18 November 2022

Mengenal Paracentesis, Prosedur untuk Mengeluarkan Kelebihan Cairan di Perut

Biasanya dilakukan pada orang dengan sirosis hati

Pernahkah Moms mendengar istilah paracentesis?

Prosedur dengan nama lain abdominal tap ini biasanya dilakukan untuk mereka dengan penyakit hati.

Yuk, ketahui seluk beluk prosedur paracentesis lewat ulasan di bawah ini, Moms!

Baca Juga: Macam-Macam Cedera Olahraga yang Sering Terjadi, Hati-hati!

Apa Itu Paracentesis?

Ilustrasi Sirosis Hati (Orami Photo Stocks)
Foto: Ilustrasi Sirosis Hati (Orami Photo Stocks)

Melansir dari Stat Pearls, paracentesis adalah prosedur untuk mengeluarkan cairan berlebih dari rongga perut, yaitu area antara dinding perut dan tulang belakang menggunakan jarum tipis.

Cairan yang terkumpul ini nantinya akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis guna menentukan secara pasti penyebab kelebihan cairan.

Kelebihan cairan di perut atau asites adalah kondisi yang tidak seharusnya terjadi.

Pasalnya, cairan di rongga perut ini bisa menyebabkan kembung, nyeri, dan kesulitan bernapas.

Penyebab paling umum dari cairan di rongga perut adalah jaringan parut fibrosis hati, yang disebut sirosis.

Jika diet rendah garam dan pil air tidak cukup untuk mengobati asites, Moms mungkin perlu mengeluarkan cairan dengan prosedur ini untuk meredakan gejala.

Selain sirosis, tumpukan cairan di rongga perut ini juga bisa disebabkan karena berbagai penyakit, yaitu:

Jadi, paracentesis tak hanya dilakukan untuk mengurangi cairan berlebih, tetapi biasanya juga dilakukan untuk:

  • Mendiagnosis infeksi
  • Memeriksa jenis kanker tertentu
  • Meringankan tekanan di perut
  • Meningkatkan fungsi ginjal, usus, atau pernapasan

Baca Juga: Mengenal Kateter Urine: Tipe, Proses Pemasangan hingga Harga

Prosedur Paracentesis

Paracentesis
Foto: Paracentesis (www.myjewishlearning.com)

Tak bisa sembarangan, dokter tentu memiliki prosedur untuk melakukan paracentesis. Apa saja prosedurnya?

1. Sebelum Tindakan

Sebelum menjalani prosedur ini, dokter biasanya akan mengecek riwayat kesehatan secara menyeluruh.

Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik guna mendiagnosis penyakit.

Jika diperlukan, Moms akan menjalani beberapa tes yang hasilnya nanti akan dicek di laboratorium.

Sebelum tindakan paracentesis dimulai, Moms harus berpuasa selama 12 jam. Tak hanya itu, Moms juga diminta untuk mengosongkan kandung kemih.

Dilansir dari Endoscopy Center of Red Bank, prosedur biasanya memakan waktu sekitar 20-30 menit tanpa perlu bius total. Karena, dokter hanya akan memberikan bius lokal.

Tujuannya, untuk mencegah rasa sakit atau tidak nyaman di area tempat jarum tipis dimasukkan.

2. Saat Prosedur

Moms akan ditempatkan di ruangan khusus dan diminta untuk berbaring atau duduk, tergantung pada seberapa banyak cairan yang akan diambil.

Biasanya Moms akan diminta untuk duduk jika cairan hanya sedikit, dan telentang jika agak banyak. Kemudian, berikut langkah prosedurnya:

  1. Area perut di mana jarum akan dimasukkan akan dibersihkan terlebih dahulu.
  2. Dokter akan memberikan anestesi atau bius lokal. Jika cairan yang dibuang cukup banyak, dokter mungkin akan membuat sayatan kecil di kulit untuk memasukkan jarum.
  3. Setelah area tersebut siap, dokter akan memasukkan jarum khusus ke dalam kulit. Jarum ini hanya memiliki kedalaman sekitar 5 cm.
  4. Setelah jarum masuk dengan sempurna, cairan diekstraksi menggunakan jarum suntik.
  5. Kemudian, dokter akan mencabut jarum tersebut jika sudah selesai.

Penggunaan ultrasound terkadang dibutuhkan juga untuk menentukan area yang pas dan melihat apakah cairan sudah sepenuhnya keluar.

