Home & Living

10 April 2021

5 Bahaya Bulu Kucing, Bisa Menyebabkan Toksoplasmosis!

Bahkan bisa berakibat fatal untuk ibu hamil
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Adeline Wahyu

Yuk, simak 5 bahaya bulu kucing di rumah. Memiliki hewan peliharaan merupakan hobi bagi sebagian besar orang. Hewan peliharaan yang banyak diincar adalah kucing dan anjing. Kedua hewan ini memang sangat lucu dan imut, bahkan bisa mengerti perkataan pemeliharanya.

Makanya, para pemelihara bahkan tidak segan untuk berbagi makanan dan tempat tidur dengan hewan-hewan peliharaannya ini.

Di Amerika, survei menunjukkan bahwa 62% pemelihara kucing tidur dengan hewan peliharaan mereka di tempat tidur.

“Hewan peliharaan ini bisa memiliki beberapa kuman, cacing, dan kutu yang menjijikan,” jelas Bruno B. Chomel, profesor Sekolah Obat Veteriner dari University of California.

Baca Juga: Bayi Sering Bermain dengan Hewan Peliharaan, Boleh Tidak?

Padahal sebenarnya bulu kucing bisa menimbulkan bahaya kesehatan lho Moms. Menurut jurnal CDC Emerging Infectious Diseases, berbagi tempat istirahat kita dengan hewan peliharaan mungkin menjadi sumber kenyamanan psikologis, tetapi hal ini juga berisiko menimbulkan masalah kesehatan.

Apa saja bahaya bulu kucing yang bisa ditimbulkan? Yuk kita simak di bawah ini.

Bahaya Bulu Kucing

bahaya bulu kucing

Foto: pinterest.com

Apa saja sebenarnya bahaya bulu kucing ini? Simak di bawah ini ya!

1. Wabah Pes

Bahaya bulu kucing yang pertama adalah risiko penyakit pes atau sampar dari kutu yang ada pada bulu kucing.

Bruno B. Chomel menceritakan berbagai kasus wabah yang terkait dengan orang yang tidur dengan kucing. Salah satunya adalah seorang bocah lelaki berusia 9 tahun dari Arizona yang tidur dengan kucingnya yang sakit.

Bulu kucing dan anjing dapat membawa kutu pes tanpa menunjukkan gejala penyakit.

2. Penyakit Chagas

Akibat bahaya bulu kucing adalah penyakit chagas, yang merupakan penyakit yang berpotensi fatal yang disebabkan oleh parasit protozoa. Ini biasanya disebarkan karena kita "mencium kutu" dan serangga penghisap darah lainnya.

Baca Juga: Kesetiaan Jadi Alasan, Ini 5 Artis yang Memelihara Anjing dan Menyayanginya

Tetapi satu studi dari Argentina menunjukkan bahwa orang yang memiliki anjing dan kucing berisiko lebih tinggi terhadap penyakit ini dan tingkat infeksi secara signifikan lebih tinggi bagi mereka yang tidur dengan kucing serta anjing.

3. Penyakit Cakar Kucing

Jenis penyakit ini juga merupakan salah satu akibat dari bahaya bulu kucing. Saat kamu mengelus bulu kucing kemudian menyeka bagian mata kamu menggunakan tangan yang sudah terkontaminasi bakteri, hal ini bisa terjadi.

Biasanya hal ini akan diikuti dengan munculnya sebuah benjol kecil dalam waktu sekitar 10 hari. Benjolan ini diikuti dengan gejala mual, muntah, demam, menggigil, lelah, peradangan, dan rasa nyeri pada bagian kelenjar getah bening.

Bahkan bagi mereka yang mengalami gangguan daya tahan tubuh, kondisi ini bisa mengakibatkan masalah kesehatan yang lebih serius.

4. Alergi Kucing

Genetika tampaknya berperan dalam perkembangan alergi, artinya anak lebih mungkin mengalaminya jika Moms memiliki riwayat anggota keluarga yang juga alergi kucing.

Sistem kekebalan Si Kecil akan membuat antibodi untuk melawan zat yang mungkin melukai tubuh mereka, seperti bakteri dan virus. Pada orang yang memiliki alergi, sistem kekebalan salah mengira alergen sebagai sesuatu yang berbahaya dan mulai membuat antibodi untuk melawannya. Inilah yang menyebabkan gejala alergi seperti gatal, pilek, ruam kulit, dan asma.

