15 Oktober 2022

Mengenal Penyakit Toxoplasma, Bisa Berdampak Fatal bagi Ibu Hamil!

Toxoplasma adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit

Toxoplasma adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit atau populer disebut Toxoplasma Gondii.

Parasit ini biasanya ditemukan di kotoran kucing dan daging mentah terutama pada daging rusa, domba, dan babi.

Selain itu, toxoplasma ini juga dapat ditularkan melalui air yang terkontaminasi.

Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat menyebabkan kematian hingga cacat lahir yang serius apabila ibu hamil terinfeksi.

Inilah mengapa dokter menyarankan agar ibu hamil tidak membersihkan kotoran kucing atau menyantap daging mentah.

Terlebih, kebanyakan orang yang mengalami toxoplasma tidak memiliki gejala sehingga sulit untuk dideteksi sejak dini.

Sementara itu, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), lebih dari 60 juta orang di Amerika terinfeksi parasit Toxoplasma Gondii.

Sedangkan orang yang paling berisiko terinfeksi toxoplasma tingkat serius ialah mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah dan bayi yang terlahir dari ibu yang terinfeksi toxoplasma selama kehamilan.

Berikut ini adalah informasi lengkap seputar Toxoplasma. Yuk disimak, Moms!

Baca Juga: 5 Penyakit Hewan yang Disebabkan oleh Virus dan Bisa Menyerang Manusia, Waspada!

Gejala Toxoplasma

Penjelasan Toxoplasma
Foto: Penjelasan Toxoplasma (cdc.gov)

Meskipun sebagian kasus toxoplasma tidak bergejala, namun sejumlah gejala berikut ini bisa mengindikasikan bahwa Moms terinfeksi parasit membahayakan tersebut.

Berikut ini gejala-gejala terinfeksi toxoplasma yang harus diwaspadai menurut CDC.

1. Gejala Awal Toxoplasma

Ada sejumlah gejala-gejala awal seseorang terinfeksi toxoplasma dan umumnya gejala ini dirasakan selama sebulan.

  • Demam
  • Kelenjar getah bening membengkak terutama di bagian leher
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Sakit tenggorokan

Gejala-gejala tersebut bisa berlangsung selama satu bulan atau lebih dan umumnya akan hilang dengan sendirinya jika Moms memiliki imun tubuh yang kuat.

2. Gejala yang Lebih Serius

Namun, gejala toxoplasma bisa berubah menjadi serius apabila orang yang terinfeksi memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Berikut ini gejala yang lebih serius apabila terinfeksi toxoplasma.

  • Radang otak, sakit kepala, kejang, kebingungan dan koma
  • Infeksi paru-paru, batuk, demam, dan sesak napas
  • Infeksi mata, penglihatan kabur, dan sakit mata

Baca Juga: Mengenal Virus TORCH yang Ditularkan Ibu Hamil pada Janin

3. Gejala Toxoplasma pada Ibu Hamil dan Bayi yang Baru Lahir

Sementara itu, apabila janin terinfeksi toxoplasma, maka gejala yang ditimbulkan bisa berupa gejala ringan atau berat.

Bahkan, jika ibu yang melahirkan terinfeksi penyakit ini selama masa kehamilan, maka kemungkinan bayi lahir cacat atau meninggal dunia sangat tinggi.

Melansir dari Medical News Today, bayi yang terlahir dengan membawa parasit toxoplasma akan mengalami gejala sebagai berikut:

Meski demikian, umumnya bayi yang terjangkit penyakit ini tidak menunjukkan gejala apapun saat awal kelahiran.

Namun, sejumlah masalah akan diketahui seiring tumbuh kembang bayi. Misalnya, mengalami masalah pada pendengaran, perkembangan mental, atau infeksi mata.

Oleh karenanya, penting untuk memeriksakan kandungan sesering mungkin selama masa kehamilan agar dapat diketahui dan ditangani sejak dini.

Sedangkan pada penderita gangguan kekebalan tubuh, gejala infeksi toxoplasma ditandai dengan:

  • Sulit bicara, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, pusing, tampak bingung, kejang, hingga koma, jika toksoplasmosis menyerang otak.
  • Ruam, demam, menggigil, lemas, dan sesak napas, jika toksoplasmosis menyebar ke seluruh tubuh.

Baca Juga: Mengenal Chikungunya, Penyakit Karena Virus yang Perlu Diwaspadai Ibu Hamil

Penyebab Toxoplasma

Toxoplasma
Foto: Toxoplasma (researchgate.net)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa parasit Toxoplasma Gondii merupakan penyebab toxoplasmosis atau toxoplasma.

