Scroll untuk melanjutkan membaca

OBAT-OBATAN
03 November 2022

Daftar Obat Asma yang Dapat Dipilih, Ada yang Tersedia Bebas di Apotek!

Meski tidak bisa disembuhkan, gejala asma dapat dikendalikan
Daftar Obat Asma yang Dapat Dipilih, Ada yang Tersedia Bebas di Apotek!

Seseorang yang memiliki asma harus selalu memiliki obat asma di mana pun dan kapan pun.

Hal ini karena gejala asma bisa kambuh kapan saja tanpa kenal waktu.

Namun, jenis serta dosis obat asma yang dibutuhkan oleh setiap orang tergantung dari usia, gejala, serta tingkat keparahan penyakitnya.

Lalu, manakah obat asma yang tepat untuk Moms dan keluarga? Yuk cari tahu!

Baca Juga: 13 Manfaat Daun Gendola untuk Pengobatan, Baik untuk Pencernaan, Jantung, Juga Paru-paru

Mengenal Jenis Obat Asma

Melansir dari National Health Service, sebenarnya sampai sekarang belum ada obat asma khusus.

Meski demikian, pengobatan dan perawatan tertentu bisa membantu mengendalikan gejala.

Dengan begitu, Moms dan keluarga dapat menjalani kehidupan yang tetap aktif.

Berikut ini rekomendasi jenis obat asma di apotek yang bisa jadi pilihan, di antaranya:

1. Inhaler Pereda

Menggunakan inhaler pereda asma

Foto: Menggunakan inhaler pereda asma

Inhaler pereda berfungsi untuk membantu meredakan gejala bagi penderita asma.

Gejala asma yang paling terasa ini meliputi susah bernapas, sesak napas, batuk, hingga mengi atau napas berbunyi.

Kebanyakan orang yang memiliki asma, biasanya diberikan inhaler pereda.

Ciri khas inhaler ini memiliki warna biru.

Kandungan obat asma dalam inhaler pereda meliputi:

  • Albuterol (ProAir HFA, Ventolin HFA, lainnya)
  • Levalbuterol (Xopenex HFA

Waktu pakai obat asma ini adalah saat gejala asma sedang terjadi, sehingga kondisi membaik dalam beberapa menit.

Obat asma ini bekerja dengan cara membuka paru-paru dan mengendurkan otot-otot pada saluran pernapasan.

Namun, inhaler pereda bukan untuk penggunaan sehari-hari.

Jadi, hanya digunakan saat gejala asma muncul.

Baca Juga: 4 Penyebab Gangguan Pendengaran, Cari Tahu Juga Gejala dan Pengobatannya

2. Inhaler Pencegah

Selain itu, inhaler bisa digunakan sebagai obat pencegahan bagi penderita asma.

Penggunaan inhaler pencegah biasanya dipakai bersamaan dengan inhaler pereda yang sebelumnya.

Sebenarnya, obat pencegah tidak memiliki efek samping, tetapi bisa mengakibatkan kondisi berikut:

Namun, kondisi-kondisi tersebut bisa dicegah dengan menggunakan spacer.

Spacer adalah tabung plastik berlubang yang ditempelkan pada inhaler.

Jangan lupa rajin membersihkan mulut setelah menggunakan obat pencegah.

3. Inhaler Kombinasi

Menggunakan inhaler untuk asma

Foto: Menggunakan inhaler untuk asma (https://madeformums.com/)

Bila obat asma di atas tidak membantu meredakan gejala sesak napas, penggunaan inhaler kombinasi bisa menjadi pilihan.

Inhaler kombinasi mengandung campuran obat asma kortikosteroid dan bronkodilator berikut:

  • Flutikason dan salmeterol (Advair Diskus)
  • Budesonide dan formoterol (Symbicort)
  • Mometasone dan formoterol (Dulera)
  • Flutikason dan vilanterol (Breo)

Biasanya, obat untuk asma ini dipakai untuk mengurangi peradangan dan sensitivitas pada saluran udara.

Zat aktif budesonide dalam obat ini bekerja dengan menghentikan perkembangan gejala.

