17 April 2023

Detak Jantung Terasa Lebih Lambat? Bisa Jadi Bradikardia!

Detak jantung lebih lambat dari biasanya pertanda adanya komplikasi, lho!

Apakah Moms pernah mendengar dengan kondisi bradikardia?

Moms dan Dads tentu telah menyadari betapa pentingnya fungsi jantung di dalam tubuh. Jika jantung melambat, tentu hal ini perlu diwaspadai.

Normalnya, jantung berdetak sebanyak 60 kali atau lebih per menit. Namun kondisi yang disebut bradikardia membuat detak jantung lebih lambat.

Berikut ini adalah penyebab dan cara mencegah bradikardia.

Pengertian Bradikardia

Ilustrasi Detak Jantung
Foto: Ilustrasi Detak Jantung (Orami Photo Stock)

Bradikardia adalah sebuah kondisi dimana detak jantung melemah atau lebih lambat dari biasanya. Lambat atau tidaknya denyut jantung dapat bergantung pada usia dan kondisi fisik seseorang.

Kondisi bradikardia biasanya rentan dialami oleh orang lanjut usia atau lansia.

Denyut jantung adalah berapa kali jantung Moms dan Dads berdetak dalam satu menit.

Denyut jantung merupakan ukuran aktivitas jantung. Denyut jantung bisa dikatakan lambat jika jantung berdetak kurang dari 60 kali per menit untuk orang dewasa.

Dalam beberapa kasus, detak jantung yang lambat bukan merupakan masalah serius, justru merupakan salah satu indikasi jantung yang sehat.

Salah satu contohnya adalah atlet. Seorang atlet biasanya memiliki detak jantung yang lebih rendah dari kebanyakan orang karena jantungnya sangat kuat dan tidak harus bekerja keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Namun, jika detak jantung yang lebih lambat jarang terjadi atau disertai gejala lain, ini bisa menjadi tanda kondisi yang lebih serius.

Mengutip dari National Health Service, jantung merupakan pusat sistem sirkulasi darah di dalam tubuh, bertugas memompa darah ke seluruh tubuh saat jantung berdetak.

Darah mengalirkan oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh, serta membawa karbondioksida dan limbah yang tidak diinginkan.

Baca Juga: Mengenal Penyakit Kawasaki yang Bahayakan Jantung Bayi

Gejala Bradikardia

Gejala Bradikardia (freepik.com)
Foto: Gejala Bradikardia (freepik.com)

Kondisi bradikardia bisa menjadi masalah serius jika jantung tidak memompa cukup darah ke seluruh tubuh, tubuh akan kekurangan oksigen dan akan memicu kondisi serius jika tidak segera ditangani.

Jika Moms dan Dads mengalami bradikardia akan membuat tubuh kekurangan oksigen, gejala-gejala berikut ini mungkin akan terlihat, antara lain:

  • Penurunan kesadaran
  • Pusing
  • Pingsan
  • Cepat merasa lelah
  • Sesak napas
  • Nyeri pada dada
  • Mudah bingung
  • Sakit kepala
  • Pucat
  • Warna kulit mengalami kebiruan (sianosis)

Baca Juga: Mengenal Perbedaan Syok Kardiogenik dan Serangan Jantung

Penyebab Bradikardia

Konsultasi Brakikardia (freepik.com)
Foto: Konsultasi Brakikardia (freepik.com)

Penyebab bradikardia biasanya meningkat seiring bertambahnya usia. Penyebab bradikardia bisa sangat bervariasi, tergantung kondisi tubuh masing-masing orang.

Beberapa penyebab bradikardia, yaitu:

1. Sedang Dalam Pengobatan

Salah satu penyebab bradikardia adalah akibat obat-obatan tertentu seperti obat untuk mengobati tekanan darah tinggi, aritmia, atau obat untuk mengobati detak jantung tidak normal.

2. Cacat Jantung Bawaan

Penyebab bradikardia selanjutnya adalah akibat cacat bawaan atau kondisi yang dialami sejak lahir.

Cacat jantung bawaan seringkali disertai dengan masalah dengan konduksi jantung.

Masalah ini dapat menyebabkan detak jantung lambat (bradikardia), detak jantung cepat (takikardia), atau irama jantung tidak teratur, yang juga disebut aritmia.

3. Hipotiroidisme

Penyakit tiroid juga dapat menjadi penyebab bradikardia. Hormon tiroid memiliki fungsi yang sangat banyak untuk tubuh kita.

Di antaranya adalah untuk menjaga fungsi jantung agar tetap bekerja secara normal.

Mengutip jurnal Hypothyroidism and the Heart, ketika tubuh tidak memiliki cukup hormon tiroid (hipotiroidisme), maka dampaknya cukup besar pada fungsi jantung, seperti dapat mempengaruhi kinerja pompa jantung, resistensi pembuluh darah, tekanan darah, dan irama jantung.

4. Gangguan Pernapasan Saat Tidur

Gangguan pernapasan saat tidur atau yang dikenal dengan sleep apnea, juga menjadi salah satu penyebab terjadinya bradikardia karena kecenderungannya yang mengganggu pola tidur.

Dalam sebuah penelitian pada British Medical Journal, mengatakan bahwa 8% dari 95% orang yang mengalami kondisi bradikardia ditemukan pada pasien dengan gangguan pernapasan saat tidur (sleep apnea).

5. Faktor Lainnya

Dalam sumber lainnya, bradikardia dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kerusakan jaringan jantung akibat bertambahnya usia
  • Kerusakan jaringan jantung akibat penyakit jantung atau serangan jantung
  • Infeksi jaringan jantung (miokarditis)
  • Komplikasi operasi jantung
  • Ketidakseimbangan bahan kimia dalam darah, seperti kalium atau kalsium
  • Penyakit radang, seperti demam rematik atau lupus

Baca Juga: 5 Cara Menjaga Kesehatan Jantung Agar Tetap Sehat

Pencegahan Bradikardia

Buah-buahan (Orami Photo Stock)
Foto: Buah-buahan (Orami Photo Stock)

Cara paling efektif untuk mencegah bradikardia adalah mengurangi risiko penyakit jantung.

Jika Moms dan Dads sudah memiliki penyakit jantung bawaan, tetap ikuti terus rencana perawatan penyakit jantung untuk menurunkan risiko bradikardia.

Untuk mengobati atau menghilangkan faktor risiko yang dapat menyebabkan penyakit jantung, langkah-langkah di bawah ini bisa Moms dan Dads terapkan sehari-hari.

1. Mengonsumsi Makanan Sehat

Untuk mencegah bradikardia adalah dengan mengurangi risiko penyakit jantung. Salah satu caranya adalah dengan memilih makanan dan camilan yang sehat.

Perbanyak makan buah dan sayur, kurangi konsumsi makanan olahan.

Hindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan lemak trans, membatasi penggunaan gula, garam (natrium/sodium), sehingga dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung.

2. Mengontrol Tekanan Darah

Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung.

Penting untuk memeriksakan tekanan darah Moms dan Dads secara teratur atau setidaknya setahun sekali untuk kebanyakan orang dewasa.

Usahakan untuk menjalani gaya hidup sehat yang dapat menormalkan tekanan darah.

3. Mengontrol Berat Badan Ideal

Apapun yang berlebihan tentu tidak sehat, begitu juga dengan berat badan yang berlebihan. Obesitas telah diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Hal ini karena kondisi tubuh obesitas biasanya terkait dengan faktor risiko penyakit jantung lainnya, termasuk kadar kolesterol dan trigliserida darah tinggi, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

4. Berolahraga Secara Teratur

Cara mencegah bradikardia adalah dengan berolahraga secara teratur. Olahraga memiliki banyak manfaat, termasuk memperkuat jantung dan meningkatkan sirkulasi darah.

Olahraga juga dapat membantu Moms dan Dads mempertahankan berat badan yang sehat dan menurunkan kolesterol serta tekanan darah.

Semua ini dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan mencegah bradikardia.

5. Kelola Stres

Beberapa penelitian telah menemukan kaitan stres dengan penyakit jantung serta dapat meningkatkan tekanan darah.

Stres yang ekstrim bisa menjadi pemicu serangan jantung.

Selain itu, beberapa cara yang dilakukan untuk mengatasi stres, seperti makan berlebihan, banyak minum, dan merokok, berdampak buruk bagi jantung.

