02 Mei 2023

Bayi Meninggal karena Suara Petasan di Gresik, Ini Faktanya!

Bayi mengalami pendarahan otak, Moms
Bayi Meninggal karena Suara Petasan di Gresik, Ini Faktanya!

Foto: Freepik

Baru-baru ini viral bayi meninggal karena suara petasan di Desa Jatirembe, Kecamatan Benjeng, Gresik, Jawa Timur.

Bayi yang meninggal pada Kamis, 27 April 2023, itu sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Namun sayangnya, nyawanya tidak terselamatkan karena menurut dokter, terdapat pembuluh darah yang pecah dan penggumpalan darah.

Yuk, Moms simak fakta-fakta mengenai bayi meninggal karena suara petasan di bawah ini.

Baca Juga: 9+ Ciri Pendarahan setelah Caesar, Moms Wajib Waspada!

Bayi Meninggal karena Suara Petasan

Ini dia Moms informasi yang bisa diketahui seputar bayi meninggal karena suara petasan di Gresik.

1. Mendengar Ledakan Petasan

Kembang Api
Foto: Kembang Api (Freepik.com/rawpixel-com)

Anak kedua dari pasangan Nur Hasim dan Nur Faizah mendengar suara petasan ketika Idul Fitri pada Sabtu, 22 April 2023.

Saat itu, bayi dan kedua orang tuanya tengah istirahat di kamar dan mendengar suara petasan.

Menurut tante dari bayi tersebut, ketika mendengar suara petasan, sang bayi langsung kaget hingga mata kanannya menutup sebelah dan lidahnya terbaik ke atas.

Suara tersebut disebutkan membuat bayi N langsung kejang.

2. Dilarikan ke Rumah Sakit

Melihat kondisinya, bayi meninggal karena suara petasan tersebut langsung dibawa ke puskesmas.

Namun, saat itu pelayanan puskesmas sudah tutup. Bayi N langsung dirawat oleh bidan dan kemudian dirujuk ke rumah sakit.

Sesampainay di RS Denisa di Jalan Wahidin Sudirohusodo, Gresik, ia mendapatkan penambahan trombosit.

Namun, RS Denisa menyarankan untuk dibawa ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan keluarga membawanya ke RS Muhammadiyah Lamongan.

Bayi N langsung masuk ke ruang ICU dan melakukan CT scan. Hasil CT scan menunjukkan bahwa pembuluh darah otaknya pecah.

Bayi tersebut pun meninggal pada Kamis, 27 April 2023.

Baca Juga: Apakah Obesitas Mempengaruhi Otak Bayi?

3. Penyulut Petasan

Tante dari bayi meninggal karena suara petasan itu mengaku sudah mengingatkan kepada tetangganya untuk tidak bermain petasan karena ada bayi.

Letak rumahnya hanya berjarak dua rumah. Namun, imbauan tersebut tidak digubris.

Saat menyulut petasan, tetangga tersebut mengarahkan ke atas rumah.

Penyulut petasan diketahui tidak meminta maaf dan tidak melayat saat mengetahui bayi N meninggal.

Keluarga korban sudah mengikhlaskan kepergian bayi N, tapi tidak menyangka bahwa tetangganya tidak ada itikad baik.

4. Menurut Dokter Rumah Sakit

Menurut dokter rumah sakit, penyebab pembuluh darah pecah biasanya karena benturan.

Namun, bayi meninggal karena suara petasan tersebut tidak pernah terbentur, maka pecahnya pembuluh darah bisa disebabkan karena kaget luar biasa.

Baca Juga: 21+ Gerakan Brain Gym untuk Bayi dan Anak, Yuk Tingkatkan Kemampuan Otak Si Kecil!

Serba-serbi Pendarahan Otak pada Bayi

Ilustrasi Bayi
Foto: Ilustrasi Bayi (Orami Photo Stocks)

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bayi meninggal karena suara petasan tersebut terjadi karena adanya pendarahan otak.

Pendarahan otak bisa dialami siapa saja termasuk bayi baru lahir.

Pendarahan ini bisa terjadi karena cedera lahir, seperti:

  • Asfiksia lahir (kekurangan oksigen selama atau sekitar waktu kelahiran)
  • Trauma lahir (cedera yang disebabkan oleh kekuatan mekanis yang berlebihan pada kepala bayi).

Tidak hanya itu, penyebab pendarahan otak pada bayi juga sangat beragam mulai dari benturan hingga kelainan ketika lahir.

Gejala pendarahan otak pada bayi bisa berupa:

  • Kejang
  • Tangisan bernada tinggi
  • Refleks menurun
  • Berhenti bernapas, atau apnea
  • Kulit menjadi pucat atau biru (sianosis)
  • Kelesuan atau koma
  • Detak jantung lambat (bradikardia)
  • Pembengkakan atau penonjolan bintik-bintik lunak di kepala bayi
  • Penurunan tonus otot
  • Jumlah sel darah merah rendah
  • Gerakan mata yang tidak normal.

Nah, mengutip dari berbagai sumber, suara petasan tersebut bisa menjadi trigger awal dari pendarahan di otak bayi.

Kondisi pecahnya pembuluh darah di otak bayi berisiko pada bayi prematur dan defisiensi vitamin K.

Baca Juga: Hiperakusis, Kondisi Pendengaran yang Terlalu Peka Menangkap Suara

Risiko Bayi Mendengarkan Suara Keras

Ilustrasi Pendengaran Bayi
Foto: Ilustrasi Pendengaran Bayi

Selain informasi mengenai bayi meninggal karena suara petasan, bayi yang mendengarkan suara terlalu keras juga berisiko pada pendengarannya, Moms.

Mengutip dari Centers for Disease Control and Prevention, bayi yang mendengarkan suara terlalu keras memiliki risiko:

  • Menyebabkan stres yang dapat berpengaruh terhadap perubahan tumbuh kembang bayi.
  • Bisa merusak pendengaran bayi hingga kehilangan pendengaran.
  • Mengganggu perkembangan bahasa anak karena bayi kesulitan membedakan suara.
  • Bayi cenderung kurang bermain karena menghindari berinteraksi dengan orang dewasa.
  • Tidak memiliki perhatian karena kesulitan mendengar.

Itulah informasi seputar bayi meninggal karena suara petasan yang bisa Moms ketahui.

  • https://www.thebump.com/a/moro-reflex
  • https://www.abclawcenters.com/practice-areas/prenatal-birth-injuries/traumatic-birth-injuries/intracranial-hemorrhages/#:~:text=Infant%20intracranial%20hemorrhages%20(otherwise%20known,force%20to%20the%20baby's%20head).
  • https://www.bila.ca/2022/02/signs-brain-bleeds-newborns/#:~:text=High%2Dpitched%20cry,Pale%20or%20blue%20coloring%20(cyanosis)
  • https://www.babycenter.in/x1021739/can-my-toddlers-hearing-be-affected-by-loud-volume

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.