07 September 2022

Dismenore (Nyeri saat Haid): Kenali Jenis, Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya

Ada dismenore primer dan sekunder

Sebagian besar perempuan ketika menstruasi umumnya merasakan nyeri haid atau dismenore.

Rasa nyeri ini sering kali membuat Moms tidak dapat beraktivitas normal.

Biasanya, nyeri haid terjadi pada saat hari pertama menstruasi, kemudian mereda pada hari kedua dan ketiga.

Meskipun mengalami nyeri saat haid adalah sesuatu yang normal, bagi sekitar 10% perempuan rasa sakit yang dialami cukup parah.

"Nyeri haid, normal terjadi pada siklus haid dan semakin mereda dengan bertambahnya usia.

Nyeri haid yang tidak normal apabila sudah berlebihan atau sampai mengganggu aktivitas dalam 3 kali siklus haid," jelas dr. M. Charnaen Ibrahim, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah-Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.

Yuk, Moms ketahui tentang dismenore selengkapnya di bawah ini!

Baca Juga: Viral Beard Papa's Tutup Gerai di Indonesia, Ini Fakta-faktanya!

Jenis Dismenore atau Nyeri Saat Haid

Untuk lebih memahami tentang nyeri saat haid, simak ulasan di bawah ini.

1. Penyebab dan Gejala Dismenore Primer

Dismenore Primer
Foto: Dismenore Primer

Foto Wanita Nyeri Haid (Orami Photo Stock)

Dismenore primer merupakan nyeri saat haid yang bukan diakibatkan kelainan ginekologis. Hal tersebut merupakan proses menstruasi yang normal.

Nyeri haid ini diduga dikarenakan kontraksi rahim dan kurangnya aliran darah ke sejumlah organ tubuh.

Rasa sakit biasanya dimulai ketika menstruasi dimulai (atau sebelum) dan berlanjut selama 1 - 2 hari pertama.

Rasa sakitnya berupa nyeri perut bagian bawah yang dapat menjalar ke punggung atau paha.

Ada kemungkinan pula seseorang mengalami kelelahan, mual, muntah, diare, nyeri pinggang, atau sakit kepala.

Dismenore primer adalah jenis nyeri saat haid yang paling umum, dialami lebih dari 50% perempuan.

Pada sekitar 5 - 15% perempuan mengalami dismenore primer dengan gejala kram cukup parah sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Biasanya dismenore primer dialami oleh remaja dan perempuan di usia 20-an awal.

Saat beranjak dewasa, khususnya setelah kehamilan, rasa nyeri akibat dismenore primer cenderung berkurang.

Baca Juga: Amankah Melakukan Masturbasi saat Haid? Ini Faktanya!

2. Penyebab dan Gejala Dismenore Sekunder

Dismenore Sekunder
Foto: Dismenore Sekunder

Foto Wanita Nyeri Haid (Orami Photo Stock)

Dismenore sekunder adalah nyeri saat haid yang berkaitan dengan kelainan ginekologis.

Health Engine menyebutkan dismenore sekunder biasa terjadi pada perempuan di atas 30 tahun.

Rasa nyerinya bahkan berlangsung 3-4 hari sebelum haid, dan semakin parah saat haid berlangsung.

Beberapa gejala dismenore sekunder lainnya adalah nyeri saat berhubungan seksual, siklus menstruasi tidak teratur, darah yang berlebihan, dan berdarah saat berhubungan seks.

Dismenore sekunder dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi, di antaranya:

  • Adanya fibroid atau tumor jinak yang berkembang atau menempel di dalam dinding rahim
  • Adenomyosis atau jaringan yang melapisi rahim mulai tumbuh di dalam dinding ototnya
  • Endometriosis atau fragmen dari lapisan endometrium yang ditemukan pada organ panggul lainnya
  • Penyakit radang panggul (PID)
  • Kista atau tumor ovarium
  • Penggunaan alat kontrasepsi (IUD)

Sebagian besar gangguan ini dapat diatasi dengan pengobatan, terapi, dan operasi.

Jika Moms mengalami dismenore dengan nyeri saat haid berlebih ada baiknya untuk periksakan ke dokter untuk mengetahui jenis dismenore yang dialami dan penanganan yang tepat ya.

Baca Juga: 9+ Ciri-ciri Menstruasi, Tidak Cuma Jerawatan!

Nyeri Haid Seperti Penyakit Serangan Jantung

nyeri haid
Foto: nyeri haid (Orami Photo Stock)

Foto Wanita Nyeri Haid (Orami Photo Stock)

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh tim dari University College London (UCL), rasa sakit yang terasa saat menstruasi setara dengan serangan jantung atau heart attack.

Profesor John Guillebaurd, salah satu peneliti di sana mengatakan bahwa nyeri menstruasi atau disebut dysmenorrhea dapat menimbulkan rasa sakit yang sama parahnya dengan serangan jantung.