Selain melalui kotoran kucing, menyantap daging mentah, dan kontaminasi air, toxoplasma juga dapat ditularkan melalui transfusi darah dan transplantasi organ.

Selain itu, parasit ini juga bisa ditemukan di tinja, wadah bekas tinja, atau barang yang terkontaminasi tinja namun tidak dicuci dengan bersih.

Oleh karena itu, mencuci seluruh barang bekas kotoran kucing atau tinja hingga bersih penting dilakukan untuk mencegah tertular toxoplasma.

Melansir dari National Health Service (NHS), di Amerika Serikat, parasit ditemukan dalam kotoran kucing.

Meskipun T. gondii ditemukan di hampir semua hewan berdarah panas, kucing adalah satu-satunya inang yang membawa parasit tersebut.

Hal ini karena telur parasit hanya bereproduksi secara seksual pada kucing.

Telur keluar dari tubuh kucing melalui ekskresi.

Kucing biasanya tidak menunjukkan gejala toksoplasmosis meskipun mereka adalah pembawa parasit atau inang yang menularkan parasit tersebut.

Baca Juga: Membedakan Penyebab Pilek Pada Bayi, Karena Virus atau Alergi?

Orang terinfeksi toksoplasmosis hanya jika mereka menelan parasit. Ini bisa terjadi jika terkena kotoran kucing yang terkontaminasi.

Ini kemungkinan besar terjadi saat membersihkan kotak kotoran tanpa mencuci tangan sesudahnya.

Menurut Birth Defect Research for Children, ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi untuk menularkan toksoplasmosis ke janin mereka melalui cara tersebut.

Untuk itu, sebaiknya meminta tolong orang lain untuk membersihkan kotoran kucing selama masa kehamilan.

Namun, jika Moms terpaksa harus membersihkan kotoran kucing sendiri, gunakan sarung tangan dan ganti kotak kotoran kucing setiap hari.

Umumnya, parasit tidak akan menular setelah lima hari dipisahkan dari inangnya (kucing).

Meski begitu, kasus manusia terkena toxoplasma dari kucing sangat jarang terjadi.

Terlebih jika kucing yang Moms pelihara tidak pernah keluar rumah sehingga kemungkinan membawa parasit sangat kecil.

Berbeda dengan kucing liar yang kemungkinan membawa parasit lebih tinggi.

Di Amerika, penyebab umum seseorang terinfeksi toxoplasma ialah karena makan daging mentah atau buah dan sayuran yang tidak dicuci hingga bersih.

Baca Juga: Rotavirus pada Bayi, Simak Gejala dan Cara Mencegahnya!

Pengobatan Toxoplasma

Konsultasi Dokter (Orami Photo Stocks)
Foto: Konsultasi Dokter (Orami Photo Stocks) (Orami Photo Stock)

Pengobatan toxoplasma tergantung pada gejala yang dirasakan, imun tubuh, hingga kondisi pasien.

Oleh sebab itu, berkonsultasi ke dokter ahli adalah cara paling tepat untuk mengetahui pengobatan apa yang cocok dengan gejala yang Moms rasakan.

Namun, melansir dari Mayo Clinic, ada sejumlah pengobatan toxoplasma yang dapat yakni:

1. Jika Tidak Bergejala

Jika Moms tidak mengalami gejala apapun, biasanya dokter tidak menyarankan untuk pengobatan. Sebab, orang dengan imun kuat akan dengan mudah sembuh dari parasit tersebut.

2. Bergejala Parah dan Serius

Namun, jika Moms merasakan gejala parah dan terjadi terus menerus hingga merasa sakit pada bagian mata maupun organ dalam, maka dokter akan meresepkan pirimetamin (Daraprim) dan sulfadiazin.

Pyrimethamine juga digunakan untuk mengobati malaria, sedangkan sulfadiazine adalah antibiotik.

Untuk menangani infeksi toxoplasma pada mereka yang mengidap gangguan sistem kekebalan tubuh, umumnya dokter meresepkan obat untuk mencegah berkembangnya gejala-gejala toxoplasma.

Hal ini karena pada pengidap yang bersifat carrier, parasit tetap berada di dalam tubuh pengidap dalam keadaan tidak aktif.

Ketika kekebalan tubuh menurun, parasit akan aktif kembali dan menyebabkan gangguan kesehatan yang serius.

Baca Juga: Apakah Ibu dengan HIV/AIDS Boleh Menyusui?

3. Pengobatan Toxoplasma pada Orang dengan HIV AIDS

Apabila Moms mengidap HIV AIDS maka perlu melakukan pengobatan seumur hidup.

Dalam hal ini, pyrimethamine menurunkan kadar asam folat dan termasuk dalam vitamin B.

