Rupa-rupa

1 Oktober 2021

Cerita Sejarah Sunan Ampel dan Strategi Berdakwahnya yang Cerdas

Cara berdakwahnya yang penuh strategi membuat Islam lebih mudah diterima
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Merna
Disunting oleh Debora

Nama Sunan Ampel sangat dikenal karena menjadi salah satu Wali Songo yang ikut menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa.

Sunan Ampel menjadi satu-satunya Wali Songo yang tidak lahir di Indonesia karena beliau ini lahir di Campa pada tahun 1401. Campa sendiri adalah salah satu kerajaan yang berada di Vietnam.

Sunan Ampel dikenal dengan memiliki berbagai macam cara dalam berdakwah dan semuanya ini penuh dengan strategi yang cerdas.

Sehingga, tidak mengherankan kalau perjalanan berdakwahnya di Pulau Jawa bisa dikatakan sukses.

Ada banyak peninggalan dari Sunan Ampel yang bisa kita jumpai saat ini.

Salah satunya adalah Mesjid Agung Demak yang didirikannya bersama dengan Raden Patah yang merupakan raja pertama dari Kesultanan Demak.

Baca Juga: 10 Tradisi Jawa Tengah yang Hingga Kini Masih Dilestarikan

Nama Asli Sunan Ampel

Sunan Ampel

Foto: wikimedia.org

Sunan Ampel memiliki nama asli Raden Muhammad Ali Rahmatullah atau yang biasa dipanggil dengan nama Raden Rahmat.

Penamaan Sunan Ampel ini ada asal muasalnya.

Sunan Ampel bisa adalah keturunan bangsawan karena jika melihat dari silsilahnya, Sunan Ampel ini adalah anak dari puteri Raja Champa.

Selain itu, beliau juga merupakan keponakan dari Raja Majapahit.

Bibi dari Sunan Ampel adalah permaisuri dari Prabu Kertawijaya atau Brawijaya yang memerintah ulai tahun 1447-1451.

Ketika Sunan Ampel pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Jawa pada tahun 1443 bersama dengan saudaranya, yaitu Ali Musada dan Raden Burere, beliau menetap di Tuban.

Saat menetap di Tuban, Sunan Ampel mengunjungi kerajaan Majapahit untuk mengunjungi bibinya.

Raja Majapahit kemudian memberikan hadiah tanah yang berada di Ampeldenta, Surabaya.

Di tanah pemberian Raja Majapahit inilah Sunan Ampel kemudian mendirikan pondok pesantren dan mulai berdakwah.

Dari sinilah beliau mulai dijuluki dengan nama Sunan Ampel karena mengambil nama daerah tempatnya berdakwah untuk pertama kali.

Baca Juga: Mengenal Candi Singosari yang Jadi Peninggalan Terakhir Kerajaan Singasari

Cara Sunan Ampel Berdakwah

Cara Berdakwah Sunan Ampel

Foto: Pexels.com/GR Stocks

Sunan Ampel termasuk salah satu pendakwah yang sangat cerdas karena beliau memiliki beragam cara dalam berdakwah.

Beliau seolah tidak pernah kehabisan akal dalam berdakwah.

Beberapa cara berdakwah Sunan Ampel, yaitu:

1. Lima Ajaran Dasar yang Diajarkan Sunan Ampel

Ada lima ajaran dasar dari Sunan Ampel yang sangat populer di Jawa yakni moh limo.

Moh limo dalam bahasa Jawa memiliki arti ‘moh’ yang berarti tidak mau dan ‘limo’ yang artinya lima.

Arti dari moh limo ini, yaitu:

  • moh main, artinya tidak berjudi
  • moh ngombe, artinya tidak mabuk
  • moh maling, artinya tidak mencuri
  • moh madat, artinya tidak mengisap candu atau obat-obatan
  • moh madon yang artinya tidak melakukan zina.

Penerapan ajaran dasar ini bukan tanpa alasan.

Di masa itu, kebanyakan masyarakat Jawa menganut animisme, yaitu kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus dan roh gaib.

Selain itu, tradisi seperti sambung ayam, berjudi, hingga bersemadi masih kental di tanah Jawa.

Tentu saja kepercayaan ini bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Dengan adanya lima ajaran dasar tersebut, Sunan Ampel berharap masyarakat Jawa bisa terhindar dari hal-hal buruk seperti mabuk, berjudi, berzina, maling, dan menggunakan obat terlarang.

Baca Juga: 7 Ide dan Ciri Khas Dekorasi Pernikahan Jawa, Ada Maknanya Juga Lho!

2. Mengubah Nama Sungai

Mengubah Nama Sungai dalam Berdakwah

Foto: okezone.com

Ada strategi unik yang dilakukan Sunan Ampel dalam berdakwah yakni dengan cara mengubah nama sungai Brantas.

