07 Februari 2022

3 Jenis dan Manfaat Nebulizer untuk Pernapasan

Meringankan gejala gangguan pernapasan

Nebulizer bekerja dengan mengubah obat menjadi uap, sehingga penderita gangguan kesehatan tertentu dapat menghirupnya ke paru-paru.

Alat ini tersedia dalam berbagai jenis, ada yang menggunakan baterai, atau langsung dicolokkan ke stop kontak.

Penggunaan obat dalam nebulizer memerlukan resep dokter agar dosisnya tepat dan gangguan kesehatan dapat diatasi dengan baik.

Baca juga: Amankah Menghirup Aromaterapi Saat Hamil?

Jenis Nebulizer yang Umum Digunakan

Perlukah Memiliki Nebulizer di Rumah.jpg
Foto: Perlukah Memiliki Nebulizer di Rumah.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Nebulizer adalah perangkat yang digunakan untuk mengirim uap melalui tabung yang terhubung ke mask atau bagian mulut.

Prosesnya membutuhkan waktu 5-10 menit atau lebih, tergantung tingkat keparahan kondisi yang dialami.

Fungsi utamanya adalah membantu penderita gangguan pernapasan, seperti asma, PPOK, bronkiektasi, fibrosis kistik, dan fibrosis paru.

Melansir dari WebMD, ada 3 jenis utama nebulizer, yaitu:

1. Nebulizer Ultrasonik

Alat ini mengubah larutan obat menjadi aerosol melalui gelombang ultrasonik.

Alat ini memiliki suara yang cenderung tenang, sehingga cocok digunakan oleh anak-anak.

Kekurangannya adalah gelombang ultrasonik ini dapat mempengaruhi keefektivitasan beberapa jenis obat.

Selain itu, nebulizer ultrasonik memiliki volume residu yang tinggi.

2. Nebulizer Mesh

Alat ini dikenal sebagai inhaler membran berteknologi tinggi.

Cara kerjanya berdasarkan pada membran lubang-lubang kecil, melalui getaran frekuensi tinggi dengan mengubah larutan obat menjadi aerosol.

Keuntungan alat ini adalah tidak membutuhkan banyak obat dan nyaman dibawa bepergian.

Kekurangannya adalah harga yang terbilang relatif mahal.

3. Nebulizer Kompresor

Alat ini bekerja dengan bantuan kompresor.

Kompresor akan menyemprotkan partikel obat mencapai sistem pernapasan melalui aliran udara.

Kelebihannya adalah dapat menggunakan berbagai jenis obat terapi pernapasan.

Kekurangannya adalah suara berisik dan bentuk yang lebih besar ketimbang jenis lainnya.

Baca juga: Amankah Menggunakan Inhaler Saat Hamil? Simak Jawabannya di Sini

Kondisi yang Membutuhkan Penggunaan Nebulizer

Kenapa-Terjasi-Sesak-Napas-di-Malam-Hari-.jpg
Foto: Kenapa-Terjasi-Sesak-Napas-di-Malam-Hari-.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Nebulizer adalah alat yang digunakan untuk membantu mengatasi gejala gangguan pada paru-paru.

Namun, tidak semua gangguan pada orang tersebut membutuhkan pengobatan dengan menggunakan nebulizer.

Melansir dari British Lung Foundation, berikut ini sejumlah kondisi yang membutuhkan penggunaan nebulizer:

1. Bronkiektasis

Untuk penderita bronkiektasis, nebulizer digunakan dengan memberikan larutan asin untuk mengelola tekstur lendir.

Bekerja dengan membantu mengurangi kekentalan dahak, sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan.

Dalam yang disebabkan oleh infeksi bakteri, biasanya dokter memberikan antibiotik.

Melansir dari American Lung Association, gejala bronkiektasis berkembang selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Gejala secara bertahap menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu.

Selain batuk dan produksi lendir berlebihan yang menjadi gejala utama, bronkiektasi ditandai dengan:

  • Batuk berlendir kuning atau hijau
  • Sesak napas yang memburuk
  • Kelelahan atau merasa sangat lelah
  • Demam yang disertai dengan menggigil
  • Suara mengi saat bernapas
  • Batuk berdarah atau lendir yang bercampur dengan darah
  • Nyeri dada akibat usaha saat bernapas
  • Clubbing, atau penebalan kulit di bawah kuku

2. Fibrosis Kistik

Nebulizer digunakan untuk mengatasi penumpukan lendir dan gejala fibrosis kistik lainnya.

Melansir dari National Health Service UK, penumpukan lendir di paru-paru menyebabkan masalah pernapasan dan meningkatkan risiko infeksi.

Jika kondisi tersebut dibiarkan begitu saja, organ paru-paru bisa berhenti bekerja.

Penderita biasanya tidak dapat menyerap nutrisi dari makanan, sehingga kekurangan gizi menjadi salah satu tanda fibrosis kistik.

Gejala lainnya ditandai dengan:

  • Infeksi dada berulang
  • Mengi, batuk, sesak napas, dan kerusakan saluran udara (bronkiektasis)
  • Kesulitan menambah berat badan
  • Menguningnya kulit dan bagian putih mata (jaundice)
  • Diare, sembelit, atau ukuran feses yang besar
  • Obstruksi usus pada bayi yang baru lahir, sehingga membutuhkan pembedahan

3. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Penderita PPOK, penggunaan nebulizer dapat digunakan ketika mengalami serangan parah.

Meski demikian, sejauh ini tidak ada bukti bahwa nebulizer lebih efektif dalam memberikan obat ketimbang inhaler sebagai langkah perawatan.

Gejala utama PPOK ditandai dengan peningkatan sesak napas saat berolahraga.

Dalam kasus yang parah, sesak napas bisa saja dialami di malam hari saat penderita sedang tidur.

Selain sesak napas, gejala PPOK ditandai dengan:

  • Batuk berdahak dan terus-menerus.
  • Dahak yang tidak kunjung hilang
  • Sering mengalami infeksi dada.
  • Mengi yang tidak kunjung membaik.

Gejala biasanya semakin memburuk dari waktu ke waktu dan membuat aktivitas sehari-hari semakin sulit dilakukan.

Meski pengobatan dapat membantu memperlambat perkembangan gejala, gejala terkadang muncul secara tiba-tiba dalam intensitas parah.

Kondisi tersebut biasanya dialami jika tinggal di daerah dengan suhu dingin.

Beberapa gejala yang tidak umum bisa saja terjadi di sebagian penderita.

Berikut ini beberapa gejala yang kurang umum:

  • Penurunan berat badan.
  • Rasa lelah berlebihan.
  • Pembengkakan pergelangan kaki akibat penumpukan cairan.
  • Nyeri dada dan batuk berdarah.

Nyeri dada dan batuk berdarah biasanya merupakan tanda dari kondisi lain, seperti infeksi dada atau kemungkinan kanker paru-paru.

Gejala tersebut hanya terjadi ketika penderita PPOK sudah mencapai stadium lanjut.

4. Asma

Nebulizer menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk mengatasi gejala asma.

Bisa dibilang, penggunaan nebulizer dan inhaler sama efektifnya untuk meredakan gejala sesak napas para penderita asma.

Berikut ini beberapa gejala asma yang umum dialami para penderita:

  • Mengi atau suara siulan saat bernafas.
  • Sesak napas yang tidak kunjung membaik.
  • Dada terasa kencang seperti terikat.
  • Batuk-batuk yang memperparah gejala sesak napas.

Sejumlah gejala tersebut bisa dinyatakan sebagai pertanda asma jika:

  • Sering terjadi dan terus datang kembali.
  • Memburuk pada malam dan pagi hari.
  • Gejala muncul setelah berolahraga atau terkena paparan alergen.

Asma terkadang bisa memburuk dalam waktu yang singkat. Kondisi ini dikenal sebagai serangan asma.

Serangan asma terjadi secara tiba-tiba atau bertahap dalam waktu beberapa hari.

Berikut beberapa kondisi yang menjadi pertanda serangan asma:

  • Mengi, batuk, dan sensasi sesak pada dada yang parah dan konstan.
  • Napas menjadi terengah-engah saat makan, berbicara, atau tidur.
  • Napas menjadi lebih cepat.
  • Peningkatan detak jantung.
  • Mengantuk, kebingungan, kelelahan, atau pusing.
  • Perubahan warna kebiruan pada bibir atau jari.
  • Kehilangan kesadaran atau pingsan.

5. Fibrosis Paru

Kanker Paru-Paru Non-Perokok Beda Sama Perokok - perbedaan.jpg
Foto: Kanker Paru-Paru Non-Perokok Beda Sama Perokok - perbedaan.jpg (Shutterstock)

Foto: Orami Photo Stock

Untuk penderita fibrosis paru, termasuk fibrosis paru idiopatik (IPF), nebulizer diberikan larutan air asin untuk mengelola penumpukan lendir.

Gejala fibrosis paru idiopatik (IPF) cenderung berkembang secara bertahap dan memburuk seiring berjalannya waktu.

Gejala kondisi tersebut meliputi:

  • Sesak napas
  • Batuk kering terus-menerus
  • Rasa lelah berlebihan
  • Penurunan nafsu makan
  • Penurunan berat badan
  • Pembengkakan pada ujung jari

Baca juga: Mengenal Terapi Oksigen, Manfaat, dan Risikonya Bagi Tubuh

Sesak napas terkadang diabaikan karena dianggap sebagai bagian dari proses penuaan.

Padahal, kondisi tersebut bisa diatasi dengan menggunakan nebulizer, dengan dosis obat sesuai dengan gangguan kesehatan yang dialami.

Jika dibiarkan tanpa penanganan, melakukan aktivitas ringan seperti berpakaian pun bisa menyebabkan sesak napas.

Jika Moms memutuskan untuk menggunakannya, jangan lupa untuk mensterilkan dalam waktu 3 hari sekali.

Setelah disterilkan, tunggu hingga benar-benar kering, kemudian simpan dalam tempat yang aman.

  • https://www.webmd.com/asthma/guide/home-nebulizer-therapy
  • https://www.blf.org.uk/support-for-you/nebulisers/who-can-benefit
  • https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/bronchiectasis/symptoms-diagnosis
  • https://www.nhs.uk/conditions/cystic-fibrosis/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.