Dokter juga akan meminta Moms untuk mengonsumsi vitamin B tambahan dengan konsumsi obat-obatan lainnya.

4. Pengobatan Toxoplasma pada Ibu Hamil

Jika Moms didiagnosa terinfeksi toxoplasma saat hamil, maka perawatan kehamilan yang dilakukan sedikit berbeda dengan ibu hamil tanpa infeksi toxoplasma.

Untuk mengetahui apakah toxoplasma memengaruhi janin, dokter perlu melakukan tes berupa:

  • Amniocentesis

Dokter akan mengambil sampel air ketuban penderita saat usia kehamilan di atas 15 minggu.

Dengan tes ini, bisa diketahui apakah janin turut terinfeksi toksoplasmosis atau tidak.

  • USG

Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat tanda-tanda tidak normal pada janin, seperti hideosefalus.

Setelah proses melahirkan, bayi akan menjalani serangkaian pemeriksaan untuk melihat adanya kerusakan akibat infeksi.

Selain itu, pengobatan juga tergantung dengan apakah janin dalam kandungan iku terinfeksi dan seberapa parah infeksinya?

Biasanya dokter akan memberikan saran terbaik untuk kasus-kasus tertentu.

Selain itu, pemberian resep antibiotik sesuai usia kehamilan juga diperlukan untuk mengurangi kemungkinan penularan ke janin.

Antibiotik seperti spiramycin umumnya direkomendasikan pada trimester pertama dan awal trimester kedua.

Kombinasi pirimetamin atau sulfadiazin dan leucovorin biasanya digunakan selama trimester kedua dan ketiga akhir.

Baca Juga: Mengenal Virus TORCH yang Ditularkan Ibu Hamil pada Janin

Cara Mencegah Toxoplasma

Kucing (Orami Photo Stock)
Foto: Kucing (Orami Photo Stock)

Seperti yang dikatakan pepatah 'lebih baik mencegah daripada mengobati', ada sejumlah cara yang bisa Moms lakukan agar terhindar dari parasit toxoplasma yakni:

1. Mencuci Tangan Setelah Beraktivitas di Luar Ruangan

Mencuci tangan setelah beraktivitas di tempat umum yang terbuka, seperti taman dan tempat bermain berpasir, bisa membantu mengurangi risiko infeksi.

Usahakan untuk tidak melakukan kontak langsung dengan hewan yang berpotensi terinfeksi, termasuk hewan peliharaan.

Jangan lupa, Moms juga harus cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan.

2. Mencuci Bahan Makanan dan Peralatan Memasak

Selalu cuci bersih buah dan sayuran sebelum diolah dan dikonsumsi.

Selain dicuci, buah dan sayur juga disarankan dikupas untuk mengurangi risiko infeksi.

Selain itu, mencuci dan masak semua makanan beku hingga matang sebelum dikonsumsi bisa membantu mengurangi risiko infeksi toxoplasma.

Setelah itu, cuci semua peralatan masak di dapur setelah digunakan untuk mengolah daging mentah.

Baca Juga: Selain Untuk Kebersihan, Ini Alasan Penting Moms Mencuci Buah dan Sayur

3. Hindari Mengonsumsi Makanan Mentah

Hindari konsumsi daging dan telur mentah atau yang setengah matang saat hamil.

Pastikan daging matang pada suhu yang tepat. Daging yang matang memiliki cairan atau kuah jernih dan daging tidak berwarna merah muda.

Selain itu, sebaiknya hindari mengonsumsi susu kambing yang tidak melalui proses pasteurisasi atau mengonsumsi produk yang terbuat dari susu serupa.

4. Menjaga Kebersihan Setiap Hari

Untuk mencegah penularan infeksi, usahakan untuk selalu mengenakan sarung tangan saat Moms berkebun atau mengurus tanaman. Kemudian cuci tangan dengan sabun dan air hangat.

Selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, agar tidak mudah terserang penyakit.

Baca Juga: 5 Cara Mencegah Penyakit Jantung Saat Hamil

Itulah serba serbi penjelasan mengenai parasit toxoplasma yang harus diwaspadai terutama pada ibu hamil.

Jangan lupa untuk selalu cek kesehatan secara berkala selama masa kehamilan ya, Moms.

  • https://www.healthline.com/health/toxoplasmosis#outlook
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/308568#treatment
  • https://birthdefects.org/healthy-baby/maternal-illness/toxoplasmosis/
  • https://www.cdc.gov/parasites/toxoplasmosis/gen_info/faqs.html
  • https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/medula/article/view/2138
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4157368/
  • https://birthdefects.org/healthy-baby/maternal-illness/toxoplasmosis/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.