Berdasarkan studi lain oleh America Academy of Family Physicians, sakit perut akibat menstruasi mengganggu aktifvtas 20 persen wanita di seluruh dunia. Mayoritas dirasakan oleh wanita di haid pertama sebelum memasuki usia 11 tahun.

Nyeri menstruasi juga kerap dialami wanita yang mengeluarkan darah haid yang cukup banyak di hari pertama, obesitas, perokok, peminum alkohol, sampai mereka yang belum pernah melakukan hubungan seksual.

Hal tersebut  membuat wanita yang mengalami dismenoria tidak dapat menggerakan tubuhnya secara keseluruhan bahkan berteriak.

Jika melebihi batas, rasa nyeri yang dihasilkan menstruasi seperti serangan jantung.

Baca Juga: Obat Radang Usus, dari yang Alami Hingga yang Tersedia di Apotek

Faktor Risiko Dismenore

Faktor Risiko Dismenore
Foto: Faktor Risiko Dismenore

Foto Wanita Nyeri Haid (Orami Photo Stock)

Setiap wanita memiliki risiko mengalami nyeri haid. Namun, dilansir dari Hopkins Medicine, berikut beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan seorang wanita mengalami dismenore, yaitu:

  • Wanita yang merokok.
  • Wanita yang minum alkohol selama menstruasi (alkohol cenderung memperpanjang nyeri menstruasi).
  • Wanita yang kelebihan berat badan.
  • Mengalami menstruasi sebelum usia 11 tahun.
  • Belum pernah hamil sebelumnya.

Baca Juga: Darah Menstruasi Menggumpal, Apakah Berbahaya?

Diagnosis Nyeri Haid Normal atau Abnormal

Diagnosis Nyeri Haid Normal atau Abnormal
Foto: Diagnosis Nyeri Haid Normal atau Abnormal

Foto Wanita Nyeri Haid (Orami Photo Stock)

Jika Moms mengalami kram atau nyeri menstruasi yang parah dan tidak biasa, seperti rasa nyeri yang berlangsung lebih dari dua atau tiga hari, segera lakukan pemeriksaan.

Dilansir dari Cleveland Clinic, baik dismenore primer dan sekunder dapat diobati, sehingga sangat penting bila mengalami kondisi tersebut segera lakukan pemeriksaan.

Saat pemeriksaan terkait nyeri haid, biasanya pasien akan diminta untuk menjelaskan gejala-gejala yang dialami dan siklus menstruasi.

Dokter juga biasanya akan melakukan pemeriksaan pada panggul. Selama pemeriksaan ini, dokter akan memasukkan spekulum (alat yang digunakan untuk melihat ke dalam vagina).

Dokter ahli akan memeriksa area vagina, leher rahim dan rahim pasien.

Pada beberapa kasus, dokter mungkin akan mengambil sampel kecil cairan vagina untuk dilakukan pengujian.

Jika dokter yang menangani menyatakan pasien mengalami dismenore sekunder, maka akan dilakukan tes tambahan lainnya, seperti USG atau laparoskopi.

Jika tes tersebut menunjukkan masalah medis, selanjutnya dokter akan mendiskusikan perawatan yang tepat untuk dilakukan kepada pasien.

Bila Moms mengalami gejala di bawah ini, segera lakukan pemeriksaan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

  • Demam
  • Muntah
  • Diare
  • Pusing dan pingsan
  • Ruam yang terlihat seperti terbakar sinar matahari

Ini adalah gejala sindrom syok toksik (kondisi langka keracunan darah), penyakit yang mengancam jiwa pengidapnya.

Baca Juga: Bolehkah Minum Soda saat Haid?

Cara Mengatasi Dismenore

Menurut dr. Ibrahim, nyeri haid dapat mempengaruhi kesuburan, apalagi apabila penyebabnya adalah endometriosis, adenomiosis, atau mioma uteri. Oleh karena itu jika merasakannya harus segera diatasi.

"Mengonsumsi obat anti nyeri seperti ibuprofen, cox 2 inhibitor, dengan relaksasi bisa membantu mengatasi nyeri saat haid," tutur dr. Ibrahim.

Yuk, cari tahu apa saja cara mengatasinya.

1. Mengompres Hangat

kompres
Foto: kompres (everydayhealth.com)

Foto Kompres Perut (Orami Photo Stock)

Menempatkan botol air panas atau lap kain hangat di perut dapat mengendurkan otot dan meredakan nyeri saat haid.

Panas membantu otot rahim dan sekitarnya untuk rileks, yang dapat meredakan kram dan ketidaknyamanan.

Moms juga dapat meletakkannya di punggung bawah untuk menghilangkan sakit punggung.

Pilihan lainnya adalah berendam dalam air hangat, yang dapat membantu mengendurkan otot-otot di perut, punggung, dan kaki.