Sungai ini merupakan salah satu sungai terbesar dan terpanjang yang ada di Jawa Timur.

Sungai Brantas ini namanya diganti dengan nama Kali Emas.

Selain mengubah nama Sungai Brantas, Sunan Ampel juga mengubah nama pelabuhan Jelangga Manik dengan nama Tanjung Perak.

Penggunaan kata emas dan perak ini ada alasannya sendiri.

Dengan menyematkan kata emas dan perak, maka orang-orang akan berbondong-bondong datang ke Jawa Timur, terutama Surabaya karena percaya kalau di daerah tersebut terdapat harta karun yang melimpah seperti emas dan perak.

Banyaknya orang yang berbondong-bondong datang ke Jawa Timur membuat Sunan Ampel memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam.

Baca Juga: 7+ Tradisi Islam di Nusantara, Beda Daerah Beda juga Tradisinya, Unik!

3. Mendekatkan Istilah Islam dengan Bahasa Masyarakat Jawa

Untuk mendekatkan diri dengan masyarakat setempat, Sunan Ampel memiliki cara unik dalam berdakwah.

Caranya, yaitu dengan mendekatkan dan memadukan istilah-istilah Islam dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat Jawa.

Sebagai contoh, kata salat diganti dengan kata sembahyang yang sering digunakan oleh masyarakat Jawa ketika akan beribadah.

Tak hanya itu saja, kata musala juga diganti dengan nama langgar yang terdengar mirip dengan sanggar.

Sanggar adalah tempat pemujaan atau tempat menyimpan sesajen pada masyarakat Jawa.

Tentu saja dengan pendekatan inilah, Sunan Ampel bisa berdakwah dengan lebih lancar di tanah Jawa.

4. Menguasai Kebutuhan Pokok Masyarakat

Menguasai Kebutuhan Pokok

Foto: pexels.com/Polina Tankilevitch

Salah satu cara berdakwah Sunan Ampel lainnya dengan menguasai kebutuhan pokok masyarakat setempat.

Jadi, Sunan Ampel akan menyediakan pasokan kebutuhan pokok lalu membagikannya kepada masyarakat sambil berdakwah.

Pendekatan ini sangat ampuh dilakukan dan bisa membuat masyarakat tertarik untuk belajar agama Islam karena merasa Islam adalah agama yang mengajarkan untuk saling berbagi.

Ada satu hal yang dilakukan oleh Sunan Ampel di awal-awal masa berdakwahnya, yaitu membuat kerajinan tangan berupa kipas dengan bahan akar tumbuhan dan anyaman rotan.

Konon, kipas tersebut bisa menyembuhkan demam dan batuk.

Kipas tersebut dibagi-bagikan kepada masyarakat setempat secara gratis.

Masyarakat setempat hanya perlu mengucapkan kalimat syahadat.

Baca Juga: Kisah Nabi Muhammad SAW, Nabi dan Rasul Terakhir Suri Tauladan Umat Islam

5. Melakukan Pendekatan kepada Tokoh Masyarakat

Cara lain Sunan Ampel dalam berdakwah, yaitu dengan melakukan pendekatan terhadap tokoh-tokoh masyarakat dan orang-orang yang berpengaruh di Pulau Jawa.

Inilah yang menjadikannya mendapat julukan sebagai wali pendakwah di jalur politik.

Selain melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat, Sunan Ampel juga melakukan dakwah dengan cara membangun jaringan kekerabatan secara lebih luas.

Caranya, yaitu dengan menikahkan anak-anaknya dengan orang-orang penting di Pulau Jawa.

Sunan Ampel sendiri menikahi anak perempuan Bupati Tuban yang bernama Nyai Ageng Manila.

Istri keduanya adalah Dewi Karimah yang merupakan puteri dari Ki Wiroseroyo yang merupakan tokoh besar di tanah Jawa.

Sekarang Moms sudah tahu kan mengenai sejarah dari Sunan Ampel ini.

Dengan perjuangan dakwah dari Sunan Ampel inilah ada banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan.

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Ampel
  • https://tirto.id/sejarah-dan-profil-sunan-ampel-wali-pendakwah-di-jalur-politik-gbnj
  • https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5552462/kisah-wali-songo-sunan-ampel-keturunan-bangsawan-dengan-ajaran-moh-limo/2
  • https://regional.kompas.com/read/2021/04/04/080000478/mengenal-sunan-ampel-sosok-wali-songo-dan-caranya-sebarkan-islam-di?page=all
  • https://nasional.okezone.com/read/2021/04/25/337/2400315/kisah-sunan-ampel-menghidupkan-lagi-mbah-sholeh-sampai-9-kali
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait