelumnya.

"Pada kenyataannya, penyakit COVID-19 merupakan faktor risiko gangguan mental,” Dr. Paul Poulakos, seorang psikiater bersertifikat dewan di Greenwich Village, New York, mengatakan kepada Healthline.

7. Mudah Emosi dan Terganggu

Gangguan kejiwaan atau mental yang menyerang pasien COVID-19 bisa disebabkan oleh beberapa hal.

Menurut ketua penelitian Mario Gennaro Mazza, beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, termasuk respons imun terhadap virus.

Kemudian, faktor lainnya, seperti stres secara psikologis atau stigma yang dimunculkan oleh masyarakat.

Ini juga karena tekanan dari isolasi sosial, hingga kekhawatiran menularkan kepada orang lain.

Baca Juga: Tiru 9 Inspirasi Dress Natal Bersama Keluarga

8. Potensi Timbulkan Penyakit Baru

Penyakit Lansia
Foto: Penyakit Lansia (Shutterstock.com)

Dalam penelitian tersebut juga, dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap pasien yang sudah sembuh dari COVID-19.

Sebab, dikhawatirkan, jika tidak segera dilakukan pemeriksaan akan gangguan kejiwaan tersebut bisa berpotensi melemahkan para pasien.

Efek jangka panjang COVID-19 juga melibatkan berbagai gejala baru atau berkelanjutan.

Khususnya bagi mereka yang telah sembuh 4 minggu sejak dinyatakan negatif.

Pada beberapa orang, gejala pasca COVID-19 berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya.

9. Lansia Lebih Potensi Mengalami Long COVID-19

Menurut Mayo Clinic, antara 1 bulan sampai 1 tahun setelah COVID-19, orang lansia lebih berpotensi mengalami efek jangka panjangnya.

Diketahui 1 dari 5 orang berusia 18 hingga 64 tahun memiliki setidaknya satu kondisi medis yang mungkin disebabkan oleh COVID-19.

Di antara orang berusia 65 tahun ke atas, 1 dari 4 memiliki setidaknya satu kondisi medis yang mungkin disebabkan oleh COVID-19.

Artinya, bagi mereka yang berusia 65 tahun ke atas akan lebih berpotensi mengalami sejumlah penyakit.

Efek setelah sembuh dari COVID-19 ini pun dilihat lagi berdasarkan riwayat penyakit yang dimiliki.

Baca Juga: 4 Cara Menghemat Pengeluaran Selama Pandemi COVID-19

10. Tubuh Mudah Lelah

Tubuh Rentan Lelah
Foto: Tubuh Rentan Lelah (News-medical.net)

Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), efek setelah COVID-19 akan berbagai rupa.

Setelah sembuh dari COVID-19 badan lemas adalah hal yang normal dan banyak orang alami.

Selain itu, ada beberapa gejala lain dari dampak setelah sembuh dari COVID-19, di antaranya:

  • Gejala memburuk setelah beraktivitas berat
  • Pusing saat berdiri
  • Perubahan bau atau rasa
  • Depresi atau kecemasan
  • Gangguan pencernaan

Tubuh yang demam tanpa alasan jelas pun jadi salah satu efek jangka panjang COVID-19 bagi sejumlah orang.

Penyebab demam ini bisa karena adanya infeksi atau peradangan di dalam tubuh yang tak diketahui.

11. Perubahan Siklus Haid

Jurnal PLOS One menilai dampak setelah sembuh dari COVID-19 juga mempengaruhi gangguan menstruasi pada wanita.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa infeksi COVID-19 dapat mempengaruhi panjang dan singkatnya haid setiap bulan.

Beberapa gejala yang juga bisa dialami pada wanita yakni seperti:

  • Kram perut
  • Nyeri sendi atau otot
  • Rasa tidak nyaman di perut

Namun, diperlukan studi lebih lanjut untuk mengonfirmasi dan mengevaluasi berapa lama ketidakteraturan menstruasi ini berlangsung.

12. Potensi Alami Chronic Fatigue Syndrome

Chronic Fatigue Syndrome
Foto: Chronic Fatigue Syndrome (Orami Photo Stocks)

Orang yang pernah menderita COVID dapat terus memiliki gejala yang sulit dijelaskan dan dikelola.

Evaluasi klinis dan hasil tes darah rutin, rontgen dada, dan elektrokardiogram mungkin tampak normal.

