Kesehatan

24 September 2021

Sulit Terdeteksi, Kenali Sindrom Cushing untuk Penanganan Sedari Dini

Lebih sering terjadi pada perempuan lho, Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

Sindrom cushing atau hiperkortisolisme, terjadi karena kadar hormon kortisol yang sangat tinggi. Kondisi ini dapat terjadi karena berbagai alasan.

Hormon kortisol adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal.

Hormon ini memiliki banyak fungsi penting bagi tubuh, antara lain menjaga fungsi jantung dan pembuluh darah, mengurangi peradangan, serta mengontrol tekanan dan kadar gula darah.

Umumnya, sindrom cushing adalah kondisi yang disebabkan oleh pertumbuhan tumor di kelenjar pituitari.

Namun, tidak menutup kemungkinan tumor juga tumbuh di kelenjar adrenal.

Dalam kebanyakan kasus, mendapatkan perawatan dapat membantu Moms mengelola kadar kortisol dalam tubuh.

Berikut ini adalah informasi lebih lengkap mengenai sindrom cushing. Semoga bermanfaat ya, Moms!

Baca Juga: Bagi Wanita Hamil, Tahukah Sindrom Alkohol Janin Pada Bayi?

Gejala Sindrom Cushing

Sindrom Cushing.jpg

Foto: convertsapiens.com

Menurut dr. Hari Hendarto, Sp.PD-KEMD, Ph.D, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes di RS Pondok Indah, penyakit ini sulit terdeteksi.

"Bagi orang awam tidak terlalu mudah untuk mengetahui apakah dirinya terkena sindrom Cushing karena tingkat keparahan dan gejala penyakitnya bisa bervariasi pada setiap kasus," jelasnya.

Namun, beberapa gejala umum pada penyakit sindrom Cushing di antaranya berat badan yang terus meningkat.

Kadar kortisol yang tinggi di dalam tubuh memang bisa menyebabkan penumpukan lemak khususnya di beberapa bagian tubuh.

Terutama wajah (menjadi bulat seperti bulan/moon face), punggung sebelah atas (punuk seperti kerbau/buffalo hump) dan perut (obesitas sentral).

Selain itu gejala lain yaitu kelemahan otot, jerawat, tekanan darah yang tinggi, gula darah meningkat, kulit menipis dan mudah memar.

Bahkan Moms juga bisa menemukan stretch mark berwarna ungu pada lengan, perut, dan paha, pengeroposan tulang, serta mudah mengalami infeksi.

Semua gejala ini dapat menjadi salah satu pertanda awal untuk mewaspadai kemungkinan dirinya menderita sindrom Cushing.

Apalagi jika didapatkan adanya riwayat konsumsi obat-obatan maupun obat tradisional dalam jangka lama. Sebaiknya segera konsultasi ke dokter.

Baca Juga: Shaken Baby Syndrome, Sindrom Bayi Terguncang yang Berbahaya

Melansir Healthline, selain gejala umum di atas, ada gejala lain yang bisa muncul pada penderita sindrom cushing, yaitu:

  • gula darah tinggi
  • rasa haus yang meningkat
  • peningkatan buang air kecil
  • osteoporosis
  • tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • sakit kepala
  • perubahan suasana hati
  • kecemasan
  • sifat lekas marah
  • depresi
  • peningkatan insiden infeksi

Pada wanita, sindrom Cushing dapat membuat haid menjadi tidak teratur atau terlambat.

Selain itu, sindrom ini juga bisa menimbulkan gejala hirsutisme, yaitu rambut yang tumbuh lebat di wajah atau bagian lain yang biasanya hanya tumbuh pada pria.

Sedangkan pada pria, keluhan lain yang mungkin muncul akibat sindrom Cushing adalah penurunan gairah seksual, gangguan kesuburan, dan impotensi.

Baca Juga: Bengkak Saat Hamil? Begini Langkah Mengatasinya

Penyebab Sindrom Cushing

Sindrom Cushing.jpg

Foto: endrocrineweb.com

"Peningkatan kortisol eksogen seringkali disebabkan oleh penggunaan obat-obatan yang mengandung glukokortikoid dalam dosis tinggi dan jangka panjang." Jelas Dr. Hari.

Steroid merupakan obat anti peradangan yang di dunia medis biasa digunakan untuk pengobatan penyakit seperti kelainan kulit, kelainan mata, asma, dan radang sendi.

Obat ini juga seringkali digunakan pada penyakit yang berhubungan dengan masalah pada sistem kekebalan tubuh, seperti alergi, penyakit autoimun dan lain-lain.

Penggunaan obat steroid memang dibutuhkan pada beberapa penyakit di atas, namun seperti obat lainnya, kortikosteroid memiliki efek samping yang serius.

Inilah mengapa para dokter akan mengatur penggunaan obat golongan ini secara hati-hati baik aturan pakai, dosis, hingga lama pemberian obat.

Pasien dengan sindrom Cushing dalam praktik sehari-hari seringkali didapatkan penyebabnya akibat pemakaian obat tradisional jangka panjang.

Hal tersebut dikarenakan masyarakat percaya penambahan steroid bagi masyarakat dirasakan ampuh untuk mengurangi keluhan dan gejala pada penyakit-penyakit.

Seperti radang sendi, rematik, atau penyakit akibat radang lainnya.

Baca Juga: 7 Makanan untuk Tingkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Selain dari luar tubuh, peningkatan kortisol juga dapat berasal dari dalam tubuh sendiri atau endogen.

Salah satunya disebabkan oleh peningkatan hormon adrenokortikotropik (ACTH) di dalam tubuh.

Melansir WebMD, penyebab meningkatnya adalah:

  • Tumor di kelenjar hipofisis atau pituitari
  • Tumor di pankreas, paru-paru, kelenjar tiroid, atau kelenjar timus
  • Tumor di kelenjar endokrin yang terkait dengan faktor keturunan
  • Penyakit kelenjar adrenal, seperti tumor di korteks adrenal (adenoma adrenal)

dr. Hari mengungkapkan, "ACTH merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis dan berfungsi mengatur pembentukan hormon kortisol.

ACTH yang meningkat akan menyebabkan kelenjar adrenal menghasilkan hormon kortisol secara berlebihan."

Di sisi lain tumor yang tumbuh di kelenjar adrenal sendiri dapat menyebabkan peningkatan produksi hormon kortisol secara langsung dengan manifestasi serupa.

Baca Juga: Dikira Periang Karena Selalu Tertawa, Ternyata Bayi Ini Menderita Tumor Langka

Diagnosis Sindrom Cushing

sindrom cushing

Foto: Orami Photo Stock

Untuk mediagnosis kondisi ini, dokter akan bertanya kepada pasien terkait gejala yang dialami dan riwayat obat yang rutin dikonsumsi.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk melihat tanda-tanda sindrom Cushing pada pasien.

Untuk memastikan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain, dokter akan menjalankan pemeriksaan penunjang, seperti:

1. Tes Urin 24 Jam

Pada tes ini, dokter akan mengukur kadar hormon kortisol di urin.

Pemeriksaan urin dilakukan pada urin yang telah dikumpulkan selama 24 jam.

Pada penderita sindrom cushing akan mengalami kenaikan kadar kortisol di dalam urin 24 jam.

2. Low Dose Dexamethasone Suppression Test (DST)

DST adalah tes yang dilakukan khusus untuk mendiagnosis sindrom Cushing.

Tes ini dilakukan dengan cara menghitung kadar hormon kortisol dengan pemberian dexamethasone dosis rendah.

Tes ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana kelenjar adrenal merespon hormon ACTH.

Umumnya, tes ini dilakukan dengan memberikan dexamethasone dosis rendah yaitu 1 mg pada pukul 23.00 kemudian dilakukan pemeriksaan serum kortisol di dalam darah pada pagi harinya.

Pada kondisi normal, kadar kortisol yang diperiksa akan rendah, sedangkan jika Moms menderita sindrom cushing kadar kortisol akan meningkat.

3. Tes Air Liur

Kadar kortisol mengalami peningkatan dan penurunan sepanjang hari.

Pada orang yang sehat, kadar kortisol akan menurun secara signifikan di malam hari.

Sedangkan pada penderita sindrom cushing akan mengalami peningkatan kortisol di air liur ada malam hari.

3. Tes Pengambilan Gambar

CT scan dan MRI scan dapat menghasilkan gambar yang detail dari kelenjar adrenal dan pituitari.

Dengan tes ini, dokter dapat melihat apakah ada kelainan pada kedua kelenjar tersebut.

4. Petrosal Sinus Sampling

Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan tabung tipis melalui pangkal paha dalam keadaan dibius.

Kemudian, dokter akan mengambil sampel darah dari sinus petrosal, yaitu pembuluh darah yang terhubung dengan kelenjar pituitari.

Jika level hormon ACTH pada sampel darah yang diambil termasuk tinggi, ada kemungkinan sindrom ini diakibatkan oleh kelainan pada kelenjar pituitari.

Baca Juga: Mengenal Tes Urine HCG dalam Kehamilan dan Risikonya

Perawatan Sindrom Cushing

Sindrom Cushing.jpg

Foto: webmd.com

Pengobatan sindrom Cushing tergantung pada penyebabnya.

Melansir Mayo Clinic, sindrom Cushing yang disebabkan penggunaan kortikosteroid berlebih tidak membutuhkan penanganan khusus selain penghentian konsumsi kortikosteroid.

Namun, jika penyebabnya penyakit Cushing sudah terbukti, maka diperlukan tindakan sesuai penyebab yang mendasarinya.

Jika sindrom ini disebabkan oleh tumor maka tindakan yang diperlukan adalah operasi pengangkatan tumor.

"Apabila tumor tidak dapat diangkat, diperlukan pengobatan untuk membantu menghambat efek kortisol yang meningkat dalam tubuh," terang dr. Heri.

Sedangkan jika sindrom Cushing disebabkan konsumsi berlebihan obat tradisional atau suplemen yang mengandung steroid, maka asupan steroidnya harus diturunkan secara bertahap.

Untuk kasus satu ini, sebaiknya Moms segera konsultasi ke dokter.

Baca Juga: Stretch Mark Setelah Melahirkan? Ini Cara Alami Menghilangkannya

Itu dia Moms, informasi seputar sindrom cushing.

Untuk mencegah sindrom Cushing yang disebabkan pemakaian obat golongan kortikosteroid, pasien harus menghindari konsumsi obat tersebut dalam dosis tinggi dan jangka waktu lama.

Pemakaian kortikosteroid juga harus sesuai petunjuk dan berada dalam pengawasan dokter.

  • https://www.niddk.nih.gov/health-information/endocrine-diseases/cushings-syndrome#:~:text=Cushing's%20syndrome%20is%20a%20disorder,glucose%2C%20also%20called%20blood%20sugar
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cushing-syndrome/symptoms-causes/syc-20351310
  • https://www.nhs.uk/conditions/cushings-syndrome/
  • https://www.healthline.com/health/cushings-syndrome#causes
  • https://www.webmd.com/a-to-z-guides/cushing-syndrome#1
  • https://medlineplus.gov/ency/article/000410.htm
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait