17 Januari 2018

Penyebab Bayi Alergi ASI dan Gejala yang Bisa Dikenali

Makanan Moms juga berpengaruh, lo!

Memberi ASI ekslusif dalam 2 tahun pertama kehidupan Si Kecil tentu menjadi dambaan setiap ibu. Namun, apakah Moms pernah berpikir bahwa ASI bisa menyebabkan alergi pada bayi? Atau mungkin Moms pernah khawatir makanan yang Moms konsumsi bisa memicu alergi pada bayi saat ia menyusui?

Mengutip American Academy of Pediatrics, sebenarnya hanya 2-3% bayi yang menunjukkan reaksi alergi saat menyusui. Umumnya reaksi alergi tersebut muncul akibat protein susu sapi yang dikonsumsi ibunya.

Di dalam kasus semacam ini, bayi bisa menunjukkan gejala seperti kolik parah, sakit perut maupun ruam seperti halnya eksema atau gatal-gatal. Terkadang disertai juga dengan reaksi muntah, diare hebat (dengan tinja berdarah) atau kesulitan bernapas, beberapa saat setelah menyusu.

Baca Juga : Bayi Tidak Mau Minum ASI Langsung? Ini Cara Mengatasi Bingung Puting

Jika Moms melihat gejala-gejala tersebut ditunjukkan tersebut, segera periksakan ke dokter. Meskipun jarang terjadi – khususnya pada bayi ASI – dampak alergi protein susu sapi bisa sangat parah dan fatal.
Meski begitu seiring dengan waktu, bayi akan bisa mengatasi alergi terhadap protein susu sapi, meskipun alergi makanan terhadap zat lain masih dialami.

Baca Juga : 3 Alergi yang Sering Diderita Bayi

Reaksi Akibat Intoleransi Makanan

Kondisi lain yang disalahpahami sebagai gejala bayi alergi ASI yakni intoleransi laktosa. Berbeda dengan alergi protein susu sapi, intoleransi laktosa tidak memicu reaksi perlawanan kekebalan tubuh bayi, terhadap zat terkait.

Hanya saja bayi tidak mampu mencerna laktosa dengan baik karena tidak mampu memproduksi cukup enzim laktase.

Biasanya kondisi ini hanya sementara dan Moms bisa tetap menyusui Si Kecil, meskipun setelah mengkonsumsi susu maupun produk olahannya. Dalam kasus langka, bentuk intoleransi laktosa mungkin membutuhkan penambahan enzim laktase untuk mencerna ASI.

Baca Juga : Waspadai Tanda-tanda Bayi Alergi Susu Formula

Galaktosemia

Galaktosemia sebenarnya bukan merupakan alergi, melainkan kelainan yang menyebabkan bayi sama sekali tidak mentolerir ASI ibunya.

Dalam kasus galaktosemia, organ hati bayi tidak bisa memecah galaktosa (gula susu yang juga merupakan komponen laktosa). Bayi dengan kondisi ini cenderung mengalami muntah, diare dan berat badannya tidak bertambah.

Selain itu, bayi juga mengalami sakit kuning selama beberapa hari setelah lahir. Bayi dengan galaktosemia juga tidak bisa mengkonsumsi susu dalam bentuk apa pun dan memerlukan formula bebas galaktosa untuk bertahan hidup.

Baca juga: Berbahayakah Alergi untuk Tumbuh Kembang Balita?

ASI Eksklusif Membantu Bayi Menurunkan Reaksi Alergi

Namun, di antara beberapa penyebab di atas, kabar baiknya menyusui bayi dengan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya terbukti mampu mengurangi risiko dan tingkat keparahan alergi makanan secara signifikan.

Khususnya pada keluarga dengan riwayat alergi yang kuat.

Sejauh ini, tidak ada bukti yang mendukung bahwa menghindari makanan tertentu saat Moms menyusui akan membantu mencegah reaksi alergi bayi. Kecuali untuk eksim, dimana beberapa penelitian menunjukkan bahwa menghindari makanan tertentu membantu mengurangi risikonya.

Baca Juga : Berapa Takaran Jumlah ASI yang Dibutuhkan oleh Bayi?

Namun, jika keluarga memiliki riwayat alergi makanan tentu Moms perlu mempertimbangkan untuk membatasi asupan susu dan produk berbahan susu, telur, ikan, kacang tanah, dan kacang lainnya selama masa kehamilan dan menyusui.

Jangan lupa untuk selalu memantau kesehatan Si Kecil dengan hati-hati saat mengalami ruam kulit, masalah pernapasan, buang air besar dengan kotoran yang tidak biasa, maupun gejala alergi lainnya. Pastikan segera menghubungi dokter dan memberitahukan mengenai riwayat kesehatan keluarga juga, ya, Moms.

(RGW)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.