07 Maret 2024

Batasan Aurat Laki-Laki Menurut Syariat Islam, Pahami Dads!

Menutup dada juga penting, meski bukan termasuk aurat laki-laki

Islam mewajibkan umatnya yang beriman untuk menutup aurat mereka. Bukan hanya bagi wanita, batasan aurat laki-laki pun wajib diperhatikan. 

Aurat dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah “An-Naqsu”, yang berarti kurang atau malu.

Namun, secara ilmiah, Dads pasti tau bahwa aurat adalah sesuatu yang tidak boleh dilihat atau diperlihatkan kepada orang lain.

Aurat sering kali hanya dikaitkan dengan perempuan, padahal batasan aurat laki-laki dalam Islam juga wajib diikuti.

Bagaimanapun, Islam memberikan petunjuk yang sudah diatur secara syariat untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan laki-laki.

Dads sudah tahu betul batasan aurat laki-laki? Yuk, simak selengkapnya berikut ini!

Baca Juga: 7+ Keutamaan dan Hadis Menutup Aurat, Yuk Amalkan Agar Terhindar dari Godaan Setan!

Batasan Aurat Laki-laki Menurut Mazhab dalam Islam

Ilustrasi Salat
Foto: Ilustrasi Salat (Freepik.com)

Dalam kehidupan sehari-hari, batasan aurat laki-laki umumnya tidak terlalu diperhatikan.

Sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari ketika laki-laki memakai baju dan celana ketat atau memakai celana pendek sampai ke lutut.

Bahkan, saat dalam kondisi santai seperti di rumah atau olahraga di sekitar rumah, kaum pria sering kali hanya memakai celana pendek dan ketat di atas lutut.

Mereka juga kerap memperlihatkan kejantanannya dari dada sampai perut dan pusar.

Mengutip dari Az Islam, hal seperti itu bisa saja menimbulkan nafsu dan memudahkan setan untuk melancarkan tipu dayanya.

Padahal, syariat Islam telah mengatur pakaian laki-laki yang dituang dalam hadits.

1. Batasan Aurat Laki-laki Menurut Mazhab Imam Hanafi dan Hanbali

Beberapa aturan Islam, termasuk batasan aurat laki-laki, memiliki perbedaan pendapat tergantung pada mazhab yang diikuti.

Mengutip dari Al Islam, Imam Hanafi dan Hanbali menyatakan bahwa batasan aurat laki-laki yang wajib ditutup adalah antara pusar dan lutut, kecuali untuk istrinya.

Hal tersebut berlaku baik dengan saudara, teman, atau orang lain.

Jika Dads memperlihatkan bagian tubuh yang berada dalam batasan aurat laki-laki tersebut, maka ini termasuk dosa.

Jadi, apabila seorang mukmin laki-laki memakai celana pendek di atas lutut, jelas itu tidak sesuai dengan syariat Islam.

Allah mencintai hamba-Nya yang taat, termasuk hamba-hamba-Nya yang menaati perintah-Nya dalam menutup auratnya. 

Karena paha juga termasuk dalam batasan aurat laki-laki, maka dalam hadits Jurhud, ketika Nabi Muhammad SAW melewatinya dan kain penutup pahanya terbuka, kemudian beliau bersabda:

"Sembunyikan itu (pahamu), karena itu adalah aurat," (HR.Malik).

Hal ini juga diperkuat dengan hadis riwayat Abu Daud berikut:

"Jangan tunjukkan pahamu dan juga jangan lihat paha orang yang masih hidup atau sudah mati," (HR.Abu Dawud).

2. Batasan Aurat Laki-laki Menurut Mazhab Imam Maliki dan Syafi’i

Imam Maliki dan Syafi'i memiliki pandangan tersendiri tentang batasan aurat laki-laki.

Mazhab ini mengatakan ada dua situasi yang berbeda mengenai sejauh mana seorang pria dapat memperlihatkan tubuhnya.

Pertama, di hadapan pria atau wanita yang menjadi mahramnya, batas aurat laki-laki adalah antara pinggang atau pusar dan lutut.

Hal ini serupa dengan mazhab Imam Hanafi dan Hanbali.

Namun, jika termasuk golongan kedua, yakni berada di hadapan orang-orang yang bukan mahramnya, maka mereka tidak boleh melihat bagian tubuh pria mana pun.

Meskipun kaum Maliki mengecualikan wajah dan lengan jika dilihat tanpa motif sensual, Imam Syafi'i tetap tidak mengizinkan pengecualian apa pun.

Baca Juga: Norma Agama: Pengertian, Fungsi, Tujuan, hingga Sanksi

Apakah Laki-laki Boleh Melihat Aurat Laki-laki Lain?

Salat Berjamaah
Foto: Salat Berjamaah (Orami Photo Stocks)

Tak hanya sebatas di depan wanita, sesama pria juga tidak boleh melihat aurat satu sama lain, sekalipun mereka saudara atau teman dekat.

Hal ini disebutkan dalam hadis yang berbunyi:

"Dan janganlah seorang laki-laki melihat aurat yang lain dan seorang laki-laki tidak boleh bersama laki-laki lain dalam satu pakaian," (HR.Muslim).

Ambil contoh, seorang laki-yang tinggal di satu tempat seperti rumah kos atau rumah kontrakan maupun berada dalam kegiatan silaturahmi bersamaan.

Meski berada dalam satu lokasi, mereka tetap harus memperhatikan batasan aurat laki-laki. 

Terkadang sesama laki-laki memakai pakaian yang menurutnya paling nyaman, seperti baju dan celana yang sangat pendek.

Hal ini karena banyak dari mereka yang beranggapan bahwa sesama lelaki tidak masalah memakai pakaian seperti itu, atau mengabaikan batasan aurat laki-laki. 

Akan tetapi, itu tidak dibenarkan dalam Islam sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis tentang aurat laki-laki.

Di mana pun para lelaki berkumpul, mereka tetap wajib menyembunyikan auratnya secara utuh alias memperhatikan batasan aurat laki-laki.

Sudah jelas bahwa batasan aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.