Dalam kasus alergi kucing, alergen dapat berasal dari bulu kucing (kulit mati), bulu, air liur, dan bahkan urinnya. Menghirup bulu hewan atau bersentuhan dengan alergen ini dapat menyebabkan reaksi alergi. Partikel alergen hewan peliharaan dapat terbawa ke pakaian, bersirkulasi di udara, menetap di furnitur dan tempat tidur, dan tertinggal di lingkungan terbawa partikel debu.

Tanda-tanda umum alergi kucing biasanya muncul segera setelah bersentuhan dengan bulu kucing, air liur, atau urin. Alergen kucing yang lebih dari 90 persen dipercaya orang berasal dari air liur dan kulit kucing. Ini ditemukan di tingkat yang lebih tinggi pada kucing jantan.

Alergen dapat menyebabkan pembengkakan dan gatal pada selaput di sekitar mata dan hidung, biasanya menyebabkan radang mata dan hidung tersumbat. Beberapa orang mungkin mengalami ruam di wajah, leher, atau dada bagian atas sebagai respons terhadap alergen.

Reaksi-reaksi ini akan terjadi jika orang yang sensitif memasuki ruangan di mana kucing pernah berada di tempat itu, bahkan jika kucing itu sudah tidak ada. Alergi dan sensitivitas ini terjadi karena bulu kucing yang masih tertinggal.

Baca Juga: Waspadai Alergi Saat Hamil

5. Toksoplasmosis

Kucing adalah inang alami jenis parasit ini, dan kotorannya dapat membawa jutaan telur parasit.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebagian besar orang yang menderita toksoplasmosis tidak pernah memiliki gejala sama sekali. Namun lebih dari 60 juta orang di Amerika Serikat terinfeksi parasit ini.

Pada wanita hamil, penyakit ini bisa membahayakan janin dalam kandungan jika terinfeksi. Jadi berhati-hati ya Moms.

Cara Mengetahui Alergi Bulu Kucing

bahaya bulu kucing

Foto: babycentre.com

Bahaya bulu kucing memang tidak bisa dianggap sepele. Nah, Moms juga harus tahu nih apakah Moms juga alergi kucing atau tidak jika ingin memelihara hewan ini.

Pada skala ringan, seseorang dengan alergi kucing mungkin bersin dan mengalami mata gatal saat ada kucing. Gejala yang lebih parah bisa termasuk mengi.

Reaksi ini dapat terjadi jika orang yang sensitif memasuki ruangan tempat kucing berada, meskipun kucing itu tidak ada.

Alergi dan kepekaan dapat menjadi tantangan untuk ditentukan karena kebanyakan orang terpapar beberapa kemungkinan alergen pada satu waktu.

Baca Juga: Jangan Sampai Salah, Ini Ciri, Harga, dan Cara Merawat Kucing Persia

Cara terbaik untuk memastikan kecurigaan alergi kucing adalah dengan menemui dokter untuk pemeriksaan alergi.

Jika sudah terkonfirmasi alergi kucing, maka bahaya bulu kucing merupakan hal yang selanjutnya harus diperhatikan.

Mengurangi Bahaya Bulu Kucing

bahaya bulu kucing

Foto: medicalnewstoday.com

Ada beberapa cara untuk mengurangi paparan bahaya bulu kucing dan membuat rumah Moms lebih nyaman bagi seseorang yang sensitif terhadap kucing.

Jika Moms khawatir tentang bahaya bulu kucing, delegasikan memandikan dan merawat kucing kepada orang lain. Layanan grooming atau mobile groomer adalah pilihan untuk menjaga kebersihan kucing.

Membelai kucing saat ia berada di dekat kita atau sedang duduk di pangkuan kita merupakan reflek yang pasti akan semua orang lakukan. Namun ingat, cuci tangan Moms setelah menyentuhnya.

Sedot debu secara teratur juga diperlukan, termasuk pada semua permukaan yang digunakan oleh kucing, seperti kain pelapis, tempat duduk dekat jendela, kusen jendela, dan pohon kucing.

Permadani dan karpet harus dicuci juga secara teratur. Alat pembersih udara atau sistem penyaringan udara HEPA akan membantu menghilangkan alergen.

Baca Juga: Sebelum Memelihara, Ketahui 18 Cara Merawat Kelinci dengan Baik

Itu dia beberapa akibat bahaya bulu kucing. Terus berhati-hati ya Moms.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait