16 Agustus 2022

Hiperakusis, Kondisi Pendengaran yang Terlalu Peka Menangkap Suara

Perhatikan gejala-gejalanya, ya, Moms!

Apakah Moms mendengar seputar kondisi bernama hiperakusis?

Suara mesin bor di trotoar mungkin bukan hal yang menyenangkan untuk didengar tapi Moms dan Dads masih bisa mentolerirnya.

Akan tetapi, bagi penderita hiperakusis tidak demikian.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hiperakusis?

Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

Baca Juga: 5 Obat Alami untuk Masalah Gangguan Pendengaran

Apa itu Hiperakusis?

Menutup telinga
Foto: Menutup telinga (northernvirginiamag.com)

Foto Gangguan Pendengaran (Orami Photo Stock)

Hiperakusis adalah gangguan pendengaran yang ditandai dengan kepekaan tidak biasa terhadap suara-suara tertentu.

Bahkan suara yang tidak memekakkan telinga bagi kebanyakan orang mungkin sulit diterima.

Efek hiperakusis dapat berkisar dari rasa tidak nyaman yang ringan hingga kehilangan keseimbangan total atau postur tegak dengan nyeri telinga yang parah.

Pada kasus yang serius, dapat menyebabkan aktivitas seperti kejang di otak.

Penyebab Hiperakusis

Ilustrasi suara berisik
Foto: Ilustrasi suara berisik (Orami Photo Stock)

Foto Nyeri Telingat (Orami Photo Stock)

Dilansir dari jurnal Neurosensory Disorders in Mild Traumatic Brain Injury, penderita hiperakusis mendengar suara dengan intensitas rendah menjadi tidak nyaman keras dan bahkan menyakitkan.

Lalu, apa yang menjadi penyebab hiperakusis?

  • Cedera pada kepala semisal disebabkan oleh airbag kendaraan saat tabrakan.
  • Kerusakan pada satu atau kedua telinga karena obat atau racun
  • Infeksi virus yang memengaruhi telinga bagian dalam atau saraf wajah seperti Bell’s Palsy
  • Gangguan sendi temporomandibular (TMJ)
  • Penyakit Lyme
  • Penyakit Tay Sachs
  • Sakit kepala migrain
  • Menggunakan Valium secara teratur
  • Jenis epilepsi tertentu
  • Sindrom kelelahan kronis
  • Penyakit Meniere
  • Gangguan stres pascatrauma (PTSD)
  • Depresi
  • Autisme
  • Operasi pada rahang atau wajah
  • Sindrom Williams

Berada di sekitar kebisingan yang keras juga dapat menyebabkan hiperakusis, seperti satu tembakan keras dapat memicu kondisi tersebut.

Namun, itu juga bisa berasal dari berada di dekat suara keras dalam waktu lama.

Baca Juga: 4 Cara Mengobati Masalah Pendengaran Selama Kehamilan

Gejala Hiperakusis

Tutup telinga
Foto: Tutup telinga (perfecthearing.my)

Foto Gejala Hiperakusis (Orami Photo Stock)

Gejala hiperakusis dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari Moms serta Dads bahkan hal ini juga bisa berkembang dari waktu ke waktu.

Beberapa gejalanya, yaitu:

  • Merasa tidak nyaman pada pendengaran
  • Merasa tegang, marah, atau tertekan
  • Menutup telinga
  • Mencoba menjauh dari suara
  • Mengalami rasa sakit pada telinga
  • Kesulitan berkonsentrasi di hadapan suara-suara tertentu juga bisa berarti sekolah dan kehidupan kerja terpengaruh
  • Beberapa individu mungkin menjadi takut pada suara-suara tertentu (disebut sebagai fonofobia) dan menghindari situasi sosial dan publik di mana mereka mungkin terpapar pada mereka.

Gejala hiperakusis ini dapat menyebabkan isolasi sosial.

Kondisi ini dapat memperburuk masalah dengan menambahkan ketakutan dan kecemasan ke dalam persamaan.

Beberapa orang mencoba menghindari suara sama sekali, yang menyebabkan sistem pendengaran menjadi lebih tidak toleran terhadap suara.

Sebagian orang hanya sedikit terganggu oleh suara-suara ini.

Sedangkan, beberapa lainnya memiliki gejala parah seperti kehilangan keseimbangan atau kejang.

Baca Juga: Penyebab Suara Bayi Serak dan Cara Mengatasinya

Cara Mengatasi Hiperakusis

Hiperakusis
Foto: Hiperakusis

Foto Anak Mengalami Gangguan Pendengaran (Orami Photo Stock)

Bagi kebanyakan orang, hiperakusis tidak menyusahkan dan setelah penjelasan dan kepastian akan mampu mengelola kondisi mereka dengan sukses.

Namun, bagi sebagian orang, ini bukan masalahnya sehingga perlu mengetahui cara mengatasi hiperakusis:

1. Terapi Hiperakusis

Cara menangani hiperakusis ini biasanya akan dirujuk dengan terapi.

Terapi hiperakusis ini biasanya dengan mendatangi klinik audiologi.

Jika hiperakusis adalah gejala dari kondisi medis tertentu, kondisi ini akan ditangani secara paralel.

Terapis mungkin ingin mengetahui bagaimana hiperakusis mempengaruhi Moms dan Dads.

Mereka harus meluangkan waktu untuk mengidentifikasi apa yang dapat dilakukan secara berbeda untuk mencoba mengurangi dampak hiperakusis pada kehidupan sehari-hari.

Ini disebut terapi suara dan mungkin ditawari pilihan perangkat setinggi telinga atau generator suara di samping tempat tidur.

Suara yang paling umum digunakan adalah white noise, yang secara efektif terdengar seperti jenis suara yang terburu-buru atau "ssst".

Baca Juga: Ketahui Cara Merawat Telinga, Yuk Jaga Indera Pendengaran!

2. Terapi Perilaku Kognitif

Cara mengatasi hiperakusis lainnya yaitu dengan menggunakan pendekatan alternatif.

Pendekatan alternative tersebut dengan penggunaan Terapi Perilaku Kognitif (CBT).

Gagasan di balik penggunaan CBT adalah untuk mengenali apa yang membantu dan/atau tidak membantu dalam kehidupan sehari-hari ketika berhubungan dengan hidup dengan hiperakusis.

Moms dan Dads kemudian dapat bekerja dengan terapis untuk menemukan cara yang lebih bermanfaat dalam cara mengatasi hiperakusis sehingga mengurangi dampaknya pada kehidupan sehari-hari.

3. Pelindung Telinga

Salah satu ciri umum orang dengan toleransi suara yang berubah adalah mencoba menghindari suara keras.

Meskipun ini mungkin tampak seperti tindakan pencegahan yang masuk akal, ini bisa menjadi kontraproduktif dan membuat lebih sensitif terhadap suara.

Ketika orang menghindari suara, lingkungan mereka menjadi lebih tenang dan sistem pendengaran menjadi lebih sensitif terhadap suara karena kurangnya input suara.

Pelindung telinga tidak boleh digunakan untuk aktivitas normal sehari-hari.

Meskipun dapat dimengerti bahwa orang mungkin ingin menggunakan penyumbat telinga atau penutup telinga saat melakukan sesuatu.

Misalnya seperti mengosongkan mesin cuci piring atau mengendarai mobil, ini tidak akan membantu dalam belajar mengelola hiperakusis dalam jangka panjang.

Tentu saja, masuk akal untuk menggunakan tindakan pelindung telinga saat melakukan sesuatu yang bising seperti menggunakan alat DIY.

Jika pelindung telinga saat ini digunakan untuk situasi sehari-hari, penting untuk mendiskusikan strategi untuk mengurangi penggunaannya dengan terapis hiperakusis.

Mereka akan memiliki beberapa saran yang berguna dan dapat memberikan dukungan melalui apa yang tampak seperti waktu yang menakutkan.

Baca Juga: Ketahui 6 Penyebab Telinga Berdenging

Jika hiperakusis parah, Moms dan Dads mungkin merasa tidak nyaman meninggalkan rumah, dan berkurangnya toleransi terhadap suara memengaruhi karier dan kehidupan sosial .

Beberapa orang menemukan bahwa aktivitas sehari-hari, seperti mengendarai mobil, menggunakan mesin pemotong rumput, penyedot debu atau alat listrik, menonton televisi atau mendengarkan musik adalah sebuah masalah.

Selain itu, pusat perbelanjaan, restoran, dan bioskop mungkin terlalu berisik.

Kabar baiknya adalah Moms dan Dads tidak perlu khawatir karena hiperakusis dapat ditangani dengan baik.

  • https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/hyperacusis
  • https://www.soundrelief.com/hyperacusis/
  • https://vestibular.org/article/diagnosis-treatment/vision-hearing/vestibular-hyperacusis/
  • http://www.perdoski.or.id/doc/mdvi/fulltext/33/219/12_Laporan_Kasus_6.pdf
  • https://www.nhs.uk/conditions/hyperacusis/
  • https://www.tinnitus.org.uk/hyperacusis
  • https://www.webmd.com/brain/sound-sensitivity-hyperacusis
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC539655/
  • https://www.healthyhearing.com/report/53076-Hyperacusis-when-ordinary-loud-sounds-hurt-your-ears
  • https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/hearing-problems-reduced-tolerance-to-sound
  • https://www.news-medical.net/health/Hyperacusis-Symptoms.aspx
  • https://www.aarp.org/health/conditions-treatments/info-2020/hyperacusis-causes-and-treatments.html
  • https://www.tinnitus.org.uk/hyperacusis

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.