Jumlah cairan yang dikeluarkan sangat tergantung pada tujuan awal prosedur. Bisa saja sedikit, bisa juga lebih dari 4 liter untuk mengurangi tekanan dan rasa sakit.

3. Setelah Prosedur

Setelah prosedur, dokter Moms akan membalut luka dan menjahit area tersebut jika diperlukan.

Setelah itu, botol atau tabung berisi cairan akan dibawa ke laboratorium untuk diteliti.

Biasanya dibutuhkan beberapa waktu untuk pulih setelah melakukan prosedur ini. Dokter akan meminta Moms untuk mulai berkegiatan kembali setelah luka sembuh.

Jangan lupa, Moms juga harus menanyakan batasan olahraga dan aktivitas fisik yang boleh dilakukan, terutama jika Moms memiliki jahitan setelah prosedur.

Baca Juga: Mengenal Ring Jantung, Mulai dari Prosedur, Manfaat, Risiko, Hingga Perawatan Lanjutan

Risiko Paracentesis

Kesulitan Bernapas (Orami Photo Stocks)
Foto: Kesulitan Bernapas (Orami Photo Stocks)

Meski prosedur ini sangat aman, terlebih jika dilakukan oleh ahlinya, namun semua prosedur medis tetap saja punya efek samping atau risiko.

Umumnya, paracentesis bisa memicu beberapa masalah, seperti:

  • Sulit bernapas
  • Kebocoran cairan setelah prosedur
  • Tekanan darah menurun jika cairan yang dikeluarkan dalam jumlah banyak
  • Adanya tusukan pada pembuluh darah, usus, atau kandung kemih tanpa disengaja
  • Cedera ginjal akut
  • Infeksi

Jika Moms menderita sirosis, risiko-risiko di atas juga akan lebih tinggi kemungkinannya.

Termasuk jika Moms seorang perokok atau punya kebiasaan minum alkohol.

Setelah Moms berada di rumah, segera hubungi dokter jika mengalami salah satu dari gejala berikut:

  • Demam
  • Panas dingin
  • Kemerahan dan pembengkakan di sekitar lokasi tusukan jarum
  • Rasa sakit yang justru meningkat dari sebelumnya
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Sakit dada
  • Mengalami perdarahan
  • Kebocoran cairan di area paracentesis
  • Pingsan
  • Perut semakin membengkak

Baca Juga: 6 Makanan Penyebab Liver yang Wajib Dibatasi Konsumsinya

Berbagai Kemungkinan Hasil Paracentesis

Sakit pada Liver (Orami Photo Stocks)
Foto: Sakit pada Liver (Orami Photo Stocks)

Sirosis adalah penyebab paling umum adanya tumpukan cairan di perut hingga membuat Moms perlu melakukan parasentesis.

Jika Moms sudah mengalami sirosis, pengobatan akan terfokus untuk mencegah kerusakan hati yang lebih parah.

Asites ini sering kali jadi tanda bahwa Moms sudah atau mendekati kondisi gagal hati.

Namun selain sirosis, hasil atau penyebab lain dari paracentesis, yaitu:

  • Cedera perut
  • Penyakit hati
  • Infeksi
  • Kerusakan usus
  • Kebocoran cairan limfatik
  • Penyakit jantung
  • Penyakit ginjal
  • Penyakit pankreas
  • Tumor
  • Rendahnya kadar protein dalam darah
  • Perdarahan di dalam organ

Berdasarkan hasil paracentesis, perawatan yang dilakukan akan disesuaikan.

Dokter biasanya akan menyarankan untuk menjaga berat tetap ideal supaya pemantauan tumpukan cairan lebih mudah dilakukan.

Pemeriksaan lanjutan seperti USG, CT scan, dan tes darah kemungkinan akan dilakukan untuk memastikan penyebabnya.

Baca Juga: Dads Ingin Transplantasi Rambut? Perhatikan Dahulu Hal-Hal Berikut Ini

Itulah beragam informasi yang perlu Moms ketahui mengenai prosedur paracentesis. Semoga membantu, ya, Moms!

  • https://www.healthline.com/health/abdominal-tap#risks
  • https://endoscopycenterofredbank.com/procedure/paracentesis-for-ascites
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK435998/
  • https://emedicine.medscape.com/article/80944-overview
  • https://www.msdmanuals.com/professional/gastrointestinal-disorders/how-to-do-gastrointestinal-procedures/how-to-do-paracentesis

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.