Scroll untuk melanjutkan membaca

PARENTING
10 November 2022

Kilas Balik Perjuangan Pangeran Diponegoro, Pahlawan di Tanah Jawa

Dikenal juga sebagai perang di tanah Jawa
Kilas Balik Perjuangan Pangeran Diponegoro, Pahlawan di Tanah Jawa

Sudahkah Moms mengenal sosok Pangeran Diponegoro?

Menyambut Hari Pahlawan, penting untuk mengenal sosok pahlawan Tanah Air yang satu ini.

Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pahlawan yang melawan penjajah di Tanah Jawa.

Perjuangannya dalam mengusir penjajah tidak bisa dipandang sebelah mata, lho, Moms.

Yuk, kenalkan sejarah Pangeran Diponegoro kepada Si Kecil lewat ulasan lengkap berikut ini!

Baca Juga: 10+ Nama Pahlawan Nasional dan Kisah Perjuangannya yang Bisa Moms Kenalkan pada Si Kecil

Siapa Pangeran Diponegoro?

Pangeran Diponegoro

Foto: Pangeran Diponegoro (Militer.id)

Pangeran Diponegoro adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III dan memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo.

Melansir Kemdikbud RI, Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta pada 11 November 1785.

Raden Mas Ontowiryo dipanggil dengan sebutan Diponegoro karena perjuangannya dalam memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa.

Beliau memimpin perang Jawa yang berlangsung dari tahun 1825-1830 atau sekitar 5 tahun perjuangan.

Perang yang terjadi di Tanah Jawa itu menjadi salah satu peristiwa besar yang pernah dialami Belanda selama menjajah Indonesia.

Perang Jawa juga merupakan bagian dari perubahan besar di dunia, tepatnya pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.

Diketahui, Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan demi para petani di Tegalrejo agar bisa membeli senjata dan makanan.

Amarahnya memuncak setelah Patih Danureja atas perintah Belanda memasang tonggak untuk membuat rel kereta api di atas makam leluhurnya.

Baca Juga: 10+ Rekomendasi Film Tentang Kemerdekaan Indonesia yang Wajib Ditonton!

Fakta-Fakta Menarik Perang Diponegoro

Sejarah Pahlawan Dipenogoro

Foto: Sejarah Pahlawan Dipenogoro (Jatim.nu.or.id)

Masa perlawanan saat itu menjadi salah satu peristiwa merosotnya tatanan Jawa di dalam keraton.

Perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro terhadap pemerintah Belanda dinilai pantas mendapatkan apresiasi yang tinggi.

Berikut beberapa fakta menarik dan penyebab terjadinya perang Diponegoro dalam melawan kolonial Belanda:

1. Berawal dari Campur Tangan Belanda

Penyebab perang Diponegoro adalah karena campur tangan dari pihak kolonial dalam urusan kerajaan.

Pangeran Diponegoro merasa tidak setuju atas keterlibatan yang cukup besar dari pihak Belanda.

Perlawanan tersebut mendapat dukungan dari rakyat.

Di kala itu, Pangeran Diponegoro diberikan kepercayaan lantaran memiliki pengaruh yang cukup besar.

Tak hanya itu, 1821 juga menjadi tahun kelam para petani lokal. Hal ini akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh warga Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman.

2. Perebutan Hak Sewa Tanah

Van der Capellen mengeluarkan dekrit pada tanggal 6 Mei 1823 sebagai bagian dari perang Diponegoro.

Ia menyatakan bahwa semua tanah yang disewa orang Eropa dan Tionghoa wajib dikembalikan kepada pemiliknya per 31 Januari 1824.

Namun, pemilik lahan diwajibkan memberikan kompensasi kepada penyewa lahan asal Eropa.

Karenanya, Pangeran Diponegoro membuat keputusan untuk melakukan perlawanan dengan membatalkan pajak Puwasa.

Tak lain, tujuannya agar para petani di Tegalrejo dapat membeli senjata dan makanan.

Baca Juga: 14 Sosok Pahlawan Nasional Wanita Indonesia dari Seluruh Penjuru Nusantara, Harus Tahu, Nih Moms!

