27 September 2022

Alat Kontrasepsi Spermisida: Bentuk, Cara Menggunakan, Kelebihan, dan Kekurangannya

Pada umumnya berbentuk gel atau krim

Moms pernah mendengar tentang alat kontrasepsi pencegah kehamilan yang bernama spermisida?

Spermisida merupakan alat penunda kehamilan yang tersedia dalam bentuk gel, krim, busa, film, atau supositoria.

Ini diaplikasikan pada area vagina, lalu didiamkan hingga 30 menit sebelum melakukan hubungan intim, agar efektif dalam mencegah kehamilan.

Kontrasepsi ini mengandung bahan kimia bernama nonoxynol-9, yang berfungsi merusak sperma dan menghentikannya mencapai sel telur di dalam rahim.

Baca Juga: Keluarga Berencana (KB): Ketahui Tujuan, Manfaat, Metode KB yang Umumnya Digunakan

Bentuk-bentuk Spermisida

Spermisida
Foto: Spermisida (Verywellhealth.com)

Spermisida hadir dalam berbagai bentuk dan diaplikasikan dengan cara yang berbeda juga.

Moms dapat memilih bentuk yang paling sesuai dan nyaman digunakan.

Pastikan untuk membaca petunjuk pada kemasan dan cuci tangan sebelum mengoleskan spermisida ke vagina.

  • Gel atau Krim. Bentuk gel atau krim biasanya memiliki kemasan tube dan memiliki aplikator. Bentuk ini dapat dijadikan juga sebagai pelumas saat berhubungan.
  • Busa. Untuk bentuk ini biasanya memiliki kemasan kaleng aerosol.
  • Supositoria. Jenis satu ini tersedia dalam bentuk tablet yang meleleh begitu berada di dalam vagina.
  • Film. Ini berbentuk kertas tipis yang dapat meleleh begitu berada di dalam vagina.

Semua bentuk spermisida tersebut bisa dipilih sesuai kenyamanan pemakainya.

Melansir dari Cochrane Database of Systematic Reviews, mengungkap bahwa bentuk spermisida gel lebih disukai kebanykan orang daripada dalam bentuk film atau supositoria.

Ini mungkin karena bentuk gel dapat diaplikasikan lebih nyaman dibandingkan bentuk lainnya.

Baca Juga: 7 Alat Kontrasepsi Wanita yang Efektif Menunda Kehamilan, Pilih yang Paling Nyaman, Moms!

Cara Menggunakan Spermisida

Ilustrasi Spermisida
Foto: Ilustrasi Spermisida (Twitter.com/WomensCenter_FL)

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa alat kontrasepsi ini hadir dalam berbagai bentuk.

Memasukkan spermisida ke dalam vagina pada dasarnya cukup mudah, mirip ketika akan menggunakan atau memasukkan tampon.

Untuk menggunakannya, ikuti langkah-langkah berikut ini.

  • Pertama, periksa tanggal kedaluwarsa dan cuci tangan dengan bersih.
  • Ambil posisi yang nyaman dan rileks. Ini bisa dengan berdiri satu kaki di kursi, berbaring, atau jongkok.
  • Lalu masukkan perlahan krim, film, busa, gel, atau supositoria jauh ke dalam vagina menggunakan jari atau aplikator yang tersedia.

Karena terdapat banyak jenis kontrasepsi ini, maka ketika menggunakannya bacalah petunjuk yang disertakan dalam kemasan untuk memastikan Moms melakukan semuanya dengan benar.

Beberapa produk spermisida tidak langsung dapat efektif dan harus dimasukkan ke dalam vagina setidaknya 10-15 menit sebelum berhubungan intim.

Ini hanya efektif mencegah sperma masuk ke rahim selama 1 jam setelah memasukkannya ke dalam vagina.

Jika Moms akan berhubungan intim lebih dari satu kali, maka perlu menambahkan lebih banyak spermisida.

Namun, menggunakan kontrasepsi ini beberapa kali sehari dapat menyebabkan iritasi yang meningkatkan risiko Penyakit Menular Seksual (PMS), jadi sebaiknya gunakan kondom untuk perlindungan tambahan.

Baca Juga: KB Spiral: Jenis, Efek Samping, Keunggulan, dan Prosedur Pemasangan hingga Biayanya

Kelebihan Spermisida

Pasangan Berhubungan
Foto: Pasangan Berhubungan (Freepik.com/racool-studio)

Meskipun disebut sebagai kontrasepsi yang tidak terlalu ampuh, namun spermisida memiliki sejumlah kelebihan yang sayang untuk dilewatkan.

Melansir dari Planned Parenthood, berikut beberapa kelebihannya.

1. Gampang Digunakan

Alat kontrasepsi ini sangat portabel, sehingga Moms dapat membawanya ke mana-mana.

Untuk menggunakannya pun tidak memerlukan konsultasi atau resep dari dokter.

2. Nyaman Digunakan saat Berhubungan Intim

Spermisida digunakan dengan cara memasukkan atau mengaplikasikannya ke dalam vagina sebelum berhubungan.

Selain itu, Moms bisa menjadikan spermisida sebagai alat untuk foreplay dengan cara meminta pasangan memasukkannya ke dalam vagina.

3. Tidak Mengandung Hormon

Beberapa orang lebih memilih kontrasepsi non-hormonal, atau memiliki alasan terkait masalah medis, sehingga tidak dapat menggunakan kontrasepsi hormonal.

Bila memang seperti itu, maka spermisida adalah pilihan yang tepat sebaga metode menunda kehamilan.

Baca Juga: 10 Jenis Penyakit Menular Seksual serta Gejalanya, Termasuk Sifilis dan Herpes

Kekurangan Spermisida

Ilustrasi Nyeri Vagina
Foto: Ilustrasi Nyeri Vagina (Freepik.com/feepikcontributorthailand)

Spermisida akan sangat efektif jika menggunakannya dengan benar setiap kali berhubungan intim.

Hal tersebutlah yang menjadi salah satu kekurangan dari alat kontrasepsi ini.

1. Digunakan Setiap Berhubungan Intim

Agar spermisida bekerja dengan efektif, Moms harus menggunakannya setiap kali akan melakukan hubungan intim vaginal dengan cara yang tepat.

Bagi sebagian orang ini mungkin cukup merepotkan. Sehingga kebanyakan orang lebih memilih alat kontrasepsi dengan perlindungan yang lebih lama, seperti IUD.

2. Berisiko Terkena Penyakit Menular Seksual

Untuk yang berhubungan intim yang lebih dari satu pasangan, spermisida bukanlah pilihan yang tepat, sebab dapat membuat seseorang berisiko tinggi terkena penyakit menular seksual.

Hal tersebut karena bahan kimia dalam spermisida dapat mengiritasi vagina dan memudahkan bakteri PMS masuk ke dalam tubuh.

Ini dapat diminimalisir dengan penggunaan kontrasepsi tambahan seperti kondom. Kombinasi kondom dan spermisida akan sangat efektif mencegah kehamilan dan terhindar dari infeksi penyakit.

3. Dapat Memicu Iritasi

Kandungan nonoxynol-9, dalam spermisida, dapat berisiko mengiritasi jaringan genital yang sensitif, terutama jika Moms menggunakannya beberapa kali sehari.

Adanya iritasi tersebut dapat meningkatkan risiko terkena HIV dan PMS, karena memberikan jalur yang mudah terjadinya infeksi di dalam tubuh.

Selain itu, beberapa orang juga bisa berisiko mengalami alergi terhadap kandungan dari alat kontrasepsi ini.

Jika vagina atau penis Moms dan pasangan terasa sakit atau mengalami iritasi setelah berhubungan intim, itu menjadi bukti bahwa Moms dan pasangan alergi terhadap spermisida.

Jika hal tersebut terjadi, Moms bisa mencoba merek spermisida lain, atau mengganti alat kontrasepsi lain, seperti kondom atau pil KB.

Selain itu, segera dapatkan perawatan bila mengalami sejumlah efek samping lainnya, seperti:

  • Keputihan berbau busuk atau berwarna abnormal.
  • Ruam atau luka pada vagina.
  • Nyeri buang air kecil.
  • Demam.
  • Nyeri panggul atau perut.
  • Nyeri saat berhubungan intim.

Itu dia ulasan mengenai spermisida, salah satu pilihan pencegah kehamilan. Sudah pernah coba belum Moms?

  • https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/spermicide/what-are-benefits-spermicide
  • https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/spermicide/what-are-disadvantages-using-spermicide
  • https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/spermicide/how-do-i-use-spermicide
  • https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/22493-spermicide
  • https://americanpregnancy.org/unplanned-pregnancy/birth-control-pills-patches-and-devices/spermicide-2/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24085632/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.