22 Juni 2022

Rhabdomyolysis, Sindrom Langka Akibat Pemecahan Jaringan Otot Tubuh

Rhabdomyolysis paling sering sering terjadi akibat kecelakaan atau cedera fisik

Rhabdomyolysis adalah sindrom langka yang terjadi akibat cedera pada otot, baik secara langsung maupun tak langsung.

Apabila tidak mendapatkan perawatan, kondisi tersebut bisa menyebabkan komplikasi berupa gagal ginjal serius.

Artinya, ginjal tidak dapat berfungsi dengan normal untuk membuang limbah dari tubuh melalui urine.

Kenali gejala sampai pengobatan rhabdomyolysis yang bisa dialami orang dewasa dan anak-anak.

Baca Juga: 3 Tanda Ginjal Sehat dan Cara Menjaganya, Wajib Tahu!

Gejala Rhabdomyolysis

rhabdomyolysis gejala.jpg
Foto: rhabdomyolysis gejala.jpg (Orami Photo Stock)

Foto: Nyeri Tumit (Orami Photo Stocks)

Rhabdomyolysis adalah pemecahan jaringan otot yang mengarah pada pelepasan isi serat otot ke dalam darah.

Zat-zat tersebut berbahaya bagi ginjal dan sering kali menyebabkan kerusakan ginjal yang cukup fatal.

Mengutip data Medlineplus , rhabdomyolysis atau rhabdo cukup jarang terjadi. Meski begitu, kondisi ini tetap harus Moms waspadai.

Berikut ini gejala rhabdomyolysis, dapat berkisar dari ringan hingga berat:

  • Pembengkakan otot
  • Otot yang lemah dan terasa nyeri
  • Urine berwarna cokelat, merah, atau menyerupai teh

Beberapa orang dengan rhabdo juga mungkin akan mengalami dehidrasi dan penurunan frekuensi berkemih, mual, serta kehilangan kesadaran.

Gejala-gejala tersebut biasanya terjadi dalam 1 hingga 3 hari setelah cedera otot, meski sebagian penderita tidak menyadarinya.

Baca Juga: Wajib Hindari! Ini 5 Penyebab Penuaan Dini pada Kulit Wajah, Gunakan Produk Perawatan yang Tepat

Penyebab Rhabdomyolysis

gejala cedera rhabdomylosis.jpg
Foto: gejala cedera rhabdomylosis.jpg (joshuaharrismd)

Foto: Paha Nyeri (Orami Photo Stocks)

Penyebab rhabdomyolysis yang paling sering adalah cedera fisik atau trauma.

Namun, sebenarnya, apa pun aktivitas yang dapat merusak otot dapat menyebabkan rhabdo.

Ada pun sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko rhabdo, yaitu:

1. Cedera atau Trauma

Seseorang yang mengalami cedera atau kecelakaan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk rhabdomyolysis.

Penyebab tertinggi dalam kategori ini meliputi:

  • Cedera akibat barang berat
  • Luka bakar
  • Pembuluh darah tersumbat
  • Sambaran petir
  • Kram otot yang ekstrem
  • Kecelakaan mobil

Olahraga yang intens dan terlalu berat, seperti lari maraton juga berisiko tinggi meningkatkan cedera otot yang dapat berujung pada rhabdo.

2. Genetik dan Gangguan Metabolisme

Beberapa orang bisa terkena rhabdo akibat kondisi genetik.

Artinya, Moms lebih berisiko terkena penyakit tersebut apabila terdapat anggota keluarga yang pernah mengalami kondisi serupa.

Tidak hanya itu, Medlineplus menyebut bahwa rhabdomyolysis juga bisa berkaitan dengan gangguan hormon dalam tubuh, misalnya hipotiroidisme alias kadar hormon tiroid terlalu rendah.

Risiko rhabdomyolysis juga cukup tinggi pada orang-orang yang mengalami masalah metabolisme, seperti ketidakseimbangan elektrolit.

Ada pula kondisi-kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko rhabdo, yaitu:

  • Kekurangan karnitin
  • Penyakit McArdle
  • Defisiensi laktat dehidrogenase
  • Distrofi otot Duchenne

Baca Juga: Mengenal Hiperbilirubinemia, Penyebab Penyakit Kuning pada Bayi

3. Efek Samping Obat-Obatan

Konsumsi jenis obat-obatan tertentu juga dapat menjadi penyebab rhabdomyolysis. Obat yang dimaksud di sini adalah golongan statin.

Apa itu obat statin? Ini adalah obat penurun yang biasanya dikonsumsi untuk menurunkan kolesterol tinggi.

