16 Desember 2022

Kencing Berbusa: Penyebab, Diagnosis, dan Langkah Mengatasinya

Atasi dengan langkah dan perawatan yang tepat
Kencing Berbusa: Penyebab, Diagnosis, dan Langkah Mengatasinya

Foto: Orami Photo Stock

Ketika mengalami kencing berbusa, ini bisa jadi karena kandung kemih penuh. Hal tersebut membuat urine keluar dengan cepat dan deras dari pada biasanya.

Dilansir dari Healthline, urin yang sehat biasanya memiliki kriteria berwarna kucing pucat hingga gelap.

Warna urine sendiri dipengaruhi oleh makanan dan minuman, atau obat-obatan yang dikonsumsi.

Berbeda lagi dengan kencing berbusa. Selain aliran yang cepat dan deras, kondisi ini juga bisa dipicu oleh gangguan kesehatan.

Yuk, simak lebih jauh mengenai penyebab, diagnosa, dan langkah mengatasinya di bawah ini!

Baca Juga: Mengenal Hematuria, Kencing Berdarah yang Harus Diwaspadai

Penyebab dan Faktor Risikonya

Tes Urine
Foto: Tes Urine (Istockphoto.com)

Dilansir dari Northwestern Medicine, kencing berbusa merupakan tanda adanya protein dalam urine dalam kadar yang tidak normal.

Hal tersebut dikarenakan ginjal gagal menyimpan protein di dalam tubuh dan justru masuk ke dalam urine.

Kondisi tersebut bisa dipicu oleh sejumlah gangguan kesehatan yang berdampak langsung pada ginjal, seperti diabetes atau lupus.

Selain itu, kencing berbusa juga bisa menjadi gejala gangguan medis yang memengaruhi sistem kerja organ tubuh lainnya.

Selain adanya protein dalam urine, diabetes, dan lupus, berikut ini sejumlah faktor risiko kencing berbusa:

  • Riwayat penyakit ginjal
  • Tekanan darah tinggi
  • Konsumsi obat tekanan darah tinggi atau masalah prostat
  • Konsumsi obat penenang
  • Mengalami kerusakan saraf akibat cedera tulang belakang
  • Pernah menjalani operasi pada prostat atau uretra

Karena penyebab dan faktor pemicunya beragam, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebab yang mendasari.

Baca Juga: Mengenal Kateter Urine: Tipe, Proses Pemasangan hingga Harga

Langkah Mendiagnosa Kencing Berbusa

Wanita Menahan Buang Air Kecil
Foto: Wanita Menahan Buang Air Kecil (Freepik.com/jcomp)

Kencing berbusa tidak melulu menjadi pertanda penyakit berbahaya. Kondisi ini umum terjadi, dan akan menghilang dengan sendirinya.

Dilansir dari Clinical Journal Of The American Society Of Nephrology, kencing berbusa disebabkan oleh senyawa organik yang disebut surfaktan.

Untuk mengetahui bahaya atau tidaknya, dokter akan menguji sampel urine dengan dipstick guna mengetahui tingginya kadar protein.

Jika urine memiliki kadar protein tinggi, dokter mungkin ingin memastikan dengan melakukan tes urine dalam waktu 24 jam setelahnya.

Tes ini mengharuskan seseorang untuk menahan buang air kecil agar urine yang dihasilkan sepanjang hari terkumpul.

Tes urine lebih lanjut dapat membandingkan jumlah albumin dengan jumlah kreatinin, yang merupakan produk limbah lain dari tubuh.

Jika rasio albumin terhadap kreatinin seseorang lebih tinggi dari rata-rata, mereka kemungkinan menderita penyakit ginjal.

Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat merekomendasikan USG ginjal untuk mengevaluasi struktur dan kesehatan organ ginjal secara menyeluruh.

Baca Juga: Ada Gula dalam Urine, Ini 4 Penyebab Glikosuria dan Cara Mengatasinya

Bagaimana Langkah Mengatasinya?

Proses Pemasangan Kateter Urin
Foto: Proses Pemasangan Kateter Urin (pennmedicine.org)

Pilihan pengobatan untuk urine berbusa tergantung pada penyebab yang mendasarinya.

Segera periksakan diri ke dokter jika kencing berbusa dibarengi dengan sejumlah gejala ini:

  • Rasa lelah berlebihan
  • Mual dan muntah-muntah
  • Penurunan nafsu makan
  • Mengalami gangguan tidur
  • Urine berwarna gelap
  • Pembengkakan pada tangan, kaki, wajah, dan perut
  • Tidak mengeluarkan cairan saat orgasme
  • Gangguan kesuburan pada pria

Langkah penanganan dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasari.

Jika diabetes adalah penyebabnya, dokter akan meresepkan obat oral atau suntikan insulin untuk mengurangi kadar gula darah dalam tubuh.

Penderita juga perlu memeriksa kadar gula darah secara teratur untuk memastikan kadarnya normal dan dapat diterima oleh tubuh.

Jika penyebabnya adalah sakit ginjal, dokter akan menyarankan perubahan pola hidup untuk menunjang pengobatan, seperti:

  • Konsumsi makanan rendah sodium.
  • Mengontrol kadar tekanan darah tinggi.
  • Mengontrol kadar gula darah dalam tubuh.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Berhenti merokok sekarang juga.

Pada penderita sakit ginjal parah yang membutuhkan dialisis, penderita harus melakukannya secara rutin untuk membersihkan darah dari limbah berlebih.

Jika terjadi hanya sesekali saja, kencing berbusa bukanlah kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus.

Namun jika terus berlanjut, bisa jadi itu pertanda Moms tengah mengalami kerusakan ginjal.

Biasanya gejala ini muncul terlambat pada penderita penyakit ginjal, sehingga pengobatan harus segera dilakukan.

Jika terjadi pada pria, kencing berbusa bisa menjadi tanda ejakulasi retrograde atau efek dari obat yang dikonsumsi.

Ejakulasi retrograde menyebabkan sperma masuk ke dalam kandung kemih saat pria mengalami ejakulasi.

Hal tersebut membuat pria hanya sedikit mengeluarkan sperma saat ejakulasi. Sedangkan sperma yang menuju kandung kemih akan bercampur.

Nah, hal tersebut yang membuat kencing menjadi keruh dan berbusa.

Meski demikian, sebagian besar kasus kencing berbusa tidak berbahaya. Dalam intensitas ringan Moms bisa atasi dengan lebih banyak minum air.

Jika urine terus berbusa dalam jangka waktu yang lama disertai dengan sejumlah gejala yang disebutkan, segera cari bantuan medis terdekat, ya!

  • https://www.healthline.com/health/foamy-urine
  • https://www.nm.org/healthbeat/healthy-tips/foamy-urine-whats-normal-whats-not
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/322171#treatment
  • https://cjasn.asnjournals.org/content/14/11/1664

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.