Kesehatan

26 Agustus 2021

Cari Tahu Soal Hipertrofi Konka: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan

Apa saja penyebabnya?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

Hipertrofi konka adalah membesarnya kelenjar limfa hidung yang seharusnya berperan dalam melawan infeksi hingga menangkap partikel asing.

Konka adalah lekukan tulang yang terdapat pada bagian dalam hidung. Konka ini dilapisi oleh membran yang disebut dengan mukosa.

Fungsi dari konka adalah untuk membantu menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk melalui rongga hidung.

Selain itu konka juga membantu memperangkat kuman maupun polutan, memproduksi lendir yang membantu kerja bulu-bulu hidung untuk membersihkan rongga hidung, membantu meresonansikan suara sehingga memengaruhi suara yang dihasilkan, dan masih banyak lagi.

Fungsi mukosa dalam konka hidung adalah untuk mengatur suhu dan kelembapan udara yang masuk saat sedang bernapas.

Lalu, seberapa sering kondisi hipertrofi konka dapat menyerang? Berikut ini penjelasannya, lengkap dengan tanda gejalanya.

Baca Juga: Ternyata Ini Penyebab dan Gejala Sinusitis, Penyakit yang diderita Vanessa Angel

Apa Penyebab Hipertensi Konka?

Hipertensi Konka.jpeg

Foto: freepik.com

Hipertrofi konka adalah gangguan pada hidung yang cukup umum terjadi. Diperkirakan sebanyak 25% orang mengalami gejala hidung tersumbat dan 42% di antaranya mengalami kondisi ini.

Kondisi ini diakibatkan karena terhambatnya aliran udara melalui hidung.

Rongga hidung manusia biasanya memiliki 3 konka pada setiap sisi hidung, yaitu konka superior, konka tengah, dan konka inferior.

Sebanyak 50% udara yang masuk ke hidung akan melewati konka tengah dan inferior.

Jika konka tengah dan inferior mengalami pembesaran atau pembengkakan, hal ini dapat menyebabkan terhambatnya aliran udara. Akibatnya, gejala-gejala seperti kesulitan bernapas, infeksi, serta mimisan bisa terjadi.

Melansir Human Osteology Journal, hipertrofi konka juga dapat terjadi akibat beberapa kondisi, diantaranya:

  • riwayat alergi pada saluran napas dengan kekerapan yang tinggi, dengan gejala berupa sering bersin-bersin, hidung berair, dan tersumbat saat terkena alergen (seperti udara dingin, debu, asap rokok, serbuk sari bunga, dsb)
  • riwayat infeksi saluran napas atas yang berulang
  • hormonal (misalnya saat hamil)
  • penggunaan obat-obatan jangka panjang (misalnya penggunaan obat spray untuk hidung untuk mengurangi hidung tersumbat)

Baca Juga: Hati-hati, Flu Bisa Menyebabkan Skizofrenia Pada Janin!

Gejala hipertrofi konka

hipertrofi konka

Foto: Orami Photo Stock

Gejala utama ketika seseorang mengalami hipertrofi konka adalah kesulitan bernapas lewat hidung.

Selain itu, ada pula gejala lain yang muncul dilansir melalui Very Well Health, seperti:

  • Gangguan fungsi menghirup
  • Bernapas dengan mulut terutama saat terlelap
  • Mulut terasa kering ketika bangun tidur
  • Ada tekanan di dahi
  • Nyeri wajah ringan
  • Hidung tersumbat tak kunjung sembuh
  • Hidung berair
  • Tidur mendengkur

Sekilas, gejala hipertrofi konka mirip seperti demam atau gejala flu yang tidak kunjung mereda.

Selain itu, kondisi ini juga kerap dikaitkan dengan deviasi septum nasal. Ini terjadi ketika tulang rawan pembatas lubang hidung kanan dan kiri tidak lurus.

Akibatnya, napas menjadi terganggu. Bahkan jika kondisinya parah, akan menimbulkan sensasi seolah tidak bisa bernapas.

Mengingat kedua kondisi ini memiliki gejala serupa, dokter akan melakukan CT scan untuk mengidentifikasi hipertrofi konka atau deviasi septum. Tidak menutup kemungkinan, seseorang mengalami keduanya di saat bersamaan.