Beberapa cara untuk membantu mengelola stres yang baik dan benar adalah berolahraga, mendengarkan musik, fokus pada sesuatu yang tenang atau damai, dan bermeditasi.

6. Tidur Cukup

Kurangnya waktu tidur juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, obesitas, dan diabetes. Ketiga hal tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Kebanyakan orang dewasa membutuhkan 7 hingga 9 jam tidur setiap malam. Pastikan Moms dan Dads memiliki kebiasaan tidur yang baik.

Baca Juga: Cegah Penyakit, Ajarkan Si Kecil 3 Kebiasaan Menjaga Kesehatan Jantung Anak Ini

Mengetahui Detak Jantung Normal

Cara Mengukur Detak Jantung (freepik.com)
Foto: Cara Mengukur Detak Jantung (freepik.com)

Ada beberapa cara untuk mengetahui apakah detak jantung Moms dan Dads normal atau tidak.

Selain dengan bantuan alat, Moms dan Dads dapat mengukur detak jantung sendiri dengan cara mendekatkan jari ke arteri radial di pergelangan tangan.

Kemudian, hitung jumlah detak per menit saat Moms dan Dads sedang beristirahat. Lokasi tubuh lainnya untuk mengukur detak jantung adalah di leher (arteri karotis), selangkangan (arteri femoralis), dan kaki.

Berikut ini beberapa angka yang perlu diperhatikan ketika mengukur detak jantung sendiri.

  • Detak jantung orang dewasa yang sedang istirahat biasanya 60-100 kali per menit. Atlet atau orang yang sedang menjalani pengobatan tertentu mungkin memiliki tingkat istirahat normal yang lebih rendah.
  • Detak jantung normal untuk anak usia 1-12 tahun adalah 80-120 kali per menit.
  • Detak jantung normal untuk bayi usia 1-12 bulan adalah 100-170 kali per menit.

Ada saat-saat detak jantung lambat merupakan hal yang normal bagi beberapa orang, terutama bagi atlet. Bagi seorang atlet, bradikardia bukanlah sebuah kondisi yang mengkhawatirkan.

Tetapi, jika Moms dan Dads mengalami gejala-gejala bradikardia seperti mual, muntah, pingsan, mudah lelah dan lain sebagainya, Moms dan Dads perlu konsultasi dokter untuk mendapatkan perawatan.

Baca Juga: Jadi Kontroversi, Apa Benar Telur Bisa Membuat Jantung Lebih Sehat?

Komplikasi Bradikardia

Ilustrasi Kesehatan Jantung (freepik.com)
Foto: Ilustrasi Kesehatan Jantung (freepik.com)

Evaluasi medis sangat diperlukan untuk mengetahui penyebab bradikardia.

Jika bradikardia tidak ditangani, maka kemungkinan bradikardia akan semakin parah dan dapat berakibat fatal.

Adapun beberapa komplikasi medis akibat bradikardia yaitu:

  • Sering pingsan
  • Ketidakmampuan jantung untuk memompa cukup darah (gagal jantung)
  • Serangan jantung mendadak
  • Kematian mendadak

Jantung adalah organ vital bagi manusia.

Dengan lebih menyadari faktor risiko dan penyebab masalah-masalah jantung, semoga Moms dan Dads dapat lebih jauh dari penyakit jantung. Semoga Moms dan Dads sehat selalu!

  • https://www.heart.org/en/health-topics/arrhythmia/about-arrhythmia/bradycardia--slow-heart-rate
  • https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/heart-and-blood-vessels/about-the-heart/understanding-how-your-heart-functions
  • https://www.webmd.com/heart-disease/atrial-fibrillation/bradycardia
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5512679/
  • https://www.resmed.com/en-us/sleep-apnea/sleep-blog/sleep-apnea-and-bradycardia/
  • https://thorax.bmj.com/content/53/suppl_3/S29?ijkey=71476a2b416f394a94bc9aeb610240dc98d27b4d&keytype2=tf_ipsecsha#article-bottom
  • https://medlineplus.gov/howtopreventheartdisease.html
  • https://www.cdc.gov/heartdisease/prevention.htm
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bradycardia/symptoms-causes/syc-20355474
  • https://www.healthline.com/health/slow-heart-rate

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.