Baca Juga: 7 Obat Biduran Alami untuk Mengatasi Kulit Gatal dan Kemerahan, Yuk Coba!

4. Leukotriene Modifiers (Pengubah Leukotrien)

Sebagian orang memerlukan obat asma selain inhaler untuk mengendalikan gejala asma.

Obat asma dengan sediaan tablet dan sirup ini membantu menghentikan efek leukotrien, yakni penyebab gejala asma.

Dikenal dengan pengubah leukotrien, ini dapat membantu mencegah gejala asma kambuh lagi hingga 24 jam.

Contoh obat asma leukotrien yang bisa diperoleh dari resep dokter maupun di apotek yakni:

  • Montelukast (Singulair)
  • Zafirlukast (Akolat)
  • Zileuton (Zyflo)

Pastikan telah mendapat resep atau rekomendasi dokter sebelum menggunakan obat jenis ini.

Baca Juga: Coba Hitung! Ini Frekuensi Napas Normal pada Anak dan Dewasa

5. Theophylline (Teofilin)

Minum obat asma

Foto: Minum obat asma

Teofilin adalah obat asma kelompok bronkodilator. Ini hadir dalam bentuk pil yang mengobati gejala asma ringan.

Cara kerja obat asma ini dengan melemaskan saluran udara dan respons paru-paru terhadap peradangan.

Biasanya, teofilin diminum bila asma datang di malam hari.

Asma sering kambuh di malam hari karena paparan alergi atau perubahan hormon.

Terlepas itu, obat ini berisiko menimbulkan efek samping berupa insomnia dan gastroesophageal reflux disease (GERD).

Oleh karena itu, obat ini tak bisa ditebus bebas tanpa resep dokter di apotek ataupun klinik kesehatan.

6. Kortikosteroid

Kortikosteroid adalah obat asma antiradang jangka panjang yang paling umum digunakan.

Fungsi obat asma ini adalah untuk mengurangi pembengkakan di saluran udara.

Obat kortikosteroid untuk mengobati asma umumnya diperoleh dari resep dokter.

Jenis obat yang termasuk kortikosteroid meliputi:

  • Flutikason (Flovent HFA)
  • Budesonide (Pulmicort Flexhaler)
  • Mometasone (Asmanex Twisthaler)
  • Beclomethasone (Qvar RediHaler)
  • Ciclesonide (Alvesco)

Efek samping yang mungkin dirasakan dari obat ini adalah sakit kepala, pusing, atau mual.

Baca Juga: Mengenal Hemangioma, Tumor Jinak pada Bayi yang Bisa Ganggu Pernapasan

7. Ipatropium

Minum obat atasi asma

Foto: Minum obat atasi asma (Shutter Stock)

Selain di atas, ada berbagai jenis obat asma lainnya yang sering jadi incaran banyak orang.

Ipratropium (Atrovent HFA) adalah obat asma kelompok bronkodilator yang bisa didapatkan di apotek.

Zat aktif ini biasanya juga diresepkan untuk mengatasi gejala emfisema atau bronkitis kronis.

Ini dapat digunakan bersamaan atau sebagai alternatif dari obat lainnya, seperti zat aktif agonis beta kerja cepat.

8. Steroid

Tablet steroid sebagai obat asma yang direkomendasikan jika perawatan lain tidak membantu mengendalikan gejala asma.

Steroid biasanya dipakai untuk beberapa kondisi berikut, meliputi:

  • Pengobatan saat gejala asma kambuh
  • Pengobatan jangka panjang untuk mencegah gejala

Ini biasanya hanya diperlukan jika menderita kondisi yang parah, dan inhaler tidak membantu mengatasi gejala asma.

Namun, konsumsi tablet steroid jangka panjang berisiko bisa menyebabkan efek samping seperti:

Oleh karena itu, obat dengan kandungan steroid menjadi cukup sensitif jika memiliki riwayat penyakit tersendiri.

Baca Juga: Sering Merasa Nyeri atau Sakit saat Kencing? Waspada Infeksi Saluran Kemih!

9. Obat Bronkodilator (LABA)

Obat untuk asma

Foto: Obat untuk asma

Obat bronkodilator termasuk obat asma yang digunakan untuk membuka saluran udara dan mengurangi pembengkakan.

Bronkodilator bekerja paling cepat setidaknya 12 jam.

Ini perlu dikonsumsi secara teratur untuk mengendalikan gejala asma sedang sampai berat di malam hari.

Obat dengan kandungan aktif ini seringnya digunakan dalam kombinasi dengan kortikosteroid inhaler.

LABA yang umum digunakan untuk penderita asma dewasa adalah salmeterol (Serevent).

10. Suntikan Omalizumab

Omalizumab (Xolair) kadang-kadang digunakan untuk mengobati asma yang dipicu oleh alergen di udara.

Suntikan ini diperuntukkan bagi mereka yang asma dipicu paparan zat alergen.

Jika memiliki alergi, sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi untuk menyerang zat asing tersebut.

Omalizumab ini yang akan memblokir aksi antibodi untuk mengurangi reaksi yang berlebihan terhadap asma.

Obat penyembuh asma ini hanya digunakan oleh orang dewasa dan tidak untuk anak di bawah 12 tahun.

11. Reslizumab (Cinqair)

Perawatan dokter

Foto: Perawatan dokter (Orami Photo Stocks)

Reslizumab (Cinqair) adalah obat pemeliharaan imunomodulator.

Artinya, obat penyembuh asma ini bisa dipakai untuk meredakan gejala.

Obat untuk dewasa ini diberikan setiap 4 minggu dalam bentuk suntikan iinfus selama satu jam.

Obat asma ini bekerja dengan cara mengurangi jumlah jenis sel darah putih tertentu, yang disebut eosinofil.

Di dalam tubuh, reslizumab bekerja dengan meredakan gejala asma dan melancarkan pernapasan.

12. Omalizumab (Xolair)

Obat penyembuh asma ini pun hampir mirip dengan jenis sebelumnya.

Omalizumab adalah obat yang berisi antibodi untuk memblokir imunoglobulin E (IgE). Ini digunakan sebagai obat pengendalian gejala asma.

Obat untuk orang dewasa ini turut mencegah paparan alergen yang bisa memicu serangan asma.

Untuk menerima obat ini, seseorang harus memiliki tingkat IgE yang tinggi dan ada riwayat alergi tertentu.

Pemberian hanya dilakukan oleh perawat atau dokter dan tidak boleh digunakan secara mandiri.

13. Suntikan Teszpire

Diberi suntikan

Foto: Diberi suntikan (Bimcbali.com)

Bagi penderita asma kronis, obat ada yang hadir dalam bentuk suntikan atau melalui infus.

Seperti halnya obat omalizumab, ini cukup sering digunakan di berbagai rumah sakit.

Obat penyembuh asma ini digunakan sebagai perawatan tambahan pasien dewasa dan anak-anak berusia 12 tahun ke atas.

Cara kerjanya yakni menargetkan molekul yang menyebabkan peradangan di saluran udara.

Penggunaan ini sering dipakai bersamaan dengan jenis obat asma lainnya.

Baca Juga: Asma Bisa Sembuh dengan Terapi, Bagaimana Caranya?

14. Atrovent HFA

Atrovent HFA adalah obat asma lainnya yang terkandung dalam berbagai bentuk, baik tablet, hirup, ataupun infus.

Disebut juga sebagai bronkodilator kerja pendek, ini biasanya diresepkan untuk emfisema atau bronkitis kronis.

Terlepas itu, ini pun terkadang digunakan untuk mengobati serangan asma.

Ini dapat digunakan sebagai alternatif dari obat agonis beta kerja pendek atau inhaler lainnya yang membutuhkan kombinasi.

15. Hindari Paparan Alergen

Bersin sebagai gejala alergi

Foto: Bersin sebagai gejala alergi

Moms, apapun jenis dan dosis obat asma yang dibeli di apotek maupun rumah sakit kebanyakan menggunakan resep dokter.

Cobalah obat asma alami dengan menghindari berbagai paparan alergi.

Asma sering disebabkan oleh paparan alergi melalui serbuk sari, tungau, udara dingin, ataupun partikel halus lainnya.

Untuk mencegah kekambuhan, cobalah untuk tak mendekati berbagai zat yang mengiritasi ini sebisa mungkin.

Dengan begitu, asma yang dimiliki akan terkendali.

Rekomendasi Obat Asma di Apotek

Obat asma yang ada di apotek

Foto: Obat asma yang ada di apotek (Sumber: freepik.com/aleksandarlittlewolf)

Karena dapat terjadi karena penyebab yang berbeda, Moms harus memperhatikan obat asma apa yang akan dikonsumsi.

Terdapat beragam jenis obat sesak nafas akibat asma yang tersedia di apotek.

Di bawah ini, ada beberapa rekomendasi obat sesak napas kimia yang bisa Moms pertimbangkan:

1. Obat Kortikosteroid

Obat asma untuk mengatasi sesak napas pertama yang bisa dibeli adalah obat kortikosteroid.

Ini merupakan obat yang mampu mencegah dan mengatasi peradangan di saluran pernapasan.

Obat ini tersedia dalam beragam bentuk, seperti oral, hirup, dan suntik.

Beberapa merek obat kortikosteroid berdosis tinggi yang bisa dibeli menggunakan resep dokter.

Misalnya dexamethasone, prednisone, betametason, dan metilprednisolon.

2. Obat Bronkodilator

Obat ini mampu melebarkan saluran pernapasan dan membuat otot pada paru dan pernapasan menjadi rileks.

Berdasarkan reaksinya, ada dua jenis obat bronkodilator, yakni reaksi cepat untuk penderita asma akut dan reaksi lambat untuk penderita penyakit paru.

Beberapa obat bronkodilator yang sering digunakan di antaranya salbutamol, salmeterol, ipratropium, dan tiotropium.

3. Obat Alergi

Bila asma yang diderita akibat alergi, segera mengonsumsi obat alergi yang mengandung antihistamin dan dekongestan.

Selain itu, sebaiknya obat asma tersebut selalu dibawa saat keluar rumah agar gejala sesak napas dari asma dapat diatasi dengan mudah.

Ada banyak merek obat alergi yang dapat ditemukan dengan mudah di apotek tanpa membutuhkan resep dokter.

4. Obat Pengencer Darah

Salah satu penyebab asma adalah penggumpalan atau pengentalan darah dalam paru.

Ini disebut emboli paru dan menjadi penyakit yang umum terjadi.

Karena disebabkan oleh penggumpalan darah, dokter akan memberikan obat pengencer darah untuk mengatasinya.

Beberapa obat pengencer darah yang sering dianjurkan oleh dokter di antaranya rivaroxaban, heparin, dan warfarin.

5. Obat Gangguan Cemas

Gangguan kecemasan atau anxiety disorder juga mampu menyebabkan seseorang mengalami sesak napas karena asma.

Umumnya penderita yang mengalami gangguan kecemasan akan merasakan serangan panik serta napas yang sesak.

Jika penyebab asma adalah hal tersebut, obat penenang dapat dipilih sebagai orat untuk mengatasi asma.

Misalnya dengan obat sertraline, venlafaxine, dan diazepam.

Terlepas berbagai obat asma di atas, perlu diketahui itu memiliki berbagai efek samping yang perlu jadi pertimbangan.

Oleh karena itu, tetap ikuti panduan cara pakai setiap jenis obat yang dikonsumsi.

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/asthma/in-depth/asthma-medications/art-20045557
  • https://www.webmd.com/asthma/asthma-medications
  • https://www.webmd.com/asthma/asthma-treatments
  • https://www.aafa.org/asthma-treatment/
  • https://www.healthline.com/health/asthma-medication-and-drugs
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/asthma/symptoms-causes/syc-20369653
  • https://www.99.co/blog/indonesia/rekomendasi-obat-sesak-nafas-ampuh/