Baca Juga: Menstruasi Moms Tidak Normal? Kenali dan Pahami Dampaknya untuk Kesehatan

2. Olahraga Ringan

Meskipun olahraga mungkin menjadi hal terakhir yang disukai banyak wanita saat mengalami kram, olahraga dapat meredakan nyeri saat haid

Olahraga berat mungkin tidak bermanfaat jika seseorang kesakitan, tetapi peregangan ringan, berjalan-jalan, atau yoga dapat membantu.

Olahraga juga melepaskan endorfin, yang merupakan pereda nyeri alami.

3. Akupunktur

akupuntur
Foto: akupuntur

Foto Akupuntur (Orami Photo Stock)

Penelitian telah menunjukkan bahwa akupunktur dapat meredakan nyeri saat haid.

Perawatan ini dapat mengurangi peradangan, selain melepaskan endorfin dan membantu tubuh merasa rileks.

Seseorang lebih mungkin mendapat manfaat dari kursus akupunktur yang berkelanjutan daripada satu sesi.

4. Melakukan Pijat

Memijat perut sendiri juga dapat mengendurkan otot panggul dan meredakan nyeri saat haid. Coba pijat punggung bagian bawah.

Moms dapat dengan lembut mengoleskan minyak pijat, losion tubuh, atau minyak kelapa ke kulit yang terasa nyeri.

Baca Juga: Ketahui Manfaat Pijatan untuk Ringankan Neuropati

5. Mengoleskan Aromaterapi

lilin aromaterapi
Foto: lilin aromaterapi (Orami Photo Stock)

Foto Lilin Aromaterapi (Orami Photo Stock)

Sebuah penelitian Evidence-based Complementary and Alternative Medicine, menunjukkan bahwa aromaterapi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nyeri dan perdarahan saat menstruasi.

Penggunaan aromaterapi tidak menimbulkan efek samping, sehingga dapat dianggap sebagai pengobatan yang aman dan efektif untuk mengatasi dismenore primer.

Beberapa contoh aromaterapi yang bisa digunakan, seperti aroma lavender, kayu manis, cengkeh, mawar, dan minyak almond.

6. Minum Teh Herbal

Teh herbal bersifat hangat dan menenangkan, dan dalam beberapa kasus, herbal itu sendiri juga dapat bermanfaat.

Beberapa produsen memasarkan teh khusus, seperti teh kamomil, dandelion, raspberry merah, dan adas, untuk meredakan nyeri saat menstruasi.

Itu dia Moms beberapa cara yang dapat digunakan untuk meredakan nyeri saat haid. Moms juga bisa mencegahnya sebelum hal ini terjadi.

"Cara mencegah nyeri saat haid adalah mencari tahu penyebab nyeri dan setelah itu terapi sesuai penyebab yang telah diketahui dari diagnosis dokter," ujar dr. Ibrahim.

7. Mengonsumsi Jahe

manfaat minum jahe
Foto: manfaat minum jahe

Foto Minum Jahe (Orami Photo Stock)

Jahe seringkali dikonsumsi dalam makanan atau minuman yang memberi rasa hangat pada tubuh.

Rempah yang memiliki aroma harum yang khas ini ternyata juga ampuh dalam hal lainnya.

Pada sebuah penelitian tahun 2016 yang diterbitkan di Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, dijelaskan bahwa mengonsumsi jahe secara langsung dapat lebih efektif meringankan nyeri haid dibandingkan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID).

8. Cara Lain Mengatasi Dismenore

Dilansir dari Better Health Channel, berikut beberapa cara lain mengatasi dismenore primer:

  • Mengonsumsi obat pereda nyeri, seperti parasetamol.
  • Mengonsumsi obat menghambat prostaglandin (penyebab uterus berkontraksi), seperti ibuprofen dan obat antiinflamasi lainnya.
  • Beristirahat dalam satu atau dua hari pertama menstruasi.
  • Hindari makanan dan minuman yang mengandung kafein.
  • Hindari merokok dan minum alkohol.
  • Rutin minum air putih.
  • Kurangi stress.

Baca Juga: Benarkah Ada Makanan Penyebab Bintitan? Cari Tahu Penjelasannya di Sini, Moms!

Itulah penjelasan tentang jenis dismenore, faktor risiko, diagnosis, serta cara mengatasinya.

Bila Moms mengalami gejala nyeri haid yang seringkali mengganggu kehidupan sehari-hari, segera lakukan pemeriksaan ke dokter ya, Moms!

  • https://www.msdmanuals.com/professional/gynecology-and-obstetrics/menstrual-abnormalities/dysmenorrhea
  • https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/menstruation-pain-dysmenorrhoea
  • https://healthengine.com.au/info/dysmenorrhoea-period-pain-menstrual-cramps
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3638625/
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4148-dysmenorrhea
  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/dysmenorrhea
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27274753/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.