Oxford Medical Case Reports menilai, terdapat 26% warga Amerika Serikat yang menggunakan obat statin untuk menurunkan kolesterol pada tahun 2011-2012.

Mengetahui hal ini, Moms sebaiknya lebih berhati-hati. Sebab, tidak semua orang cocok untuk mengonsumsi obat penurun kolesterol golongan statin.

Tidak hanya itu saja, Moms. Ada pula beberapa obat-obatan lain yang dapat meningkatkan risiko rhabdo, yaitu:

  • Kokain
  • Amfetamin
  • Ekstasi
  • Siklosporin
  • Eritromisin
  • Kolkisin
  • LSD

Komplikasi Rhabdomyolysis

Cara Diagnosis Rhabdomyolysis.jpg
Foto: Cara Diagnosis Rhabdomyolysis.jpg (Orami Photo Stocks)

Foto: Sakit Pinggul (Orami Photo Stocks)

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan, hal yang terjadi pada tubuh akibat rhabdomyolysis adalah cedera otot dengan potensi cacat permanen.

Rhabdo itu sendiri terjadi ketika jaringan otot yang rusak melepaskan protein dan elektrolitnya ke dalam darah.

Apabila lama dibiarkan, hal tersebut bisa mengganggu fungsi jantung dan ginjal.

Cacat permanen dan kematian adalah komplikasi rhabdomyolysis yang paling serius.

Guna mencegah risiko cacat permanen dan kematian akibat penyakit tersebut, orang yang mengalaminya mesti melakukan perawatan ke dokter sedini mungkin.

Baca Juga: 7 Fungsi Penting Jaringan Epitel bagi Tubuh, Cari Tahu Juga Jenisnya!

Cara Diagnosis Rhabdomyolysis

Komplikasi Rhabdo.png
Foto: Komplikasi Rhabdo.png

Foto: Konsultasi Dokter (Orami Photo Stocks)

Cleveland Clinic memaparkan, cara diagnosis rhabdomyolysis adalah dengan sederet pemeriksaan, termasuk wawancara medis, tes urine, dan biopsi.

Wawancara medis dilakukan dokter untuk mengetahui riwayat aktivitas atau cedera yang dialami pasien beberapa waktu belakangan.

Setelah itu, pemeriksaan biasanya akan dilanjutkan dengan tes urine guna melihat kadar mioglobin dalam tubuh.

Selanjutnya, dokter mungkin akan melakukan biopsi otot guna memastikan diagnosis rhabdomyolysis.

Terkait biopsi otot, beberapa hal yang akan dokter dokter lakukan adalah sebagai berikut:

Dokter juga mungkin akan mengambil sampel darah untuk mengukur kadar creatinine kinase, yakni protein yang dilepaskan otot saat hancur.

Tes darah mungkin pula direkomendasikan dokter untuk memastikan ada atau tidaknya kondisi genetik terkait rhabdo.

Baca Juga: 10 Mitos Telinga Caplang yang Masih Banyak Dipercaya

Cara Mengatasi Rhabdomyolysis

Cedera-Bahu.jpg
Foto: Cedera-Bahu.jpg

Foto: Sakit Bahu (Orami Photo Stocks)

Salah satu hal yang terjadi pada tubuh akibat rhabdo adalah nyeri pada jaringan otot dan tulang. Kondisi ini bisa mengganggu aktivitas.

Apabila Moms merasa mengalami kondisi tersebut, sebaiknya jangan tunda periksa ke dokter.

Diagnosis dini dapat membantu pengobatan rhabdomyolysis dalam jangka waktu panjang.

Dalam kasus rhabdo yang ringan, perawatan di rumah dapat membantu proses pemulihan.

Namun, pada orang-orang yang mengalami rhabdo derajat berat, mereka biasanya perlu dirawat di rumah sakit secara intens.

Sebab, diperlukan pasokan cairan melalui infus untuk menjaga produksi urine dan mencegah gagal ginjal pada pasien.

Demikian informasi penting mengenai rhabdomyolysis. Tetap waspada akan setiap kemungkinan yang ada dan jangan lagi menganggap remeh cedera pada otot maupun tulang, ya, Moms!

  • https://medlineplus.gov/ency/article/000473.htm
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5853001/
  • https://www.cdc.gov/niosh/topics/rhabdo/default.html#:~:text=Rhabdomyolysis%20(often%20called%20rhabdo)%20is,permanent%20disability%20or%20even%20death.
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21184-rhabdomyolysis
  • https://www.webmd.com/a-to-z-guides/rhabdomyolysis-symptoms-causes-treatments
  • https://www.healthline.com/health/rhabdomyolysis#treatments

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.