3. Perjalanan Pangeran Lolos dari Kolonial

Profil Pangeran Diponegoro

Foto: Profil Pangeran Diponegoro (Readoasis.com)

Berlanjut hingga adanya perencanaan penculikan terhadap Pangeran Diponegoro kala itu.

Pada 20 Juli 1825, bupati keraton senior yang memimpin pasukan Jawa-Belanda berencana menangkap Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi.

Meski tempat kediamannya hampir lenyap, beliau berhasil lolos karena lebih mengenal medan perlawanannya.

Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pasukannya bergerak ke barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo.

Beliau kemudian pindah ke Selarong, sebuah daerah berbukit-bukit yang dijadikan markas besarnya.

4. Menetap di Goa Persembunyian

Perjuangan Pangeran Diponegoro berlanjut sampai ia menjadikan goa sebagai tempat persembunyiannya.

Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai markasnya.

Pangeran menempati goa sebelah barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaannya.

Sementara itu, Raden Ayu Retnaningsih atau selirnya, menempati Goa Putri di sebelah Timur.

Istrinya telah wafat terlebih dahulu sebelum perang terjadi, dan Raden Ayu Retnaningsih adalah yang menemani hidupnya.

Baca Juga: Indahnya Wisata Goa Garunggang, Eksotis Mirip Green Canyon!

5. Perang Diponegoro Menelan Banyak Korban

Penyerangan di Tegalrejo merupakan cikal bakal perang Diponegoro yang berlangsung selama 5 tahun.

Perang Diponegoro telah menelan korban sebanyak 200.000 jiwa penduduk Jawa.

Sementara itu, korban tewas di pihak lawan berjumlah 8.000 tentara Belanda dan 7000 prajurit pribumi.

Selain melawan kolonial, perang Diponegoro juga memicu perang antar saudara yang berpihak pada antek-antek Belanda.

Akhir dari perang ini menegaskan penguasaan Belanda atas Pulau Jawa.

6. Perubahan Keresidenan Pulau Jawa

Sejarah Perang Dipenogoro

Foto: Sejarah Perang Dipenogoro (Wikiwand.com)

Setelah perang Diponegoro usai, seluruh raja dan bupati di Jawa tunduk kepada Belanda, kecuali bupati Ponorogo Warok Brotodiningrat III.

Mengulik sejarah, beliau justru ingin menyerang seluruh kantor belanda yang berada di kota-kota keresidenan Madiun.

Termasuk perkantoran kolonial di Jawa Tengah, seperti Wonogiri dan Karanganyar yang banyak dihuni oleh Warok.

Terlepas dari itu, perang ini akhirnya mengubah wajah Jawa secara keseluruhan dari berbagi aspek.

Perubahan-perubahan tersebut, termasuk sistem pemerintahan, kependudukan, hingga penguasaan.

7. Peristiwa yang Menumbuhkan Nasionalisme dan Persatuan

Diponegoro sebagai sosok yang memimpin masyarakat Jawa menjadi salah satu perhatian khusus para petani hingga bangsawan.

Adanya slogan semangat perjuangan yang berbunyi “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati”; “Sejari kepala, sejengkal tanah dibela sampai mati”.

Baca Juga: Bayi Makan Bubur Instan Setiap Hari, Amankah?

Perjuangan dalam perang Diponegoro berhasil menumbuhkan semangat persatuan dan nasionalisme dalam diri masyarakat Jawa.

Tak heran jika sosok Pangeran Diponegoro berhasil membuat para penduduk Indonesia menghargai pengorbanan yang dilakukannya hingga saat ini.

Jangan lupa ajarkan nilai-nilai positif yang 'diwariskan' oleh Pangeran Diponegoro kepada Si Kecil juga, ya, Moms!

  • https://ditsmp.kemdikbud.go.id/pangeran-diponegoro-dalam-melawan-penjajahan-di-tanah-jawa/
  • https://www.gramedia.com/literasi/biografi-pangeran-diponegoro/