Namun, gejala setelah COVID-19 ini diketahui mirip dengan dengan Chronic Fatigue Syndrome.

Penyakit kronis lain yang kurang dipahami mungkin terjadi bagi beberapa orang.

Akibatnya, dibutuhkan pemeriksaan lanjutan yang lebih lengkap dengan dokter ataupun perawat.

Hal ini untuk menentukan pengobatan yang diambil tepat sebagai solusi efek setelah COVID-19.

Baca Juga: Memahami Seputar Gizi Balita, dari Kebutuhan hingga Penilai Status Gizinya

13. Kerusakan Organ Tubuh

Kerusakan organ bisa berperan sebagai dampak setelah sembuh dari COVID-19.

Orang yang menderita penyakit parah COVID-19 mungkin mengalami kerusakan organ yang mempengaruhi:

  • Jantung
  • Ginjal
  • Kesehatan kulit
  • Fungsi otak

Peradangan dan masalah dengan sistem kekebalan juga bisa terjadi. Tidak jelas berapa lama efek ini akan bertahan bagi beberapa orang.

Efeknya juga dapat menyebabkan perkembangan masalah baru, seperti diabetes atau kondisi jantung atau sistem saraf.

14. Stres dan Trauma Berat

Cara Mengatasi Trauma
Foto: Cara Mengatasi Trauma (Tommys.org)

Pengalaman mengidap COVID-19 yang parah mungkin menjadi faktor lain.

Orang dengan gejala COVID-19 yang parah sering kali perlu dirawat di unit perawatan intensif rumah sakit.

Hal ini dapat mengakibatkan kelemahan ekstrem dan gangguan stres pasca-trauma.

Gejala pasca COVID ini adalah suatu kondisi kesehatan mental yang dipicu oleh peristiwa yang menakutkan.

Tak jarang, penderitanya dapat mengalami trauma dan stres berat seiring pemulihan.

Baca Juga: 13 Makanan Pemicu Kanker yang Harus Dibatasi

15. Masalah Pernapasan

Kasus COVID-19 yang parah dapat menyebabkan jaringan parut dan masalah permanen lainnya di paru-paru.

Bahkan infeksi ringan dapat menyebabkan sesak napas yang terus-menerus.

Efek jangka panjang COVID-19 bahkan akan merasa mudah lelah setelah melakukan aktivitas ringan.

Para ahli mengatakan perlu waktu berbulan-bulan bagi fungsi paru-paru seseorang untuk kembali normal sebelum COVID-19.

Latihan pernapasan dan terapi pernapasan dapat membantu untuk meringankan gejala pasca COVID-19.

16. Indera Penciuman Belum Kembali Sepenuhnya

Cara Mengembalikan Penciuman Saat Flu
Foto: Cara Mengembalikan Penciuman Saat Flu (Orami Photo Stocks)

Indera penciuman dapat berubah karena virus Corona dapat mempengaruhi sel-sel di hidung.

Gejala pasca COVID-19 lainnya yakni dapat mengakibatkan hilangnya indra penciuman (anosmia) atau rasa.

Mereka juga akan merasakan hal-hal berbau, terasa tidak enak, aneh, atau berbeda.

Mereka yang pernah menderita COVID-19, gejala ini akan hilang dalam beberapa minggu.

Tetapi bagi sebagian besar, gejala-gejala ini bertahan di waktu yang lama.

Meskipun tidak mengancam jiwa, efek jangka panjang COVID-19 ini dapat menyebabkan kurangnya nafsu makan.

Itulah penjelasan tentang dampak setelah sembuh dari COVID-19 yang kerap terjadi.

Semoga Moms dan keluarga selalu aman dari penyakit ini, ya!

  • https://www.theguardian.pe.ca/news/world/some-covid-19-survivors-suffer-psychiatric-disorders-italian-study-says-480766/
  • https://www.sciencedirect.com/journal/brain-behavior-and-immunity/special-issue/10T0PLVWMN7
  • https://psychcentral.com/depression/depression
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coronavirus/in-depth/coronavirus-long-term-effects/art-20490351
  • https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/long-term-effects/index.html#:~:text=Health%20conditions&text=Some%20people%2C%20especially%20those%20who,kidney%2C%20skin%2C%20and%20brain.
  • https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0270537

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.