Baca Juga: Jangan Bingung, Ini 3 Cara Mudah Mengeluarkan Lendir Saat Bayi Batuk Pilek

Pengobatan Hipertrofi Konka

hipertrofi konka

Foto: Orami Photo Stock

Pengobatan pada pasien hipertrofi konka dapat dilakukan dengan dua cara, pengobatan medikamentosa atau tindakan operatif.

Medikamentosa dilakukan untuk mengatasi faktor etiologi dan sumbatan hidung dengan cara memperkecil ukuran konka dengan pemberian dekongestan topikal. Terapi medikamentosa bisa melibatkan pemberian antihistamin, dekongestan, kortikostreoid, sel mast stabilizer, dan imunoterapi.

Pada kasus hipertrofi konka kronik di mana jaringan ikat telah terbentuk akibat dari inflamasi kronik yang tidak lagi merespons dengan medikamentosa setelah dua bulan pengobatan, maka prosedur operatif bisa dilakukan. Tindakan operatif bisa dilakukan dengan reduksi konka menggunakan teknologi radiofrekuensi,

Sementara untuk obat, jenis yang bisa dikonsumsi adalah:

  • Obat antihistamine (cetirizine atau loratadine)
  • Obat dekongestan oral (pseudoephedrine atau phenylephrine)
  • Obat semprot hidung namun tidak disarankan terlalu sering karena bisa menyebabkan perdarahan dan kondisinya tidak efektif

Baca Juga: Mengenal Infeksi Sinus dari Jenis, Gejala hingga Pengobatan

Di sisi lain, apabila gejala tidak juga mereda setelah perawatan konservatif, dokter mungkin menyarankan operasi untuk memperkecil ukuran konka. Ada 3 prosedur operasi yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Reseksi tulang konka

Prosedur operasi dengan menghilangkan sebagian tulang konka sehingga napas ke arah hidung menjadi lebih lega.

2. Turbinektomi parsial

Prosedur mengangkat jaringan lunak konka, disebut juga dengan partial inferiro turbinectomy

3. Diatermi submukosa

Prosedur menggunakan jarum khusus (diatermi) yang menggunakan energi panas dengan tujuan mengecilkan jaringan lunak di dalam konka.

Sebelum menentukan prosedur mana yang dilakukan, dokter akan membuat rekomendasi berdasarkan seberapa parah gejala yang muncul.

Operasi semacam ini cukup rumit karena dokter tidak boleh menghilangkan konka sepenuhnya mengingat fungsinya yang cukup penting.

Apabila dokter menghilangkan seluruhnya, justru akan muncul gejala seperti hidung kering sekaligus berair secara permanen. Istilah medis untuk kondisi ini adalah empty nose syndrome.

Baca Juga: Selain Influenza, Ada Juga 4 Jenis Flu yang Berbahaya dan Wajib Diketahui

Cara Mencegah Hipertrofi Konka

Salah satu cara yang bisa Moms lakukan untuk mencegah dan mengurangi gejala hipertrofi konka adalah dengan menghindari paparan alergen atau pemicu alergi.

Berikut adalah beberapa tips yang bisa Moms lakukan untuk mencegah hipertrofi konka:

  • Bersihkan rumah dari debu dan bulu binatang, terutama pada karpet, bantal, serta sofa
  • Hindari asap rokok, terutama di dalam ruangan
  • Bersihkan rumah dari lumut dengan alat khusus, terutama di kamar mandi dan dapur

Konsultasikanlah kepada dokter jika memiliki permasalahan kesehatan yang mengganggu sistem pernapasan atau muncul rasa tidak nyaman pada area dalam hidung.

Baca Juga: Mengenal Rhinitis Alergi, Peradangan di Rongga Hidung Akibat Alergi

Demikian Moms informasi seputar hipertrofi konka. Semoga bermanfaat, ya!

  • https://www.teomandal.com/en/concha-hypertrophy-nose-growth
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK546636/
  • https://www.sciencedirect.com/topics/veterinary-science-and-veterinary-medicine/inferior-nasal-concha
  • https://teachmeanatomy.info/head/organs/the-nose/nasal-cavity/
  • https://www.verywellhealth.com/inferior-nasal-concha-4685274
  • https://www.anatomystandard.com/Cranium/Viscerocranium/Concha.html
  • https://medicover.hu/en/surgeries-inpatient-care/otolaryngologic-surgery/nasal-concha-reduction-surgery/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait