01 Juli 2022

Serba-serbi Sindrom Kompartemen: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

Bisa berakibat fatal juga, lho

Sindrom kompartemen adalah kondisi yang menyakitkan, dengan tekanan otot mencapai tingkat yang berbahaya.

Ini bisa terjadi karena trauma seperti kecelakaan, atau aktivitas tertentu seperti olahraga berlebihan.

Simak lebih lanjut mengenai sindrom kompartemen dalam pembahasan berikut ini.

Baca juga: 11 Jenis Penyakit Kurap atau Tinea yang Disebabkan oleh Infeksi Jamur

Jenis-Jenis Sindrom Kompartemen

keram kaki
Foto: keram kaki (Medicalnewstoday.com)

Foto Kaki Sakit (Orami Photo Stock)

Sindrom kompartemen terjadi ketika tekanan pada otot meningkat ke tingkat yang berbahaya dan menurunkan aliran darah ke daerah yang terkena.

Ini mencegah nutrisi dan oksigen yang dibawa dalam darah mencapai sel-sel saraf dan otot.

Sindrom ini terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Sindrom Kompartemen Akut

Sindrom kompartemen akut adalah salah satu keadaan darurat medis yang perlu penanganan segera.

Menurut studi pada 2015 di Muscle, Ligaments and Tendons Journal, ini terjadi paling sering di kaki.

Namun juga dapat memengaruhi lengan, tangan, kaki, dan bokong.

Jenis sindrom kompartemen ini biasanya terjadi setelah seseorang mengalami cedera besar.

Dalam kasus yang jarang terjadi, itu juga dapat berkembang setelah cedera ringan.

Misalnya, seseorang mungkin mengalami sindrom kompartemen akut setelah:

  • Mengalami patah tulang
  • Mengalami cedera yang meremukkan lengan atau kaki
  • Mengalami memar parah pada otot
  • Mengenakan gips atau perban ketat
  • Memiliki kebiasaan minum alkohol berlebihan atau menggunakan narkoba

2. Sindrom Kompartemen Kronis

Olahraga, terutama jika melibatkan gerakan berulang, dapat menyebabkan sindrom kompartemen jenis ini.

Kondisi sindrom kompartemen kronis paling sering terjadi pada orang berusia di bawah 40 tahun.

Namun, kondisi ini dapat terjadi pada usia berapa pun.

Seseorang lebih berisiko terkena sindrom kompartemen kronis jika melakukan aktivitas seperti berenang, bermain tenis, atau berlari.

Olahraga yang intens atau terlalu sering juga dapat meningkatkan risiko sindrom kompartemen kronis.

Namun, hubungan antara olahraga dan sindrom kompartemen kronis tidak sepenuhnya dipahami.

Gejala Sindrom Kompartemen

cara-mengecilkan-lengan (1).jpg
Foto: cara-mengecilkan-lengan (1).jpg

Foto Nyeri Lengan (Orami Photo Stock)

Gejala sindrom kompartemen bisa berbeda-beda, berdasarkan jenisnya.

Gejala yang paling umum dari sindrom kompartemen akut adalah rasa sakit yang parah.

Rasa sakit ini biasanya tidak membaik setelah menjaga area yang cedera tetap tinggi atau minum obat.

Kaki atau lengan mungkin terasa lebih buruk saat meregangkannya atau menggunakan otot yang cedera.

Gejala lain yang dapat terjadi adalah rasa sesak di otot atau kesemutan, atau sensasi terbakar di kulit di sekitar area yang terkena.

Gejala sindrom kompartemen akut lanjut dapat mencakup mati rasa atau kelumpuhan. Ini biasanya merupakan tanda kerusakan permanen.

Sementara itu, sindrom kompartemen kronis memiliki gejala yang berbeda.

Nyeri atau kram saat berolahraga adalah gejala paling umum dari sindrom kompartemen kronis.

Setelah berhenti berolahraga, rasa sakit atau kram biasanya hilang dalam waktu 30 menit.

Namun, jika terus melakukan aktivitas yang menyebabkan kondisi ini, rasa sakit mungkin mulai berlangsung lebih lama.

Gejala lain yang dapat terjadi mungkin termasuk:

  • Mengalami kesulitan menggerakkan kaki, lengan, atau area yang terkena
  • Mati rasa
  • Tonjolan yang terlihat pada otot yang terkena

Baca juga: Waspadai Penyakit Klamidia, Rentan Mengganggu Kesuburan!

Penyebab Sindrom Kompartemen

jenis patah tulang.jpg
Foto: jenis patah tulang.jpg (kevinmcmanuslaw)

Foto Patah Tulang (Orami Photo Stock)

Seperti soal gejala, penyebab sindrom kompartemen pun berbeda berdasarkan jenisnya.

Sindrom kompartemen akut biasanya disebabkan oleh cedera parah, seperti kecelakaan mobil atau patah tulang.

Menurut studi pada 2010 di jurnal Clinical Orthopaedics and Related Research, ini dapat terjadi sebagai komplikasi trauma jaringan lunak.

Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah ketika aliran darah dipulihkan setelah sirkulasi tersumbat.

Ini mungkin terjadi setelah dokter atau ahli bedah memperbaiki pembuluh darah yang rusak yang telah tersumbat selama beberapa jam.

Berbaring terlalu lama dalam posisi yang sama juga bisa menyumbat pembuluh darah, meski kebanyakan orang akan bergerak dalam tidurnya.

Kemungkinan penyebab lainnya termasuk:

  • Patah tulang
  • Otot yang memar parah
  • Luka remuk
  • Penggunaan steroid anabolik
  • Gips atau perban yang terlalu ketat
  • Luka bakar

Sementara itu, sindrom kompartemen kronis ditandai dengan rasa sakit dan pembengkakan dan biasanya disebabkan oleh olahraga.

Aktivitas gerakan berulang lebih mungkin menyebabkan sindrom kompartemen kronis, seperti:

  • Berlari
  • Bersepeda
  • Renang
  • Pelatihan elips

Jenis sindrom kompartemen ini biasanya terjadi selama atau segera setelah berolahraga.

Komplikasi Jangka Panjang Sindrom Kompartemen

cedera-engkel.jpg
Foto: cedera-engkel.jpg

Foto Cedera Otot (Orami Photo Stock)

Seperti halnya penyakit lain, sindrom kompartemen juga memiliki risiko komplikasi jika tidak ditangani dengan baik.

Pada sindrom yang akut, komplikasi fatal bisa terjadi jika penanganan medis tidak segera dilakukan.

Sindrom kompartemen akut memerlukan perhatian medis segera untuk mengurangi tekanan.

Kerusakan permanen pada otot dan saraf dapat berkembang dalam beberapa jam.

Itulah sebabnya sindrom kompartemen akut termasuk keadaan darurat bedah dan dapat memerlukan amputasi jika tidak segera ditangani.

Sementara itu, sindrom kompartemen kronis tidak dianggap sebagai keadaan darurat.

Namun, Moms tetap harus memberi tahu dokter jika mengalami gejala apa pun.

Jangan mencoba berolahraga saat kesakitan atau mengalami gejala yang tadi dijelaskan.

Sebab, ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otot, pembuluh darah, dan saraf.

Pilihan Pengobatan untuk Sindrom Kompartemen

Pembedahan adalah satu-satunya pilihan pengobatan untuk jenis sindrom kompartemen akut.

Prosesnya melibatkan pemotongan fasia untuk mengurangi tekanan di kompartemen.

Dalam kasus yang parah, dokter harus menunggu bengkak mereda sebelum menutup sayatan, dan beberapa luka ini memerlukan pencangkokan kulit.

Jika mengalami kondisi ini karena gips atau perban yang ketat, maka apa yang menyebabkan tekanan harus dilepas atau dilonggarkan.

Baca juga: 10 Bahan Herbal untuk Obat Sakit Perut Alami, Coba Minum Air Jahe atau Teh Chamomile

Sementara itu, penanganan untuk sindrom kompartemen kronis cukup berbeda.

Dokter mungkin merekomendasikan metode perawatan non-bedah terlebih dahulu, termasuk:

  • Terapi fisik untuk meregangkan otot
  • Obat antiinflamasi
  • Mengubah jenis permukaan tempat berolahraga
  • Melakukan aktivitas berdampak rendah (low impact activity) sebagai bagian dari rutinitas olahraga
  • Mengangkat ekstremitas
  • Istirahat setelah aktivitas atau memodifikasi aktivitas
  • Membekukan ekstremitas setelah aktivitas

Jika metode ini tidak berhasil, dokter mungkin akan menyarankan pembedahan atau operasi.

Pembedahan umumnya lebih efektif daripada metode non-bedah untuk mengobati sindrom kompartemen kronis.

Itulah pembahasan mengenai sindrom kompartemen. Semoga bermanfaat!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4396671/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2835588/
  • https://www.healthline.com/health/compartment-syndrome
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/318581
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15315-compartment-syndrome

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.